Feeds:
Posts
Comments

Archive for June, 2008

Untung ada Kucing

Figaro and fishSuatu pagi, ketika masih duduk di bangku kelas 1 SMP, aku terbangun dengan perasaan tidak enak. Setelah diingat-ingat, ternyata memang benar bakalan ada bencana. Hari itu ada mata pelajaran Biologi, dan ibu guru menugaskan setiap murid untuk membawa tulang hewan utuh, guna diteliti di sekolah.

Seperti biasa, aku lupa!!!

Minggu sebelumnya, ketika ditugaskan membawa tanaman pun, aku lupa. Sampai di sekolah, melihat teman-teman membawa pot-pot tanaman, baru aku ingat. Jadilah aku mencari-cari gelas air mineral kosong, kemudian diisi dengan sejumput tanah plus tumbuhan sejenis rumput yang tumbuh di halaman sekolah. Tapi tentu saja ibu guru tidak bisa dibohongi. Sorot matanya yang tajam seolah berkata, “Kamu lupa lagi ya!!!”

Masa iya hari ini aku lupa lagi, pikirku dengan sedih. Coba kalau ingat, kan bisa beli tulang ayam atau apalah di pasar. Tapi sekarang sudah tidak sempat lagi.

Kemudian seperti biasa, siapa lagi yang datang menghampiri sambil mengeong-ngeong kelaparan minta makan kalau bukan kucingku, Figaro.

Aku menatap kucingku dengan sedih. Tulang hewan apa yang harus kubawa ya? Aku cuma punya kucing. Ah, tidak mungkin!!!

Dimarahi seperti apapun akan kuhadapi dengan berani! Takkan pernah kukorbankan kucingku tersayang!!!

Seolah tidak mengerti apa yang kurisaukan, Figaro terus mendesak minta makan. Tiba-tiba aku mendapat ide cemerlang! Kucingku kan biasanya makan nasi dicampur ikan pindang. Biasanya seekor ikan pindang cukup untuk dua hari. Semoga saja pagi ini masih ada persediaan ikan utuh di kulkas, bukannya ikan yang sudah dipotong-potong…

Dengan berdebar kubuka pintu kulkas… di dalamnya bertengger dengan manis seekor ikan pindang utuh! Dengan gembira kuambil sepiring nasi putih hangat untuk Figaro, kucampur nasi dengan ikan (agak lebih banyak dari biasa karena aku sedang gembira), yang segera dilahap kucingku dengan nikmat. Kusimpan daging yang tersisa, kubungkus tulang ikan dengan plastik, kubawa ke sekolah, kutunjukkan pada ibu guru.

Kali ini ibu guru Biologi (yang sebetulnya sangat baik hati itu) tersenyum.

Aku juga tersenyum. Untung ada kucing! :p

*tiba-tiba ingat sama Bu Yono guru Biologi SMP yang baik hati*

Advertisements

Read Full Post »

house sparrow

Bang!!!

For a few seconds I can see nothing but little twinkling stars dancing around, followed by a sudden sharp pain on my head. Then, gaining my sight back, I start to wonder. It shouldn’t be so difficult. My eyes are telling me that I’m just a few steps away from the green grass, a few flaps away from the tree tops. But somehow, I just can’t get out!

I spring back, take a deep breath, get myself ready. Yes, I’m going to try again. Spread my wings, and… (fly again?)

Bang!!!

It happens again. So comes again the pain, more severe than the previous one. I check my beak, fortunately it’s fine. Standing on trembling little feet, I force myself to think. It mustn’t be a coincidence. There must be an invisible barrier that separates me from the outside world.

I examine the mysterious “barrier” closely. I see nothing. The sky is just as blue, and the leaves, as green. Yet something is missing. Where’s the sweet smell of the grass? The sound of other birds singing? The warm sunshine? The wind breeze?

I decide to take a rest and examine my surrounding more carefully. There’s no other bird in this room. I only see humans. I’m glad they’re not interested in me. Anyway, I’m just an unattractive little brown feathered bird. Not valuable enough for them to catch.

Those humans are busy with their meals.

I’m hungry. And so are my babies…

How many hours has elapsed since the last time I saw them this morning? Mommy’s going out to fetch you some food, said I. Be nice and don’t leave the nest until Mommy returns. My five adorable little babies… they hatched a week ago, and it’s my first experience to be a mother. I feed them every morning, noon, and night. They could never be satisfied. It was the happiest moment of my life! To hear the eggs cracked, and…

Stay focus! You want to leave this place and go home to your babies, right? So, stay focus and think!!!

Too tired to fly, I hop along the window panes. (Little birds do not walk. We hop.) Checking here and there, searching for a spot where “the barrier” doesn’t exist. After checking around twice (or thrice?) I still can’t find the right spot. The invincible “barrier” is covering this room. Gosh, I almost give up!

Wait, I managed to get in here, right? If there’s an entrance, there should also be an exit. All I have to do is find the entrance, then I’ll be able to exit. The idea rises my spirit back. Once again I spread my wings and fly. I need to find the entrance soon.

The flaps of my wings attract the humans’ attention. Some of them look up, and see me flying around. Watch me, I say, watch me finding my way home!

Time goes by… and here I am still, in this very room. I could hardly move my wings anymore. They’re exhausted, just like me. I stand still and look down.

A woman is watching me. Sympathy is written on her face. She’s trying to say something… but I don’t understand the human language. Ah, who cares…

Legs trembling, tears falling, oh how I miss my babies…

Looking out at the darkening sky, suddenly I gain my strength back. The last power, just adequate for one final effort!!! I stand up, straighten my legs, throw one final glance at the humans… at the woman who’s still watching.

You may look down on me, on my tiny little figure. And yes, I’m only equipped with a pair of tiny little wings. My strength won’t last the night. Neither will my life. But I’m a bird, and a bird never gives up!!!

One final effort, I say to my wings. For the sake of my hungry babies, I’ll have to try again. If I get lucky, “the barrier” might no longer be there. Who knows?

There’s only a way to find out.

I close my eyes, praying to my Creator, thinking of my babies. Mommy’s coming home.

One, two, three, go…!!!

Bang!!!

After hitting the glass window severely, the bird falls down. Its eyes, no longer open, its beak no longer chirps. A woman removes the dead bird from the floor, holding it close to her chest. Tears are falling down her cheeks. If only you understand the language of human, she whispers sadly. I know you only want to find a way out. I’ll take you out and release you in the open. I’ve offered you a help… but how would you understand my intention? We don’t even speak the same language.

*dedicated to one confused little bird trapped in the food court of Summarecon Mall Serpong, one Sunday afternoon*

Read Full Post »

Datang dan pergi

Kantor ini memang menyediakan ruang bagi karyawan agar bisa belajar dan berkembang.

Mulai dari meriset ide liputan, berkomunikasi dengan nara sumber, menulis berita, mengambil gambar, mengedit, dan masih banyak lagi.

Tidak terhitung berapa banyak pengalaman dan ilmu pengetahuan yang bisa ditimba selama bekerja di kantor ini.

Namun di lain pihak kantor juga membatasi sebagian ruang gerak karyawan, batasan-batasan yang sebetulnya tidak terlalu esensial.

Seperti keharusan mengenakan seragam (yang celakanya kurang nyaman dipakai beraktivitas di luar ruangan, terlebih di kala cuaca panas), tidak adanya flexible time sehingga terlambat 1 menit saja tunjangan kinerja dipotong (padahal karyawan seringkali bekerja jauh melebihi jam kerja tanpa uang lembur), souvenir yang disediakan kantor untuk nara sumber seringkali kurang cocok, dan lain sebagainya.

Belum lagi selalu ada omelan yang diterima saat berhadapan dengan seorang karyawati tertentu, meski untuk hal remeh seperti meminjam kunci loker, demi mengambil sebuah kaset, demi kelancaran produksi…

Hal-hal kecil seperti ini memang seringkali dipandang kurang penting.

Namun sesungguhnya, justru kerikil-kerikil kecil dalam sepatu inilah yang merusak mood bekerja, menghilangkan semangat berkarya.

Apatisme membuat sebagian orang berpikir, yang dipentingkan oleh kantor adalah datang tepat waktu dan mengenakan seragam dengan tertib.

Hasil kerja, menjadi nomor kesekian.

Prestasi, kurang dihargai.

Sehingga tidak bisa disalahkan bila sejumlah karyawan merasa kreativitas, idealisme, dan kebebasan berekspresi terbelenggu.

Dan akhirnya memutuskan untuk pindah…

Aku?

Ah, aku masih mencintai profesi ini, dan ingin melihat kantor yang telah berbaik hati memberiku kesempatan belajar, bisa berkembang suatu saat nanti.

Selamat jalan kawan-kawanku terkasih, teruslah berkarya di manapun engkau berada…

Tuhan selalu memberkati.

Amien.

*ditulis untuk untuk kawan-kawan yang akan meneruskan berkarya di tempat lain, sekaligus menanggapi tulisan Jennifer di blog-nya.*

Read Full Post »

Tuesday evening around 9.15 pm, Renata Lim, a vocal instructor, also the head of Jakarta Singing School, was riding her car home. She went home late every Tuesday due to the Eliata choir practice, a Christian choir she established in 1980’s. There’s another passenger sitting next to her seat, one of her student, also a member of Eliata choir, an Alto to be exact.

It was me.

Traffic jam there was, all the way from Tomang to Grogol, a bit unusual at that time of the day. Yet, since we’re used to living in Jakarta, it needn’t be a surprise anymore. But it was okay. Renata laoshi, a classic vocal expertise, is a very nice person to talk to. One could never learn enough from such an expert like her!!! Renata laoshi has always been in love with classical music, that she doesn’t know much about pop, jazz, let alone heavy metal.

Suddenly I remembered “Zona 80”, one of my favorite TV program. It’s a nostalgic program that brings the audience back to the eighties. Several popular singers during the eighties would perform their hits during the show. It’s a really worth-watching program. Once, my favorite singer Arie Wibowo, perfomed “Singkong dan Keju“, a song I’ve never heard for the last twenty years! And the PSP (Pancaran Sinar Petromaks) singing their very famous “torerojing, torejing, torejing”, etc. Lovely!

However, I noticed that some of the great Indonesian pop singers of the eighties didn’t perform very well. I remembered clearly that they were much better singers back then. They still sound good, but they weren’t as great as they used to be. Maybe it has been years since the last time they practiced.

I asked Renata laoshi, what happens if, let’s say, a great singer stop practicing, and doesn’t sing again for many, many years. Will he or she lose the ability?

Then Renata laoshi told me, if you do love singing, give your love 100%!!! You simply cannot abandon it. Leave singing for a while, and you’ll find out that it has left you. You probably don’t really mean to leave it, but it will surely leave you. Singing is something you have to maintain. Only by giving your love 100%, practicing it regularly, then it’ll really be a part of you.

I love singing, I really do. But I must admit that I haven’t been practicing hard enough. Feeling tired from work is the hardest obstacle that keeps me from practicing everyday.

Can I give my love 100% to singing?

Only time will answer.

Read Full Post »

Seni mengkritik

Tahun 1999 aku berkenalan dengan dunia yang sangat aku cintai, yaitu dunia debat. Sebelum lulus dari Atma Jaya Jakarta tahun 2000, aku sempat mengikuti 4 kompetisi debat bahasa Inggris di Jakarta, Depok, dan Surabaya. Setelah pertengahan tahun 2000, sebenarnya hasrat berdebat masih menyala-nyala, apa daya sudah lulus kuliah, sehingga tidak bisa ikut kompetisi debat lagi (kasiaaan deh lu…!!!)

Tapi… (seperti yang tertulis pada T-shirt yang dikenakan seorang teman debater) old debaters don’t die, they only become lousy adjudicators, hehe… :p

Saking masih cintanya pada dunia debat, aku dengan senang hati menjadi adjudicator (juri) di beberapa kompetisi debat, tingkat universitas maupun SMA. Apalagi penyelenggaranya kebanyakan teman-teman sendiri juga, jadi sekalian bantu-bantu. Selain menentukan pemenang debat dan memberikan penilaian, adjudicator juga memiliki kewajiban moral (halah!) memberikan kritik dan saran, agar para debater bisa tampil lebih baik lagi di kesempatan berikutnya.

Pengalaman pertama sebagai adjudicator kompetisi debat tingkat mahasiswa yang diselenggarakan di Purwokerto memberiku pelajaran sangat berharga, yang masih kupegang terus sampai sekarang. Yaitu tentang seni mengkritik.

Mosi yang dipilih oleh para peserta debat siang itu adalah “That elephants are stronger than ants”. Melihat mosi tersebut, aku berpikir, mungkin “elephants” akan didefinisikan sebagai sesuatu yang besar dan kuat, misalnya pemerintah, militer, dsb. Dan “ants” mungkin akan didefinisikan sebagai sesuatu yang kecil dan lemah, namun dalam jumlah banyak, kekuatannya tidak bisa diremehkan, seperti rakyat jelata, mahasiswa, pers, atau apa sajalah, yang disesuaikan dengan isu politik terakhir, misalnya.

Di luar dugaan, government team mendefinisikan elephants sebagai gajah, dan ants sebagai semut, apa adanya!!! Jadilah debat yang berlangsung selama kurang lebih 1,5 jam tersebut membahas apakah gajah lebih kuat daripada semut. Argumen yang diajukan antara lain, gajah lebih kuat daripada semut karena gajah bisa menginjak-injak sarang semut dengan mudah. Argumen ini di-counter-attack oleh opposition team dengan fakta bahwa semut yang masuk ke dalam telinga gajah bisa membunuh hewan besar itu, dan sebagainya.

Aku berpikir, argumen semacam ini lebih pantas untuk kompetisi debat tingkat Sekolah Dasar!!!

Maka ketika debat berakhir dan para adjudicator diberi kesempatan untuk memberikan penilaian lisan, keluarlah semua kritikan itu dari mulutku, bagaikan air bah. Aku masih ingat, kalimat yang pertama kuucapkan adalah, “first of all, please notice that it’s a varsity debate, not an elementary school debate!” dan seterusnya. Setelah puas mengkritik, aku mengatakan bahwa KHUSUS untuk debat kali ini, pemenang dipilih karena memang HARUS ada pemenang, bukan karena ada tim yang LEBIH bagus. Maksudku, supaya pemenang jangan merasa jumawa, gitu lho…

Walhasil, raporku sebagai adjudicator pada siang hari itu, jeblok. Aku masih ingat, wajah seorang peserta dari government team terlihat merah padam akibat marah ketika mendengarkan penilaian lisanku. Saat itu aku tak peduli, yang penting aku sudah memberikan penilaian dan kritik sebaik-baiknya, agar lain kali mereka lebih baik lagi dalam mendefinisikan suatu mosi.

Namun setelah itu, barulah kuingat juga. Saat memberikan kritik dan saran, tak ada seorangpun peserta debat yang membuat catatan. Government team, mungkin karena marah, sedangkan opposition team memang terlihat seperti tipikal mahasiswa yang dipaksa pihak kampusnya mengikuti kompetisi, sehingga mereka menjalaninya dengan pasrah.

Lalu apa gunanya aku mengkritik dan berbagi pengalaman kalau tak ada satupun yang diterima oleh para peserta debat?

Aku teringat juga akan seorang rekan adjudicator dari UI, yang siang itu memberikan penilaian lisan dengan baik dan ramah, sehingga bisa diterima oleh peserta debat. Saat itu aku bertanya, kenapa dia tidak marah-marah saja (mengingat rekan ini biasanya menganut garis keras)? Ia hanya mengatakan, kalau definisinya segitu, ya berarti memang kualitas debater-nya baru segitu, dimarah-marahi pun tidak mempan. Mungkin mereka masih pemula. Lebih baik menilai kemampuan mereka apa adanya, jangan menilai kemampuan mereka berdasarkan ekspektasi kita.

Barulah aku sadar, ternyata mengkritik pun ada seninya! Supaya diterima, ada baiknya bila kritikan diawali dengan pujian. Karena pujian, meskipun ringan, mampu membuka hati seseorang. Bila hati sudah terbuka, maka segala kritik, saran, nasehat, bisa diterima dengan baik pula.

Sejak saat itu, semua penilaian lisan selalu kuawali dengan senyuman, plus kalimat semacam ini, “thank you for the great efforts, it was a very good debate! First of all, let us give a big applause for both sides of the house!” Nah, setelah tepuk tangan selesai dan wajah para peserta debat sudah tidak tegang lagi, barulah kritikan kusampaikan. Rata-rata peserta menyambut kritikan dengan pikiran terbuka, mencatat apabila dirasa perlu, dan lain sebagainya.

Huaaaahhh… ternyata mengkritik pun ada caranya ya… :p

Read Full Post »