Feeds:
Posts
Comments

Archive for November 4th, 2008

Taoge menari

Pertama kali belajar musik, not-not balok yang bentuknya mirip taoge itu sempat membuat hati menjadi kecut. Terlebih pada pertemuan pertama, guru organ langsung memberikan buku musik not balok untuk dipelajari. Auf wiedersehen, not angka.

Setelah melalui perjuangan berat, lama-kelamaan jari-jari tangan saya, berkoordinasi dengan mata (dan tentunya otak) mampu membaca not balok dengan cukup lancar. Tapi lain main organ, lain pula menyanyi. Untuk yang satu ini saya masih mengandalkan not angka. Sebetulnya untuk belajar menyanyi saya lebih banyak bergantung pada indera pendengaran. Bagi saya, mendengarkan sebuah lagu baru berulang-ulang selama 15 menit jauh lebih efektif ketimbang mempelajari notnya selama berhari-hari.

Sampai suatu hari saya mengikuti sebuah paduan suara untuk perayaan Natal 1996, tepatnya di Erasmus Huis. Cucu nenek pemilik kos yang mengajak saya ikut serta dalam paduan suara tersebut berkata,

“Lebih enak baca not balok. Naik-turunnya melodi lebih jelas terlihat.”

Wah, dipikir-pikir benar juga ya. Pada not angka, kita hanya melihat angka 1-7, kadang-kadang ada angka yang dicoret (ternyata bukan karena salah tulis seperti yang saya kira waktu SD dulu). Namun pada not balok, lagu tergambar dengan lebih jelas. Dengan melihat teks lagu not balok sekilas saja , kita akan langsung memperoleh gambaran kira-kira lagunya seperti apa. Yah, minimal karakter lagunya-lah. Apakah lagu tersebut bertempo lambat atau cepat, apakah melodinya menukik naik-turun dengan tajam atau tidak, dan lain sebagainya.

Sejak saat itu saya “berdamai” dengan not balok. Peace…!!! ^^

Sekarang saya bergabung dalam sebuah paduan suara yang mengkhususkan diri pada lagu-lagu gerejawi klasik, kebanyakan ditulis beberapa ratus tahun silam. Tentu saja buku musik kami penuh dengan taoge-taoge kecil yang menari-nari.

Fffiuuuhh… saya bersyukur dalam hati karena sudah “berdamai” dengan not balok. Andaikata belum, betapa stress-nya saya bergabung dengan paduan suara tersebut. Namun tetap saja saya mengandalkan indera pendengaran. Jadi singkatnya, metode pembelajaran lagu baru ala saya adalah sebagai berikut:

  1. Pada saat latihan koor, duduklah tepat di samping anggota koor yang bersuara jelas dan lantang, serta telah menguasai lagu dengan baik, agar sepanjang latihan kita bisa mendengar suaranya.
  2. Buka buku musik, lalu baca dan perhatikan tauge-tauge kecil itu baik-baik, sambil terus mendengarkan suara teman kita tersebut. Cobalah untuk memahami bahwa bila dinyanyikan, maka tauge-tauge kecil = suara teman kita tersebut.

Dengan demikian, dalam 1-2 kali latihan saja kita sudah akan memperoleh gambaran yang cukup lengkap mengenai lagu itu bentuknya seperti apa. Karena lagu-lagu yang dibuat pada zaman tersebut jarang ada yang pendek. Lihat saja Mass in D karya Antonin Dvorak.

Selanjutnya, terserah Anda, atau dengan kata lain, semestinya konsep lagu tersebut sudah terekam dalam otak kita, sehingga kita tidak perlu lagi duduk dekat orang tertentu (yang bersuara lantang) dan kita mulai bisa mengandalkan taoge-taoge kecil tersebut untuk panduan dalam menyanyi.

Ah… betapa indahnya lagu-lagu karya Dvorak, setelah kita berhasil berdamai dengan taoge-taoge kecil…!!!

NB: Metode mencontek suara teman ini tidak saya rekomendasikan lho, namun metode ini terbukti cocok untuk saya. Bagaimana dengan Anda?

^^

Advertisements

Read Full Post »