Feeds:
Posts
Comments

Pengalaman terpesona selama kurang lebih 4 jam ini, biasanya saya alami setiap tahun sekali. Semuanya bermula pada tahun 2006.

Pada saat itu, seorang rekan bertugas meliput pentas Teater Koma, yang bertajuk ‘Festival Topeng’. Usai liputan, ia bercerita tentang serunya pentas teater tersebut. Saya yang belum pernah menonton pentas Teater Koma, tapi sudah lama mendengar nama besarnya, jelas tertarik. Setelah memprovokasi, dan menggalang persatuan dan kesatuan di kalangan teman sekantor, akhirnya ada beberapa orang yang bersedia diajak pergi menonton bersama-sama. Kami sepakat membeli tiket paling murah, menonton di balkon, seharga 30 ribu rupiah per tiket. Selain sesuai dengan isi kantong, tiket di balkon merupakan satu-satunya yang tersisa, karena waktu sudah mepet.

Saya yang bertugas memesan dan membelikan tiket, karena lokasi penjualan tiket tak jauh dari tempat kos saya di kawasan Karet Sawah, Jakarta Selatan. Pada satu malam yang berhujan, sepulang kerja saya naik ojek menuju ke sebuah alamat di kawasan Setiabudi Barat. Mengarungi banjir setinggi lutut. Tak pelak lagi, tukang ojek yang piawai perlu mendapat acungan jempol. Upaya yang sepadan, karena saya berhasil pulang dengan mengantongi 6 lembar tiket. Cihuy…!!!

Itulah kali pertama saya terpesona selama 4 jam. Hebat nian para pemain teater itu. Misalnya, ada satu adegan, di mana para pemain bicara dengan suara berbisik lantaran sedang membicarakan suatu rahasia. Namun ucapan mereka amat jelas tertangkap oleh telinga!

Kali kedua, tahun 2007, saya kembali terpesona dengan pentas Teater Koma yang bertajuk ‘Kunjungan Cinta’. Kali itu, kebetulan kedua orangtua saya  sedang berada di Jakarta. Jadilah saya ajak orang tua, adik, seorang tante, dan saudara sepupu pergi menonton. Pengalaman yang mengesankan bagi mereka. Meski ibu dan tante saya sempat tertidur selama beberapa saat (karena pentas teaternya malam, jadi mereka sudah mengantuk), namun adegan di mana Pak Butet dan ‘keluarganya’ pergi berkeliling kota amat membuat mereka terpingkal-pingkal.

Kali ketiga, tahun 2008, nyaris saja saya kehabisan tiket! Saya baru ngeh kalau Teater Koma pentas lagi, setelah pentas itu sendiri berjalan selama kurang lebih seminggu (biasanya mereka pentas selama 2 minggu). Akhirnya, meskipun mendapat tempat duduk yang kurang strategis dan tercerai-berai, kami berhasil juga menonton pentas ‘Kenapa Leonardo’. Terkagum-kagum kami menyimak permainan Budi Ros yang berperan sebagai Leonardo. Jago bener maennya! Konon, Evald Flisar sang penulis drama aslinya pun terpesona. Maka terpesona pulalah kami selama 4 jam lebih!

Kali keempat, saya tidak mau mengulang kesalahan yang sama. Sengaja saya mengikuti milis Teater Koma, agar selalu mendapatkan berita terkini. Pada tahun 2009, kami sukses mendapatkan tiket di tempat yang sangat nyaman dan strategis, untuk menyaksikan ‘Republik Petruk’. Lagi-lagi, penampilan Budi Ros dan kawan-kawan begitu memikat! Sambil tertawa terpingkal-pingkal, kami terpesona selama 4 jam. Ah, adakah tontonan live yang lebih memesona daripada kelompok teater ini?

Kali kelima, baru saja terjadi, tepatnya tanggal 7 Februari lalu. Kali ini yang diusung adalah kisah ‘Sie Jin Kwie’. Pinyin-nya Xue Rengui, tulisan kanjinya 薛仁贵. Sebagai penggemar kisah-kisah dunia persilatan, saya penasaran, kok belum pernah mendengar nama Sie Jin Kwie ya? Saya tahunya cuma Pendekar Harum, Yo Ko, Kwee Ceng, Thio Bu Kie, 108 Pendekar Liangshan, Pendekar Negeri Tayli, dan lain sebagainya. Kata garwa (sigaran nyawa: belahan jiwa) saya, kisah ini rupanya kurang populer di Hong Kong, Taiwan dan sebagainya, jadi jarang difilmkan. Nah, tak kurang kan, motivasi untuk kembali menyaksikan pentas Teater Koma? Selain sebagai penggemar fanatik, saya sekaligus bisa tahu kisah Sie Jin Kwie. Kali ini kami mendapat tempat duduk nomor 4 dari depan. Wow, ternyata menonton dari jarak dekat lebih mengasyikkan! Apalagi pemain favorit saya, Budi Ros, berperan sebagai dalang yang sering-sering muncul untuk mengocok perut penonton.

Pulang menonton, saya memberitahu garwa, bahwa ada teman saya, Tedjo, yang selalu menonton pentas Teater Koma 2 kali. Awal dan akhir pementasan. Katanya, selalu ada improvisasi yang menarik dari para pemain.

Rupanya garwa saya tertarik. “Kita nonton lagi aja,” ujarnya.

Jadilah hari ini saya menelepon lagi, dan mendapat 4 tiket untuk pementasan tanggal 21 Februari mendatang. Baris ketiga dari depan, di bagian tengah. Lho, kok 4? Iya, saya bercerita pada Wi Laoshi, dosen saya di UI dulu, dan beliau tertarik untuk ikut menonton. Sampai ketemu tanggal 21 Februari nanti ya, Laoshi ^^

#@*&^%^

People could be seen fighting over the bags of food as others wailed and stretched up their hands in hopes of a package falling into their waiting arms. -APTN-

Kalimat di atas adalah bagian dari berita yang berkisah tentang kericuhan yang terjadi, pada saat pembagian bantuan makanan di Port-au-Prince, Haiti. Kalimat di atas tidak sulit untuk diterjemahkan. Tidak sulit pula untuk dipahami artinya. Namun kalimat tersebut sanggup meresap jauh ke dalam hati, dan amat sulit untuk dilupakan.

Saya tergolong manusia yang beruntung. Tadi pagi sebelum mulai bekerja,  saya sarapan nasi goreng, ditemani tempe dan bakwan jagung sekaligus. Perut saya nyaris tidak pernah kosong. Sejak dilahirkan hingga kini, saya tak pernah hidup dalam kekurangan.

HAH, DISURUH-SURUH JADI KETUA KELOMPOK KEGIATAN RELAWAN, JADI ILANG MINAT DAN INSPIRASI BUAT NULIS!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

HUHUHU… SAYA TIDAK MINTA BANYAK, CUMA MINTA AGAR AKHIR PEKAN BISA DIGUNAKAN UNTUK ISTIRAHAT, REKREASI, MELAKUKAN KEGIATAN BERMUSIK DAN BERGEREJA, DAN BUKANNYA MENGIKUTI KEGIATAN PAKSA-RELA. KALAU SEKALI-SEKALI SIH BOLEH-LAH. TAPI KALAU SETIAP BULAN, DAN WAJIB HUKUMNYA, ITU NAMANYA PAKSA-PAKSA, TIDAK ADA UNSUR RELANYA SAMA SEKALI.

KALAU AKHIR PEKAN KITA BISA BERISTIRAHAT DAN BEREKREASI, KAN SENIN-JUMAT KITA BISA BEKERJA DENGAN KAPASITAS PENUH. ATAU… HASIL KERJA KITA DI KANTOR TIDAK DIANGGAP PENTING…??? BISA JADI.

MAAFKAN SAYA YA, PARA PEMBACA YANG BERBUDI… LAIN KALI TULISANNYA DISAMBUNG LAGI… ^^

Apa yang terjadi bila seseorang benar-benar tak punya uang?

Saya pernah membaca sebuah berita di media elektronik tahun 2009 lalu, yang mengisahkan tentang seorang petugas kebersihan/penyapu jalan yang mendadak meninggal dunia ketika sedang bertugas. Setelah dilakukan otopsi, ditemukan bahwa yang bersangkutan meninggal dengan perut kosong. Maka ditarik kesimpulan sederhana, bapak tersebut meninggal akibat kelaparan.

Oh my God??? Meninggal akibat kelaparan? Bila hal ini terjadi di pedalaman benua Afrika sana, rasanya masih dapat dimengerti. Namun kalau tidak salah, peristiwa ini terjadi di Bogor, Jawa Barat. Bukankah di sana banyak terdapat warteg murah-meriah, atau setidaknya warung tempat orang bisa membeli mi instan (untuk dimasak di rumah), dan lain sebagainya?

Inilah salah satu akibat, bila seseorang benar-benar tak punya uang.

Apa yang terjadi bila seseorang punya cukup banyak uang, namun bernasib kurang beruntung?

Maka orang tersebut mungkin akan menabungkan uangnya di Bank Century. Belum lama ini saya membaca berita di media elektronik, yang mengetengahkan wawancara dengan salah seorang nasabah bank tersebut. Nasabah tersebut adalah seorang wanita, yang berkat kerja kerasnya selama 27 tahun, sanggup mengumpulkan tabungan sebanyak 700 juta rupiah. Sialnya, dana tersebut didepositokan di Bank Century. Kini, si ibu hanya dapat berharap pada pemerintah dan juga wakil-wakil rakyat, serta berdoa pada Yang Kuasa, agar hasil jerih payahnya tersebut dapat kembali.

Pemeriksaan Pansus yang ditayangkan di televisi hari ini juga menghadirkan sejumlah nasabah bank naas tersebut untuk dimintai keterangan. Belum lama ini saya menyaksikan seorang bapak marah-marah, menuntut para wakil rakyat yang terhormat agar mengembalikan uang mereka. Dana 7 trilyun ditalangi!!! Uang nasabah 1,4 trilyun tidak diganti!!!

Sedih, memang. Lha wong saldo dipotong 5 ribu perak gara-gara bertransaksi di atm bank lain saja rasanya beteeeee…. sekali. Apalagi setelah dicoba 2 kali, transaksi tetap gagal. Sementara uang 10 ribu perak sudah melayang. Bila tidak ingat akan bapak dan ibu saya yang mendidik saya sejak kecil, mungkin sudah keluar umpatan bernuansa flora dan fauna. Tapi itu baru 10 ribu perak saja.

Apalagi kehilangan sekian juta rupiah, sekian puluh juta, sekian ratus juta, bahkan sekian milyar…???

Memang sih, dalam hidup ini uang bukanlah yang utama. Namun di negeri tercinta ini, sebagian besar orang baru bisa mendapatkan pendidikan yang memadai, perawatan kesehatan, sandang, pangan, dan papan yang layak, bila punya uang.

Katakanlah, si nasabah Bank Century yang kehilangan uang sebesar 700 juta rupiah tersebut bukan orang miskin. Untuk makan dan biaya hidup sehari-hari, mungkin memang tak perlu dicemaskan. Namun bagaimana kalau dana itu tadinya untuk biaya pendidikan anaknya? Untuk biaya berobat orang tuanya? Atau untuk pegangan hidup di masa tua? Dan lain sebagainya.

Saya memang bukan nasabah Bank Century. Mendengar namanya saja baru belakangan ini. Tapi turut merasa kehilangan. Karena saya adalah salah satu anggota masyarakat yang hidup dari bekerja, dan setiap bulan berjuang menabungkan sekian persen penghasilan saya, untuk masa depan.

Semoga para nasabah yang kehilangan uangnya, di mana uang tersebut merupakan hasil jerih payah yang didapat secara jujur dan hallal, bisa mendapatkan uangnya kembali. Dan semoga mereka dianugerahi hati yang tabah, apapun yang terjadi.

Gusti Allah boten sare…

Hidup ini memang susah-susah gampang.

Seorang ibu muda yang barangkali membunuh lalat saja tidak tega, dijebloskan dalam penjara dan dijerat hukum, gara-gara mengirimkan surat elektronik.

Seorang artis cantik yang sedang menggendong anak kecil dipojokkan oleh sejumlah pekerja infotainment, sampai hampir jatuh dari tangga. Kepala anak kecil itu sempat kejedot kamera pula. Yang terjadi, si artis kemudian dituntut gara-gara melampiaskan kemarahan lewat Twitter-nya.

Sebetulnya semua ini tak perlu terjadi, kalau mereka menguasai kungfu tenaga dalam. Waktu masih kecil, saya memang agak terobsesi pada dunia persilatan. Sempat pula saya bercita-cita jadi pendekar yang merajai dunia persilatan. Namun kadang kisah para pendekar papan atas tersebut demikian tragis, sehingga saya sekedar ingin menjadi petani yang hidup bahagia, jauh dari intrik-intrik dunia persilatan.

Marilah kembali ke topik semula.

Bila menguasai ilmu kungfu tenaga dalam, kesehatan kita akan lebih terjaga. Ibu muda yang disebut di atas tadi kemungkinan takkan terserang penyakit cacar (kalau tidak salah ia masuk RS gara-gara penyakit cacar ya… maaf kalau saya salah). Kalaupun si penyakit sudah terlanjur menyerang, bisa dienyahkan dengan menggunakan tenaga dalam (sekali lagi maaf kalau sama sekali tidak ilmiah, namun pendekar-pendekar zaman dulu bisa mengusir racun yang masuk ke tubuh, hanya dengan menggunakan tenaga dalam lho). Dus, si ibu tidak akan perlu mondok di RS Internasional itu, dan karenanya perkara tersebut tak perlu terjadi.

Sekarang, marilah kita beralih ke artis cantik yang sedang mengendong seorang anak kecil. Dikejar dan dipojokkan oleh sejumlah pekerja infotainment sampai ke bibir tangga, yang notabene berbahaya sekali kalau ia sampai jatuh. Kalau menguasai kungfu tenaga dalam, yang perlu ia lakukan hanyalah menarik napas dalam-dalam, memusatkan tenaga pada telapak tangan, lalu HIYYYAAAAATTT…!!! Dalam sekejap, tenaga dalam akan menghambur keluar dari telapak tangan, menyapu para pengejarnya, hingga terhempas sedikitnya sejauh 5 meter. Si artis bisa mengibaskan rambutnya (seperti yang biasa dilakukan oleh pendekar wanita) lalu melangkah pergi dengan gagah.

Tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan tenaga dalam. Tapi bayangkan, alangkah kerennya… ^^

#Selamat Natal dan Tahun Baru semuanya…# ^^

Kenangan abadi perjamuan suci.
Saat Kau berkati secawan anggur dan roti.
Sungguh tak terperi kasih cinta di hati.
Walaupun Kalvari telah menanti…

Masih kuingat begitu merdu alunan suaramu saat menyanyikan lagu ‘Tuhan Mengubah Hidupmu’. Bukan hanya merdu, namun juga amat teduh dan lembut. Hanya damai saja yang kurasa, saat mendengarkanmu menyanyi.

Kurasa damai juga dirasakan oleh umat yang sedang mengikuti perayaan misa di gereja saat itu. Seisi gereja sontak menjadi hening. Seolah ingin memberi ruang, agar setiap orang dapat menikmati indahnya suara itu.

Pukul 15.52 hari ini, kuterima pesan singkat lewat telepon seluler, mengabarkan kondisimu yang sedang kritis di rumah sakit.

Pukul 16.21 kembali kuterima sebuah pesan singkat. Mengabarkan bahwa engkau sudah tak lagi bersama kami.

Tahukah engkau, temanku yang tersayang, kami berencana menengokmu usai misa Natal nanti, mengobrol dan tertawa-tawa denganmu, sambil menyanyikan lagu-lagu Natal bersama-sama.

Namun Tuhan begitu menyayangimu. Tak dibiarkan-Nya engkau menderita lebih lama. Direngkuhnya jiwamu dengan tangan-tangan-Nya yang penuh kasih. Diberi-Nya engkau Natal yang terindah tahun ini, bersama dengan Bapa di surga.

Mbak yang lembut dan baik hati, pastilah engkau sudah berbahagia di sana. Selamat tinggal, selamat jalan. Takkan pernah kulupakan suaramu yang teduh dan indah. Kenangan tentangmu, selalu tersimpan rapi di hati kami.

Selamat menyanyi untuk Bapa di surga ya mbak. Aku yakin Ia juga menyukai suaramu.

*untuk mbak Esthie di surga*

Bila diminta menyebutkan nama-nama satwa laut yang cerdas, biasanya kita akan langsung terpikir lumba-lumba, paus, anjing laut, dan lain sebagainya. Pokoknya hewan-hewan pintar yang bisa kita lihat aksinya di Ancol, atau di film ‘Free Willy‘.

Kecil sekali kemungkinannya kita akan menyebutkan: gurita.

Ya, satwa laut yang tidak bertulang belakang ini memang tidak dikenal sebagai sosok yang cerdas. Namun hasil penelitian yang diterbitkan oleh peneliti Australia dalam jurnal ‘Current Biology’ belum lama ini, menyebutkan hasil yang mengejutkan.

Siap-siap kaget ya…!!! ^^

Ternyata gurita mampu menyanyi dan membaca puisi (ini jelas bo’ong, hehe… peace…!!!) Tapi yang di bawah ini beneran lho.

Gurita mampu memanfaatkan benda yang ia temukan di lingkungan sekitar, sebagai alat untuk membuat hidupnya menjadi lebih nyaman.

Ceritanya, sejumlah ilmuwan Australia menyelam di perairan lepas pantai Sulawesi Utara, untuk mencari Mimic Octopus. Namun mereka malah memfilmkan sekelompok gurita sedang memilih-milih batok kelapa, yang berserakan di dasar laut. Setelah dipilih, batok kelapa diangkut ke tempat lain. Kemudian dua batok kelapa disatukan, menjadi sebuah tempat bersembunyi berbentuk bulat. Nah, jadilah sebuah rumah untuk gurita…Hore…!!! Plok…Plok…Plok…Hebaaaaattt…!!! ^^

Rekaman video tadi sekaligus merupakan bukti pertama,  bahwa hewan tak bertulang belakang juga bisa menggunakan peralatan.

Sumber: APTN

Dengan kata lain, sedikit banyak gurita sanggup berpikir seperti manusia, yaitu memanfaatkan benda yang ada di sekitarnya.

Ohya, karena gurita memanfaatkan batok kelapa, yang notabene merupakan sampah, maka bisa dibilang gurita melakukan kegiatan daur ulang sampah dong…???

Nah, mari kita perhatikan lingkungan sekitar kita. Siapa tahu ada sampah yang masih bisa kita daur ulang dan manfaatkan. Jangan mau kalah sama gurita ya…!!!

Isn’t a wonder, to see you assembling two coconut shells, thus creating a perfect hiding spot…!!! That scene really made my day…^^

I’m proud of you, Octopus dear… ^^


Foto diambil dari:

http://www.sciencedaily.com/releases/2009/12/091214121953.htm

http://museumvictoria.com.au/coconut-carrying-octopus

(Courtesy of Current Biology)


singin' with an idolMenyanyi bersama cowok ganteng yang bersuara merdu? Bisa-bisa saja, namun terlebih dahulu Anda harus menyisihkan ribuan kandidat lain yang juga bersuara merdu (hal ini terjadi ketika sebuah produsen sampo mengadakan kompetisi beberapa tahun lalu, di mana si pemenang yang bersuara merdu dan berambut indah dapat berduet dengan sang idola).

Untunglah saya tidak perlu melalui tahap-tahap seperti yang disebutkan di atas!!! Kalau iya, hampir bisa dipastikan saya tidak akan lolos… ^^

Awalnya, seorang sahabat yang sudah saya kenal sejak masa Taman Kanak-Kanak, hendak melangsungkan pesta pernikahannya di bulan Oktober lalu. Pada bulan September, pasangan tersebut telah melangsungkan sakramen perkawinan di sebuah gereja di Auckland. Setelah itu, mereka kembali ke tanah air, untuk menyelenggarakan resepsi pernikahan sebanyak dua kali. Satu kali di Jakarta, dan satu kali di Yogyakarta.

Kebetulan saya diundang ke resepsi yang di Jakarta (karena saya berdomisili di Jakarta), dan juga ke resepsi yang di Yogyakarta (karena resepsi di Yogyakarta ini diselenggarakan oleh keluarga sahabat saya, sang pengantin wanita).

Saya  memutuskan untuk menghadiri kedua-duanya. Soalnya menikah itu kan hanya sekali seumur hidup. Kalau memungkinkan secara finansial, sebenarnya saya juga ingin menghadiri sakramen pernikahan sahabat saya di Auckland (nah, mupeng deh).

Saat menghadiri pesta yang di Jakarta, kebetulan saya datang terlalu awal (maklum lokasi pestanya amat dekat dari kantor). Jadilah saya ikutan masuk ke ruang tunggu, bergabung dengan keluarga mempelai pria dan wanita. Ngobrol punya ngobrol dengan mempelai wanita, dia bercerita bahwa pada pesta di Yogyakarta pekan mendatang, dia tidak jadi mengundang O, seorang penyanyi terkenal, untuk memeriahkan pestanya. Pasalnya, persyaratan yang diminta si artis terlalu banyak, dan biayanya terlalu mahal.  Jadilah dia mengundang Mr. D, yang bersedia menyanyi diiringi oleh musisi setempat.

Iseng-iseng, mempelai wanita yang gemar bercanda tersebut bertanya pada saya, “Kowe gelem po, nyanyi karo Mr. D?” (Kamu mau nyanyi sama Mr. D?)

Saya tersentak. Tersentak yang mendebarkan dan menyenangkan. Lantas menjawab sambil nyengir kuda (sesuai shio saya), “nanti aku nyanyikan sebuah lagu, kalo menurutmu oke, baru deh di Yogya nyanyi lagi.

Kemudian pesta dimulai, dan di tengah-tengah pesta saya nyanyikan lagu ‘Bridge Over Troubled Water‘ untuk kedua mempelai (sebisa mungkin nyontek gayanya Mbak Church). Sambil berharap suara saya memenuhi kualifikasi untuk menyanyi di pestanya yang di Yogya. Soalnya, sahabat saya ini akan mengundang beberapa penyanyi yang bagus-bagus, jadi kalau suara saya tidak memenuhi standar, lebih baik saya yang mundur duluan, hehe… ^^

Usai pesta, saya masih terus berpikir. Serius nggak ya, sahabat saya itu, waktu menawari saya menyanyi dengan Mr. D? Toh itu kan pestanya? Sebagai tuan rumah, ia bisa meminta Mr. D untuk menyanyi dengan siapa saja, kan?

Kalau iya, saya harus segera berlatih. Karena pesta akan diselenggarakan minggu berikutnya. Saya sudah terpikir sebuah lagu yang sangat indah, yaitu ‘The Prayer‘. Pasalnya, waktu Mr. D masih berkompetisi dalam acara pemilihan idola Indonesia beberapa tahun lalu, ia pernah menyanyikan lagu tersebut di layar kaca. Dan suaranya sangat cocok untuk lagu tersebut!!!

Teman se-apartemen saya berkata, “nanya aja sama temanmu, serius atau nggak. Kalau iya, cepatlah berlatih.” Dan itulah yang saya lakukan.

Ayah sahabat saya berbaik hati menanyakan kepada pihak Mr. D, bersedia atau tidak untuk berduet ‘The Prayer‘ dengan saya. Jawabannya tiba tak lama kemudian. Mr. D bersedia untuk memberi saya kesempatan untuk mencoba, pada saat gladi bersih!!!

Pagi-pagi sekali pada hari-H, saya sudah naik taksi ke bandara, untuk pulang kampuang. Siang hari sekitar pukul dua, saya sudah siap di gedung, karena gladi bersih dan check sound dijadwalkan pada pukul tiga. Mendekati pukul empat, Mr. D tiba dan langsung melakukan check sound, menyanyi dengan mikrofon nirkabel sambil berjalan mengelilingi ruangan pesta. Kemudian, barulah ia menyanyi dengan saya.

Usai menyanyi, Mr. D tersenyum, melakukan ‘tos’ dengan saya, dan meneruskan check sound. Ayah mempelai wanita yang juga sudah tiba di gedung bertanya kepada Mr. D, “bagaimana, si S oke?” Mr. D mengangguk. Nah, artinya nanti saya boleh berduet dengannya ^^

Usai gladi bersih, saya langsung menjalankan anjuran teman se-apartemen saya, yaitu pergi ke salon. “Biar ndak njegleg,” kata teman saya tersebut. “Soalnya Mr. D pasti tampil keren.

Hasilnya? Seperti yang bisa dilihat di atas. Jujur, soal suara, saya masih jauuuuuh tertinggal. Tapi setidaknya dalam foto saya tidak terlihat njegleg kan? Hehe… ^^

Terima kasih banyak ya Pe, untuk kenangan indah yang tak terlupakan ini ^^

10-10-2009

Hari ini ada berita baru di televisi (selain perkembangan kasus KPK-Williardi-dsb-lsp-etc). Beberapa tokoh keagamaan mengeluarkan fatwa haram atas film 2012 yang sekarang sedang diputar di gedung-gedung bioskop. Alasannya, karena film tersebut ditakutkan akan menyesatkan masyarakat pada umumnya, dan kaum Muslim pada khususnya.

Huaaah, segitu seriusnya para tokoh keagamaan ini menanggapi sebuah film yang jelas-jelas fiksi. Hanya saja, memang pencetus ide film ini jeli dalam menangkat teman ‘Kiamat tahun 2012′ yang kini ramai dibicarakan orang.

Menurut saya, rakyat Indonesia tidak segitu bodohnya, sampai menelan mentah-mentah dan mempercayai keseluruhan cerita yang dikisahkan di film. Lha wong jelas-jelas fiksi, produksi Hollywood, lage!!! Kalau ada yang terlalu bego sampai menelan mentah-mentah semuanya, ya salahkanlah diri sendiri kenapa bisa sebego itu, jangan menyalahkan film.

Selain itu, rakyat Indonesia menghadapi banyak masalah yang jauuuuuh lebih pelik, seperti kelaparan, kurang gizi, kekeringan, banjir, fenomena anak jalanan, penggusuran, bentrokan, pelecehan seksual, kejahatan, penipuan, kaki gajah, dan yang paling populer akhir-akhir ini, korupsi. Dengan segitu banyaknya masalah, paling-paling film 2012 hanya akan dipandang sebagai hiburan saja (memang itu manfaat utama film, yaitu menghibur).

Tapi kita lihat sisi positifnya saja. Bagaimanapun, para tokoh agama tersebut sebenarnya bermaksud baik, yaitu melindungi umatnya dari pengaruh-pengaruh yang bisa menyesatkan.

Hanya saja, menurut saya, pendekatan yang diambil, kurang bijaksana.

Kita tidak bisa melapisi seluruh dunia dengan permadani. Karena itu, jauh lebih praktis jika masing-masing orang mengenakan sepatu pelindung kaki.

Demikian juga dengan para tokoh keagamaan. Sekeras apapun mereka berusaha, pengaruh-pengaruh buruk dan menyesatkan akan selalu ada. Tidak mungkin melarang semua pengaruh buruk demi melindungi umat. Lebih baik, bekali umat dengan ajaran agama dan kepercayaan yang benar, agar iman mereka tetap teguh, sehebat apapun godaan yang mereka jumpai.

Selain itu, saya tidak begitu setuju dengan penggunan kata ‘takut’. Kenapa kita sedikit-sedikit merasa takut, lalu bertindak kurang rasional. Makin dilindungi, makin seseorang merasa takut. Mengapa tidak mengajaknya menghadapi saja rasa takut itu.

Contohnya seperti di bawah ini:

Dulu waktu masih kecil, adik saya yang nomor dua, takut sekali kepada yang namanya anjing. Maklum, sejak kecil ia diasuh oleh Si Mbok, yang kebetulan juga sangat takut terhadap anjing. Setiap kali bermain ke rumah saudara saya yang memelihara anjing, adik saya akan bersembunyi di balik kain Si Mbok. Kalau digonggongi anjing, hampir bisa dipastikan ia akan menangis. Saya sendiri lebih beruntung. Sejak kecil, encek saya telah mengajarkan saya untuk berteman dengan anjing.

Lama-lama, timbul rasa iba juga melihat adik saya itu.

Suatu hari, salah seekor anjing betina milik saudara saya melahirkan untuk yang kesekian kalinya. Semua anaknya ada 6 ekor dan lucu-lucu! Inilah saat yang tepat, pikir saya. Adik saya harus diajari menghadapi rasa takutnya. Ia perlu dibuka pikirannya, agar melihat anjing sebagai sahabat manusia yang manis, lucu, dan setia.

Suatu sore kami pergi bermain ke rumah saudara saya (kali ini tanpa mengajak Si Mbok). Saya ajak dia melihat dan menggendong anak-anak anjing yang masih amat kecil (sebesar tikus). Dia terlihat senang, meski masih takut kalau melihat sang induk.

Saya terus mengajak adik saya bermain dengan anak-anak anjing, setiap kali ada waktu. Dimulai dari berteman dengan anak anjing (yang belum punya gigi jadi tidak bisa menggigit), hingga si doggie bertumbuh besar (giginya tajam-tajam), lama-lama adik saya tidak takut lagi kepada anjing. Sekarang ia justru menjadi seorang penyayang anjing…!!! (meskipun belum bisa piara anjing sendiri ya, huhu…)

Kenapa takut pada film 2012? Tonton saja (kalau memang suka nonton film fiksi yang seru-seru). Sehabis nonton, kita lihat apakah kita:

a. Merasa terhibur (berarti filmnya bagus)

b. Tidak merasa terhibur (berarti filmnya jelek)

c. Menjadi sesat dan takut akan kiamat (berarti kitanya begooo banget…)

Peace…!!! ^^

Bermimpi dan bernyanyi

Dulu, semasa kecil saya hanya bisa menikmati alunan suara biduan dan biduanita yang menyanyikan Ave Maria gubahan Schubert. Hati ini rasanya ingin turut menyanyikan lagu seindah itu. Namun apa daya suara tak sampai. Nadanya terlalu tinggi untuk diraih. Alhasil, saya hanya dapat bermimpi.

Sejak Charlotte Church kecil berusia 12 tahun mengeluarkan albumnya yang bertitel ‘Voice of an Angel’, saya langsung jatuh cinta pada suaranya yang serupa malaikat cilik. Saya terus membeli album-albumnya, sambil berpikir bahwa suara seperti ini hanya dimiliki oleh mereka-mereka yang berbakat alam. Orang dengan suara cempreng seperti saya hanya bisa mendengarkan dan bermimpi.

Ketika Charlotte Church beranjak dewasa, ia menyanyikan lagu ‘Bridge Over Troubled Water’ dengan gaya seriosa yang amat indah. Saya yakin, ketika bersin pun suaranya pasti merdu! Apalagi ketika menyanyikan ‘The Prayer’ bersama Josh Groban, hasilnya luar biasa! Saya bertepuk tangan usai menyaksikan konsernya dari layar kaca (norak ye!!!). Pernah beberapa kali saya mencoba untuk turut menyanyi, namun nadanya terlalu tinggi. Daripada mengeluarkan suara seperti orang tercekik, saya memilih berhenti menyanyi. Dan kembali bermimpi.

Untunglah hal ini tidak berlangsung lama. Ada dua hal yang membuat saya memutuskan untuk berhenti bermimpi, dan mulai sungguh-sungguh menyanyi.

Yang pertama adalah seorang teman saya ketika kuliah di FKIP Atma Jaya dulu, yaitu Sylvia Onggo (sekarang Sylvia Kusuma ^^). Teman saya yang satu ini sudah hobi menyanyi sejak dulu. Suaranya memang indah. Pernah, sewaktu masih kuliah, ia terpilih mewakili Indonesia dalam lomba menyanyi ‘Asia Bagus’.

Singkat cerita, setelah bertahun-tahun tidak berjumpa, saya kembali bertemu dengannya, dalam sebuah acara reuni. Teman saya ini bercerita, bahwa setelah menikah ia mengambil kursus vokal klasik dan berlatih menyanyi dengan serius. Saat itu, sempat ia nyanyikan sepenggal lagu ‘The Lord’s Prayer’. Wow, suaranya yang sejak dulu sudah bagus, kali ini berubah menjadi istimewa! Luar biasa! Saya jadi terinspirasi! Vokal klasik yang ia tekuni membuat suaranya menjadi seindah ini. Berkat latihan dan bimbingan guru vokal, suaranya kian matang.

Yang kedua adalah status di Yahoo Messenger teman sekantor saya yang bernama Paulus. Pernah ia memasang status sebagai berikut ‘When we wake up in the morning, we have two simple choices. Go back to sleep and dream, or wake up and chase those dreams!’

Kedua hal tersebut mendorong saya untuk segera bangun dari mimpi, dan mencari kursus vokal klasik! Teman saya Sylvia memberikan nomor telepon Jakarta Singing School, yang langsung saya tindak lanjuti. Menelepon, mendaftar, audisi, dan mengikuti kursus vokal. Pada bulan November 2006, saya resmi menjadi salah satu siswi Jakarta Singing School. Yippieee…!!!

Kini, 3 tahun kemudian, apakah mimpi saya sudah tercapai? Jelas jawabannya adalah: belum. Soalnya, suara saya belum ada sekuku pink-nya Charlotte Church.

Namun ada beberapa hal yang patut disyukuri. Setidaknya suara saya sekarang cukup tinggi untuk menyanyikan lagu ‘The Prayer’. Sehingga ketika ada kesempatan untuk berduet dengan Mr. D yang ganteng dan bersuara merdu, saya merasa cukup pede untuk setidaknya mencoba. Waktu gladi bersih, pianis bertanya, “nadanya seberapa?” Berkat latihan vokal selama 3 tahun saya dapat menjawab “disamakan dengan aslinya saja.” Tanpa latihan vokal, diturunkan beberapa nada saja mungkin suara saya masih belum ‘nyampe’. ^^

Lagu Ave Maria gubahan Schubert kini hidup dalam diafragma dan tenggorokan, bukan hanya dalam impian. Sewaktu pemberkatan pernikahan di gereja, sebagai pengantin yang mandiri, saya nyanyikan sendiri lagu ini ^^ Demikian pula dengan lagu Ave Maria gubahan Bach. Selanjutnya, saya ingin belajar Ave Maria gubahan Caccini ^^

Awal mengikuti les vokal, saya diajak bergabung dalam Paduan Suara Eliata sebagai alto. Kira-kira setahun yang lalu, saya disuruh pindah ke sopran. Menurut laoshi, dengan bantuan teknik yang baik dan benar, jangkauan nada memang bisa bertambah luas. Dulu, saat melihat partitur lagu Kein hamlein wächst auf erden, dan mendapati ada nada F yang sedang (bukan yang tinggi), rasanya sudah kepingin kabur. Sekarang??? Hajar, bleh!!! ^^

Seorang teman saya iseng-iseng bertanya, “berapa banyak yang sudah kau keluarkan untuk belajar vokal selama 3 tahun?”

Saya cuma bisa nyengir dan menjawab, “pokoknya cukuplah, buat jalan-jalan ke Tiongkok!”

Ya, jalan-jalan ke Tiongkok dan mendaki Tembok Besar adalah salah satu impian saya juga. Tapi dengan jumlah sekian, paling banter saya hanya bisa jalan-jalan selama 2 minggu. Sedangkan dengan mengikuti les vokal, saya bisa menyanyi seumur hidup! Dan mengubah hampir seumur hidup saya yang tadinya hanya ‘bermimpi’ menjadi sungguh-sungguh ‘beryanyi’ ^^

Last Sunday afternoon, I was singing Psalm at church, when a strange thought came across my mind. This might be the last Psalm that you sing, as a single woman, it said. The very thought of it made me shudder a little bit, and suddenly I missed a note! I quickly concentrated back to the Psalm in front of me, and wished that the mistake wasn’t a terrible one.

Ever since that moment, the similar thoughts keeps on coming across my mind. This might be the last gado-gado you have as a single woman. This might be the last novel you read as a single woman. And this very writing might be the last thing I write in this blog, as a single woman!!!

Yeah, my life is about to change. This time it’s gonna be a huge one. I won’t address myself ‘Miss’ anymore. And once the change happens, there is no turning back. It’s a point of no return. Realizing this, I was lucky enough to sing Psalm and Hallelujah till the end, with one or two mistakes only. With these kinds of thoughts, I could’ve stopped singing and ran back home instead!

I never want to call myself Cowardia, Cowardella, or Cowardonetta, but I must admit that I’ve been acting like a coward lately. I’m afraid of big changes!!!

Most of the times, I simply face the fear by ignoring it. Not talking about it. Limiting any thoughts about it. I only said it in my prayers.

That’s what I usually do.

Ignore the fear, let it happen, and see what I can do.

It was like joining a debate competition without case building, without knowing what the motion is, on which side I shall stand, and who I am going to debate against. I only know who my team mates are. If you’re lucky enough to have team mates like Michelle, Aviva, or Lita of Atma Jaya Debating Club (ADC), you would surely jump with them into any fire, without hesitation! You simply trust each other, and have a wonderful debate, no matter what it takes!

I know who my team mate will be. He’s a guy I’ve known for three years. I really hope we can be a great team.

This is the song I was so very, extremely, unbelievably lucky to sing with gorgeous Mr. D on October 10, 2009 (when will I sing with him again? Hehehe…^^)

The melody, I love with all my heart. The lyrics, I pray with all my soul.

Music and lyrics: David Foster and Carol Bayer Sarger

Italian translation: Alberto Testa, Tony Reis

The Prayer

I pray you’ll be our eyes
And watch us where we go
And help us to be wise
In times when we don’t know

Let this be our prayer
As we go our way
Lead us to a place
Guide us with your grace
To a place where we’ll be safe
La luce che to dai

I pray we’ll find your light
Nel cuore restero
And hold it in our hearts
A ricordarchi che
When stars go out each night
L’eterna stella sei
Nella mia preghiera
Let this be our prayer
Quanta fede c’e
When shadows fill our day
Lead us to a place
Guide us with your grace

Give us faith so we’ll be safe.
Sognamo un mondo senza piu violenza

Un mondo di giustizia e di speranza
Ognuno dia la mano al suo vicino
Simbolo di pace e di fraternita

La forza che ci dai
We ask that life be kind
E’il desiderio che
And watch us from above
Ognuno trovi amore
We hope each soul will find
Intorno e dentro a se
Another soul to love

Let this be our prayer
Let this be our prayer
Just like every child
Just like every child

Needs to find a place,
Guide us with your grace
Give us faith so we’ll be safe
E la fede che
Hai acceso in noi
Sento che ci salvera

Older Posts »