Feeds:
Posts
Comments

“Boleh beli es krim gak Mi?”

“Boleh. Tapi makannya sambil ngumpet ya, jangan sampe keliatan adikmu. Dia kan baru batuk, gak boleh makan es krim. Kasihan kalo kepingin, bisa marah-marah atau nangis nanti.”

Aku pun menikmati es krim sambil bersembunyi supaya gak kepergok adik. Amaaan… 😁

Beberapa minggu kemudian, giliran aku yang dilarang makan es krim karena batuk. Eh, adikku (yang sudah sembuh) tanpa rikuh-rikuh melenggang dengan asyiknya sambil menjilati es brasil yang dibeli di toko Ny. Pang dekat rumah. Huh, panasnya hati ini. Kok gak ada toleransi-toleransinya. Minimal ngumpet, gih!

“Itu Si Adik kok boleh makan es krim tanpa disuruh ngumpet, kan aku baru dilarang karena batuk, apa gak kasihan kalo aku yang kepingin???”

“Lho, kamu kan kakaknya? Kamu sudah besar, sudah bisa mikir, dilarang makan es krim itu tujuannya baik, biar batukmu lekas sembuh. Sudah besar, karenanya sudah bisa mikir sendiri. Sedangkan adikmu masih kecil, belum bisa berpikir sejauh itu.”

Ya, sebagai kakak, toleransiku harus lebih besar. Kalau adik bebas makan es krim saat aku sakit batuk, aku tidak boleh marah. Toh demi kebaikanku sendiri. Tapi saat adik sakit batuk, sebaiknya aku ngumpet-ngumpet kalau makan es krim, demi menghindari ‘keributan’. Soalnya adikku masih kecil, masih gampang ‘tergoda’. Sedangkan aku sudah besar, imanku lebih ‘teguh’.

Yah, begitulah. Ada yang jadi kakak, ada yang jadi adik. Jadi aman-tenteram. Terlebih kalo semuanya jadi seperti si kakak, suasana bakal aman damai penuh toleransi

Kalo semuanya jadi seperti si adik… ???

Mendingan jadi seperti si kakak aja yuk :mrgreen:😁:mrgreen:😁:mrgreen:

Ulat yang tangguh

Seekor ulat bertahan 3 hari di dalam kulkas, nyaris hanyut di bak cuci piring, namun pada akhirnya hidup bahagia di pohon delima.

Ulat ini tidak mungkin menulis autobiografi (menuliskan sendiri kisah hidupnya). Namun ada seorang penulis iseng nan kurang kerjaan yang kebetulan menggunakan Blackberry bekas milik adiknya, punya rumah maya di wordpress serta kompasiana, terhubung dengan internet, dan yang terpenting, bersedia membuatkannya sebuah biografi singkat.

Seekor ulat hidup dengan tenteram dan sejahtera di sebuah pertanian organik, tepatnya di sebuah tanaman brokoli. Suatu hari, brokoli tempat tinggalnya dipetik bersama dengan sayur-sayuran lain yang telah matang, dan didistribusikan ke pasar-pasar, supermarket-supermarket, toko-toko, dan sebagainya.

Pada hari Jumat pagi, tibalah ulat ini di pasar modern BSD, yang terletak di bilangan Serpong, Tangerang Selatan. Tepatnya di sebuah kios kecil yang khusus menjual produk-produk makanan organik.

Oleh pegawai kios, brokoli tempat tinggal Si Ulat lantas dibungkus dengan plastik, siap dimasukkan ke kulkas agar tidak mudah busuk. Plastik pembungkusnya rapat sekali, tentunya oksigen tidak bisa masuk, bagaimana kalau Si Ulat kekurangan oksigen? Mampus deh gue, pikir Si Ulat (keluh).

Untung, tidak lama kemudian, datanglah seorang ibu muda rupawan yang memesona nan cantik jelita (untung nggak ada editor, kalau ada, kalimat di atas tentu sudah disensor), yang hendak membeli sayuran organik untuk bayinya. Sebelum sempat dimasukkan ke dalam kulkas, brokoli tempat tinggal Si Ulat sudah berpindah tangan.

Setibanya di rumah, ibu muda rupawan yang memesona nan cantik jelita (please, deh!) ini langsung merobek sedikit plastik pembungkus brokoli, dan memetik sedikit brokoli untuk direbus bersama sayuran lainnya sebagai makanan bayi. Oksigen pun berlomba-lomba mengalir masuk. Ahhhhh, segarnya, pikir Si Ulat (lega).

Namun kelegaan itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba Si Ulat merasa bahwa udara di sekitarnya mendadak bertambah dingin dengan drastis. Waduh, serasa di Mount Everest aja! Tapi tidak sia-sia Si Ulat dilahirkan, dan tinggal di alam bebas seumur hidupnya. Tanpa jaket di saat dingin, tanpa payung saat hujan, tanpa air conditioner saat panas. Ya, Si Ulat telah ditempa oleh alam menjadi mahkluk yang ulet nan tangguh.

Setiap hari, si ibu muda rupawan yang memesona nan cantik jelita (plis deh iiihhh, gak pegel apa, ngetiknya!!!) akan mengeluarkan brokoli dari kulkas, memetiknya sedikit, lantas mengembalikannya. Sampai pada hari suatu hari Senin yang indah.

Saat mengeluarkan brokoli dari kulkas, ibu muda yang rupawan, memesona, eh apa tadi ya? (Nah, lupa kan? Bagus! Malah bagus!!!) Well, pokoknya ibu muda ini menyadari, bahwa ada seekor ulat yang bertengger pada brokolinya. Ooo, ulat mati, pikirnya. Ulat yang malang.

Si Ulat bergerak sedikit. Si ibu muda yang rupa… Oke deh, cukup si ibu muda saja ya. Ibu ini berpikir, mungkin ia salah lihat. Ulat tadi pasti sudah mati karena sudah berhari-hari tinggal di kulkas.

Disentakkannya brokoli tersebut ke arah bak cuci piring, untuk membuang Si Ulat. Sekali lagi, dilihatnya Si Ulat Mungil bergerak sedikit. Namun terlambat, tubuh mungil itu sudah terlempar ke bak cuci, dan lenyap terbawa air serta sabun.

Beberapa saat kemudian, si ibu (nah, gini kan bagus! Ringkas! Nggak narsis!!!) kembali ke bak cuci untuk mencuci peralatan makan bayinya. Dilihatnya Si Ulat tengah merayap pelan, berusaha keluar dari bak cuci.

Olala, ternyata ulat ini beneran masih hidup. Tadi kan jelas-jelas sudah hanyut. Sekarang bisa merayap keluar. Tidak diragukan lagi, satwa mungil ini masih hidup!

Betapa hebat perjuangannya untuk bertahan hidup! Betapa kerasnya cobaan yang ia jalani! Dibekap dalam plastik kedap udara, dimasukkan ke dalam kulkas, dihanyutkan dalam bak cuci piring pula!

Namun Si Ulat pantang menyerah. Selama Sang Pencipta masih menghembuskan napas kehidupan dalam tubuh mungilnya, Si Ulat bertekad untuk memenuhi panggilan itu, dan terus berjuang mempertahankan nyawanya.

Si ibu merasa bersalah. Ulat masih hidup kok dihanyutkan ke bak cuci piring! Ulat seulet dan setangguh ini patut diberikan habitat hidup yang sesuai. Dengan bantuan sehelai kertas, Si Ulat diangkut keluar dari bak cuci.

Di luar rumah si ibu muda, tumbuhlah dengan subur sebatang pohon delima. Di sana ia meletakkan Si Ulat, dengan tujuan agar Si Mungil itu hidup berbahagia. Barangkali kelak ia akan menjelma menjadi seekor kupu-kupu rupawan yang memesona nan cantik jelita…

Sampai di sini perjumpaan kita ya Lat. So long, farewell, auf wiedersehen, goodbye… ☀^^☀

Kalau ada orang yang bersalah pada kita, kadang momen tersebut kita manfaatkan untuk marah-marah sepuasnya. Ya nggak? Luapkan segala angkara murka. Mumpung ada alasan kuat untuk marah. Kapan lagi?

Namun percayalah Kawan, TIDAK marah itu selalu lebih baik.

Saya pernah nyaris marah… lalu teringat pada buku ‘Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya’ karya Ajahn Brahm yang baru dibaca malam sebelumnya… lantas tidak jadi marah… dan merasa amat bersyukur karenanya…!!! ^^

Waktu itu saya bekerja di sebuah stasiun televisi lokal, di bagian berita internasional. Kami berlangganan berita dari kantor berita asing. Skrip berita dalam bahasa Inggris, saya unduh dari internet. Sedangkan footage atau gambarnya, direkam oleh bagian arsip.

Saya bertugas mengedit naskah berita yang sudah diterjemahkan, kemudian meminta footage-nya ke arsip, agar bisa dikerjakan oleh editor.

Kadang dibutuhkan waktu lama untuk menerjemahkan dan mengedit naskah berita, terutama yang rumit dan berbau ilmiah. Padahal kami senantiasa dikejar waktu.

Suatu hari, penerjemah berhasil menyelesaikan sebuah naskah yang sulit, setelah bekerja selama 3 jam. Saya sendiri butuh waktu 1 jam untuk mengedit naskah tersebut. Tapi sepadan, sebab isi beritanya sangat bagus dan informatif. Masalah baru timbul saat meminta footage.

Bagian arsip menelepon, memberitahukan bahwa footage yang diminta tak lagi tersedia.

“Sebenarnya sudah di-record, tapi tertimpa footage lain yang lebih baru. Harap maklum ya, yang bertugas me-record anak baru sih, jadi belum pengalaman.”

Kerja keras penerjemah selama 3 jam, plus kerja keras saya selama 1 jam jadi sia-sia. Yang lebih parah, bisa jadi esok harinya kami terpaksa menayangkan berita re-run (sudah pernah tayang), gara-gara berita yang ini gagal tayang. Bakal jadi catatan kinerja yang buruk untuk program kami.

Alasan yang sempurna untuk marah-marah bukan?

Namun untunglah malam sebelumnya saya membaca buku ‘Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya’ karya Ajahn Brahm. Bab ‘Kemarahan dan Pemaafan’, kisah ke-28 yang berjudul ‘Kemarahan’, halaman 77 (baca sendiri ya ^^)

Saya memutuskan untuk tidak marah. Pasti si anak baru ini tidak sengaja. Saya hanya memintanya untuk lebih hati-hati me-record footage. Kalaupun ada footage yang terhapus, harap segera memberi tahu, agar kami tidak kecele dan bisa mengerjakan berita lain.

Si anak baru tersenyum, dan berjanji akan lebih hati-hati.

Huahhh, lagian mana bisa marah pada anak ini. Tampangnya yang imut dan amat polos mirip sama keponakan saya yang masih duduk di bangku SMU ^^

Untung, beribu untung saya tidak marah. Belakangan baru saya tahu, kami tinggal di kompleks perumahan yang sama, berangkat dan pulang kerja dengan bis feeder busway yang sama pula!

Pernah, waktu hamil tua, saya naik bis saat tempat duduknya sudah penuh. Anak ini langsung berdiri dan merelakan bangkunya untuk saya. Baik sekali ya ^^

Untung waktu itu saya tidak marah… Untunglah ^^

Local Idol ^^

Untuk sementara waktu ini, setiap Jumat malam (sekarang pindah ke Sabtu sore) telinga saya dimanjakan oleh alunan suara dari penyanyi-penyanyi sakti (atau bahkan super sakti!), para finalis Indonesian Idol 2012. Tahun ini gila! Harus nonton! Kirim sms! Telepon! Vote finalis favorit Anda! Kalau tidak sempat nonton, saksikan tayangan ulangnya!

Mendengar Regina menyanyi, bulu kuduk saya sampai berdiri. Menonton Sean yang jago, tak terasa saya melongo. Penampilan Dion, wow keren nion (maksa.com)! Suara Yoda, suara calon juara! Dan seterusnya.

Kalau anak saya belum tidur, saya akan menggendongnya sambil bergoyang ikut irama. Bayi berusia 10 bulan ini sepertinya menyukai musik, dan sanggup mengenali suara-suara bagus ^^

Tak terasa angan pun melayang… sampai ke beberapa tahun silam. Saat itu saya masih menyewa sebuah apartemen di bilangan Tanjung Duren, bersama seorang adik dan seorang teman. Sebut saja apartemen MGR. Pada saat menunggu lift, biasanya saya suka iseng melihat-lihat papan buletin. Kadang ada informasi yang berguna, seperti jadwal misa, atau jasa laundry kiloan murah misalnya. Namun petang itu, terdapat pengumuman yang agak lain dari biasa. Pemilihan MGR Idol!!!

Dalam rangka memperingati hari kemerdekaan RI tahun itu, apartemen MGR mengadakan lomba menyanyi. Ada babak penyisihan 1, babak penyisihan 2, hingga babak final. Pendaftarannya mudah saja. Tinggal minta formulir pada mas atau mbak resepsionis tower mana saja.

Pagi maupun sore hari biasanya lobby apartemen selalu ramai. Karena malu, saya memilih turun ke lobby setelah larut malam!

“Sudah banyak pesertanya, Mbak?”
“Belum, dari tower ini baru Mbak yang ambil formulir.”
“Ooo, begitu, terima kasih ya.”
Rupanya tidak banyak yang antusias mengikuti lomba ini ya. Kalau begitu, saya ikut meramaikan deh…

Babak penyisihan 1 diselenggarakan di kantor pengurus apartemen, yang bertempat di basement. Peserta bebas membawakan lagu apa saja. ‘Seindah Biasa’, sebuah nomor dari Siti Nurhaliza mengantar saya ke babak penyisihan 2.

Di babak penyisihan 2 dan babak final, seluruh peserta menyanyi dengan diiringi musik dari band yang beranggotakan karyawan pengurus apartemen. Para peserta boleh memilih 1 dari 5 lagu yang sudah ditentukan. Beruntung, saya lolos babak penyisihan 2, dan masuk babak final beserta 4 (atau 5, maaf lupa) peserta lainnya ^^

Yang lucu, foto kami berlima (atau berenam) dicetak dan dipasang di papan buletin. Lengkap dengan nama dan tower tempat tinggal. Untunglah cetakannya cukup buram sehingga foto-fotonya sulit dikenali. Kalau tidak, malu-lah yauw ^^

Singkat kata, saya menduduki posisi tepat di atas juru kunci. Hadiahnya lumayan, voucher senilai 30 ribu untuk berbelanja di sebuah minimarket, dan voucher senilai 20 ribu untuk makan di sebuah rumah makan Padang, keduanya berlokasi di dalam apartemen ^^

Tidak banyak yang saya ingat. Hanya bahwa kami semua merasa senang dan bersemangat. Bagi orang-orang yang suka menyanyi, kesempatan tampil menyanyi di depan umum, sekecil apa pun event-nya, tetaplah menegangkan sekaligus menyenangkan!

Kami saling menyemangati, bertepuk tangan sampai telapak tangan terasa pedas, tertawa bersama, bagaikan sahabat lama. Usai lomba, sudah tersedia hidangan berupa nasi dan ikan bakar lezat, gratis! Saya dan sahabat saya Ling-Ling, yang saat itu juga tinggal di apartemen MGR, makan malam bersama dengan gembira.

Usai acara, hari-hari kembali berjalan seperti biasa. Berangkat kerja, pulang, istirahat, tidur, keesokannya berangkat kerja lagi. Saya rasa para finalis lain juga demikian. Namun untuk sesaat, kami pernah mengalami menjadi finalis sebuah lomba nyanyi. Mempersiapkan diri dan berlatih sebaik mungkin, lantas tampil di panggung dadakan di area kolam renang, di hadapan penonton yang jumlahnya paling-paling hanya puluhan orang.

Sungguh senang rasanya. Terima kasih kepada pengelola apartemen MGR, atas kenangan indah ini. Kalau punya banyak uang kelak, saya beli deh 1 unit apartemennya ^^ Sekali lagi, terima kasih banyak.

Tertanda,

Finalis MGR Idol 2008 ^^

Obat Bius Kuda

Berkaca dari pengalaman buruk seorang ibu muda, yang akhirnya diselamatkan oleh koin dan simpati masyarakat, maka dalam kisah berikut ini sebagian nama orang, lokasi, serta waktu kejadian sengaja tidak ditulis dengan jelas.

Beberapa waktu lalu keluarga kami mengadakan perhelatan yang cukup penting, sehingga saya dan kedua adik perempuan saya menyempatkan diri untuk hadir. Perhelatan itu sendiri diadakan di kota A, tidak jauh dari kampung halaman kami. Malam sebelumnya, kami menginap di kota tersebut.

Pada pagi hari H terjadilah sebuah musibah kecil. Adik saya jatuh di kamar mandi, dengan dagu menghantam bathtub, sehingga kedua gigi atas depannya patah setengah, dan patahan giginya menancap di bibir bawah.

Adik saya yang tabah nan gagah berani tidak menangis sedikit pun. Dengan diantar seorang pengemudi yang juga merupakan teman keluarga, pukul 05.15 pagi adik saya pergi ke RS X, salah satu RS ternama di kota A. Di sana patahan giginya dikeluarkan, lantas bibirnya yang sobek dijahit. Siang harinya, adik saya sudah bisa bergabung dengan kami semua di perhelatan tersebut.

Adik saya tidak pernah bercerita dengan detil mengenai pengalamannya di RS, dan saya sendiri juga tidak pernah bertanya. Pikir saya, yang penting ia telah ditangani dengan baik.

Perkara jahitan pada bibir yang peletat-peletot dan sangat tidak karuan, mungkin harus dimaklumi. Pikir saya, pukul 5 pagi, tentu di RS tersebut hanya ada dokter jaga. Dan menurut novel-novel yang pernah saya baca, dokter jaga ini biasanya koas atau dokter muda yang belum terlalu berpengalaman.

Rasa ngilu pada gigi, biasanya amat dibenci. Tapi dalam kasus adik saya, rasa ngilu patut disyukuri. Lantaran giginya yang patah terasa amat ngilu, pagi itu juga adik saya meminta agar giginya dicabut.

Ibu saya segera menghubungi drg. Christine, dokter gigi langganan kami, yang juga seorang spesialis ahli bedah mulut. Selain mencabut gigi adik saya, drg. Christine juga membongkar dan merapikan jahitan pada bibirnya hingga rapiiiii sekali. Kini bekas jahitan itu nyaris tak tampak.

Dokter gigi yang cantik nan ramah ini menelepon ibu saya. “Yang tadi menjahit bibirnya Si A (adik saya) siapa ya? Menjahit bibir anak perempuan kok ngawur, peletat-peletot. Puluhan tahun praktek, baru kali ini saya melihat jahitan seburuk ini. Untung lukanya belum merapat, jadi masih bisa diperbaiki.”

Nah, untung kan, adik saya merasa ngilu tak tertahankan? Kalau tidak ngilu, mungkin ia takkan minta giginya dicabut, dan jahitannya takkan diperbaiki.

Singkat cerita, akhirnya kami tahu bahwa dokter yang menjahit bibir adik saya di RS X, bernama dokter N. Ternyata ia dokter umum yang sudah cukup lama praktek, bukan koas. Tapi kenapa jahitannya buruk sekali ya?

Ada 3 kemungkinan. Pertama, ia nggak niat. Kedua, ia memang tidak bisa menjahit dengan rapi. Ketiga, ia masih ngantuk karena adik saya datangnya terlalu pagi.

Yang lebih hebat lagi, sebelum menjahit, dokter N menyuruh adik saya memilih, mau menggunakan obat bius lokal yang mana.

“Yang ini IDR225000, memang biasa digunakan pada manusia. Sedangkan yang ini IDR175000, belum pernah dicobakan pada manusia. Biasanya digunakan untuk membius kuda.”

Adik saya yang tabah dan lugu (dan banyak duit, amen!) tanpa banyak cingcong langsung memilih yang mahal. Namun Si Pengemudi yang menemani adik saya sampai njenggilat saking kagetnya. Masa iya pasien ditawari obat bius untuk kuda?

“Lha ceritamu ini bener atau ndak?” Tanya saya.

“Ya bener tho, saya dengar sendiri, wong saya duduk di samping A kok.”

Wow, hebat juga ya. Pasien manusia ditawari obat bius untuk kuda!

“Waktu nanya tampangnya gimana, serius atau bercanda?” Kali ini saya bertanya pada adik saya.

“Lupa,” jawab adik saya. “Memang dokternya nanya begitu, tapi nggak tahu serius atau bercanda. Jadi pilih aja yang bagus.”

Saya tak percaya RS X menawarkan obat bius kuda pada pasiennya. Entah apa maksud dokter N. Mungkin ia sekedar ingin menjual obat yang lebih mahal.

Ada tiga pelajaran moral yang bisa ditarik dari kejadian ini. Pertama, sebisa mungkin jangan ke RS pada jam-jam yang ajaib. Kedua, kalau harus berobat, pilihlah dokter yang reputasinya baik. Ketiga, kalau kondisinya mendesak dan tak bisa pilih-pilih, berdoalah agar dokter yang bertugas baik, pintar, terampil, niat bekerja, dan tidak ngantuk… ^^

Sun sing suwe

Konon, total biaya membesarkan seorang anak sejak lahir sampai selesai kuliah S1, memakan biaya sekitar 1 juta dolar, di negeri Pakdhe (atau Paklik) Sam. Biaya tersebut dihabiskan untuk susu, makanan, pakaian, mainan, buku-buku, pendidikan, kesehatan, rekreasi, dan masih banyak lagi kebutuhan si anak.

Jadi, pasangan yang tidak memiliki anak bisa dibilang mendapatkan jackpot senilai 1 juta dolar AS! Sampai-sampai muncul guyonan yang agak sadis mengenainya (lebih baik tidak usah saya tulis di sini ya).

Tidak mengherankan jika di zaman modern ini kian banyak orang yang memutuskan untuk tidak memiliki anak. Tapi menurut saya pribadi, punya anak itu banyak sekali manfaat atau keuntungannya lho.

Salah satunya, kalau punya anak sendiri, kita bebas mencium pipinya sesuka hati. Saya sering sekali merasa gemes melihat bayi atau anak kecil yang lucu-lucu, tapi tidak berani sembarangan mencium pipi. Bisa dimarahi sama orangtuanya nanti!

Sekarang, setelah punya Julian, saya bebas…!!! ^^ Bebas mencium pipinya, keningnya, rambutnya, tangannya, kakinya, perutnya, keteknya (ketek bayi wangi lho^^), berkali-kali dan berlama-lama, tanpa ada yang memprotes. Mencium bayi itu agak seperti makan cokelat, bisa menimbulkan ketagihan. Makin dicium rasanya makin gemes, maka cium lagi, cium lagi, lagi, lagi, dan lagi… ^^

Dari awal saya sudah ‘memperingatkan’ Julian, “Kamu kalau lucu begini nanti Mama cium lho. Jadi terserah kamu ya, lucu boleh, nggak lucu juga boleh. Yang pasti kalau lucu, ‘hukumannya’ adalah cium.”

Lantas, apa yang terjadi? Tentu saja Julian tetap lucu, malahan menurut pendapat ibunya, makin hari dia makin lucu. Akibatnya Julian sering mendapatkan 3S dari ibunya, Sun Sing Suwe ^^

Kalau sehabis ini saya jarang-jarang menulis di blog, penyebabnya utamanya adalah : hari ini hari terakhir saya di kantor, sesudah ini saya resmi mengundurkan diri, dan bekerja untuk Bos Kecil di rumah. Otomatis, saya akan jarang terhubung ke internet untuk mengakses wordpress.

Penyebab keduanya? Mungkin saya akan terlalu sibuk mencium Si Kecil yang fotonya terpampang di bawah ini, sehingga tidak sempat menulis ^^

Tadinya saya mengira, kehadiran Julian akan menjadi sumber inspirasi untuk menulis. Banyak sekali yang bisa diceritakan tentang bos saya yang satu ini. Tapi apa daya, energi terkuras untuk bekerja pada Si Bos. Pernah, saya meminjam paksa laptop bapaknya, dan langsung membuka wordpress. Tapi setelah 15 menit bengang-bengong di hadapan tulisan ‘add new post’ tanpa mengetik sepatah kata pun, akhirnya saya menyerah.

Mungkin jiwa menulis saya agak tumpul sementara ini. Untunglah jiwa bermusik dan bernyanyi saya masih terus menyala-nyala seperti biasa. Yang berbeda hanya jenis lagu dan cara menyanyikannya.

Saat berusia sekitar satu setengah bulan, Julian sudah mulai mengoceh. “Eu, euuu” demikian ucapnya sambil tersenyum-senyum. Kalau sedang gembira dan bersemangat, ocehan itu disertai dengan gerakan tangan serta tendangan heboh ^^Karena itu, ia mendapat nama kesayangan baru, yaitu Si ‘Eu’ ^^

Tapi itu kalau Eu sedang gembira dan penuh semangat. Ada juga masa-masa di mana bos saya ini bete dan rewel, sehingga perlu dihibur. Di sini baru terasa, betapa pentingnya ketrampilan bermusik dan bernyanyi. Kebetulan Eu menyukai suara ibunya (ya iyalah, disogok pake ASI gitu loh^^) dan juga bapaknya ^^

Inilah sejumlah hiburan ‘live music’ yang biasa kami tampilkan di rumah, untuk menghibur Eu.

Eu sangat menyukai lagu ‘The Chicken Dance’. Bagi yang hobi menonton film-film lawas Warkop Dono-Kasino-Indro, pasti tahu lagu ini ^^

Pernah, suatu siang dia menangis heboh sekali. Setelah saya gendong sambil berayun-ayun dan ber-na-na-na menyenandungkan ‘The Chicken Dance’, Eu langsung diam dan tersenyum-senyum. Di lain kesempatan, Eu yang sedang rewel langsung terdiam setelah ibunya menyanyikan lagu itu, dan bapaknya memperagakan gerakan tarinya ^^

Eu juga sangat menyukai lagu ‘Naik Delman’, terutama pada bagian ‘duk-tik-dak-tik-duk-tik-dak suara sepatu kuda’. Lagu ini sebaiknya dinyanyikan oleh dua orang. Satu orang menyanyikan lirik utama, dan yang satunya lagi menyuarakan sound effect untuk menggambarkan derap langkah kaki kuda ^^

Bagaimana dengan lagu pengantar tidur? Gampang sekali. Kalau ingat lirik lagunya boleh dinyanyikan. Tapi kalau tidak tahu (atau memang tidak ada) liriknya, cukup disenandungkan dengan mm-mm-mm. Jadi, sepanjang kita tahu melodinya, koleksi lagu pengantar tidur Eu bisa dibilang tidak terbatas ^^

Eu suka lagu ‘Rayuan Pulau Kelapa’ dan ‘Tanah Airku’ (untung ibunya juga suka, dan karena itu hafal liriknya^^), Rock-a-bye Baby, Gundul-Gundul Pacul, Lullabye, Ambilkan Bulan Bu, Bintang Kecil, Kodok Ngorek, The Beautiful Blue Danube, Bebek Adus Kali, Amazing Grace, Desaku Yang Kucinta, Edelweiss, dan masih banyaaaaak lagi ^^

Saat Eu agak sulit tidur di malam hari, atau tidur dengan gelisah hingga terbangun lagi, ibunya akan menyajikan hiburan ‘live music’ pengantar tidur. Rasanya bahagiaaaaa dan hangaaaaat sekali di hati, kalau Eu tertidur lelap dalam gendongan saya, saat sedang dinyanyikan lagu pengantar tidur. Rupanya tidak sia-sia Eu punya ibu yang hobi menyanyi ^^

Sebagai imbalannya, saya diberi ekspresi wajah seperti di bawah ini ^^