Bertahun-tahun lalu, saat masih kanak-kanak, saya sangat gemar membaca. Buku-buku yang dipinjam oleh encek (adik ayah) saya dari perpustakaan kelenteng pun, kalau cukup menarik, pasti saya baca juga. Salah satunya adalah buku-buku karya Anthony de Mello SJ. Waktu itu saya belum sepenuhnya memahami tulisan-tulisan de Mello. Saya hanya menggemari gaya bertuturnya yang ringan dan singkat, serta kaya makna.
Salah satu tulisan singkatnya yang masih saya ingat kira-kira sebagai berikut:
Letakkan seekor katak dalam sebuah panci berisi air yang dipanaskan perlahan-lahan, ia akan merasa hangat dan nyaman sehingga tidak beranjak, meski air telah mendidih dan mencelakakannya.
Tapi letakkan seekor katak dalam panci yang berisi air mendidih, ia akan melompat keluar saat itu juga, dan dengan demikian, menyelamatkan nyawanya!
Akhir-akhir ini saya berpikir, bagaimana kalau bukan seekor katak yang dipanaskan dalam panci secara perlahan-lahan tersebut? Bagaimana kalau itu adalah saya? Bagaimana kalau saya merasa aman dan nyaman dengan kondisi saya yang sekarang, dan kehilangan semangat juang untuk menggapai yang lebih baik?
Seorang motivator favorit saya yang setiap minggu tampil di televisi mengatakan, “leave your comfort zone!”
Sebuah dilema yang membingungkan. (Namanya saja dilema, ya pasti membingungkan tho, mbakyu). Saya mencintai kondisi saya yang sekarang, namun kondisi ini tidak mencintai saya. Tidak memungkinkan saya untuk maju dan meraih yang lebih baik. Kondisi yang sekarang ini cukup baik untuk saya pribadi, tapi saya kan tidak selamanya hidup sendirian. Nantinya saya akan berkeluarga, punya anak, dan wajib merawat orang tua dan mertua saya dengan sebaik-baiknya. Nah, pada saat itu, diperkirakan kondisi yang sekarang ini tidak lagi memadai.
Haruskah saya melompat keluar dari panci sebelum terlambat? Sepertinya iya.
#daripada tidak ada tulisan sama sekali bulan Juli ini, lebih baik curhat. Ya tidak?# ^^
apa yg disampaikan Pak Mario Teguh itu bisa saya pahami dan ketika mau saya praktekkan ternyata nggak semudah itu. ketakutan untuk untuk keluar dari zona nyaman sangat mendominasi perasaan saya
I hope this will inspire us all…
SANG GAJAH, BELALANG DAN MUHAMMAD ALI
Ada pendapat yang mengatakan: “orang yang tidak tahu kemana ia akan menuju mereka adalah pengembara”. Orang yang seperti ini biasanya akan menggantungkan nasibnya kepada keadaan atau hal-hal lain di luar dirinya. Motivasi kerjanya hanyalah untuk sekedar bisa hidup dan makan serta memiliki sedikit kesibukan daripada menganggur. Tidak sedikit orang yang seperti ini. Apakah kita tergolong orang seperti ini? Mari kita merenung, mengoreksi dan mengevaluasi diri kita masing-masing. Beberapa cerita berikut ini, mudah-mudahan dapat menginspirasi kita untuk berbuat lebih baik
Cerita I: Gajah
Gajah adalah binatang yang tergolong cukup besar di antara jenis binatang. Menurut cerita, bahwa di tempat pelatihan gajah di Way Kambas Lampung, gajah-gajah liar yang akan dijinakkan akan diikat ke empat kakinya dengan rantai atau tali tambang yang besar. Tali tersebut kemudian diikatkan pada pohon atau batu yang besar, sehingga gajah tidak dapat melarikan diri. Pada awalnya gajah memberontak dan berpikir akan dapat memutuskan tambang pengikatnya. . Kenyataannya, tali pengikat
kakinya juga tidak putus-putus, malahan lama-kelamaan sang gajah merasa bahwa semakin sering ia memberontak, maka semakin sering ia merasakan sakit di pergelangan kakinya. Lalu sang gajah pun mengambil kesimpulan dan keputusan, jika ia tidak ingin merasakan sakit lagi di pergelangan kakinya, maka lebih baik tidak memberontak. Akhirnya sang gajah tidak berani lagi mencoba untuk memberontak, sekalipun ternyata tali tambang pengikat kakinya telah dilepaskan oleh sang pawang gajah.
Cerita II: Belalang
Belalang adalah salah satu binatang serangga yang banyak kita temukan di daerah-daerah pertanian. Suata ketika seseorang memasukkan belalang pada suatu gelas kosong dan kemudian menutup lubang gelas dengan plastik bening. Ketika ditutup, sang belalang mencoba melompat-lompat ke atas (sumber sinar yang ada) berusaha untuk ke luar, tetapi ternyata ia juga tidak dapat ke luar dari gelas yang memang telah ditutupi tersebut. Melompat-lompat ke atas terus dilakukan sang belalang, tetapi tidak membuahkan hasil. Justru ia merasakan, semakin sering ia melompat ke atas, maka semakin sakitlah kepalanya. Akhirnya sang belalang berkesimpulan dan memutuskan bahwa jika tidak ingin kepalanya sakit, maka jangan mencoba-coba untuk melompat lagi. Meskipun plastik bening penutup gelas telah dibuka, sang belalang juga tidak melompat lagi. Setelah gelas diusik-usik orang tersebut barulah sang belalang melompat ke luar gelas.
Cerita III: Muhammad Ali
Muhammad Ali adalah petinju legendaris yang terkenal dengan julukan “si mulut besar (the big mouth)”. Setiap ia bertanding hampir selalu ia langsung menunjukkan tangganya ke hadapan lawan dan memvonis lawannya bahwa dalam sekian ronde anda akan saya KO kan. Terlihat hal ini adalah suatu kesombongan, tetapi apa yang diucapkannya untuk meng KO kan lawannya hampir selalu ia buktikan. Ketika diwawancarai ia mengatakan bahwa cara itu ia lakukan demi semata-mata untuk memotivasi dirinya sendiri, bahwa ia akan berbuat yang terbaik bagi dirinya. Ia membuat target prestasi bagi dirinya sendiri. Pada akhir-akhir ini, ia telah mengidap penyakit parkinson. Pada suatu waktu olimpiade diadakan di New York dan Muhammad Ali diminta untuk menyalakan obor olimpiade dengan menyalakan tali sumbu dari depan podium stadion. Semua orang pada saat itu berpikir dan heran sambil menyaksikan, mengapa Muhammad Ali yang sudah parkinson dan sulit menggerakkan anggota tubuhnya yang diminta untuk menyalakan api obor olimpiade? Suatu kehormatan baginya. Di hadapan beribu-ribu pasang mata manusia yang menyaksikannya, dengan motivasi yang tinggi dan dibantu dengan tangannya yang satu lagi ia mampu menggerakkan tangannya yang cacat untuk menyalakan api obor olimpiade. Semua orang memberikan tepuk tangan yang meriah untuk Muhammad Ali.
Dari tiga cerita di atas, seperti cerita yang manakah kita saat ini dan di masa yang akan datang? Apakah kita lebih menyukai cerita seperti gajah? Badannya besar, tetapi ia juga menjadi takut untuk berpikir dan bertindak lebih baik lagi? Posisi dan jabatan kita di perusahaan mungkin sudah cukup tinggi, tetapi apakah kita takut untuk melakukan suatu perubahan yang lebih baik?
Atau seperti belalang yang juga menjadi takut untuk melompat lagi karena merasa terus-menerus gagal dan hanya mendapatkan sakit di kepalanya ketika terus mencoba? Seperti halnya kita sebagai bawahan atau karyawan biasa yang takut untuk melakukan sesuatu karena dari atasan selalu “mengetok” kepala kita dengan wewenang dan kekuasaannya? Atau menunggu diberi motivasi dari orang lain terlebih dahulu baru mau bergerak seperti belalang yang harus dikilik-kilik/ diusik dulu baru mau melompat?
Atau kita akan memilih seperti cerita Muhammad Ali, yang selalu menantang dirinya sendiri untuk berbuat lebih baik dan lebih baik lagi sekalipun memiliki kelemahan (cacat tubuhnya)? Keputusan ada di tangan kita.
Oleh : Agus Letwing M,S.Pd (guru SMK Negeri 2 Doloksanggul)
Sumber:
Google Archive dari URL:
http://agusletwing.blogspot.com/2009_05_19_archive.html
You pointed out that well Santi!
That’s been in my mind for years too. Should I jump out or should I continue?
And yet, I still don’t know the right answer. However, I’ve been making major decisions lately dealing with the jumps, although at the same time I still hang on the hanging root of this one particular tree.
yang membuat kita selamat tampaknya hanya kenekatan… tapi nyali dan kegilaan untuk berbuat nekat ga segampang itu datang ya? hmm…