Feeds:
Posts
Comments

Archive for November 18th, 2008

Penyihir

Aku dikaruniai pikiran iseng. Untungnya, pikiran iseng ini tidak dibarengi oleh pikiran jahat. Artinya, aku berbuat iseng hanya dan hanya jika perbuatanku itu tidak merugikan orang lain. Salah satu contohnya adalah seperti di bawah ini.

Pada tahun 2000-an (tidak ingat tahun berapa, pokoknya saat itu masih ngajar), aku mulai kecanduan Harry Potter. Dipikir-pikir, lucu juga ya kalau bisa membuat mantra-mantra yang puitis serta berima seperti buatan Mbak J. K. Rowling. Kebetulan saat itu kami para guru hendak mengadakan semacam gathering, di mana salah satu acaranya adalah tukar-menukar kado. Aku bertekad menuliskan sebuah “mantra” iseng untuk disematkan pada kado tersebut, agar siapapun yang menerimanya akan tersenyum geli.

Pilihanku jatuh pada sebuah dompet terbuat dari bahan kedap air berwarna biru, dengan pertimbangan dompet ini bisa dipakai oleh pria maupun wanita. Kemudian terlintas di benakku “mantra” seperti ini:

Blue is the color

of this wallet full of wonder

And whoever is the owner

will be rich forever!”

Aku memandangi “mantra” ciptaanku sendiri dengan perasaan puas. Betapa lucunya kalau kado plus “mantra” ini nanti jatuh kepada salah seorang teman sesama guru yang rata-rata juga penggila Harry Potter! Lalu timbul satu pikiran iseng lagi. Kutandatangani “kertas mantra” tersebut dengan namaku, plus embel-embel “gelar”.

S**** K********* SS (Sarjana Sihir) !!!

Pada hari-H, aku tak sabar menunggu hingga acara tukar-menukar kado tiba. Ternyata Pak M, dosen waktu kuliah di Atma, yang merekrut kami semua menjadi guru, turut hadir dalam gathering, serta ikut acara tukar-menukar kado. Tadinya aku kira tukar-menukar kado hanya untuk para guru saja.

Akhir kisah ini mudah ditebak, kado plus “mantra”-ku jatuh ke tangan Pak M. Mudah pula ditebak, sepanjang sisa acara gathering, aku tak berani dekat-dekat dengan bapak yang satu itu. Takut disuruh mengeluarkan wand dan menyihir cangkir menjadi kodok.

Aku bersyukur daya ingat manusia terbatas. Mestinya “mantra” iseng itu cepat lenyap dari ingatan, mengingat bapak yang juga menjabat sebagai pembantu rektor ini sibuk luar biasa. Namun mungkin saat itu Pak M sempat merasa prihatin dan berpikir, “walah, anak didikku ternyata seorang penyihir…!”

^^

Advertisements

Read Full Post »