Kisah Ibu Siami dan putranya Alif, yang menjunjung tinggi kejujuran, namun malah diusir dari kampung, sungguh miris. Sekolah semestinya dijadikan tempat untuk mengajarkan dan melatih kejujuran. Ini kok malah sebaliknya.
Saya jadi teringat saat hendak masuk SMA dulu. Nggak segawat pengalaman Si Kecil Alif sih, tapi masih ada sangkut-pautnya dengan kejujuran, dan cukup membuat bingung.
Waktu itu, untuk masuk ke SMA saya, calon murid harus menjalani 2 jenis tes. Yang pertama adalah tes mata pelajaran biasa seperti matematika, bahasa Inggris, dan sebagainya. Yang kedua adalah tes wawancara.
Nah, alih-alih mencari tahu seputar kepribadian, watak, dan sebagainya, tes yang kedua ini berfokus pada menyelidiki latar belakang keluarga dan ekonomi si calon murid. Tujuannya untuk menetapkan, seberapa besar uang pangkal yang harus dibayar oleh calon orang tua murid, kalau anaknya diterima masuk ke sekolah ini.
Sudah menjadi rahasia umum (terutama bagi anak-anak dari kota saya yang sudah banyak mendapat masukan dari kakak-kakak senior), bahwa dalam tes wawancara ini, kita bahkan dianjurkan untuk berbohong.
Jangan mengaku kalau di rumah ada sambungan telepon, jangan mengaku kalau punya pesawat TV, pemutar kaset video, kulkas, apalagi mobil. Jangan mengaku kalau orang tua kita punya toko atau tempat usaha lain (yang kemungkinan akan dipandang bonafid). Mengakulah bahwa keluarga kita semiskin dan sesederhana mungkin, agar uang pangkal ringan, dan uang sekolah selama 3 tahun juga ringan. Begitu nasihat kakak-kakak senior.
Namun apa boleh buat, sejak kecil orang tua sudah mengajarkan kepada saya untuk jujur. Apalagi saat itu sudah tahun 1993. Negeri kita sedang sedang maju-majunya. Mana ada orang yang percaya kalau dibilang di rumah kita tidak ada pesawat TV?
Selain itu, orang tua juga tidak menginstruksikan saya untuk berbohong. Mereka hanya berpesan, hati-hati kalau menjawab, jangan sampai terlihat seperti anak orang kaya. Jadi saya pikir, jawab apa adanya saja. Toh saya memang bukan anak orang kaya kok. Mestinya sih, tidak akan dibebani uang pangkal dan uang sekolah berlebihan.
Namun di luar dugaan, uang pangkal yang harus dibayar oleh orang tua saya ternyata cukup besar. Lebih besar dari uang pangkal seorang teman saya, yang bapaknya bisa disebut juragan bapak saya (kalo dilihat dari skala usaha yang dijalankan). Uang pangkal ini tidak bisa ditawar-tawar lagi, karena ditentukan berdasarkan hasil tes wawancara.
Merasa penasaran, orang tua saya lantas menghubungi seorang bapak guru senior, sebut saja Bapak C. Bapak C ini dulunya adalah guru SMA bapak saya (sampai sekarang masih berhubungan baik dan cukup akrab). Saat itu, Bapak C sudah punya jabatan tinggi di beberapa sekolah dan universitas di kota Y. Termasuk SMA saya. Karenanya, beliau punya wewenang untuk melihat hasil tes wawancara di SMA saya.
Setelah melihat hasil tes wawancara, dan membandingkan hasil tes saya dengan teman saya (yang bapaknya adalah juragan bapak saya), Bapak C lantas menghubungi orang tua saya.
“Pantes uang pangkalnya tinggi. Anakmu kuwi bodho” (Anakmu itu bodoh)
“Anakmu mengaku orang tuanya punya toko sepatu dengan 2 karyawan. Ibunya punya usaha sampingan membuat makanan kecil, dengan dibantu oleh tenaga beberapa orang pembantu rumah tangga. Karena itu orang tuanya dinilai mampu untuk membayar uang pangkal sebesar ini.”
Lantas, bagaimanakah kira-kira jawaban teman saya (yang bapaknya bisa dibilang juragannya bapak saya itu)?
“Nah, kalo temennya ini pinter. Dia mengaku orang tuanya punya toko kelontong kecil, dengan 1 karyawan, tidak punya pembantu rumah tangga, dan tidak punya usaha sampingan. Karena itu, uang pangkalnya lebih ringan.”
Waktu itu saya tidak terlalu peduli akan perbedaan uang pangkal yang harus dibayar oleh saya maupun teman saya. Saya tidak merasa iri. Wong bedanya juga nggak fantastis-fantastis amat kok. Lagipula dia adalah teman baik yang sangat saya sayangi.
Apalagi SMA ini cukup ketat menyeleksi calon murid. Ada beberapa teman dari SMP saya yang tidak diterima, meski bersedia membayar. Jadi, diterima saja saya sudah sangat bersyukur. Selain itu, toh orang tua saya juga masih sanggup dan bersedia membayar. Jadi tidak ada masalah.
Tapi saya sedih… karena dibilang bodoh. Apakah berkata jujur sama dengan bodoh…???
san…crita tentang ibu siami itu gimana ya? aku udah lama ga ngikuti berita.
ih..nyebelin yo san…di indo jujur malah buntung yo banyak yang bilang. dulu aku pernah ketemu bapak2 yang kerja di BUMN. dia bilang..dia berusaha jujur dalam kerjaannya tapi malah ga naik2 pangkat. sementara teman2 yang lain naik pangkat..dia sampai tua tetap di posisi itu. tapi dia bilang tiap orang ada rejekinya masing2….mendingan dapet rejeki yang halal yaaa
Kalo mau lengkap buka http://www.kompas.com aja Kris, bisa baca dari awal. Kasihan juga, sampe diusir dari kampungnya di Surabaya, terus ngungsi ke rumah orang tuanya di Gresik. Haaah, iya mendingan rejekinya yang halal aja, biar enak makan, enak tidur, dan nantinya masuk surga, hehe… ^^
Lah mbak bukannya jujur di Republik ini sesuatu yang bagi saya belum layak diperjuangkan. Bukankah di Indonesia hal itu “It’s how the universe works!”
Mau jadi karyawan? Mau sekolah lanjutan favorit di daerah saya? 1 bangku bisa sampai 100 juta (maaf, Guk Gukpun masuk asal bayar). Seorang bapak berjuang keras demi karir dan income lebih baik, spesifikasi keahlian sudah cukup. Namun level jabatan tetap saja “ngejongos” seperti di awal2 karirnya. Padahal pengalaman di bidang itu sudah 15 tahun di berbagai perusahaan berbeda. Mau urusan lancar, KTP/KK gratis? Suruh Gubernurnya ke sini! (hardik orang di kantor pemerintahan) Kalo mau semua itu dengan jujur, silahkan bermigrasi ke negara Utopia.
Bukankah kecurangan, kemunafikan, ketidakadilan sudah jamak dilihat dan menjadi kebiasaan yang berujung pada kepasrahan dan keikhlasan mutlak?
Pernah kok sewaktu saya mengajar dulu ada celotehan murid ke kawan sebelahnya. “Kau kalo jadi menteri nanti, tapi tidak korupsi… Bodoh kau!” Jadi mereka sudah bisa “menelan pil merah” (The Matrix)
Saya punya dua cerita tentang kejujuran ini. Mudah-mudahan saya tidak marahi karena ngabisin page komentar.
Pengalaman pertama adalah pengalaman yang hampir mirip dengan mbak Santi, tahun 2000 awal saya masih karyawan baru di perusahaan. Karena sistem keamanan komputer di sana sangat rendah, saya melakukan penerobosan sistem secara ilegal dan membaca berbagai informasi yang tidak seharusnya saya baca. Keesokan paginya (4 mata) saya melaporkan hal tersebut kepada Manager Keuangan yang berujung kepada penyesalan. Saya diancam pecat dan harus mendemokan ulang cara penerobosan tersebut. Saya menolak melakukan hal yang diperintahkan, saya juga tidak dipecat namun situasi tidak lagi seperti dulu. Lesson learned. At work, “No honesty policy here!”, “Shut up and do the f**** job”
Pengalaman kedua saya, bersama dengan rekan kerja kita diundang bos ke sebuah restoran waralaba All-you-can-eat Jepang. Di sana ada aturan anak-anak umur 12 tahun ke bawah mendapatkan diskon 50%. Awalnya iseng, kami menanyakan policy tersebut kepada karyawan yang bertugas,
Sejak memulai blog ini, bagian paling menyenangkan adalah mendapat tanggapan dan komentar dari temen-temen semua, apalagi yang komentarnya panjang-panjang, mencurahkan isi hati dan pikiran, jadi gak mungkin saya marah-marah, yang ada malah senang kok ^^
Hehehe… saya suka banget sama jawaban karyawan resto Jepang itu ^^
Secara teoritis, semua orang tua pasti ngajarin anaknya untuk jujur… kepada si orang tua itu sendiri. Tapi kalo kepada pihak lain (resto Jepang misalnya), kadang ada orang tua yang memperbolehkan anaknya bersikap tidak jujur, hehe… ^^ Yang seperti ini kan nggak konsekuen namanya.
Tantangan bagi saya yang sebentar lagi akan punya Dedekius, bisa nggak saya mengajarkan dia untuk jujur dan tetap konsekuen, dengan cara memberi contoh lewat perbuatan sehari-hari ^^
Semoga (dan harus) bisa, amen ^^
Hehe…. Jujur bukan sebuah kebodohan, tapi memang perlu berhikmat biar bisa tetap jujur tanpa mengalami imbas negatif dari kejujuran itu.
Iya nih Selvia, sejak saat itu saya jadi mikir, kelak musti jadi orang yang berpenghasilan mapan, biar anak saya nggak usah bohong, ngaku aja apa adanya, toh orang tuanya memang punya dana cukup buat nyekolahin dia, hehe… (masihmimpi.com) ^^
Tapi tren sekolah-sekolah swasta di Jakarta saat ini kayaknya udah langsung nentuin, berapa uang pangkal dsb, berlaku sama buat semua calon murid. Jadi emang sudah nggak usah pake bohong lagi, hehe… ^^
Sudah tidak ada lagi tempat untuk “benda” yang bernama kejujuran. hehehehehe
Mestinya masih ada tempat untuk kejujuran kok, tapi makin lama tempatnya makin menyusut (prihatin.com), hehe… ^^
Iya susah jujur di negeri ini, tapjbkok ya keterlaluan sampai dibilang bodoh segala, hubungannya apa?
Mau jujur apa enggak memang pilihan, aku pun mengalami selama sekolah, ada temen yang pandai mendekati dosen jadi akalu misalnya dia terkena kasus karena kesalahannya sendiri, dia dg mudahnya berbohong dan meyakinkan si dosen bahwa itu bukan kesalahannya. Dg cara seperti itubstudinya lancar sedangkan temanky yg lain yg mungkin gak “pandai berbohong” studinya tersendat2
Wueleh… memang susah jadi orang benar di negeri ini… Mau jujur dan ngikutin prosedur itu malah dibilang bodoh kok emang…
Eii.. aku tidak terlambat ngasi comment kan ya? ;D