Feeds:
Posts
Comments

Archive for October 30th, 2008

Berbahasa satu

Sekitar tahun 1996, anak-anak yang kos di sebuah rumah di Jl. Karet Sawah, Setiabudi, Jakarta Selatan, menemukan sebuah lubang kecil di langit-langit. Lubang ini menjadi jalan keluar-masuk tikus yang juga menghuni rumah itu. Lantaran dirasa mengganggu, maka keberadaan lubang kecil itu harus dilaporkan kepada Apo (nenek) pemilik rumah, agar lekas diperbaiki.

Lantaran Apo kurang menguasai bahasa Indonesia, maka ditunjuklah seorang anak kos yang berasal dari Bagan Siapi-api, untuk melapor kepada Apo, tentunya menggunakan “bahasa dewa” yang dipahami oleh kedua belah pihak.

Di tengah serunya percakapan dalam bahasa dewa, aku mendengar sebuah kata yang kukenal baik, kira-kira bunyinya “… haiya…bolong a, … bolong a…” Setelah selesai dilapori, Apo menyatakan akan segera menyuruh tukang untuk menutup lubang tersebut.

Aku lantas bertanya pada temanku, ci Piah, mahasiswi asal Bagan Siapi-api tersebut.

“Tadi ada kata ‘bolong’, itu bahasa dewa ya? Kok sama kayak bahasa Indonesia?”

“Bukan,” jawab ci Piah, “itu bahasa Indonesia kok. Tadi ngomong gitu biar lebih mudah dimengerti.”

Intinya, di tengah-tengah percakapan “bahasa dewa”, kata “bolong” tetap digunakan karena dirasa paling tepat dan jelas untuk menggambarkan kondisi langit-langit rumah yang berlubang tersebut.

Sekitar tahun 1999/2000, kami tengah asyik menyaksikan sebuah kompetisi debat, ketika salah seorang pembicara tiba-tiba melontarkan suatu kalimat yang bunyinya kira-kira begini “…and the government must do something about the… about the… you know, the… the listrik…”

Ketika terserang panik dalam lomba debat, kata ‘electricity’ pun bisa tiba-tiba raib dari benak kita. Sehingga kita kembali kepada bahasa Indonesia.

Ah, apapun yang kita pelajari, apapun yang kita lakukan, kita tetap akan kembali kepada bahasa yang satu itu, bahasa yang paling kita cinta, bahasa Indonesia.

#ditulis dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, walau sudah lewat#

Advertisements

Read Full Post »