Dulu, semasa kecil saya hanya bisa menikmati alunan suara biduan dan biduanita yang menyanyikan Ave Maria gubahan Schubert. Hati ini rasanya ingin turut menyanyikan lagu seindah itu. Namun apa daya suara tak sampai. Nadanya terlalu tinggi untuk diraih. Alhasil, saya hanya dapat bermimpi.
Sejak Charlotte Church kecil berusia 12 tahun mengeluarkan albumnya yang bertitel ‘Voice of an Angel’, saya langsung jatuh cinta pada suaranya yang serupa malaikat cilik. Saya terus membeli album-albumnya, sambil berpikir bahwa suara seperti ini hanya dimiliki oleh mereka-mereka yang berbakat alam. Orang dengan suara cempreng seperti saya hanya bisa mendengarkan dan bermimpi.
Ketika Charlotte Church beranjak dewasa, ia menyanyikan lagu ‘Bridge Over Troubled Water’ dengan gaya seriosa yang amat indah. Saya yakin, ketika bersin pun suaranya pasti merdu! Apalagi ketika menyanyikan ‘The Prayer’ bersama Josh Groban, hasilnya luar biasa! Saya bertepuk tangan usai menyaksikan konsernya dari layar kaca (norak ye!!!). Pernah beberapa kali saya mencoba untuk turut menyanyi, namun nadanya terlalu tinggi. Daripada mengeluarkan suara seperti orang tercekik, saya memilih berhenti menyanyi. Dan kembali bermimpi.
Untunglah hal ini tidak berlangsung lama. Ada dua hal yang membuat saya memutuskan untuk berhenti bermimpi, dan mulai sungguh-sungguh menyanyi.
Yang pertama adalah seorang teman saya ketika kuliah di FKIP Atma Jaya dulu, yaitu Sylvia Onggo (sekarang Sylvia Kusuma ^^). Teman saya yang satu ini sudah hobi menyanyi sejak dulu. Suaranya memang indah. Pernah, sewaktu masih kuliah, ia terpilih mewakili Indonesia dalam lomba menyanyi ‘Asia Bagus’.
Singkat cerita, setelah bertahun-tahun tidak berjumpa, saya kembali bertemu dengannya, dalam sebuah acara reuni. Teman saya ini bercerita, bahwa setelah menikah ia mengambil kursus vokal klasik dan berlatih menyanyi dengan serius. Saat itu, sempat ia nyanyikan sepenggal lagu ‘The Lord’s Prayer’. Wow, suaranya yang sejak dulu sudah bagus, kali ini berubah menjadi istimewa! Luar biasa! Saya jadi terinspirasi! Vokal klasik yang ia tekuni membuat suaranya menjadi seindah ini. Berkat latihan dan bimbingan guru vokal, suaranya kian matang.
Yang kedua adalah status di Yahoo Messenger teman sekantor saya yang bernama Paulus. Pernah ia memasang status sebagai berikut ‘When we wake up in the morning, we have two simple choices. Go back to sleep and dream, or wake up and chase those dreams!’
Kedua hal tersebut mendorong saya untuk segera bangun dari mimpi, dan mencari kursus vokal klasik! Teman saya Sylvia memberikan nomor telepon Jakarta Singing School, yang langsung saya tindak lanjuti. Menelepon, mendaftar, audisi, dan mengikuti kursus vokal. Pada bulan November 2006, saya resmi menjadi salah satu siswi Jakarta Singing School. Yippieee…!!!
Kini, 3 tahun kemudian, apakah mimpi saya sudah tercapai? Jelas jawabannya adalah: belum. Soalnya, suara saya belum ada sekuku pink-nya Charlotte Church.
Namun ada beberapa hal yang patut disyukuri. Setidaknya suara saya sekarang cukup tinggi untuk menyanyikan lagu ‘The Prayer’. Sehingga ketika ada kesempatan untuk berduet dengan Mr. D yang ganteng dan bersuara merdu, saya merasa cukup pede untuk setidaknya mencoba. Waktu gladi bersih, pianis bertanya, “nadanya seberapa?” Berkat latihan vokal selama 3 tahun saya dapat menjawab “disamakan dengan aslinya saja.” Tanpa latihan vokal, diturunkan beberapa nada saja mungkin suara saya masih belum ‘nyampe’. ^^
Lagu Ave Maria gubahan Schubert kini hidup dalam diafragma dan tenggorokan, bukan hanya dalam impian. Sewaktu pemberkatan pernikahan di gereja, sebagai pengantin yang mandiri, saya nyanyikan sendiri lagu ini ^^ Demikian pula dengan lagu Ave Maria gubahan Bach. Selanjutnya, saya ingin belajar Ave Maria gubahan Caccini ^^
Awal mengikuti les vokal, saya diajak bergabung dalam Paduan Suara Eliata sebagai alto. Kira-kira setahun yang lalu, saya disuruh pindah ke sopran. Menurut laoshi, dengan bantuan teknik yang baik dan benar, jangkauan nada memang bisa bertambah luas. Dulu, saat melihat partitur lagu Kein hamlein wächst auf erden, dan mendapati ada nada F yang sedang (bukan yang tinggi), rasanya sudah kepingin kabur. Sekarang??? Hajar, bleh!!! ^^
Seorang teman saya iseng-iseng bertanya, “berapa banyak yang sudah kau keluarkan untuk belajar vokal selama 3 tahun?”
Saya cuma bisa nyengir dan menjawab, “pokoknya cukuplah, buat jalan-jalan ke Tiongkok!”
Ya, jalan-jalan ke Tiongkok dan mendaki Tembok Besar adalah salah satu impian saya juga. Tapi dengan jumlah sekian, paling banter saya hanya bisa jalan-jalan selama 2 minggu. Sedangkan dengan mengikuti les vokal, saya bisa menyanyi seumur hidup! Dan mengubah hampir seumur hidup saya yang tadinya hanya ‘bermimpi’ menjadi sungguh-sungguh ‘beryanyi’ ^^
Orang seperti saya kemungkinan besar takkan bisa menulis artikel yang berjudul ‘Memasak itu Mudah’, atau ‘Berkebun itu Mudah’, atau lebih-lebih ‘Bermain Bulu Tangkis itu Mudah’ (yang terakhir disebut tadi saya tidak bisa sama sekali!!!!!). Namun setidaknya saya bisa menulis tentang hal di bawah ini.
Bertahun-tahun lalu, saat masih kanak-kanak, saya sangat gemar membaca. Buku-buku yang dipinjam oleh encek (adik ayah) saya dari perpustakaan kelenteng pun, kalau cukup menarik, pasti saya baca juga. Salah satunya adalah buku-buku karya Anthony de Mello SJ. Waktu itu saya belum sepenuhnya memahami tulisan-tulisan de Mello. Saya hanya menggemari gaya bertuturnya yang ringan dan singkat, serta kaya makna.