Feeds:
Posts
Comments

Archive for September, 2008

Rose, Rose, I’m Jealous!

Beberapa waktu lalu, lantaran tidak bisa tidur di malam hari, saya menyetel televisi, dan voila! Salah satu televisi nasional kita sedang menayangkan ulang film Titanic (yang lainnya bola, berita, kuis gak jelas, chatting via sms, dan sinetron…huek…huek…!!!). Sebagai penggemar Leo di Caprio (sudah naksir sejak Leo masih teenager dan main di serial Growing Pains), tentu saja film ini tidak saya lewatkan begitu saja (padahal sudah pernah nonton).

Sungguh, saya merasa iri pada karakter Rose yang diperankan dengan apik oleh Kate Winslet. Bukan lantaran di film itu dia pacaran dengan Leo di Caprio (berperan sebagai Jack), bukan. Saya iri pada karakter nekad dan pemberani yang ia miliki. Nekad mengikuti kata hati, dan berani menanggung resiko yang mungkin timbul. Bayangkan, tanpa pikir panjang ia mau saja meninggalkan keluarganya, tunangannya, demi mengikuti Jack yang notabene pengelana, tidak punya apa-apa, masa depan belum jelas, dsb.

Saya jadi berpikir, kalau ada 2 tipe cewek, pertama cewek yang spontan mengikuti kata hati, dan yang kedua cewek yang selalu berpikir masak-masak dulu sehingga terlalu hati-hati melangkah, mana yang lebih baik? Atau mungkin kombinasi dari keduanya yang lebih baik? Lha terus saya yang notabene adalah cewek ini sebaiknya mengadopsi tipe yang seperti apa?

Sebetulnya saya ingin seperti Rose. Mengikuti kata hati begitu saja, tanpa pikir-pikir panjang. Justru karena itu ia menemukan kebahagiaan. Mana mungkin Rose bisa hidup bahagia jika menikah dengan pria pilihan sang ibu, pria super kaya namun berpotensi melakukan KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) itu? Namun di lain pihak, mana mungkin kita bertindak sembrono untuk sesuatu yang akan mengubah hidup kita selamanya? Iya kalau berakhir bahagia seperti Rose. Kalau tidak? Soalnya di kehidupan kita, sutradaranya bukan James Cameron.

Ya, dalam kehidupan nyata, satu-satunya sutradara adalah Tuhan. Dan saya diberi kepercayaan untuk menulis skenario sendiri. Namun skenario seperti apa yang harus saya tulis? Bagaimana agar skenario itu membahagiakan semua pihak tanpa kecuali? Masalahnya, saya baru mulai belajar membuat skenario. Ada sepupu saya yang belajar membuat skenario selama 9 tahun. Malah, seorang teman saya yang baru saja menikah (hi Jen ^^) belajar menulis skenario selama 12 tahun!

Yaaa… kalau dipikir-pikir lagi (maaf, saya memang seorang pemikir, khusus memikirkan hal-hal yang gak penting) lamanya waktu belajar bukan jaminan mutu. Rose cuma punya beberapa hari untuk belajar menulis sendiri skenarionya, dan ia berhasil! Bolehkan kaubagikan sedikit kemampuanmu menulis, Rose?

Rose, Rose, I’m jealous!

Read Full Post »

Rain, Rain Go Away

Brain, brain go away

Think again another day

^^

Read Full Post »

Ngeyel

“You, the third speaker, act as the surgeon of the team. Thou art the one who hold the scalpel, and thou art going to (please tell me if the following part needs to be censored) cut your opponents into small pieces!”

It wasn’t the utterance of a psychopath. It was that of a debate coach.

Typically Javanese, I didn’t feel too good about arguing, rebutting what other people say. The urge to do so, I have long felt its existence inside me. Yet I hadn’t found the right, appropriate way to unleash it. Until the day came.

If you find yourself very much interested in arguing, rebutting, or proving that your opinion is right and others’ are wrong, there’s an appropriate way to enhance your talent. Join a debate club!!! Take part in debate competitions!!!

In a debates (and debates only) you would be trained, encouraged, stimulated to argue. No hurt feeling or whatsoever. You would even be highly praised if you can do it well.

But there’s a danger in it, though. It is addictive.

Once you experience the triumphant glory of successfully rebutting arguments, realize how the combination of your brain and tongue could produce such a mighty sword to crush your opponents with, believe me, you will be addicted to it. You would keep rebutting, arguing, and attacking other people’s opinion, even when you don’t have to. Even long after the competition is over.

If you have reached this level, then be careful. For it’s a double-edged sword. It can also cause you damages. Damages in relationship with family, relatives, friends, bosses, colleagues, just name it. I’ve been through it.

Well, it’s not that bad, actually. It’s just something you have to deal with. You have to control the urge, so that it would only come up when needed. Letting go the urge at the right time and in an appropriate manner can make you (at least) look smart. Just don’t go over the limit.

Well, many a word I wish I never have said, many a thing I wish I never have done. But I never regret having rebutting and arguing as a hobby. It’s called ngeyel (Javanese).

Read Full Post »

Better turn it off

Words without meaning

Fury without anger

Tears without sadness

Laughter without joy

Memorizing without comprehending

Embellished by make-ups

and empty smile

Hell, they don’t even shoot one scene at the same time and place

Forget art, ignore cinematography

Only lousy acting exists

Along with unbearable, unbelievably moron, never-ending, extended storyline

It’s the Indonesia drama series (known as ‘sinetron‘)

You can watch them every day and be as moron (achtung! achtung!)

Or switch the channel to news programs

Talk shows, documentaries, news features, cartoons

basically anything but that one

If sinetron is all you can find

Better turn off the TV

Read Full Post »

Sate Kambing Istimewa

Sejak kecil aku sudah berkeinginan untuk menyantap sate kambing istimewa. Segala hal yang berkaitan dengan sate kambing selalu menarik perhatianku. Mulai dari gerobak bapak penjual sate, kompor tanah liat berbahan bakar arang, sampai ke aroma sate yang sedang dibakar, hmmm… sedap sekali!

Aku diberi tahu bahwa jika sudah besar kelak, aku pun boleh menyantap sate kambing istimewa itu. Maka sejak kecil aku tumbuh dengan satu pemikiran, nanti akan tiba satu hari di mana sate kambing istimewa terhidang di piringku.

Kesibukan belajar dan bermain (lebih banyak bermainnya sih) mulai dari masuk SD hingga lulus kuliah rupanya lumayan menyita perhatian. Selama belasan tahun aku tidak begitu peduli akan si sate kambing istimewa, meskipun aroma sedapnya berulang kali mampir di indera penciuman. Sampai pada akhirnya aku teringat kembali.

Aku segera menyadari, bahwa mendapatkan seporsi sate kambing istimewa tidaklah mudah. Ada sederet syarat yang harus dipenuhi, serta sejumlah bidang ilmu yang harus dipelajari. Setelah semua beres, kita masih harus mengantre, karena rupanya peminat sate kambing istimewa jumlahnya banyak sekali. Aku tidak tinggal diam. Sedikit demi sedikit, aku mulai mempersiapkan diri. Mulai dari mendengar nasihat saudara-saudara sepupu serta teman-teman yang sudah menyantap sate kambing istimewa, sampai menyiapkan piring dan sendok-garpu sendiri agar lebih praktis. Merasa siap, aku pun mulai mengantre.

Antreannya ternyata panjaaaaang sekali!!! Tapi tak apa, toh aku punya banyak waktu. Maka aku segera mengambil nomor dan bergabung ke dalam barisan antrean dengan hati senang. Dalam barisan ini aku banyak berkenalan dengan pengantre-pengantre lain. Kami saling bertukar cerita dan canda tawa, pokoknya senang sekali!!!

Tunggu punya tunggu, antre punya antre, lama-lama aku merasa ada yang salah. Semestinya sate kambing istimewa pesananku sudah jadi. Soalnya sebagian besar pengantre yang dulu antre bersamaku sudah mendapatkan sate kambing istimewa mereka. Sedikit melangkah keluar dari barisan, kuhampiri asisten bapak penjual sate kambing istimewa, menanyakan kapan sate yang dijanjikan akan selesai dibakar. Di luar dugaan, asisten bapak penjual sate kambing istimewa marah-marah. Pokoknya kalau sate sudah siap, nomorku akan dipanggil. Tidak usah bertanya-tanya lagi!!!

Dengan hati galau aku kembali ke barisan pengantre. Namun semangatku sudah tidak seperti dulu. Aku malah mulai bertanya-tanya, apa kegunaan sate kambing istimewa? Apakah baik untuk kesehatan? Apakah memang selezat yang dikatakan orang? Bagaimana kalau sate kambing istimewa pesananku gosong atau kurang matang, atau bumbu kecapnya tidak sesuai? Bagaimana kalau ternyata aku tidak suka pada sate kambing istimewa itu, bolehkah aku memesan hidangan lain? Tapi katanya orang hanya boleh menyantap sate kambing istimewa sekali seumur hidup.

Sampai sekarang aku masih mengantre. Namun kurasakan ada sesuatu yang berbeda. Dulu, aku mengantre dengan harap-harap cemas bercampur bahagia, berharap nomorku segera dipanggil. Namun kini, aku mengantre dengan cemas (tanpa unsur harap-harap). Bagaimana kalau tiba-tiba nomorku dipanggil? Siapkah aku untuk menerima sate kambing istimewa? Bagaimana kalau piring yang sudah kupersiapkan tidak cukup untuk menampung sate? Bagaimana kalau sendok-garpuku tidak sesuai? Bagaimana kalau bumbu kecapnya terlalu pedas atau terlalu banyak irisan bawangnya?

Akhir-akhir ini baru kusadari, gerobak tukang sate tak lagi menarik perhatianku. Kompor tanah liat dan arang juga hanya terlihat sebagai alat memasak biasa, tanpa makna berlebih. Aroma harum sate yang sedang dibakar tak mampu lagi menggoda indera penciumanku. Yang paling gawat, baru kusadari, kini aku mengantre dengan perasaan takut. Aku berharap nomor orang lain saja yang dipanggil. Nomorku jangan dipanggil dulu!!!

Read Full Post »

Questions to help you write

The easiest task in the world, probably, is to ask questions.

In relation with writing, a simple question can be a start for a good article.

Agatha Christie stepped further. She managed to write a bestseller mystery novel based on a very simple question uttered by a friend, “Why didn’t they ask Evans?” But since she’s a genius, let’s not make any comparison (maksudnya biar ga minder, hehe…:p)

Lately, I found that free writing is extremely hard to do. The wangsit (Javanese, similar to inspiration) simply won’t come across my mind. Since it is the 15th day of this month (September), and I haven’t written anything new for this blog (shame on me), I decided (in state of desperation) to write something anyway. Let’s see if these questions could work.

What do you want to achieve in life?

No need to think, for I find this question easy to answer. Happiness! I only want to be happy.

OK, good. Now, what makes you happy?

Well, a plenty, of course. A single scoop of vanilla ice cream makes me happy, so does a new mystery novel, a hot cup of coffee, tempting durians, invitations to parties, finding my old stickers (thought I’ve lost them)…

Stop right there! Those are the things that would please you. But what makes you happy?

Errr… I’m not sure… the upcoming THR, maybe…? (THR is some kind of allowance a company gives to its employees during Idul Fitri).

The same mistake, you’ve made. Even a donkey won’t fall into the same hole twice. What makes you happy?

This time, I have to think hard. I couldn’t be worse than a donkey, could I?

===

===

===

===

===

Time goes by, but I still couldn’t find the answer. I don’t know, I said. I give up.

Let me tell you. To be happy, you only need to open your eyes! And realize that the life God gives you is a blessing. Of course the vanilla ice cream and the mystery novels count, but the most essential would be to realize their beings and thank God for creating them. Open your eyes! Blessings are all around you.

Last question…what advantage can you get from this article? (I mean if we can call this an article)

Well, at least I have written something for my own blog and I’m happy for it :p

Read Full Post »