Feeds:
Posts
Comments

Archive for May, 2008

Narnia

The first began with the most mysterious smile in the world

It ended in Narnia

The second began with a single click

But it didn’t end in Narnia!

What is it? :p

Read Full Post »

Hobbies

I have a plenty of hobbies.

If we skip unimportant (and somewhat shameful) hobbies like eating, drinking, sleeping, daydreaming, yawning, smiling, laughing, giggling, mocking, and stuffs, then we’ll get to my first hobby, reading.

My eyes are glued to books (mostly fiction) and magazines ever since I was able to read. Later on, reading survived me from Language Testing class by Mr. Marcelinus Marcellino, for without this hobby I could never finished piles and piles of textbooks on Language Testing (a very remarkable topic to learn).

Reading then led me to the next hobby, writing. Once, somewhere in the eighties, I produced my own children magazine, called “Majalah Cherry”. I sold the one and only (handwritten) copy to my sister for Rp50,-. But I enclosed a Rp25,- coin as a bonus in the magazine, so it only cost Rp25,- actually! The magazine contains comics, short stories, quizzes, and games. I also wrote a novel about a young girl who went out to have an adventure, but it was never finished.

In elementary school, I was famous for my drawings. They weren’t really special though, but my friends simply liked them.

During junior high school, I found my true hobby. Singing! Finally I found something I can’t live without.

Starting with popular Indonesian and English songs, this hobby finally led me to Chinese songs. Some people said I sound good, yet deep down in my heart I knew it ain’t right. I sing the right notes with the right tempo, that’s all. My voice is not deafening, yet it ain’t special as well. For several years, I was quite well-known (among family and relatives) as a “wedding singer”. I would surely perform 1-2 songs at almost every wedding party I attended.

What a golden era!

But singing also introduced me to pains.

One day, during high school, while we were gathering around in a friend’s room (at a boarding house), the radio played one of my favorite songs. Couldn’t help it, I was singing along. Suddenly, a good friend of mine said, “Would you please stop? Your voice is not nice to hear.”

Like a sword, her words stabbed me right through the heart.

My feeling was badly wounded that I couldn’t utter any single word. Going out of the room, I found myself sitting on the stairs, took a deep breath, glancing at the brilliant blue sky, trying to heal my wounds, letting my mind wander freely until the sky got dark. And abracadabra, the pain has gone!

We remain good friends until this very moment. But ever since that day, I never sing in front of her again :p

Read Full Post »

A tribute to movies

What will I be without movies?

Without movies, I’m just an ordinary girl from a small town, without any access to exciting things

I sang with Julie Andrews in The Sound of Music when I was little

To grow strong, I eat spinach, like Popeye!

I cycled and flew with ET, what an experience!

I fought scary monsters side by side with Voltus, Godzilla, Gaban, and Goggle V

(Hey monsters, beware!!!)

I learned Kung-fu and protected the Han-Chinese from the Manchu with Kwee Ceng

I open locked doors with hair pins under MacGyver’s instructions

I ran across the hills with lovely Lassie…

…playing with Hidalgo…

…leaping from tree to tree with Tarzan…

…flying with Peter Pan and Wendy in Never, Neverland…

I still can feel the wind blew softly as I rode on The Black Beauty

I tried to stop Donald Duck from chasing Chip and Dale, but I failed (always!)

I risked my life in countless impossible missions with Jim and his staffs

I hid in the forest with Rambo, my black knife was ready to face any upcoming danger

I didn’t sleep to avoid meeting Freddie Krueger

As I grew up to be an archaeologist, I traveled with Indy, digging historical objects

I’ve been through numerous adventures, but I always return home alive in an hour or two

Thanks be to God for creating amazing stuffs like cameras, movie screens, televisions

For without them my life would be dull

I plan to visit Prince Caspian in Narnia this weekend

Interested, anyone? :p

Read Full Post »

The great adventure was started in 2001.
I was there when the brave little Frodo Baggins took the biggest decision he ever made in life, volunteered to take the One Ring to Mount Doom.
I was there when his fellow hobbits Sam, Merry and Pippin along with Gandalf, Aragorn, Legolas, Gimli, Boromir and many others risked their lives to protect Frodo.
I was there, with a question in mind, could Frodo survive such incredibly dangerous journey? It was a long, long way to Mount Doom, with a bunch of orcs, nazguls, uruk-hai and stuffs chasing after him. I was there, crossing my finger, following every step they take, witnessing sacrifices they make, whispering prayers for them to succeed.

I was still there some two years later, when finally the One Ring was thrown to the fire of Mount Doom, thence-forward the era of Sauron ended, and peace came to Middle Earth. How my heart was filled with triumphant joy! How I clapped my hands like mad to see charming Legolas, alive, handsome and graceful as ever, popping out of the curtain!

I was there, witnessing everything from my seat. And I’m proud of “simply being there”.

I was there…!!! Were you…? :p

Read Full Post »

Cincin

Pada tahun 2000, saat berusia 22 tahun, aku mendapatkan sebuah cincin istimewa. Yang memberikannya padaku adalah seorang pria, tepatnya seorang profesor, namanya Profesor H. Aku menerima cincin tersebut dengan perasaan bahagia, disaksikan oleh ribuan orang. Eits… jangan berpikir yang aneh-aneh dulu ya, selain aku masih ada puluhan orang lain yang menerima cincin yang persis sama!

Cincin emas berukir “Atma Jaya” itu merupakan tanda penghargaan dari Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta bagi wisudawan/wati yang berhasil mencapai IPK minimal sekian. Saat menerima cincin yang diberikan oleh Pak Rektor, teringat olehku saat-saat sebelum aku mendaftar masuk ke Unika Atma Jaya.

Entah mengapa, saat itu aku berpikir harus pergi dari Yogyakarta. Mungkin karena selama 3 tahun di SMA aku merasa jenuh. Prestasi di sekolah lumayan bagus, tapi ya… itu saja. Ingin rasanya pergi ke kota lain di mana aku bisa lebih berkembang, bukan hanya di bidang pelajaran saja.

Kelas 3 SMA, menjelang kelulusan, sebuah kertas kotor bekas diinjak-injak menarik perhatianku. Ternyata berisi pengumuman. Siswi SMA-ku yang nilai rapornya minimal sekian bisa mendaftar ke Unika Atma Jaya Jakarta, bebas tes masuk (sudah pasti diterima) dan diberi diskon 35-50% untuk pembayaran uang gedung. Reaksiku mula-mula, sebal. Pengumuman sepenting ini kok kurang disosialisasikan. Setelah bertanya ke bagian tata usaha, barulah aku mendapat info yang lengkap. Segera kulengkapi semua dokumen yang diperlukan, lalu cepat-cepat dikirim ke Jakarta mengingat waktu yang sudah mepet.

Segalanya terjadi begitu cepat, sehingga setelah dokumen dikirimkan, barulah keluargaku membahas mengenai rencanaku kuliah di Jakarta. Maklum, biaya hidup di Jakarta bisa dua kali lipat biaya hidup di Yogyakarta. Demikian pula dengan uang kuliah. Namun orang tuaku berkata, asalkan aku tekun belajar, mereka akan berusaha sekuat tenaga untuk mencarikan biaya.

Yang membuat aku terharu, mamiku sempat berkata, “Tenang saja. Kalau ada apa-apa, motor papimu masih bisa dijual.” Entah serius atau bercanda, karena kalimat itu diucapkan sambil tertawa-tawa. Namun rasanya dalam sekali memasuki relung hati. Aku bertekad, sebagai anak desa yang kuliah ke Jakarta dengan hasil jerih payah orang tua, prestasi tak boleh lepas dari genggaman.

Untunglah Tuhan Maha Memberi. Sejak aku kuliah di Jakarta, ekonomi keluargaku berangsur membaik, sehingga uang kuliah dan biaya hidup, tak perlu lagi dicemaskan. Motor papiku juga tetap aman, tak perlu dijual!

Akhirnya, di sinilah aku berdiri, dengan cincin di jari manis. Cincin yang indah. “Yes, I do”, bisikku dalam hati, “Yes, I do love you, Mom and Dad…”

Read Full Post »

Sebuah film, terkadang meninggalkan kesan yang amat kuat di benak penonton. Kadang hanya satu atau dua hal saja yang diingat, namun itu sudah cukup membuat sutradara sekelas Zhang Yi-mou merasa bangga. Ia sengaja menciptakan adegan-adegan indah di setiap filmnya. Kelak bertahun-tahun mendatang, jika penonton sudah lupa akan cerita film, minimal ada beberapa adegan indah yang akan dikenang terus sampai akhir hayat.

Nah, setelah menonton film Don’t Say A Word yang dibintangi Michael Douglas dan Brittany Murphy beberapa tahun lalu (2001) ada sesuatu yang terus saya ingat. Kesedihan si gadis cilik ketika ditinggal sang ayah benar-benar membuat hati trenyuh. Karena itulah, saat mengerjakan tugas membuat cerpen untuk kuliah Penulisan Populer di FIB UI, tiba-tiba saya teringat lagi akan film itu. Waktu itu kami ditugaskan membuat cerpen dengan tema alam bawah sadar. Selebihnya bebas.

Cerpen buatan saya ini memang tidak bagus. Selain itu, dari segi keakuratan juga sangat kurang. Saya tidak tahu apakah memori masa lalu yang hilang, yang kemudian dikembalikan dengan bantuan hipnotis, cukup kuat untuk menjadi bukti di pengadilan. Mungkin saja tidak. Namun dari sedikit cerpen yang pernah saya buat, yang satu ini adalah favorit saya, meskipun kisahnya jauh dari akurat, dan jauh pula dari sempurna.

SEPOTONG INGATAN MASA SILAM

(diilhami dari film Don’t Say A Word)

“Hiduplah dengan bahagia nak…”

Suara siapakah itu? Aneh, tadi barusan aku benar-benar mendengarnya. Suara yang begitu lirih dan samar, serta terdengar amat sedih. Jangan-jangan ada hantu di tempat ini! Tapi ayahku selalu berkata bahwa hantu itu tidak ada, jadi semestinya aku tidak perlu takut. Ayahku tak mungkin bohong kan? Apalagi stasiun kereta api ini masih cukup ramai walau hari sudah malam. Beberapa orang masih terlihat lalu-lalang di hadapanku. Mana mungkin hantu berani nongol di tempat umum seperti ini.

“Jangan melamun, Sayang. Ini susu untukmu.”

Aku mendongakkan kepala. Ternyata Ayah! Ayahku sudah kembali dari berbelanja di mini market dekat stasiun. Ia tengah tersenyum seraya menyodorkan sekotak susu coklelat kegemaranku. Tangan kirinya memegang sebuah kantong plastik putih berlogo nama mini market yang berisi barang belanjaan lainnya. Aku melongok ke arah kantong plastik tersebut untuk melihat apakah Ayah tidak lupa membelikan permen kesukaanku.

“Ayah tidak lupa,” demikian ayahku berkata, seolah mengetahui isi hatiku. “Tetapi habiskan dulu susunya, baru boleh makan permen. Oke?”

Aku mengangguk dengan gembira. Menghabiskan susu cokelat lezat ini? Itu soal gampang! Tidak usah disuruh pun pasti akan kuhabiskan.

Ayah duduk tepat di sampingku. Ia mengeluarkan sekotak susu cokelat yang sama persis dengan punyaku, lalu meminumnya. Hihihi… ternyata ayahku masih suka minum susu juga ya? Kami duduk diam sambil menikmati minuman masing-masing. Suasana di ruang tunggu stasiun ini bertambah sunyi seiring dengan tibanya malam. Makin lama makin sedikit orang yang lalu-lalang. Sekali-sekali terdengar suara kami menyedot susu dengan sedotan plastik. Hmm, aku sungguh sangat menikmati saat-saat seperti ini. Betapa tidak, aku jarang sekali bertemu dengan ayahku. Ia selalu sibuk bekerja di kota. Berkali-kali aku merengek, meminta ayah untuk mengajakku tinggal di kota bersamanya.

“Tidak, Sayang. Di sana tidak ada anak-anak. Lagipula kamu kan harus sekolah.” Ayahku selalu menanggapi rengekanku dengan lembut dan sabar. Sekali pun belum pernah aku melihat ayah marah. Ia adalah ayah terbaik di seluruh dunia!

Bagiku, tempat terindah di dunia ini adalah tempat di mana aku bisa bersama-sama dengan ayah. Seperti stasiun kecil ini, misalnya. Tempat ini terlihat begitu tua dan kusam, dinding-dindingnya yang berwarna kelabu tampak ditempeli berbagai poster iklan yang sudah sobek dan terkelupas di sana-sini. Lantainya yang hijau tua terlihat tidak terawat dan sepertinya jarang dibersihkan. Sampah berupa sobekan-sobekan plastik dan kertas serta botol-botol kosong berserakan di mana-mana. Kaca loket tempat penjualan karcis pun sudah tak bisa dibilang bening lagi. Tapi di sanalah tempat bapak tua penjual karcis yang ramah itu bekerja. Aku masih ingat senyumnya waktu aku dan ayah membeli karcis kereta beberapa saat lalu. Giginya sudah banyak yang ompong, hihihi… Aku menatap kaca loket itu dari kejauhan, ternyata bapak itu masih berada di sana.

Nah, sekarang ia sedang menutup kaca loket dengan kerai hitam. Sebentar lagi ia pasti keluar dari sana. Aku melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan ayahku, ternyata sudah pukul sepuluh malam. Pantas saja loket sudah ditutup. Eh, biar masih kecil, aku sudah bisa membaca jam lho! Pintar kan?

Si Bapak Tua berjalan dengan santai ke arah tempat kami duduk. Sudah mau pulang dia rupanya.

“Kereta terakhir terlambat datang, Pak?” Ayahku bertanya kepadanya.

“Iya, tadi ada sedikit gangguan teknis. Mungkin baru akan tiba seperempat jam lagi.” Si Bapak menjawab. Lalu ia berpaling kepadaku, “Gadis cilik, sudah larut begini kau masih belum mengantuk?”

Aku menggelengkan kepala.

“Berapa usiamu, Anak Pintar?”

“Lima.” Aku menjawab dengan bangga. Aku sudah besar, kan!

“Wah, sudah besar ya. Pintar pula. Pantas tidak rewel.”

Aku tersenyum senang mendengar pujian itu. Si Bapak Tua juga tersenyum, terlihat lagi deh gigi ompongnya!

“Mari Pak, saya pulang dulu. Sampai jumpa, Gadis Cilik!” Ia berkata, melambaikan tangannya seraya melangkah pergi.

Aku dan ayah juga ikut melambaikan tangan.

Sekarang benar-benar hanya tinggal kami berdua di ruang tunggu ini. Aku duduk sambil mengayun-ayunkan kakiku. Maklum, aku masih kecil sehingga bila aku duduk di bangku ini, kakiku tidak dapat menyentuh lantai. Tiba-tiba seekor kecoa melintas di lantai, tak jauh dari koper kami.

“Hus, pergi sana!” Aku mengayunkan kakiku dengan penuh semangat, berusaha mengusirnya pergi. Sekilas kulihat sepatu keds-ku yang baru, pemberian ayah. Warnanya putih-biru, kesukaanku. Aku mengamati sepatu yang nyaman di kaki itu dengan perasaan bahagia.

Tadi sore, sepulang dari sekolah (aku baru mulai sekolah siang hari) aku sangat gembira mendapati ayah ada di rumah. Biasanya di rumah kan hanya ada Si Mbok, pembantu keluarga kami yang sangat setia dan sayang padaku. Ayah tampak sedang mengemasi beberapa potong pakaianku dan memasukkannya dengan tergesa-gesa ke dalam sebuah koper.

“Ayah ingin mengajakmu pergi jalan-jalan.” Ayah berkata dengan riang sehabis menciumku. “Naik kereta api. Kamu mau kan?”

“Asyik!” sorakku gembira. “Kita mau pergi kemana? Tapi aku kan harus sekolah?”

“Libur saja dulu beberapa hari,” ujar ayah. “Nanti Ayah yang minta izin pada Bu Guru.”

Betapa senangnya hatiku! Waktu berlalu dengan cepat, tahu-tahu kami sudah sampai di stasiun ini. Aku sama sekali tidak keberatan menunggu kereta yang terlambat, asalkan ayahku ada di sampingku. Hawa dingin yang terasa menusuk tulang pun tidak kupedulikan. Aku merapatkan jaketku, lalu mendongakkan kepala, memandang ayah dengan penuh kasih. Ayahku juga melakukan hal yang sama. Lagi-lagi ia mencium keningku.

“Tia Sayang, hati-hati dong minum susunya. Tumpah tuh.”

Olala, ternyata tanpa kusadari aku memegangi kotak susuku dengan posisi miring, sehingga sebagian susunya tumpah membasahi tanganku.

“Cuci tangan dulu ya, di toilet wanita sebelah situ,” ujar ayah sambil menunjukkan letak toilet yang dimaksudnya. “Kamu bisa sendiri kan, Anak Manis?”

Aku berlari-lari kecil menuju toilet itu. Suara langkah kakiku bergema memecah kesunyian malam. Toilet itu sepi, tidak ada siapa-siapa di situ selain aku dan sebuah wastafel kecil yang terletak di sudut. Kucuci tanganku bersih-bersih sambil memiringkan kepala, menajamkan telinga untuk mendengar suara-suara di keheningan malam.

Lalu terdengarlah suara itu. Mula-mula pelan, makin lama makin jelas terdengar. Suara langkah kaki seseorang yang sedang berjalan mendekat. Tok… tok… tok… Keras sekali bunyinya! Siapa ya, yang memiliki sepatu seberisik itu? Aku melongokkan kepala melalui pintu untuk mengintip siapa yang datang.

Seorang pria setengah baya rupanya. Ia berjalan menghampiri ayahku. Ayahku tampak terperangah melihatnya. Siapa pula yang tidak terperangah melihat orang seperti itu! Tubuhnya kurus tinggi, wajahnya tirus dengan dagu lancip. Di bawah alisnya yang hitam tebal tampaklah matanya yang kecil dan terletak berdekatan. Mata itulah yang sedang memandang ayahku dengan sinis. Seulas senyum culas menghiasi bibirnya yang tipis. Seluruh pakaian yang dikenakannya, topi, mantel, dan sepatunya berwarna hitam. Aku tidak suka melihatnya.

Kini ia sedang berbicara dengan suara pelan kepada ayah. Ayah tampak… sangat ketakutan melihatnya. Seumur hidup belum pernah kulihat ayahku setakut itu! Ada apakah gerangan? Orang jahatkah dia? Naluriku membisikkan supaya aku tetap berdiri di tempatku sekarang supaya orang itu tidak bisa melihatku. Namun aku bisa melihatnya dengan cukup jelas.

Tiba-tiba ia mengeluarkan sebuah benda kecil hitam yang aneh dan menakutkan. Aku pernah melihat benda seperti itu di televisi, namanya pistol kalau tidak salah. Orang itu menodongkannya ke arah ayah, lalu menarik picunya. Aku ingin berteriak memperingatkan ayah, namun aku begitu takut sehingga tak mampu bersuara. Kupejamkan mata, menunggu bunyi “dor!” Namun tak terdengar suara apapun. Aku membuka mata dan menghela napas lega. Horeee! Ayahku selamat! Pasti pistol itu rusak.

Namun apa yang sebenarnya terjadi? Ayah tampak terhuyung-huyung hampir jatuh. Tangan kanannya ditekankannya ke arah dada. Lalu… bruk! Ayah jatuh tersungkur di atas lantai. Lho… bukankah pistol tadi rusak? Orang itu cepat-cepat kabur dari situ. Aku berlari keluar menghampiri ayah.

“Ayah?” Aku memanggil.

“Ayah tidak apa-apa?” Aku berlutut di dekat ayah.

Dari dada ayah mengalirlah cairan berwarna merah gelap yang tampak berkilauan di bawah sinar temaram lampu stasiun. Darahkah itu?

Bau anyir menyergap hidungku.

“Ayah!” panggilku lagi, air mataku menetes dengan deras. Aku menangis tersedu-sedu. Ayah menatapku lemah. Tangannya yang berlumuran darah mengelus pipiku dengan lembut.

“Hiduplah dengan bahagia nak…” ayah tampak kesulitan untuk bicara, namun masih bisa kumengerti kata-kata yang keluar dari bibir yang baru beberapa menit lalu menciumku dengan penuh kasih itu.

“Lupakan semua ini, Sayang…” ayah tersenyum. Senyum terakhirnya yang kulihat. “Ayah sayang padamu…” Kemudian ayah menutup matanya.

“Ayaaaaaah……….!!!” Aku berteriak sekuat-kuatnya. Kuteriaki telinga ayah. Kuguncang badannya. Ayah tidak boleh tidur! Ayah harus lekas bangun! Bukankah sebentar lagi kereta akan datang? Aku mulai bisa mendengar derunya di kejauhan.

Kurasakan seseorang memelukku dari belakang. Aku meronta sekuat tenaga sambil menangis menjerit-jerit.

“Gadis cilik, tenanglah. Cup… cup…, ayo diamlah, Sayang.”

Aku menoleh. Rupanya bapak tua penjual karcis yang tadi. Di belakangnya tampak mulai banyak orang berdatangan. Mengerumuni kami berdua, aku dan ayahku.

Kemudian segalanya gelap.

“Satu, dua, tiga. Buka matamu, Tia.” Terdengar suara Dr. Rafael yang sejuk menenangkan.

“Segalanya sudah selesai. Sudah berakhir. Tidak apa-apa.”

Aku mendapati diriku masih menangis tersedu-sedu.

“Siapa pelakunya?” Kali ini yang terdengar adalah suara Pak Haryanto, perwira polisi yang bertugas di bagian kriminal.

“Di… di… dia…” Aku menunjuk sehelai foto di atas meja, yang terletak di antara foto-foto lain.

Pak Haryanto memungut foto itu.

“Terima kasih atas kerjasamanya. Terutama atas kesediaan Anda untuk dihipnotis demi mengingat kembali memori yang hilang. Andalah satu-satunya saksi mata. Kami akan segera menindak tegas pelaku pembunuhan itu. Saya mohon diri.”

Aku masih belum bisa menghentikan sedu-sedanku. Itulah sebabnya aku tidak pernah mampu mengingat ayah. Itulah pula sebabnya aku membenci susu cokelat. Aku menuruti perintah ayah dan berusaha keras untuk melupakan semuanya. Sampai semua kejadian itu benar-benar terhapus dari ingatanku. Menurut Dr. Rafael, psikiater yang juga ahli hipnotis itu, hal ini memang mungkin terjadi. Apalagi saat itu aku masih kanak-kanak.

Ayah, aku berjanji untuk tetap hidup bahagia. Aku yakin, kau pun bahagia di sana. Ya kan?

Read Full Post »

oak tree

oak tree

Salah satu kategori kenangan yang paling manis dalam hidupku adalah saat aku mengajar di sejumlah SD di Jakarta dan sekitarnya. Begitu banyak manfaat yang bisa didapat dari profesi yang satu ini. Apalagi untuk seseorang yang pada dasarnya agak kaku dan sulit berinteraksi dengan anak-anak, seperti si penulis sendiri.

Pada waktu itu aku dan sejumlah rekan guru bertugas mengajar ekstrakurikuler bahasa Inggris di SD Pangudi Luhur, Jakarta Selatan, setiap hari Rabu pukul 14.00 (entah sekarang jadwalnya sudah berubah atau belum). Seperti biasa, pukul 16.00 sehabis mengajar, kami berkumpul kembali di ruang guru, melepas lelah sambil membereskan barang-barang dan bersiap pulang. Pada saat inilah kami biasanya saling bercerita. Cukup banyak memang kejadian-kejadian unik di dalam kelas.

Hari itu misalnya, sewaktu jam mengajar, ada suara lengkingan heboh dari sebuah kelas yang dipegang oleh seorang rekan guru senior. Kelas tersebut mayoritas diisi oleh murid-murid kelas 2 SD. Saking keras, heboh, dan tingginya nada teriakan itu (sekitar 5 oktaf!), sejumlah orang tua dan pengasuh yang menunggu di halaman sekolah sampai menengok ke dalam kelas. Rupanya ada seorang murid laki-laki, sebut saja K, yang marah gara-gara diganggu oleh temannya, dan amarah itu dilampiaskan dengan cara menjerit sekeras-kerasnya, dengan nada yang setinggi-tingginya, disusul dengan tangis berkepanjangan. Seingatku, dalam satu tahun ajaran, kejadian ini berulang beberapa kali.

Saat itu aku bersyukur, tidak ada seorang pun muridku yang berkelakuan seperti itu. Maklumlah, saat itu sebagai guru yunior aku diserahi tugas mengajar murid-murid kelas 3 SD yang notabene sudah cukup besar dan tidak cengeng lagi.

Tahun ajaran berikutnya tugasku masih sama, mengajar murid-murid kelas 3. Murid-muridku badung-badung (seperti biasa), namun kegiatan belajar-mengajar berjalan mulus, tanpa ada satupun masalah yang timbul. Sampai kejadian teriakan itu terulang lagi, kali ini di kelasku.

Rupanya K, murid kelas 2 itu tahun ini sudah naik ke kelas 3 dan masuk di kelasku. Astaganaga, aku sempat kaget. Tak heran waktu melihat wajahnya saat pertama kali masuk kelas, aku merasa lupa-lupa ingat. K tergolong bongsor untuk anak seusianya. Wajahnya manis dan lucu dengan pipi montok, seperti malaikat cilik. Dia salah satu murid terpandai di kelas, dan kelakuannya sangat baik, tergolong alim bila dibandingkan dengan teman-temannya. Hanya saja, ia memang mudah marah kalau diganggu.

Sehabis berteriak, K menangis. Bahunya terguncang-guncang hebat. Terlihat jelas ia berusaha keras mengontrol emosi. Aku menyuruh si biang keladi, sebut saja A, anak paling iseng di kelas, untuk meminta maaf. K menyambut uluran tangan temannya itu sekilas, lalu cepat dilepasnya kembali. Saat itu jam dinding menunjukkan pukul 15.00, waktunya istirahat. Murid-murid boleh beristirahat selama 15 menit. Setelah aku mengumumkan waktu istirahat tiba, seluruh murid bergegas keluar untuk bermain di halaman. Hanya K saja yang masih tinggal di dalam kelas. Tangisnya sudah agak reda.

Tidak tahu harus berbuat apa, perlahan, kudekati dia. Aku bertanya, mengapa tadi dia marah-marah. Masih terisak, K bercerita. Rupanya si A berbuat iseng. Aku lantas bertanya, apakah A jahat? K menjawab, tidak. Aku berkata (semoga saja benar), kalau ada teman berbuat iseng pada kita, asalkan tidak keterlaluan, itu berarti dia menganggap kita teman. Kalau tidak kenal sama sekali, kecil kemungkinannya dia iseng. Ya tidak? K mengangguk.

Saat itu aku merasa, inilah saat yang tepat untuk memotivasi K. Tapi bagaimana caranya ya? Sebatang pohon besar yang tumbuh tepat di depan kelas memberiku ide. Aku berkata lagi, orang yang suka iseng itu jumlahnya banyaaaaaaak sekali. Kan repot juga kalau setiap kali diisengi kita marah-marah. Nah, coba kamu lihat pohon besar itu. Setiap hari ia ditiup angin, kadang-kadang diterpa hujan dan badai, namun ia tetap berdiri teguh. Kamu harus bisa seperti pohon itu. Toh teman-temanmu tidak jahat, mereka hanya ingin mengajak bermain. Anggap saja mereka seperti angin dan hujan, kamu pohonnya. Tegar dan kuat. Bisa, kan?

K mengangguk. Wajahnya berubah cerah.

Aku menambahkan sambil bercanda, kalau ada yang keterlaluan bandelnya, bilang aja ke Miss. Nanti Miss jewerrrrr…!!!

K tertawa. Senang sekali melihatnya tertawa.

Sejak saat itu hingga tahun ajaran berakhir, tidak pernah sekali pun K marah-marah. Ia lebih ceria, dan karenanya, lebih banyak teman. A dan geng anak-anak badung itu pun menjadi temannya.

Itulah kisah K, seorang mantan muridku yang pandai, baik hati, dan tegar.

Read Full Post »

Older Posts »