Feeds:
Posts
Comments

Bermimpi dan bernyanyi

Dulu, semasa kecil saya hanya bisa menikmati alunan suara biduan dan biduanita yang menyanyikan Ave Maria gubahan Schubert. Hati ini rasanya ingin turut menyanyikan lagu seindah itu. Namun apa daya suara tak sampai. Nadanya terlalu tinggi untuk diraih. Alhasil, saya hanya dapat bermimpi.

Sejak Charlotte Church kecil berusia 12 tahun mengeluarkan albumnya yang bertitel ‘Voice of an Angel’, saya langsung jatuh cinta pada suaranya yang serupa malaikat cilik. Saya terus membeli album-albumnya, sambil berpikir bahwa suara seperti ini hanya dimiliki oleh mereka-mereka yang berbakat alam. Orang dengan suara cempreng seperti saya hanya bisa mendengarkan dan bermimpi.

Ketika Charlotte Church beranjak dewasa, ia menyanyikan lagu ‘Bridge Over Troubled Water’ dengan gaya seriosa yang amat indah. Saya yakin, ketika bersin pun suaranya pasti merdu! Apalagi ketika menyanyikan ‘The Prayer’ bersama Josh Groban, hasilnya luar biasa! Saya bertepuk tangan usai menyaksikan konsernya dari layar kaca (norak ye!!!). Pernah beberapa kali saya mencoba untuk turut menyanyi, namun nadanya terlalu tinggi. Daripada mengeluarkan suara seperti orang tercekik, saya memilih berhenti menyanyi. Dan kembali bermimpi.

Untunglah hal ini tidak berlangsung lama. Ada dua hal yang membuat saya memutuskan untuk berhenti bermimpi, dan mulai sungguh-sungguh menyanyi.

Yang pertama adalah seorang teman saya ketika kuliah di FKIP Atma Jaya dulu, yaitu Sylvia Onggo (sekarang Sylvia Kusuma ^^). Teman saya yang satu ini sudah hobi menyanyi sejak dulu. Suaranya memang indah. Pernah, sewaktu masih kuliah, ia terpilih mewakili Indonesia dalam lomba menyanyi ‘Asia Bagus’.

Singkat cerita, setelah bertahun-tahun tidak berjumpa, saya kembali bertemu dengannya, dalam sebuah acara reuni. Teman saya ini bercerita, bahwa setelah menikah ia mengambil kursus vokal klasik dan berlatih menyanyi dengan serius. Saat itu, sempat ia nyanyikan sepenggal lagu ‘The Lord’s Prayer’. Wow, suaranya yang sejak dulu sudah bagus, kali ini berubah menjadi istimewa! Luar biasa! Saya jadi terinspirasi! Vokal klasik yang ia tekuni membuat suaranya menjadi seindah ini. Berkat latihan dan bimbingan guru vokal, suaranya kian matang.

Yang kedua adalah status di Yahoo Messenger teman sekantor saya yang bernama Paulus. Pernah ia memasang status sebagai berikut ‘When we wake up in the morning, we have two simple choices. Go back to sleep and dream, or wake up and chase those dreams!’

Kedua hal tersebut mendorong saya untuk segera bangun dari mimpi, dan mencari kursus vokal klasik! Teman saya Sylvia memberikan nomor telepon Jakarta Singing School, yang langsung saya tindak lanjuti. Menelepon, mendaftar, audisi, dan mengikuti kursus vokal. Pada bulan November 2006, saya resmi menjadi salah satu siswi Jakarta Singing School. Yippieee…!!!

Kini, 3 tahun kemudian, apakah mimpi saya sudah tercapai? Jelas jawabannya adalah: belum. Soalnya, suara saya belum ada sekuku pink-nya Charlotte Church.

Namun ada beberapa hal yang patut disyukuri. Setidaknya suara saya sekarang cukup tinggi untuk menyanyikan lagu ‘The Prayer’. Sehingga ketika ada kesempatan untuk berduet dengan Mr. D yang ganteng dan bersuara merdu, saya merasa cukup pede untuk setidaknya mencoba. Waktu gladi bersih, pianis bertanya, “nadanya seberapa?” Berkat latihan vokal selama 3 tahun saya dapat menjawab “disamakan dengan aslinya saja.” Tanpa latihan vokal, diturunkan beberapa nada saja mungkin suara saya masih belum ‘nyampe’. ^^

Lagu Ave Maria gubahan Schubert kini hidup dalam diafragma dan tenggorokan, bukan hanya dalam impian. Sewaktu pemberkatan pernikahan di gereja, sebagai pengantin yang mandiri, saya nyanyikan sendiri lagu ini ^^ Demikian pula dengan lagu Ave Maria gubahan Bach. Selanjutnya, saya ingin belajar Ave Maria gubahan Caccini ^^

Awal mengikuti les vokal, saya diajak bergabung dalam Paduan Suara Eliata sebagai alto. Kira-kira setahun yang lalu, saya disuruh pindah ke sopran. Menurut laoshi, dengan bantuan teknik yang baik dan benar, jangkauan nada memang bisa bertambah luas. Dulu, saat melihat partitur lagu Kein hamlein wächst auf erden, dan mendapati ada nada F yang sedang (bukan yang tinggi), rasanya sudah kepingin kabur. Sekarang??? Hajar, bleh!!! ^^

Seorang teman saya iseng-iseng bertanya, “berapa banyak yang sudah kau keluarkan untuk belajar vokal selama 3 tahun?”

Saya cuma bisa nyengir dan menjawab, “pokoknya cukuplah, buat jalan-jalan ke Tiongkok!”

Ya, jalan-jalan ke Tiongkok dan mendaki Tembok Besar adalah salah satu impian saya juga. Tapi dengan jumlah sekian, paling banter saya hanya bisa jalan-jalan selama 2 minggu. Sedangkan dengan mengikuti les vokal, saya bisa menyanyi seumur hidup! Dan mengubah hampir seumur hidup saya yang tadinya hanya ‘bermimpi’ menjadi sungguh-sungguh ‘beryanyi’ ^^

Last Sunday afternoon, I was singing Psalm at church, when a strange thought came across my mind. This might be the last Psalm that you sing, as a single woman, it said. The very thought of it made me shudder a little bit, and suddenly I missed a note! I quickly concentrated back to the Psalm in front of me, and wished that the mistake wasn’t a terrible one.

Ever since that moment, the similar thoughts keeps on coming across my mind. This might be the last gado-gado you have as a single woman. This might be the last novel you read as a single woman. And this very writing might be the last thing I write in this blog, as a single woman!!!

Yeah, my life is about to change. This time it’s gonna be a huge one. I won’t address myself ‘Miss’ anymore. And once the change happens, there is no turning back. It’s a point of no return. Realizing this, I was lucky enough to sing Psalm and Hallelujah till the end, with one or two mistakes only. With these kinds of thoughts, I could’ve stopped singing and ran back home instead!

I never want to call myself Cowardia, Cowardella, or Cowardonetta, but I must admit that I’ve been acting like a coward lately. I’m afraid of big changes!!!

Most of the times, I simply face the fear by ignoring it. Not talking about it. Limiting any thoughts about it. I only said it in my prayers.

That’s what I usually do.

Ignore the fear, let it happen, and see what I can do.

It was like joining a debate competition without case building, without knowing what the motion is, on which side I shall stand, and who I am going to debate against. I only know who my team mates are. If you’re lucky enough to have team mates like Michelle, Aviva, or Lita of Atma Jaya Debating Club (ADC), you would surely jump with them into any fire, without hesitation! You simply trust each other, and have a wonderful debate, no matter what it takes!

I know who my team mate will be. He’s a guy I’ve known for three years. I really hope we can be a great team.

This is the song I was so very, extremely, unbelievably lucky to sing with gorgeous Mr. D on October 10, 2009 (when will I sing with him again? Hehehe…^^)

The melody, I love with all my heart. The lyrics, I pray with all my soul.

Music and lyrics: David Foster and Carol Bayer Sarger

Italian translation: Alberto Testa, Tony Reis

The Prayer

I pray you’ll be our eyes
And watch us where we go
And help us to be wise
In times when we don’t know

Let this be our prayer
As we go our way
Lead us to a place
Guide us with your grace
To a place where we’ll be safe
La luce che to dai

I pray we’ll find your light
Nel cuore restero
And hold it in our hearts
A ricordarchi che
When stars go out each night
L’eterna stella sei
Nella mia preghiera
Let this be our prayer
Quanta fede c’e
When shadows fill our day
Lead us to a place
Guide us with your grace

Give us faith so we’ll be safe.
Sognamo un mondo senza piu violenza

Un mondo di giustizia e di speranza
Ognuno dia la mano al suo vicino
Simbolo di pace e di fraternita

La forza che ci dai
We ask that life be kind
E’il desiderio che
And watch us from above
Ognuno trovi amore
We hope each soul will find
Intorno e dentro a se
Another soul to love

Let this be our prayer
Let this be our prayer
Just like every child
Just like every child

Needs to find a place,
Guide us with your grace
Give us faith so we’ll be safe
E la fede che
Hai acceso in noi
Sento che ci salvera

Memories

I read a note written by Michelle Dian Lestari Anugrah on Facebook (you’ll find it at the bottom of this page). Suddenly all the memories came flooding back! It was like looking at the mirror, and see myself ten years ago.

In 1999, I sacrificed two weeks of my one-month vacation to attend a debating workshop at campus. The workshop was started with about 20 persons who were crazy enough to attend it. On the second day there were only 15 crazy people left. On the third day there were only 10. And so on and so forth. There were also days when the trainers outnumbered the learners. At the end of the second week, all the crazy people left were told to leave campus and enjoy the rest of the vacation, while the trainers, along with the members of the panel drew their swords, fought and killed each other, to choose 6 crazy people who would represent our campus in IVED (Indonesian Varsities English Debate) 1999.

Of course it was only a figurative writing. The crazy people were actually smart and love challenges, the trainers and members of the panel were actually discussing matters peacefully, in a wise, grown-up manner, accompanied by coffee and cigarettes… ooops…!!! ^^

The two-week workshop really changed my entire life! I spent the following two years debating (which is another way to say ‘enjoying life’). In 2001 it came to a stop (at least for me). Yet, the memories live forever. Yeah, the kind of memories that will fuel my heart to be happy for the rest of my life… ^^

This is what Michelle Dian Lestari Anugrah had written. I love it so much that I decided to put it here for you guys to read!!! It also works as a back up. I mean if someday, somebody attacks and destroys Facebook, we would still be able to read this lovely writing here in wordpress ^^ (please don’t attack wordpress, anyone…peace…!!!)

Reminiscing the Past

by Michelle Dian Lestari Anugrah

Friday, October 2, 2009 at 12:17am

It’s 11.28 PM and I’m still stuck at the 33rd floor of Artha Graha building, working on concept paper for my client’s upcoming event. While the other conceptors were picking on the keyboard, selecting most difficult English words to be pronounced (and there are a lot, since my client’s English is equal to a junior highschooler), I pecked on my keyboard trying to google my name in the net. And, guess, what I’ve found? The following posting from Indodebaters back in 2000. Some of you might remember this, but I totally forgot myself. The thread was followed by Flori and Avie.“Guys,

Let me remind you that BANKS WILL BE CLOSED FOR HOLIDAYS FROM DECEMBER 23
TILL JANUARY 01 NEXT YEAR. All transactions, especially money transfer,
must be done by 11 AM on Dec 23 to have the money delivered on the same day.
Banks will operate again on Monday Jan 02. This is rather tough for you
guys whose university birocracy is complicated and needs at least one week
of ass-licking to have got the money proposal read by the honourable purek
III, not to mention the delay of actually getting our hand on the dough. So,
get a rush guys and good luck…!!!

Michelle

PS: When you get your invitation from ITB, read the Registration Form
carefully. One of the clause says (and I quote) “BAndung in January will be
very cold and wet. Please bring your raincoats, umbrellas and sweaters or
jackets as the committee will no be able to provide enough bodyheat.” Any
comments?

PS for RIVAN: You might want to look again re. eligibility of participants
written in your Registration Form. It says that participants are not
eligible if they have participated 3 times in IVED. I think, the count
starts when the constitution was ratified, means the participation is
counted starting from IVED 2000 at PETRA (iya khan ya?)

Hei….it means that I still can debate…hmm…hmm..wonder if Avie wants to
be my team mate….hmm…hmm…what do you think, Rivan?”

Suddenly, it all came back to me. Those crazy years of debating, my first debating championship that threw me, a newbie, an innocent, pure, loveable, timid me, into an adrenalin pumped, argument craving, fact junkie bitch I am now, the fear and thrill of facing Ade, Agung and Ria in the finals, and lost to them. The headaches, the materials, the coffee craving, the lack of sleep, the drama, the tantrums, the tears, the booze, and most of all, the comradeship that I always experience whenever there was a championship loomed and we had to prepare to our teeth for it.

What have I learned from those years? What have I got from them? What did these years do to my life now? Was it worth it? Is it still in my blood?

First of all, I learned about being me, that I actually loved being me, that I am a significant being. I learned that I was quite awesome, that I had something worth being proud of, that my brain can actually work, that I am someone worth to be feared by someone else, and could actually intimidate someone (admit it Flori, you were intimidated by me, yes?). I was no longer this low esteemed girl who slinked away from any arguments and never peeped any words in a crowd, just because she felt she was not beautiful enough, rich enough, or smart enough to be noticed.

I also learn that there are people who accept you as you are, who admired you not because you were beautiful, rich, nicely dressed, loaded with cash and wore designer goods. My fellow debaters accept the quirky me, because I am one of them, a freak of nature who just love to debate. And I learned to accept other people who were freakos, just like me, and admire their ability to think, rather that they were rich, beautiful, handsome, so on and so forth. I learn to love myself and be proud of myself.

Secondly, I’ve got the ability to put everything that I think into order (not necessarily what I’m doing though. I’m still learning to do that until now). I’ve learned to be competitive when I need to competitive, how to argue effectively, how to talk and who to talk to about intelligent stuff without being thought as a weirdo.

Moreover, debating has changed the course of my life. I used to be content to think that I would work for a certain number of years, got married, have kids, and….that’s it. However, debating has opened my small, insignificant, narrow, tunneled view of life into a wider, more interesting vista. I was introduced to many things that I didn’t know exist before. I used to read newspaper just for the sake of reading, and then turn into the funnies and then left the paper. I even existed for years without reading any newspapers (shudders….the horrors….the dark age). Now, I just have to read newspapers, and I just have to comment on something, analyze some news, ponder on some thoughts, and whenever I have the time (which is now really rare) write something in my blog, journal or in my mind. Debating has turned me into a thinking being, and thus, I started to exist. And starting to exist has made me want to do things, to leave my mark in the world, to do good, to be someone useful to my surroundings. Or, in YB Mangunwijaya’s words, I start to live as a humanized human being, not merely an entity. Plus, I’ve got the skills that enable me to find good paying jobs that are satisfying both to my soul and my pocket.

But the most important thing is, I have found a lot, and I mean a lot, of people that I can consider as my friends, both in needs and in deeds. I’ve found two of the loveliest gems in the world, Lita and Avie, the two bestest friends one can ever have. I have found Nuansa, a great friend with warm heart, Santi, the best team mate you could ever have, who was ready to jump into the fire with me with only five minutes preparation (remember IVED Petra’s Quarter Final, San?). I have found Tedjo, Ijoel, Norman, Plo-plo, Ria, Ade, Agung, Nad-nad, Day-day, Bubu, Budi, Widj, Maryadi and many other friends I could not name one by one, who are there for me and like me for who I am and what I am, not who my parents are and what I’m made from. I have found my birds of the same feathers. And it is the most valuable thing one can get from debating. Friends who are great to talk with, great to be with, and great to make you feel good. And that, my friend, is something worth more than all the gold and diamonds in the world.

So I thought, all those sweat, those tears, those sleepless nights, the stress, the pressure, the pure hard work, the social life and time sacrificed for debating have been worth it. Those were small payments compared to what I’ve got from debating: My self esteem, my existence, my life, and my friends.

The final question, is it still in blood? Oh, hell, yes it is. I was, am and will always be a debater. I learned to think critically and logically, and that stays for now and forever, amen. I learned to value people not from their looks and appearance, and that, my friend, is something that can make you survive in this cruel, cruel world. And most of all, I learned to appreciate what I have and to be sensitive to others, and I’m proud to say, that makes me a better person than I was before.

Finally, I’ve put my mark in the world. The three bitches of Atma Jaya Debating Club, Aviva, Lita and Michelle, with helps from other crazies, have founded the distinguished Atma Jaya Debating Club, surviving for more than nine, yes, nine years, and is still something worth considering in the debating society in Indonesia. Plus, the people of ADC, those who have graduated from Atma Jaya and those who are still in Atma Jaya, are also people of great existence, worth being considered. They are successful, smart and fun at the same time, retaining their craziness and uniqueness in the world full of conformity, daring to do the change and to change the do!! Ain’t that something to be proud of, guys?

With that, ladies and gentlemen, I rest my case.

PS: Younger generations of ADC, I’m proud to be your senior, believe you me!!!

我不值得

美丽的花

温柔的眼光

好听的话

浪漫的情况

我都不值得

Suatu malam, saya tersentak setelah melihat kalender. Sudah tanggal 31 Agustus! Dan saya belum menuliskan sepatah kata pun untuk blog ini…!!! Jreng 100000 x…!!! (ini meniru gaya tulisan Kristina…^^) Keterlaluan ya, sudah bulan Juli lalu cuma menghasilkan beberapa patah kata (itu pun isinya tidak bermutu, cuma curhat)… bulan Agustus malah tidak ‘menghasilkan’ apa-apa sama sekali…!!!

Kenapa ya, Agustus berlalu tanpa nge-blog? Katanya can’t live without singing and writing? Nah, di bawah ini ada sedikit penjelasan yang mengandung pembelaan diri, sehubungan dengan hal tersebut.

Saya bertugas mengurus sebuah program berita harian (tayang Senin hingga Jumat) di stasiun televisi lokal tempat saya bekerja. Berita yang kami tayangkan, sebagian merupakan feature yang bersifat timeless, sehingga bisa ditayangkan kapan saja, tidak terikat waktu. Karena itulah, feature kadang kami tayangkan lebih dari satu kali.

Entah kenapa, setiap kali terpaksa harus menayangkan ulang feature yang pernah tayang sebelumnya, saya merasa maluuuuu… sekali…(mukanya pengen ditaruh di pan..t)!!! Pasalnya, nama program berita tersebut mengandung kata ‘buletin’. Dan buletin mestinya berisikan kisah-kisah yang baru, yang belum pernah ditayangkan sebelumnya.

Karena itu sejak bulan Juli lalu saya bertekad, program berita yang saya urusi ini tidak boleh lagi tayang ulang!!! Meski jumlah kru dan peralatan sangat ‘pas’, tidak lebih. Meski program ini harian, sehingga kalau ada satu saja kru yang tidak masuk, atau terjadi ‘kecelakaan’ dengan hardisk sehingga item berita ada yang hilang, kami harus bekerja hingga larut. Apalagi kalau harus membuat episode dobel untuk mengisi hari libur tanggal merah, kami harus bekerja ekstra keras!

Nah, pada liburan Idul Fitri mendatang, rencananya divisi kami akan mengambil libur seminggu penuh. Karena itu, sambil terus mengerjakan episode yang tayang harian, kami juga harus menyicil mengerjakan 5 episode untuk ditayangkan pada tanggal 21-25 September mendatang. Diusahakan semuanya baru, tidak ada tayang ulang. Pokoknya ‘Harus Bisa’ (yang ini nyontek judul buku karya Dino Patti Djalal^^).

Karena itulah otak saya rasanya penuuuuuhhh banget. Kadang terlintas ide tulisan yang rasanya lumayan bagus, tapi karena ditunda-tunda terus, akhirnya lenyap juga.

Itulah sebabnya Agustus berlalu tanpa nge-blog…

Waktu usai jam kerja yang biasanya saya manfaatkan untuk menulis, rasanya lebih baik dimanfaatkan untuk menambah jumlah skrip berita. Tapi tenang saja, setelah beban kerja demi mempersiapkan episode 21-25 September berlalu, saya akan punya cukup banyak waktu untuk menulis lagi.

Para pembaca yang baik, harap sabar ya… (halah, memange ono sing moco…)

@Ria: lapor, blog sudah di-update, laporan selesai… ^^

Bersyukur itu mudah

konser emerald 1Orang seperti saya kemungkinan besar takkan bisa menulis artikel yang berjudul ‘Memasak itu Mudah’, atau ‘Berkebun itu Mudah’, atau lebih-lebih ‘Bermain Bulu Tangkis itu Mudah’ (yang terakhir disebut tadi saya tidak bisa sama sekali!!!!!). Namun setidaknya saya bisa menulis tentang hal di bawah ini.

Bersyukur itu mudah. Kapan saja dan di mana saja, orang bisa bersyukur. Saya sendiri, setelah mengambil langkah seribu sambil melompat tinggi-tinggi gara-gara dikejar kecoa, segera dipenuhi oleh rasa syukur. Bersyukur karena kaki saya cukup lincah untuk dipakai kabur, bilamana diperlukan. Padahal, beberapa menit sebelumnya saya sempat berkeluh kesah dalam hati, mengapa kaki saya tidak seindah kaki Titi DJ atau Agnes Monica, misalnya. Namun setelah peristiwa dikejar kecoa, yang ada hanya rasa bersyukur…!!! ^^

Peristiwa yang terjadi sekitar 5-6 bulan lalu juga membuat saya merasa amat bersyukur. Pada suatu hari Minggu yang indah (halah!) saya bertugas menjadi pemazmur di Gereja Kristoforus. Mazmur yang saya bawakan waktu itu kental akan melodi khas lagu-lagu Jawa, yang notabene gue bangets bo, dan karena itu saya membawakannya dengan sepenuh hati.

Malam harinya ada seseorang yang mengirimkan sms kepada saya. Rupanya ia adalah salah seorang anggota paduan suara yang bertugas di misa tadi. Nomor telepon seluler saya, ia dapatkan dari lembar absen pemazmur. Singkat cerita, ia mengajak saya bergabung dalam paduan suaranya. Wow, saya langsung tertarik! Pasalnya, ketika bertugas membawakan mazmur tadi, saya sempat melihat ke arah bangku tempat paduan suara. Yang membuat saya kagum, paling-paling penyanyinya hanya ada 10-12 orang, namun suara yang mereka hasilkan setara dengan 20-25 orang! Makanya ketika diajak bergabung, saya senang sekali!

Paduan suara tersebut bernama Emerald Voices. Ketika saya mulai ikut berlatih, ternyata paduan suara ini tengah mempersiapkan diri untuk menyelenggarakan konser perdananya, yang bertitel ‘Emerald Voices: Melodies of Life’. Wow, tambah bersemangat rasanya…!!! ^^

Singkat kata, konser perdana tersebut telah berlangsung, dan rasanya cukup sukses. Memang ada kekurangan dan kesalahan di sana-sini, namun respons penonton rata-rata positif, dan mereka senang menyaksikan konser kami… fffiiiuuhhh… syukurlah…!!! ^^

Lagi-lagi, saya merasa amat bersyukur. Biasanya orang merasa penat dan lelah sepulang kerja. Namun tiap hari Selasa, Rabu, dan Jumat, saya pulang kerja dan melanjutkan beraktivitas dengan hati gembira. Selasa malam ada latihan paduan suara Eliata (disambung dengan nonton CSI: New York di rumah). Rabu malam, les vokal dengan laoshi (lagi-lagi, disambung dengan nonton CSI: Miami dan CSI di rumah). Sedangkan Jumat malam, waktunya latihan paduan suara Emerald Voices!

Saya bersyukur bisa melampiaskan hobi teriak-teriak saya dengan mengikuti dua paduan suara yang keren-keren. Saya bersyukur, dulu diajak Renata Laoshi bergabung dalam Eliata. Saya bersyukur pernah bertugas dalam satu misa dengan Emerald, sehingga diajak Leo untuk bergabung. Saya bersyukur bisa ikut serta menyanyi dalam konser-konser Eliata dan Emerald. Saya bersyukur bisa mengenal dan menyanyikan lagu-lagu yang yahud-yahud. Saya bersyukur mendapat banyak teman yang baik, lucu, dan kocak dengan mengikuti kedua paduan suara tersebut! Etc, dsb, dll, lsp…

Yang di atas tadi adalah perasaan bersyukur, sehubungan dengan paduan suara. Masih banyak lagi hal yang bisa saya syukuri dalam hidup ini. Benar kan… bersyukur itu mudah…!!! ^^

Sang Katak

KermitBertahun-tahun lalu, saat masih kanak-kanak, saya sangat gemar membaca. Buku-buku yang dipinjam oleh encek (adik ayah) saya dari perpustakaan kelenteng pun, kalau cukup menarik, pasti saya baca juga. Salah satunya adalah buku-buku karya Anthony de Mello SJ. Waktu itu saya belum sepenuhnya memahami tulisan-tulisan de Mello. Saya hanya menggemari gaya bertuturnya yang ringan dan singkat, serta kaya makna.

Salah satu tulisan singkatnya yang masih saya ingat kira-kira sebagai berikut:

Letakkan seekor katak dalam sebuah panci berisi air yang dipanaskan perlahan-lahan, ia akan merasa hangat dan nyaman sehingga tidak beranjak, meski air telah mendidih dan mencelakakannya.

Tapi letakkan seekor katak dalam panci yang berisi air mendidih, ia akan melompat keluar saat itu juga, dan dengan demikian, menyelamatkan nyawanya!

Akhir-akhir ini saya berpikir, bagaimana kalau bukan seekor katak yang dipanaskan dalam panci secara perlahan-lahan tersebut? Bagaimana kalau itu adalah saya? Bagaimana kalau saya merasa aman dan nyaman dengan kondisi saya yang sekarang, dan kehilangan semangat juang untuk menggapai yang lebih baik?

Seorang motivator favorit saya yang setiap minggu tampil di televisi mengatakan, “leave your comfort zone!”

Sebuah dilema yang membingungkan. (Namanya saja dilema, ya pasti membingungkan tho, mbakyu). Saya mencintai kondisi saya yang sekarang, namun kondisi ini tidak mencintai saya. Tidak memungkinkan saya untuk maju dan meraih yang lebih baik. Kondisi yang sekarang ini cukup baik untuk saya pribadi, tapi saya kan tidak selamanya hidup sendirian. Nantinya saya akan berkeluarga, punya anak, dan wajib merawat orang tua dan mertua saya dengan sebaik-baiknya. Nah, pada saat itu, diperkirakan kondisi yang sekarang ini tidak lagi memadai.

Haruskah saya melompat keluar dari panci sebelum terlambat? Sepertinya iya.

#daripada tidak ada tulisan sama sekali bulan Juli ini, lebih baik curhat. Ya tidak?# ^^

Kebebasan mengeluarkan pendapat… tiba-tiba istilah itu menjadi asing bagi saya. Bahasa Indonesia atau Bahasa Swahili-kah itu? Saya sungguh-sungguh tidak mengerti apa artinya. Bolehkah Anda menjelaskannya pada saya?

Setiap kali menjelang Hari Raya Idul Fitri, toko sepatu mungil milik orang tua saya, yang terletak di persimpangan jalan, akan ramai dibanjiri pembeli. Karena itu sejak sudah bisa berhitung, saya rajin membantu orang tua saya di toko, terutama saat-saat menjelang Idul Fitri. Orang tua saya selalu mengajar saya untuk melayani pembeli sebaik mungkin, seramah mungkin dan secepat mungkin, terutama bila toko sedang penuh sesak. Alasannya, bila pembeli cepat mendapatkan sepatu yang diinginkan, mereka tidak akan berlama-lama di toko, dan tempatnya bisa segera diisi oleh pembeli lain. Sayangnya sebagai anak yang kurang teliti, saya kadang hanya mengutamakan aspek kecepatan saja.

Suatu ketika, seorang bapak tua membeli sepasang sandal kulit, untuk dikenakan saat berangkat ke tempat Sholat Ied keesokan harinya. Sandal tersebut tinggal satu-satunya (sebelah kanan dipajang di rak, dan pasangan sebelah kirinya ada di gudang). Lantaran toko penuh sesak, Si Bapak sudah merasa cukup puas setelah mencoba sandal sebelah kanan saja, dan langsung membayarnya. Ia percaya, kalau yang sebelah kanan pas, tentunya yang sebelah kiri pas juga. Saya yang kurang teliti tidak menyadari bahwa sandal sebelah kiri belum dimasukkan ke dalam kotak, bersama dengan yang kanan! Jadi saya membungkus kotak berisi sebuah sandal itu dan memberikannya kepada Si Bapak.

Pada saat toko sudah tutup, kami sibuk membereskan dan mengembalikan barang-barang dagangan yang berserakan di toko. Papi saya yang teliti menemukan sebuah sandal kiri yang tidak bertuan.

“Bukannya kita hanya memajang sepatu atau sandal bagian kanan saja? Mengapa sandal kiri ini bisa ada di sini?”

Mami saya langsung ingat (karena sandal itu tinggal satu-satunya), sandal sebelah kiri itu tadinya sudah dibayar oleh seorang bapak tua.

Saya juga ingat pada bapak tua yang telah bersusah payah menembus kerumunan pembeli demi membeli sepasang sandal, dan terlihat gembira menemukan sandal yang pas dengan model yang disuka, lantas cepat-cepat mengeluarkan lembaran-lembaran uang dari dompet tuanya. Seharusnya ia bisa mengenakan sandal barunya besok pagi. Sekarang tidak mungkin lagi, gara-gara saya!

Mami saya berkata, “Ya sudahlah. Besok pagi Bapak itu pasti datang lagi untuk mengambil sandalnya yang sebelah kiri. Kita bangun pagi saja, supaya sudah siap kalau Si Bapak datang mengambil.”

Maka itulah yang kami lakukan.

Sholat Ied biasanya dilaksanakan pagi-pagi sekali. Sekitar pukul tujuh, umat Muslim telah selesai beribadah. Pukul tujuh kami sengaja membiarkan pintu samping terbuka bagian atasnya. Pukul tujuh lewat sedikit, Si Bapak datang, seperti yang sudah diperkirakan. Mami saya memberikan sandal yang telah dibungkus rapi itu kepada Si Bapak, sambil berkali-kali mengucapkan maaf.

“Maaf ya Pak, kemarin yang menjuali anak saya yang masih SD, tidak teliti, jadi cuma dijuali satu. Maaf ya, Bapak sampai harus repot-repot datang ke mari lagi. Rumahnya di mana tho, Pak? Wah… jauh juga ya, sekali lagi saya mohon maaf lho ya. Anak saya juga sudah saya marahi, biar lain kali lebih teliti lagi.”

Si Bapak adalah seorang yang baik hati dan ramah, sedikit pun ia tidak terlihat marah, malah tertawa lantaran menganggap hal ini lucu.

“Iya, saya juga sudah ndak lihat-lihat lagi, langsung saya bawa pulang. Pas di rumah dibuka, ternyata cuma satu, haha… Saya jadi ditertawakan oleh istri dan anak-anak. Haha… Ya sudah, saya mau ujung* dulu ya, terima kasih lho.”

Mungkin lantaran sejak awal Mami saya mengakui kesalahan ada pada pihak kami, dan meminta maaf dengan rendah hati, maka kesalahan yang saya perbuat berakhir dengan baik dan menyenangkan.

Namun hal meminta maaf dan mengakui kesalahan ini tidak selalu berakhir demikian. Menurut headline berita yang saya baca akhir-akhir ini, kejadiannya tidaklah seperti itu. Seorangibu bernama PM (bisa jadi singkatan dari Perdana Menteri, Perancang Mode, Pembuat Makanan, Perajin Mebel, dan lain-lain) mengalami kejadian seperti di bawah ini.

Suatu hari Si Ibu memasuki sebuah toko sepatu untuk membeli sepasang sepatu. Setelah memilih sepasang sepatu yang disukai, ia bertanya kepada pelayan toko mengenai spesifikasi sepatu tersebut. Apakah terbuat dari kulit asli, apakah modelnya mutakhir, apakah sepatu tersebut masih baru atau sudah bertahun-tahun dipajang di toko, dan lain sebagainya.

Pelayan toko menjawab asal-asalan. Kulit kok, tapi gak tahu kulit asli atau palsu. Modelnya jelas mutakhir, baru minggu lalu keluar dari pabrik, Ibu mau nomor berapa?

Si Ibu menyebutkan nomor yang diinginkan, mencoba sepatu tersebut, lantas membayarnya dan membawanya pulang. Sesampainya di rumah barulah disadari bahwa pelayan toko amat sangat tidak teliti. Sepatu yang dibungkus tadi sama sekali bukan sepatu yang telah dicobanya. Sepatu yang ini terbuat dari plastik ringkih, bukan kulit, dan 2 nomor lebih kecil. Jelas-jelas tidak dapat dipakai, padahal Si Ibu telah mengeluarkan uang cukup banyak untuk membelinya.

Si Ibu lantas kembali ke toko sepatu tadi untuk menukarkan sepatunya. Alih-alih dimintai maaf, ia malah mendapat penjelasan yang tidak memuaskan dari pelayan toko, sepatu ini kok yang tadi dicoba, bukan yang lain… ah masa? Si Ibu meminta bertemu dengan pemilik toko, namun dihalang-halangi. Besok saja, besok saja…

Si Ibu yang pulang dengan perasaan kecewa lantas menuliskan pengalamannya dan mengirimkannya ke beberapa temannya yang tergabung dalam sebuah milis. ‘Toko Sepatu Dapatkan Pembeli dari Sepatu Fiktif’, demikian judul surat elektronik tersebut, yang lantas menyebar luas hingga ke milis-milis lainnya.

Alih-alih menyesal dan meminta maaf atas kecerobohannya, pihak toko sepatu justru merasa berang dan menuntut Si Ibu, dengan tuduhan pencemaran nama baik. Demi menjaga reputasinya, pemilik toko menyewa pengacara untuk membersihkan nama toko tersebut, sekaligus melindungi pelayan-pelayan tokonya yang telah berbuat ceroboh.

Jadilah Si Ibu, konsumen pembeli sepatu yang mestinya dilayani dengan baik bagaikan sudah jatuh tertimpa tangga. Mendapat sepatu yang sama sekali tidak cocok, tidak bisa dipakai, namun tetap harus membayar, dituntut, dipenjara, harus membayar denda pula!

Kebebasan mengeluarkan pendapat… janganlah engkau menjadi seperti kuda terbang atau peri yang hanya hidup dalam buku-buku dongeng zaman dulu…

*ujung: istilah yang digunakan di kota saya, artinya mengunjungi sanak saudara dan handai taulan ketika Hari Raya Idul Fitri tiba.

Kecanduan

Sejak dulu saya sudah tahu, saya orangnya gampang kecanduan. Dan kalau sudah kecanduan sulit dihentikan. Untung saya tidak kecanduan hal-hal yang merugikan seperti narkoba, rokok, minuman keras, judi, dan lain sebagainya. Tapi kecanduan toh tetap kecanduan, sesuatu yang mendorong kita untuk mengkonsumsi atau melakukan sesuatu secara berlebihan. Dan menurut hukum alam, segala sesuatu yang berlebihan itu tidaklah baik.

Misalnya saja, saya kecanduan ngemil kacang. Kacang tanah segar, yang cukup dikukus saja, tidak perlu ditambahi apa-apa. Rasanya segar, banyak mengandung air, dan kadang bahkan agak manis. Bila sedang pulang kampung, saya nyaris tidak pernah absen membeli kacang ini di pasar. Kadang kalau sedang benar-benar kepingin, seperempat kilo kacang bisa saya habiskan sendiri dalam sehari. Besoknya, beli seperempat kilo lagi. Besoknya lagi malah beli setengah kilo, karena orang-orang di rumah juga suka. Akibatnya dalam tempo beberapa hari saja jerawat-jerawat bermunculan di wajah saya. Jerawat-jerawat tersebut biasanya baru menghilang setelah beberapa minggu.

Namun itu dulu. Sekarang, kalau sedang pulang kampung, saya jarang sekali membeli kacang. Soalnya, dengan bertambahnya usia, jerawat tidak lagi hilang semudah dulu. Dulu waktu masih muda (tahun 60-an ya, Zus?), jerawat dibiarkan saja selama sebulan, pasti hilang sendiri.  Sekarang butuh waktu lebih lama. Saya juga sudah melihat beberapa teman yang menghabiskan jutaan rupiah hanya untuk menghilangkan jerawat. Saya tidak mau. Saya kan tergolong pelit. Dengan demikian, kecanduan akan kacang berhasil diatasi. Kasus ditutup.

Kacang bukanlah satu-satunya. Saya juga kecanduan buku. Dan kecanduan nonton film dan televisi. Apalagi sejak mendapat fasilitas televisi kabel gratisan! Tapi saya bersyukur karena kecanduan buku, film dan televisi tidaklah terlalu merugikan. Bahkan cukup menguntungkan. Tahukah Anda bahwa beruang bisa mencium bau makanan dari jarak 3 kilometer? Tahukah Anda, bahwa ketika sedang tidur musim dingin, 55% bagian tubuh Rana sylvatica (sejenis kodok) membeku? Ia tidak bernapas, dan jantungnya tidak berdetak sepanjang musim dingin. Bagi mahkluk lain, ini adalah tanda-tanda kematian. Namun tidak bagi si kodok. Ketika musim semi tiba, es mencair, dan matanya kembali bersinar-sinar, lantas keempat kakinya melompat-lompat dengan gembira, seolah tidak terjadi apa-apa!

Itu, dan masih banyak info menarik lainnya seputar satwa, bisa didapat dengan menyaksikan sebuah film dokumenter berdurasi 30 menit di Animal Planet. Tidak merugikan, kan? Kalau saya masih mengajar di SD, tentu info-info tadi akan saya jadikan permainan tebak-tebakan yang menarik!^^

Nah, sekarang ada tanda-tanda kecanduan baru yang mulai mengintip. Sengaja tidak saya beri ruang dulu karena yang satu ini tidak bisa didapat dengan gratisan.

Awalnya begini. Minggu lalu saya diberi lagu baru oleh laoshi, berjudul ‘Si. Mi chiamano Mimi’, dari opera Le Boheme karya G. Puccini. Laoshi berkata, beliau ingin saya coba-coba belajar lagu itu. Saya senang sekali! Langsung saya pelototi not-not balok bak tauge menari itu, lantas saya aplikasikan pada keyboard yang telah setia mendampingi selama 13 tahun terakhir ini. Lumayan, saya jadi tahu kira-kira lagunya seperti apa. Namun saya belum berhasil menangkap esensinya. Kalau dulu waktu debat ada spirit of the motion, mestinya dalam musik juga ada spirit of the song ya. Itulah yang belum berhasil saya tangkap.

Jadi, saya coba mencarinya dengan YouTube. Mudah sekali! Selama kurang lebih 4 menit 55 detik, saya terkagum-kagum mendengarkan suara Mirella Freni membawakan lagu tersebut.

Youtube memang hebat! Mau cari lagu opera apa saja, ada. Saya pikir, mungkin berlatih menyanyi akan lebih mudah dengan adanya YouTube. Dengarkan, tonton, sambil menyimak partitur. Pasti menyenangkan! Rasa kecanduan mulai menyelinap. Saya mencoba mencari lagu-lagu yang pernah saya pelajari, yang dibawakan oleh biduanita-biduanita termashyur. Semuanya ada!

Nah kan, baru setengah jam saja menjelajahi YouTube, sudah muncul tanda-tanda kecanduan. Bagaimana ya, perlukah saya membeli laptop dan langganan internet agar bisa ber-YouTube ria? Selama ini sekedar nebeng laptop adik saya.

Tapi menonton cuplikan opera dari YouTube tidak sepenuhnya menguntungkan. Saya bisa jadi malas membaca partitur. Kan, nonton di YouTube lebih gampang dan cepat. Padahal, membiasakan diri membaca partitur itu penting. Begitulah, hingga tulisan ini diposting, saya masih belum bisa memutuskan. Menyerah pada kecanduan akan YouTube, atau tidak… ^^

#Bagi yang tertarik menyaksikan paduan suara Eliata berlatih membawakan lagu ‘Gottes Zeit ist die allerbeste Zeit’ dari Cantata No. 106 karya J. S. Bach, menjelang konser di Singapura Mei 2008 lalu, bisa cari di YouTube, ada kok, numpang promosi nih, hehe… ^^#

Salute!

Seorang anak laki-laki berusia 13 tahun memohon kepada sebuah mesin peramal, agar ia tumbuh dewasa dalam sekejap mata. Permintaannya dikabulkan! Keesokan hari, si anak telah menjelma menjadi pria dewasa berusia 35 tahun. Perjalanan hidup membawanya menjadi karyawan di sebuah pabrik mainan. Sebagai seorang anak, ia tahu betul mainan seperti apa yang digemari oleh anak-anak seusianya. Kelebihan ini dimanfaatkan betul oleh sang pemilik perusahaan. Si anak dalam tubuh pria dewasa ini lantas diberi kepercayaan, untuk mengetes setiap mainan baru yang akan diluncurkan ke pasaran. Pekerjaan yang diimpikan oleh jutaan anak di seluruh dunia, dengan penghasilan yang memuaskan!

Itulah saat pertama aku melihatnya. Pria berusia awal 30-an yang dengan brilyan sanggup menampilkan jiwa anak-anak dalam setiap gerak-gerik, ekspresi wajah, hingga gaya berbicara. Salute!

Aku melihatnya lagi saat berusia akhir 30-an. Seorang pengacara muda brilyan yang kehilangan masa depannya akibat penyakit AIDS yang diderita. Merasa dijebak oleh para partner senior, ia lantas menuntut perusahaan tempatnya bekerja. AIDS kian menggerogoti tubuhnya. Pengacara muda yang tadinya bertubuh atletis tersebut menjelma menjadi seorang pria kurus, lemah dan pucat. Namun semangatnya untuk memperoleh keadilan tetap menyala. Sidang demi sidang dihadiri dengan tabah, sampai suatu ketika tubuh tak berdaya itu tumbang, terjerembab begitu saja.

Itulah kali kedua aku melihatnya. Sulit dipercaya bahwa si kurus pucat nan tidak berdaya itu sebenarnya sehat dan bugar. Salute!

Setahun kemudian aku melihatnya lagi. Pria dewasa berusia akhir 30-an dengan kecerdasan di bawah normal. Namun percaya tidak percaya, justru kecerdasan rendah itulah yang mengantarkannya meraih kesuksesan! Lantaran kurang cerdas, ia hanya mampu fokus kepada satu hal saja di setiap waktu. Kalau sedang berlari, ia hanya terfokus pada gerakan kaki, tak ada tempat di otaknya untuk memikirkan hal lain.

Kelemahan ini berubah menjadi kekuatan. Berkat fokus yang nyaris sempurna, ia menjadi pelari tercepat dalam permainan football. Kemampuan lari cepat juga berguna dalam militer, di mana ia berhasil menyelamatkan banyak tentara yang terluka, serta memperoleh Medali Kehormatan Kongres.

Ketika bermain ping-pong, pria dengan kecerdasan rendah ini hanya sanggup memikirkan ping-pong saja, dan tak sanggup memikirkan hal-hal lain. Fokus, lagi-lagi membawanya menjadi juara dunia cabang olah raga ini.

Itulah kali ketiga aku melihatnya. Sulit dipercaya, bahwa pria berkebutuhan khusus ini sesungguhnya jenius, brilyan dan cermat, dengan kemampuan interpretasi tinggi. Salute!

Setelah itu, tak terhitung lagi berapa kali aku melihatnya. Soalnya aku suka mengaguminya lagi, lagi, dan lagi. Mengulang-ulang tidak menjadi masalah.

Terakhir kali aku melihatnya Sabtu lalu. Berlari-lari menjelajah Roma dan Vatikan, nyaris tewas karena kekurangan oksigen, berjuang menyelamatkan nyawa ratusan ribu manusia. Akan selalu kunantikan saat-saat di mana aku bisa melihatnya lagi.

Salute, Mr. Hanks!!!

Older Posts »