Feeds:
Posts
Comments

Archive for August, 2008

Lumpia pisang cokelat

*Kisah tentang pengamatan dari hasil liputan yang kemudian diterapkan dan mengantar kepada keyakinan bahwa Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya*

(busyet, kalimatnya gak bisa dipendekkan sedikit ya?)

Semuanya berawal dari sebuah liputan tentang kursus masak gratis di kawasan Ciputat, Jakarta Selatan. Seorang ibu rumah tangga membagikan kemahirannya memasak kepada siapapun yang mau datang, secara gratis. Tujuannya, agar ibu-ibu dari keluarga marjinal bisa mencari tambahan penghasilan dengan memproduksi makanan dan menjualnya. Sungguh seorang ibu yang dermawan.

Hari itu beliau mengajarkan bagaimana cara memasak ikan goreng asam manis, sayur … (apa ya, aku sudah lupa), dan hidangan pencuci mulut yang lezat dan gampang dibuat, yaitu lumpia pisang cokelat. Yang terakhir ini menarik perhatianku karena… benar-benar gampang dibuat!!! Saking gampangnya (pada saat itu aku baru sebatas membaca resep dan melihat ibu-ibu praktek membuat lumpia) aku langsung berkoar-koar pada seorang kakak sepupuku. Soalnya kakak sepupu yang satu ini memang hobinya makan lumpia pisang cokelat (selanjutnya akan disebut sebagai LPC), dulu sering menitip dibelikan dari kantin depan Unika Atma Jaya Jakarta.

Aku berkata bahwa LPC kegemarannya gampang sekali dibuat. Nanti kapan-kapan kalau sedang main ke rumahnya, aku buatkan. Dan perkataan ini adalah sebuah janji, meski tidak ada batasan waktu kapan harus ditepati. Kakak sepupuku juga tidak pernah menagih. Sampai pada suatu hari, ia menagih janjiku.

Dikenal (di seantero keluarga besar) sebagai orang yang payah dalam hal masak-memasak, mewujudkan janji membuat lumpia ini adalah sebuah tantangan. Kalau aku berhasil membuat LPC yang lezat, maka peringkat “tidak bisa memasak” dapat dinaikkan sedikit menjadi “agak sedikit lumayan, boleh dibilang mulai agak sedikit bisa memasak, yah… bolehlah”.

Sebetulnya yang lebih menarik adalah karena kakak sepupuku berkata, aku akan dikenalkan dengan salah seorang temannya, dengan skenario sebagai berikut: aku pergi bermain ke rumah kakak sepupuku, membuatkan LPC, lalu nanti temannya akan datang, lalu dikenalkan. Simpel, dan tidak to the point banget jadi ndak malu-maluin. Sambil promosi, kakak sepupuku bilang, temannya ini ganteng dan lebih tinggi 3 cm darinya. Mengingat kakak sepupuku orangnya jangkung, aku jadi berpikir seperti apa ya, dan dari mana kakak sepupuku mendapat perbedaan angka 3 cm itu, apakah pernah diukur tinggi badannya bareng-bareng?

Ensoku (istri kakak sepupuku) menyarankan agar aku membawa pakaian yang bagusan dikit (biasanya kalo main ke rumahnya aku gemar mengenakan T-shirt dan jeans lusuh). Hal ini kuturuti. Namun apa daya, sewaktu membuat LPC aku harus berdekatan dengan kompor, wajan, dan teman-temannya, kepanasan dan kegerahan. Apalagi ketika messies cokelat habis, bingung juga, untung ada susu kental manis rasa cokelat sebagai pengganti. Alih-alih tampil keren, ketika menyajikan LPC aku tampil keren…gatan (maksudnya keringatan).

Tapi tidak apa-apa, karena temannya kakak sepupuku ini menyambut dengan memakan LPC dan mengatakan enak (entah beneran atau karena tidak tega bilang tidak enak). Mengutip kakak sepupuku, “Selanjutnya terserah Anda.”

Nah, akhirnya… Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya :p

Advertisements

Read Full Post »

Sebagai pengguna kendaraan umum di Jakarta (yang baru saja dipuji-puji di tulisan sebelum ini) saya biasanya menjadi anak manis dan patuh. Kalau kernet kopaja 86 jurusan Lebak Bulus-Kota yang saya tumpangi menyuruh semua penumpang turun dan pindah ke kopaja lain yang sudah penuh sesak, biasanya saya turuti saja tanpa mengomel. Demikian juga kalau angkutan umum yang saya tumpangi berhenti setiap beberapa puluh meter sekali untuk ngetem.

Tapi kemarin malam saat pulang kerja naik kopaja 86 saya agak bete dengan perlakuan kernet dan sopir yang rese tanpa ada manfaatnya sama sekali (ngetem itu rese, tapi minimal ada manfaatnya buat mendapatkan tambahan penumpang). Pasalnya sebelum sampai persis di depan kampus Untar Grogol, saya sudah disuruh turun. Padahal jaraknya masih lumayan jauh dan cukup berbahaya berjalan kaki di pinggir jalan raya yang ramai.

“Turun sini aja Neng!”

“Depan dikit, Bang.”

“Sini aja Neng, mau ke kanan!”

Padahal saya tahu pasti kopaja 86 ini nggak bakal langsung kabur ke arah kanan. Mereka pasti ngetem barang beberapa saat karena di depan kampus Untar biasanya ada beberapa penumpang yang naik.

“Ya udah ke kanan aja, Bang!” kata saya dengan suara menantang. Sekali ini saya memutuskan untuk bersikap ketus dan menyebalkan. Tidak apa-apalah, asal jangan sering-sering.

Si sopir langsung membelokkan kopajanya dengan brutal ke kanan seolah-olah hendak langsung kabur ke Slipi tanpa mencari penumpang tambahan. Tapi yah… hal itu tidak mungkin. Soalnya penumpang adalah setoran, dan setoran adalah uang. Akhirnya sampai di depan, si sopir memaksa belok lagi ke kiri, ngetem sebentar. Heran, apa susahnya membiarkan saya turun di situ. Toh, tidak ada ruginya.

Dasar!

Read Full Post »

Transportasi di Jakarta

Jakarta macet. Lalu lintas amburadul. Kondisi transportasi umum semrawut dan mengenaskan. Percaya tidak percaya, kondisi transportasi dan jalanan di Jakarta bahkan sudah terdengar sampai ke negeri seberang.

Misalnya saja waktu saya dan sejumlah teman kantor menjalani training kerja di Taipei selama 3 minggu. Di Taipei, kalau perjalanan terhenti selama satu-dua menit, lalu mobil harus menggelinding lambat-lambat selama beberapa menit (sehabis itu lancar lagi), itu sudah disebut macet. Karena itu dalam perjalanan menuju tempat liputan, saya sempat berkomentar betapa lancarnya arus lalu lintas di Taipei. Kalaupun tidak punya mobil juga enak, kemana-mana bisa naik MRT yang murah meriah. Seorang rekan yang berasal dari Malaysia berkata bahwa dia pernah mendengar mengenai kondisi mengenaskan alat transportasi di Jakarta, hanya saja dia tidak tahu detilnya seperti apa. Dengan penuh semangat, langsung saya dan seorang teman lagi membeberkan seperti apa transportasi di Jakarta. Mulai dari bis-bis bobrok, kepulan asap hitam dari bajaj, metromini ngebut, dan masih banyak lagi.

Kemudian saya tercenung sejenak. Meski bobrok (udah bobrok, ngebut lagi) dan mengepulkan asap hitam, namun bis, angkot, metromini serta kopaja itu telah bertahun-tahun dengan setia mengantar saya ke tempat tujuan. Rasanya tidak adil kalau kita hanya melihat dari sisi buruknya saja. Saya percaya, transportasi di Jakarta ada positifnya. Kemudian gantian saya dan teman saya tadi berlomba-lomba memberitahukan positifnya transportasi di Jakarta kepada si rekan dari Malaysia.

Kelebihan alat transportasi di Jakarta dibanding dengan kota-kota di negara lain:

1. Siap menjemput kapan saja, di mana saja.

Di Singapore, kita harus menunggu bis di halte-halte yang sudah ditentukan. Kalaupun kita menunggu di halte yang dilewati, tapi kalau bukan jadwalnya, si bis tidak akan berhenti. Apalagi kalau menunggu di pinggir jalan, sampai pegal tangan melambai, bisnya nggak bakalan berhenti. Nah, di Jakarta sopir-sopir bis lebih pengertian. Indera penglihatan mereka juga tajam-tajam. Kapan saja dan di mana saja kita melambaikan tangan, mereka siap menghampiri. Demi menanti penumpang yang sedang berlari-lari, pak sopir rela berhenti di tengah jalan begitu saja, peduli amat sama klakson-klakson kendaraan lain yang meneriakkan protes. Kadang, demi mengangkut penumpang di pinggir jalan (posisi bis di tengah jalan), pak sopir rela membelokkan bisnya yang segede-gede gaban itu dengan drastis, sehingga memotong jalan kendaraan lain. Pokoknya apapun dilakukan demi menjemput dan mengangkut penumpang. Sebuah dedikasi.

2. Siap mengantar sampai ke tempat terdekat atau ternyaman

Di Singapore dan Taipei (lagi-lagi, soalnya negara/kota lain belum sih) bis hanya mau berhenti di halte saja. Nah, di Jakarta, kita bisa minta tolong abang sopir (bis, angkot, metromini, sebut aja) supaya dihentikan di tempat yang sedekat mungkin dengan tujuan kita, atau menghindari genangan air, dan lain sebagainya. Kalimat-kalimat seperti: “depan dikit ya Bang, becek nih” atau “boleh ya Bang, ke kiri dikit biar nggak kena hujan” sering terdengar, dan rata-rata dituruti oleh pak sopir. Lagi-lagi, sebuah dedikasi.

3. Berfungsi sebagai money changer (alias boleh tukar uang receh)

Bukannya mau sok kaya, tapi kan ATM itu hanya menyediakan pecahan 50 ribuan dan 100 ribuan, jadi ada kalanya kita perlu mengepyarkan duit. Nah, bis atau angkot bisa menjadi tempat menukar uang (sekaligus buat bayar ongkos). Misalnya ongkos naik angkot dari Grogol-Kota 3000 perak, kita bisa pakai uang 50 ribuan buat bayar. Kuncinya, lihat dulu ke laci dashboard angkot, kalau uangnya udah tebal, berarti dia pasti punya kembalian. Bila perlu, bilang sama abangnya, kembaliannya ribuan aja, nanti akan dihitungkan dengan super teliti (selama ini belum pernah ketemu sopir yang salah itung). What a dedication!

4. Konsultasi jalan

Kalau tidak tahu jalan, nekat saja naik bis, angkot, atau apa saja yang kebetulan lewat di depan kita. Setelah naik baru tanya, Bang, ini yang ke arah … bukan? Kalau dibilang bukan, tanya saja, mau ke arah … naik apa dan di mana ya? Biasanya pak sopir atau bang kernet akan memberi tahu. Di depan aja neng, nanti naik … yang jurusan … Kasih tahu kalo sudah sampe ya Bang … Beres neng. Cukup dengan membayar ongkos yang relatif murah, kita bisa mendapat banyak pengetahuan tentang jalur-jalur bis/angkot. Jadi lain kali kita sudah tahu harus naik apa di mana. Dedikasi, oh dedikasi. Kalo di Singapore? Boro-boro bisa nanya. Soalnya ada tulisan gede-gede “Do Not Talk To Driver”.

5. Siap memberi tahu sudah sampai di mana

Di Jakarta, kernet bis akan selalu memberitahu penumpang saat itu sudah sampai di mana. Misalnya Grogoool, Grogoool abisss…!!! Dengan demikian penumpang yang tertidur lelap sekalipun akan tersentak bangun dan bisa turun di tempat tujuan tanpa kebablasan. Dedikasi dari hati.

6. Kreatif mencari jalur alternatif kalau macet atau banjir

Bila kita sedang naik angkot lalu tiba-tiba terhadang macet, sopir angkot biasanya akan bertanya pada seluruh penumpang. Ada yang mau turun di … nggak? Kalau tidak ada, dia segera dengan sigap mencari jalan alternatif lain, yang penting bisa sampai di tempat tujuan akhir. Dedikasi dalam menghemat waktu. Di negara lain? Boro-boro, soalnya mereka jarang kena macet dan banjir kali ya.

7. Fasilitas “Room Service” (atau “Bus Service“)

Di Jakarta, kalau sedang naik bis, metromini, angkot atau apa saja dan tiba-tiba kita merasa haus, kita bisa beli minuman, makanan, tissue atau apa saja dari pedagang asongan di pinggir jalan. Bisa dengan cara bertransaksi lewat jendela, bisa juga minta abang kernet memanggilkan pedagang asongan masuk ke dalam bis (biar lebih leluasa memilih-milih mau beli minum apa). Kira-kira mirip room service di hotel-hotel deh. Benar-benar dedikasi!

Nah, seperti itulah transportasi di Jakarta. Gak parah-parah amat, kan? :p

Read Full Post »

Pemazmur

Pertama kali masuk ke dalam gereja, aku langsung sudah tahu ingin menjadi apa kalau suatu saat nanti aku bertugas di tempat itu. Ya, waktu TK pun aku sudah gatal ingin menggantikan orang di balik mimbar kecil yang bertugas menyanyi solo, melantunkan Mazmur. Ohya, aku pertama kali ke gereja waktu sekolah di TK Theresia, karena keluargaku bukan keluarga Katolik.

Keinginan ini terus berlanjut hingga aku duduk di bangku SD St. Yoseph. Apalagi pada saat SD ada seorang adik kelas yang sering ditunjuk guru untuk menyanyikan Mazmur dalam misa-misa sekolah. Padahal menurutku suaranya gak bagus-bagus amat, sering meleset kalau menyanyikan nada rendah, dan terlalu melengking kalau menyanyikan nada tinggi (bagusan aku kali, cuma belum pernah ditandingkan saja). Kelebihannya hanyalah ia memang pede, pemberani, dekat dengan guru, dan… sudah dibaptis secara Katolik.

Bertahun-tahun keinginan itu dipendam, kadang timbul kadang tenggelam, sampai akhirnya aku dibaptis pada saat kelas 1 SMA (yess…!!!) Bukan berarti aku dibaptis karena ingin menjadi pemazmur lho, tapi kalau setelah dibaptis aku bisa menyanyi untuk Dia, apa salahnya… ya nggak?

Akhirnya cita-cita terpendam ini terwujud juga pada saat aku sudah lulus dari Unika Atma Jaya Jakarta (lama amat nunggunya ya?) Saat itu ada teman se-almamater yang mengajak para penghuni kost di kawasan Jalan Karet Sawah (di jalan itu ada banyak banget kost-kost-an) untuk membentuk koor kecil-kecilan, lantaran kring tempat kami tinggal belum punya koor. Walhasil, aku pernah ditunjuk untuk menyanyikan Mazmur dan Aleluia, tepatnya di Gereja St. Ignatius yang berlokasi di kawasan Pasar Rumput. Senang? Tentu saja! Kalau tidak salah aku sempat kebagian jatah bertugas dua atau tiga kali. Sayangnya setelah itu anggota koor mrithili satu persatu, dan koor dibubarkan secara tidak resmi.

Kesempatan itu terbuka kembali saat aku pindah ke kawasan Tanjung Duren Jakarta Barat. Dari yang biasanya ikut misa di Gereja St. Theresia kawasan Menteng, jadi pindah ke Gereja St. Kristoforus kawasan Jelambar. Saat mengikuti misa di Gereja St. Kristoforus, dibacakan pengumuman yang isinya gereja sedang mencari pemazmur. Bagi yang berminat silakan menghubungi … selengkapnya bisa dilihat di pengumuman. Kesempatan emas seperti ini tentu saja tidak kusia-siakan. Jarang-jarang ada gereja yang membentuk tim pemazmur. Setahuku, biasanya pemazmur diambil dari anggota paduan suara yang bertugas melayani pada saat misa. Jadi tidak ada “profesi” khusus pemazmur.

Setelah mengikuti audisi (untungnya keterima), kami menjalani pelatihan dulu selama beberapa bulan di bawah bimbingan ci Lisa dan mas Momon (padahal nama aslinya Raphael), barulah bertugas di gereja (supaya ndak ngisin-isini). Di sini juga aku berkenalan sama Kristina, sesama anggota “Tim Mazmur Raja Daud” yang blog-nya bisa dikunjungi, cukup nge-klik ke blogroll “Kristina dan Ria” (aku sekalian promosiin, soalnya blog Kristina dan temennya, Ria, lucu dan orisinil sekali!)

Senang sekali bisa ikut tim pemazmur. Soalnya setiap bulan sekali ada pertemuan untuk berlatih bersama, sekaligus menentukan kita mau bertugas di mana, Gereja St. Kristoforus atau Stasi Polikarpus, tanggal berapa, misa yang jam berapa, dan lain sebagainya, dan dalam pertemuan selalu disediakan konsumsi, kadang kue-kue, kadang seporsi bakmi… nyam… nyam… Tapi bukan itu lho motivasi utama kami bergabung dalam tim ;p

Bahagia sekali (plus deg-degan) kalau sudah tiba harinya bertugas. Sejak seminggu sebelumnya sudah diingat-ingat, jangan makan goreng-gorengan, hindari minum es, dan sesering mungkin berlatih. Saat sudah berdiri di mimbar, jangan gugup, pede aja, tarik napas dalam-dalam (pernafasan diafragma), pastikan rongga perut kita penuh terisi udara agar napas bisa panjang dan suara stabil (ini nasehat Renata Laoshi). Setelah itu buka mulut dan mulailah menyanyi.

Bisa dibilang, semua orang (kecuali penyandang tuna rungu dan wicara) bisa menyanyikan Mazmur. Sebenarnya tidak terlalu sulit, yang penting mau berlatih. Suara juga tidak harus bagus, yang penting terlatih (di sinilah pentingnya latihan). Nah, bagi teman-teman yang ingin menjadi pemazmur di Gereja St. Kristoforus, masih dibuka lowongan. Yang berminat hubungi aku saja lewat blog ini, nanti kuteruskan ke mas Momon.

Ditunggu kabarnya… ;p

Read Full Post »

Sahabat masa kecil

Sejak kecil, aku sudah tertarik pada yang namanya hewan. Menurutku, hewan itu lucu. Maka tak heran kalau lama-kelamaan timbul keinginan untuk memiliki binatang peliharaan. Kalau tidak salah, keinginan itu sudah muncul saat aku duduk di bangku TK. Keinginan ini tentu saja ditolak oleh orang tuaku, mengingat kondisi rumah kami yang tanpa halaman. Kalau memelihara anjing misalnya, lantas dia tidak punya cukup tempat buat lari-lari kan kasihan. Tetapi hal-hal itu tidak menghalangiku untuk bersahabat dengan binatang. Berikut ini beberapa sahabatku di masa kecil dulu (mau meniru gaya menulisnya Kristina, teman sesama pemazmur yang juga hobi nge-blog, pakai nomor-nomor biar jelas, hehe… gak papa ya Kris…):

1. Bessy

Bessy, seekor anjing betina berbulu putih panjang, dengan telinga berwarna hitam. Aku sudah kenal Bessy sejak zaman prasejarah, eh prasekolah. Buktinya ada fotoku ketika berusia dua tahun bersama Bessy. Nanti kalau fotonya sudah direpro, aku tampilkan di sini deh. Bessy adalah anjing milik keluarga angkatku (nah, ceritanya agak panjang, tapi singkatnya, aku dan mamiku memiliki shio yang sama, dan menurut kepercayaan itu kurang bagus, jadi aku diangkat anak oleh saudara dari pihak papiku). Hampir tiap sore aku pergi bermain ke rumah keluarga angkatku karena mereka memiliki halaman luas yang ideal buat lari-lari, bersepeda, dan tentunya karena di sana ada Bessy. Sebetulnya masih ada beberapa anjing lain, tapi mereka rata-rata agak galak. Bessy adalah anjing paling ramah yang pernah kujumpai (rekornya belum terpecahkan hingga kini). Dia sayang dan telaten sama anak-anak. Kalau diibaratkan manusia, Bessy ini punya catatan yang “bersih”. Tidak pernah menggigit, tidak pernah marah, meskipun kalau ada orang asing datang, dia tetap menggonggong layaknya anjing penjaga yang setia. Bessy selalu mau diajak lari-lari, dan selalu datang kalau dipanggil. Bessy yang manis ini juga pemakan segala. Apapun itu, selama judulnya makanan, pasti dilahap dengan nikmat. Kalau ada cemilan atau makanan yang tidak habis dimakan, jangan khawatir, karena Bessy selalu siap menampung. Bessy tidak begitu rajin melahirkan. Seingatku, dia cuma pernah mempunyai satu anak bernama Kintakun. Nah, pada suatu sore yang indah ketika aku masih duduk di bangku SD (gak ingat kelas berapa), Bessy meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya. Maklum, saat itu usianya sudah 8 tahun lebih (lebih tua daripada aku), termasuk tua untuk ukuran anjing. Setelah dibungkus dengan selimut tua, Bessy dibaringkan dengan damai di bawah sebatang pohon rindang yang terletak di halaman belakang. Yah… setidaknya Bessy meninggal dengan damai tanpa menderita sakit, hanya karena memang sudah waktunya saja.

2. Cecak

Barangkali di dunia ini tidak banyak orang yang menyukai mahkluk mungil bernama cecak. Salah satunya ya adikku sendiri, yang paling bungsu. Aku juga tidak terlalu suka sih, tapi minimal tidak takut dan tidak jijik. Nah, suatu hari aku pergi bermain ke rumah temanku yang memelihara marmut. Saking senangnya melihat marmut, pulang ke rumah aku langsung minta dibeliin marmut sama orangtuaku. Tapi tidak dikabulkan, lantaran nanti repot mengurusnya, memberi makan mungkin tidak repot, tapi siapa yang mau membuang dan membersihkan e’e-nya, dsb. Terlahir sebagai orang yang cukup kreatif, aku berkeliling rumah untuk melihat binatang apa yang kecil, tidak merepotkan, minimal lumayan lucu (kaum serangga tidak bisa dibilang lucu), dan bisa dipelihara. Pilihanku jatuh pada cecak yang sedang mengendap-endap di atas meja makan untuk mencuri nasi. Kandangnya cukup kaleng bekas permen yang sedikit dilubangi tutupnya. Masukkan beberapa butir nasi untuk makanannya, masukkan cecak ke dalam kaleng, dan jadilah ia binatang peliharaan. Sore harinya, aku membuka tutup kaleng dengan hati-hati… dan ternyata nasinya masih utuh. Si cecak tidak mau makan. Mungkin ia sedih karena dikurung dalam kaleng. Akhirnya dengan berat hati, kulepas si cecak. Dia langsung lari ke dinding bagian atas, lalu menghilang di balik lampu. Yah… di situlah habitat hidupnya yang sebenarnya, bukan di dalam kaleng…

3. Betet

Sewaktu pertama kali ditemukan terjatuh di bawah pohon di halaman rumah saudaraku, si betet masih kecil. Dia ditolong oleh saudaraku, dirawat karena sayapnya luka. Bulunya hijau terang, mentereng dan cantik luar biasa, sampai-sampai aku tidak percaya betet sejenis itu di pasar burung harganya tergolong murah. Sebetulnya si betet ini hendak dilepas lagi setelah sayapnya sembuh, tapi dia tidak mau pergi. Alhasil, setiap sore aku pergi menjenguk si betet, bermain-main dengan si kecil ini. Si betet punya cara yang lucu untuk memastikan apakah tempatnya berpijak kuat atau tidak. Pertama-tama, dia akan mematuk tempat berpijaknya itu (misalnya saja saat kita menyorongkan jari tangan). Tidak usah takut, karena mematuknya pelan-pelan kok. Setelah itu, si betet akan dengan suka rela bertengger di atas jarimu. Pada waktu ujian kenaikan kelas, cukup lama aku tidak mengunjungi si betet (karena bisa dijewer kalau pergi bermain-main di saat ujian). Aku jadi agak takut mengajak si betet bermain. Soalnya dia sekarang sudah besar, dan pernah saudaraku jari tangannya dipatuk sampai berdarah gara-gara iseng menggoda si betet. Tapi encekku (adiknya papiku, penyayang binatang) bilang, “ndak apa-apa. Dulu kan si betet pernah kenal kamu, jadi ndak bakalan digigit.” Dengan agak takut kusodorkan jari telunjukku… langsung disambut dengan patukan (bahasane baku ora yo?) lembut dari si betet, kaki-kakinya langsung hijrah ke jariku. Wah, ternyata daya ingat betet lumayan kuat juga ya…!!!

4. Kitty

Kitty, seekor kucing gendut berbulu putih bersih dengan bercak hitam kecil di sana-sini, milik kakaknya papiku yang tinggal di Purworejo (kota kecil yang penuh makanan enak, coba saja warung Mak Itok). Setiap pergi bermain ke tempat saudaraku di Purworejo, kalimat yang pertama terucap dari mulutku adalah, “Si Kitty ada ndak?” (gak sopan banget yah). Kitty tergolong jinak, kalau digendong-gendong biasanya pasrah dan diem aja. Dia cuma galak kalau sedang mengandung, dan kalau anaknya masih kecil-kecil. Si Kitty ini sangat rajin beranak. Entah sudah berapa belas atau berapa puluh anak kucing yang ia lahirkan semasa hidupnya. Pernah waktu liburan SD aku menginap di Purworejo, bergadang hampir semalam suntuk gara-gara menunggui Kitty yang sudah mau melahirkan. Penasaran kan, pengen melihat bagaimana kucing melahirkan. Ditunggu berjam-jam nggak lahir-lahir, akhirnya ditinggal tidur. Tahu-tahu pagi-pagi sudah terdengar suara miung…miung… ternyata anak-anaknya sudah lahir! Si Kitty ini pencuri super lihai (seperti tokoh “Raja Maling” dalam film-film silat zaman dulu). Rekor terhebat Kitty adalah mencuri daging sapi seberat satu kilogram yang masih terbungkus rapi dalam plastik, entah milik siapa! Yah… namanya juga kucing, tidak heran kalau suka mencuri padahal sudah diberi makan yang cukup. Tapi bagusnya, si Kitty tidak pernah mencuri makanan milik majikannya sendiri.

Yang lain akan kutulis nanti kalau sempat dan… kalau ingat. Musti saingan daya ingat sama si betet nih…

Read Full Post »