Feeds:
Posts
Comments

Archive for October, 2008

Berbahasa satu

Sekitar tahun 1996, anak-anak yang kos di sebuah rumah di Jl. Karet Sawah, Setiabudi, Jakarta Selatan, menemukan sebuah lubang kecil di langit-langit. Lubang ini menjadi jalan keluar-masuk tikus yang juga menghuni rumah itu. Lantaran dirasa mengganggu, maka keberadaan lubang kecil itu harus dilaporkan kepada Apo (nenek) pemilik rumah, agar lekas diperbaiki.

Lantaran Apo kurang menguasai bahasa Indonesia, maka ditunjuklah seorang anak kos yang berasal dari Bagan Siapi-api, untuk melapor kepada Apo, tentunya menggunakan “bahasa dewa” yang dipahami oleh kedua belah pihak.

Di tengah serunya percakapan dalam bahasa dewa, aku mendengar sebuah kata yang kukenal baik, kira-kira bunyinya “… haiya…bolong a, … bolong a…” Setelah selesai dilapori, Apo menyatakan akan segera menyuruh tukang untuk menutup lubang tersebut.

Aku lantas bertanya pada temanku, ci Piah, mahasiswi asal Bagan Siapi-api tersebut.

“Tadi ada kata ‘bolong’, itu bahasa dewa ya? Kok sama kayak bahasa Indonesia?”

“Bukan,” jawab ci Piah, “itu bahasa Indonesia kok. Tadi ngomong gitu biar lebih mudah dimengerti.”

Intinya, di tengah-tengah percakapan “bahasa dewa”, kata “bolong” tetap digunakan karena dirasa paling tepat dan jelas untuk menggambarkan kondisi langit-langit rumah yang berlubang tersebut.

Sekitar tahun 1999/2000, kami tengah asyik menyaksikan sebuah kompetisi debat, ketika salah seorang pembicara tiba-tiba melontarkan suatu kalimat yang bunyinya kira-kira begini “…and the government must do something about the… about the… you know, the… the listrik…”

Ketika terserang panik dalam lomba debat, kata ‘electricity’ pun bisa tiba-tiba raib dari benak kita. Sehingga kita kembali kepada bahasa Indonesia.

Ah, apapun yang kita pelajari, apapun yang kita lakukan, kita tetap akan kembali kepada bahasa yang satu itu, bahasa yang paling kita cinta, bahasa Indonesia.

#ditulis dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, walau sudah lewat#

Advertisements

Read Full Post »

Perpisahan

Perpisahan itu tak terelakkan. Mungkin memang demikian adanya. Karena perpisahan, sama halnya seperti perjumpaan, diatur oleh Tuhan. Manusia tak bisa berbuat apa-apa mengenainya.

Namun, manusia bisa menentukan acara perpisahan akan dibuat seperti apa.

Selama bekerja di kantor yang sekarang, aku telah menyaksikan beberapa acara perpisahan. Secara garis besar, acara perpisahan ala kantorku dibagi menjadi dua jenis. Yang pertama adalah perpisahan yang dirayakan, di mana undangan ditempel sejak beberapa hari sebelum hari-H, dan seluruh karyawan mulai dari lapis atas, lapis bawah, sampai lapis legit diundang berkumpul di satu ruangan, ada sesi penyampaian kesan-pesan, lantas disajikan makanan ringan. Kadang disajikan pula video singkat atau panjang mengenai perjalanan karir si karyawan/wati, menggambarkan apa-apa saja yang telah ia lakukan untuk kantor, dsb. Kadang, diiringi pula dengan air mata.

Yang kedua adalah perpisahan yang tidak dirayakan. Si karyawan/wati cukup berpamitan pada rekan-rekan kerjanya secara pribadi.

Mulanya aku berpikir, ada dua penyebab mengapa perpisahan dengan seorang karyawan/wati tidak dirayakan.

Yang pertama, karena si karyawan/wati belum lama bekerja di sini. Seperti yang terjadi pada seorang gadis cantik yang resign bahkan sebelum masa percobaan usai. Singkatnya waktu bekerja menyebabkan ia belum sempat menjalin persahabatan yang mendalam dengan rekan-rekan kantor, sehingga mungkin saja tidak ada yang merasa kehilangan ketika ia pergi.

Yang kedua, karena si karyawan/wati terburu-buru pindah, dengan terlebih dahulu menghabiskan seluruh jatah libur dan cutinya, sehingga tak cukup waktu bagi orang lain untuk merancang acara perpisahan. Hal ini terjadi pada seorang rekan yang pergi training ke London, lalu mengambil seluruh jatah cuti dan liburnya sebelum pindah ke kantor lain. Meskipun besar sumbangsih si rekan bagi kantor, namun tak ada cukup waktu. Maka tidak ada acara perpisahan. Hal ini bisa dimengerti.

Namun yang tidak kumengerti adalah ketika seorang karyawan bagian desain grafis/animasi (something like that-lah) mengundurkan diri. Tak ada acara perpisahan mengiringi kepergiannya. Padahal setahuku, ia adalah salah satu pionir, atau karyawan pertama yang diterima. Sumbangsihnya bagi kantor, tak perlu dipertanyakan lagi. Dan lantaran pribadinya gokil, suka bercanda, jenis pelawak sejati (pandai menirukan dubbing-an acara TV Benteng Takeshi dengan sempurna), maka banyak pulalah temannya di kantor ini.

Namun tidak ada yang menempel undangan, memanggil seluruh karyawan berkumpul, tidak ada video perjalanan karir, tidak ada makanan ringan. Ia cukup membagi-bagikan kartu namanya pada semua rekan kerja sebagai ucapan perpisahan.

Entah mengapa. Hingga kini belum ditemukan formula apa yang membentuk, atau faktor apa yang menentukan, acara perpisahan dengan seorang karyawan itu perlu diadakan atau tidak.

Well, Mas M, semoga tulisan pendek di blog ini cukup berarti untuk mengiringi kepergianmu, yang sekarang sibuk berkarir di tempat yang baru/usaha sendiri di rumah. Sukses selalu menyertaimu, dan kapan kita ikutan lomba Benteng Takeshi beneran di Jepang?

^^

Read Full Post »

Setiap pagi, Kura-Kura Kecil berjalan kaki ke sekolah. Untuk tiba di sekolah yang berjarak satu kilometer dari rumahnya, kura-kura kecil membutuhkan waktu 2 jam berjalan kaki. Artinya, bila sekolah dimulai pukul tujuh, Kura-Kura Kecil harus berangkat tepat pukul lima pagi, agar tidak terlambat sampai di sekolah.

Suatu hari, terjadilah suatu kejaiban. Kura-Kura Kecil tiba di sekolah pukul tujuh kurang lima belas menit! Rupanya tanpa disadari ia berangkat lebih pagi dari biasanya. Atau jam di rumahnya lebih cepat lima belas menit. Entahlah. Yang penting, Kura-Kura Kecil jadi punya waktu untuk mengobrol dengan seekor Burung Hantu Tua yang tengah bertengger terkantuk-kantuk di dahan pohon.

“Selamat pagi, Wahai Burung Hantu Yang Terhormat!” sapa Kura-Kura Kecil, riang.

“Selamat pagi, Anak Manis. Kelihatannya kau cape sekali ya?” sahut si Burung Hantu Tua.

“Beginilah nasibku,” Kura-Kura Kecil berubah muram. “Aku terlahir sebagai kura-kura yang lamban. Jauh sebelum matahari terbit, aku harus bangun. Pukul lima tepat, aku harus sudah berangkat ke sekolah. Sedangkan kawanku, Si Kelinci yang tinggal di sebelah rumah, hanya perlu berlari selama lima menit ke sekolah. Jadi, setiba di sekolah aku sudah cape sekali. Sedangkan Si Kelinci masih segar bugar. Sungguh tidak adil!”

“Setahuku, usaha keras tidak mungkin sia-sia,” gumam Burung Hantu Tua sambil berpikir. “Coba ceritakan padaku, Anak Manis, apa saja yang kau jumpai sepanjang perjalananmu ke sekolah.”

“Banyak sekali,” keluh Kura-Kura Kecil. “Aku jadi tak tahu harus mulai dari mana. Misalnya, hari ini aku bertemu dengan Ular Sanca. Dulu aku takut padanya, tapi sekarang ia jadi temanku. Lalu, aku bertemu dengan sahabat lamaku Si Angsa yang baru kembali dari berlibur di Selatan. Tahukah kau, wahai Burung Hantu Yang Terhormat, rupanya di Selatan itu cuacanya selalu panas! Iklim tropis, begitu namanya. Setiap tahun, Angsa dan ribuan unggas lain pergi berlibur ke sana. Enak ya, mereka tidak harus mengalami musim dingin!”

Kini wajah Kura-Kura Kecil berseri-seri. Tiba-tiba, ia ingin bercerita lebih banyak lagi. Kura-Kura Kecil bercerita tentang bagaimana ia biasa mengamati tanda-tanda perubahan cuaca di langit, bagaimana ia bisa menumpang aliran sungai kecil ke sekolah bila musim hujan tiba, di mana bisa ditemukan buah ceri yang paling manis (ssst… ini rahasia!), bagaimana membedakan ular dan katak yang beracun dan yang tidak beracun, dan masih banyak lagi. Dan tahukah Burung Hantu Yang Terhormat, bagaimana asal mula terbentuknya angin lesus? Kura-Kura Kecil tahu, karena ia pernah melihat prosesnya secara langsung!

Burung Hantu Tua tersenyum. “Kau pandai sekali, Anak Manis. Rupanya 2 jam perjalanan ke sekolah tidak kau sia-siakan. Kau bersahabat dengan banyak binatang, serta mempelajari banyak hal.”

Kura-Kura Kecil tersentak. Ia tidak pernah menyadari, betapa beruntungnya ia. Tergesa ia mengucapkan selamat tinggal pada Burung Hantu Tua. Sekolah segera dimulai.

Si Kelinci sudah tiba, dan duduk tepat di samping Kura-Kura Kecil.

“Selamat pagi Si Kelinci sahabatku, apa saja yang kau lihat di sepanjang perjalanan tadi?” sapa Kura-Kura Kecil dengan ramah.

“Aku berlari kencang sekali sehingga tidak melihat apa-apa,” jawab Si Kelinci.

Read Full Post »

Klan Jentik Miring

Marilah kita mundur ke masa 2000 tahun yang lalu.

Alkisah pada zaman dahulu di Tiongkok terdapat sebuah klan yang bekerja sebagai agen rahasia. Untuk menjaga agar kerahasiaan tidak bocor, seluruh personilnya harus terdiri dari anggota keluarga tertentu. Tugas mereka antara lain mengawal surat rahasia, peta rahasia, cap kerajaan dan benda-benda berharga lainnya kepada pihak yang berhak. Misalnya, ada suatu kekuatan di istana yang bertujuan menggulingkan kaisar, nah kaisar kan harus minta tolong pada panglima … yang paling setia, namun sialnya kok ya panglima tersebut pas ditugaskan di garis depan, jauh dari istana. Nah, kaisar akan mengirimkan cap kerajaan plus surat berisi pesan rahasia agar sang panglima membawa pulang ratusan ribu pasukannya, menggagalkan aksi pemberontakan dan melindungi kaisar.

Tentunya dibutuhkan banyak orang untuk mengemban misi itu. Ada yang bertugas menjadi kurir, membawa surat dan cap kerajaan, ada juga kurir palsu dengan surat palsu untuk mengelabui musuh, ada yang bertugas mengawasi dan melindungi kurir yang asli, kadang demi menjaga kerahasiaan, surat dan cap harus berulang kali pindah tangan, dll. Namun seluruh personil haruslah orang yang bisa dipercaya, yang memiliki tujuan dan idealisme sama. Itulah sebabnya, tugas ini hanya boleh diemban oleh satu keluarga atau satu klan tertentu.

Bagaimana caranya mengenali seseorang itu anggota klan sungguhan atau bukan? Dulu kan belum ada retina scan? Nah, biasanya ada ciri-ciri fisik khusus. Kalo tidak mempunyai ciri-ciri fisik ini, jangan harap bisa menyusup! Kisah-kisah semacam ini banyak ditemukan pada film-film silat seri yang populer pada tahun 80-an.

Keluargaku jelas bukan klan yang menjadi agen rahasia. Soalnya kami semua dilahirkan pada abad ke-20. Dan sebagian besar dari kami bahkan belum pernah menginjak daratan Tiongkok ^^. Namun keluargaku, tepatnya dari garis keturunan mamiku, memiliki satu ciri-ciri fisik yang sama!!!

Jentik (jari kelingking) kaki kami semuanya berbentuk miring ke dalam, tidak lurus seperti jari kaki lainnya. Herannya, semua anak yang dilahirkan dari garis keturunan mamiku, memiliki jentik miring. Misalnya papiku, jentiknya normal-normal saja. Tapi ketiga anaknya berjentik miring ^^. Begitu juga semua saudara mamiku yang berjentik miring. Meskipun suami/istri mereka berjentik normal, tapi semua anak mereka (saudara sepupuku) jentiknya juga miring.

Coba lihat jentik kakimu, kalau miring, berarti…

“Selamat datang ke Klan Jentik Miring”

^^

Read Full Post »

Kepiting

Ring-a-ding-ding

Lihatlah aku Si Kepiting

Senyumku tersungging

Jalanku miring

Kaki-kakiku ceking

Rumahku, lautan yang tak pernah kering

Di atas pasir aku berbaring

Di atas ombak terpelanting

Indahnya dunia kala fajar menyingsing

Mentari semburat kuning

Burung camar berseru melengking

Hingga suatu hari muncul jaring

Dengan cekatan menggiring

Aku tersangkut tersaring

Percuma berenang pontang-panting

Keadaan menjadi genting

Tapi aku tak bergeming

Mungkin sudah nasibku sebagai kepiting

Satwa laut tak penting

Yang dicari karena daging

Setelah digoreng garing

Aku dihidangkan di atas piring

Lantas dikoyak dengan gigi taring

Kriiiiiiiingggg…!!!

Lonceng kolesterol berbunyi nyaring

Jangan kau makan aku sering-sering

Read Full Post »

Hari ini bener-bener panas. Sudah begitu masih ditambah fakta bahwa AC di kantorku gak dinyalain. Wah, sauna gratis deh :p

Tapi kerjaan musti tetap dilakoni, soalnya aku sudah bertekad tidak mengambil cuti Lebaran ini, ambil cutinya nanti-nanti setelah harga tiket kembali normal, hehe… :p

Membosankan sih, cuma menerjemahkan skrip berita dari APTN, untung isi beritanya cukup menarik.

Yah, pokoknya aku senang karena jam kerja sudah selesai dan stok timeless feature-news sudah mulai banyak.

Read Full Post »