Feeds:
Posts
Comments

Archive for December, 2008

It was sent to me in October/November, 1996. It’s quite big, heavy, yet considered fragile, therefore it wasn’t sent by cargo. A cousin of mine helped carrying it along in his car while traveling from Muntilan to Jakarta. It wasn’t a high-tech instrument, you can’t insert a disk or CD for it wasn’t equipped with such facility. Yet the black-and-white fella was received with joy.

After living for three months without playing music, its presence really brightened up my life. Suddenly, living in a place far away from home was not so difficult anymore. All I had to do was playing it, singing several songs, and suddenly my 3mx3m (boarding house) bedroom felt like home!

I guess the magic lies within the black-and-white fella, and the songs also. The right songs can help you feel like home. For example if you’re used to singing “Desaku Yang Kucinta” in your bathroom at home, try to do the same while moving to a new place. The very song you used to sing would make you feel like home (at least it worked for me ^^).

Sometimes my roommates would gather in my rooms, and we would sing together. Then we found out that our beautiful ‘Nyak’  from Bukittinggi also has a beautiful voice!

When I moved to the second boarding house, my fella and I helped a friend practice singing for a religious music album! I wondered why she didn’t take part in competitions like Indonesian Idol or something. With her voice, supported with her good look, she might win and becomes our idol ^^

When I was about to leave boarding house and move to an apartment in Tanjung Duren in 2006, I thought of sending my fella back home. The apartment was quite small, and my fella definitely needed some space.

I’m glad I didn’t send her back! Not long after moving to Tanjung Duren, I was gifted to have a classic vocal lesson with Renata Lim, one of the best classic vocal instructor in Indonesia! Of course I would always need my fella to practice. Until now.

In its twelfth year, the fella is still in a perfect condition. It never lets me down. It’s a keyboard ^^

Advertisements

Read Full Post »

May Hatred, Anger and Fear exist in dictionaries only, for the Love and Blessing of Jesus Christ have erased them from our hearts forever! Merry Christmas and Happy New Year…!!! ^^

Read Full Post »

Challenges

I love challenges! I have done a plenty of silly things only because I felt challenged to do them. For example, I once challenged myself to join a Chinese speech competition after attending a three-month Chinese language course (twice a week, 100 minutes each). I ended up saying nothing but introducing myself, telling the audience and the judges that Chinese is unbelievably difficult to learn, but if you try hard enough, you would be able to learn it well. That was all I could say at the moment. I didn’t win, but I have answered my own challenge!

I once helped an old lady carrying a 20-kilogram rice bag, and walked with her to her home, only because someone challenged me to do so.

Once, in a debate competition, our team (Jenny-Astrid-and-I) was totally blank about the matter being debated, and I challenged myself to give a 7-minute speech with only three or four short sentences written in my cue cards (one sentence was written in each card to make them look thick). I was lucky enough to finish my 7-minute speech without having the adjudicators fell asleep. We even won the debate! I found myself quite good with story telling instead, haha… ^^

Christmas Eve is coming, New Year is too, and I find myself facing a brand new kind of challenge. This time, it’s not about how to survive. It’s how to stay HAPPY, CONTENT, and GRATEFUL for what God has given to me.

I would be working all through the holiday season (with an exceptional day off on December 25th). If I could do my job happily, and if I could feel God’s presence and blessings while working, then I would proudly say that I have answered my own challenge, again!

It shouldn’t be so difficult, or should it? ^^

Read Full Post »

Sabar

Saya termasuk mudah jengkel atau bete bila melihat atau mengalami hal-hal yang tidak sesuai keinginan saya. Dan kalau sudah terlanjur bete, kebetean ini bisa merusak seluruh mood untuk hari itu. Agak bego memang, tapi yah begitulah. Bahasa Jawanya ora trimoan. Artinya tidak mudah menerima, bila merasa dicurangi atau diperlakukan dengan tidak baik.

Misalnya suatu hari saya dan seorang teman pergi makan di sebuah kafe murah meriah di kawasan Tanjung Duren. Lantaran dalam menu tertulis bahwa minuman green tea itu free flow alias boleh nambah, maka kami (sebagai orang pelit) memilih minuman tersebut. Tahu-tahu waktu kami minta tambah teh, tidak tersedia. Alasannya air panas habis, dan kompor satu-satunya sedang dipakai memasak, jadi tidak bisa menjerang air (menurut pengakuan si mbak pelayan lho ya). Lalu setelah kami menyatakan bersedia menunggu sampai air panas siap, dijawab bahwa daun tehnya habis. Pokoknya tidak bisa tambah, titik. Dan kami harus membayar harga sesuai yang tertera di menu, tanpa ada diskon, atau 2 gelas dihitung satu, atau apalah.

Hal kecil memang, tapi benar-benar membuat bete. Tadinya saya ingin menelepon si pemilik kafe untuk komplain, tapi setelah dipikir-pikir lagi, lebih baik saya tidak pergi ke kafe itu lagi, habis perkara!

Lantas malaikat kecil di atas bahu kiri saya mengetok kepala saya (dengan pelan biar tidak benjol) sambil memarahi saya. Katanya,

“Kamu itu manusia tidak tahu balas budi! Demi menebus dosamu, dulu Tuhanmu menyerahkan diri-Nya, memanggul salib-Nya, didera, dihina, dicaci maki, dimahkotai duri, dan dipaku pada kayu salib! Dan Dia menjalani semuanya dengan tabah! Tanpa mengeluh sedikitpun! Lha manusia macam kamu ini, memanggul salib yang demikian ringan saja kok banyak protes! Kebeteanmu itu apa sih? Tidak ada sekuku hitamnya penderitaan Tuhanmu, tahu!!!”

Saya tertunduk malu. Ya, Tuhanku menjalani semua penderitaan-Nya dengan tabah, tanpa mengeluh sedikitpun. Sedangkan saya, diperlakukan sedikit curang saja sudah marah-marah. Orang seperti saya berani mengaku pengikut Tuhan? Sana, pergi latihan kungfu tenaga dalam 10 tahun, baru kembali kemari lagi!!! Kata Si Pendekar Silat (lho, kok melenceng?)

Anyway, saya jelas-jelas perlu berlatih untuk lebih sabar dan tidak gampang protes atawa marah-marah atau komplain. Semoga saya bisa melakukannya. Cukup dengan mengingat teladan Tuhan saya. Semoga saya mampu memanggul salib saya sendiri (yang jelas jauuuuuuuuh lebih ringan dari salib Tuhan) dan bisa menjadi orang yang lebih sabar, jembar atine, dowo ususe, lan bolong s*@#&e ^^

NB: Saya baru ngeh kalau kafe yang disebut di atas tutup per 22 Desember lalu. Padahal di kawasan Tanjung Duren yang padat, segala jenis makanan mulai dari yang murah sampai yang mahal (yang penting enak) laris manis. Mungkin pemilik kafe ini harus meningkatkan mutu layanannya kelak kalau mau membuka kafe lagi ya…

Read Full Post »

不知不觉, 过了八个月。我在这个BLOG写了几个文章。有印尼文的,英文的,但没有中文的。原因是因为我不知道怎么用电脑来写汉字。但现在我知道了(高高兴兴的)…!!!

^^

Read Full Post »

Harta karun

Dulu waktu kecil, setahun sekali biasanya aku akan bertanya pada mami-papiku, “boleh ngabiske uang brapa?”

Biasanya mami-papiku akan menjawab, “sepuluh ribu.”

Bagai anak panah yang lepas dari busurnya, aku segera lari dan menenggelamkan diri dalam tumpukan harta karun itu. Harta karun tak ternilai yang tersusun rapi dalam rak-rak, ribuan jumlahnya.

Betapa beruntungnya pemilik harta karun! Ah, aku juga tergolong beruntung, bisa memilih dan memiliki sebagian kecil dari harta karun tersebut, sekali setahun. Setelah dua jam atau lebih berkutat membuka-buka, menimbang-nimbang serta menghitung-hitung, akhirnya kupilih 4 buah harta, yang total nilainya kira-kira sepuluh ribu. Kuperlihatkan sekilas kepada mami-papiku, mereka mengangguk, lalu keempat harta tersebut kubawa ke kasir. Harganya tidak selalu pas sepuluh ribu. Kadang sepuluh ribu lima ratus, kadang sebelas ribu. Asal melonjaknya jangan banyak-banyak, mami-papiku akan memperbolehkan.

Kenangan yang indah. Bukan cuma mendapatkan harta saja yang membuatku senang. Proses memilihnya sendiri sangat mengasyikkan!!! Setiap tahun, ritual memilih harta karun selalu terulang. Sampai akhirnya aku cukup besar untuk pergi sendiri ke gua harta karun, dan mami-papiku tak perlu repot mengantar. Sampai sepuluh ribu tak lagi cukup untuk membeli sebuah harta karun pun.

Kenangan itu menyeruak begitu saja Kamis malam lalu, saat aku mengunjungi sebuah gua harta karun di kawasan Grogol, Jakarta Barat. Gua itu menjadi begitu istimewa karena ada diskon sebesar 30% untuk semua jenis harta karun (kecuali elektronik). Kebiasaan masa kecil itu terulang lagi. Menenggelamkan diri, melihat-lihat, membuka-buka, menimbang-nimbang, menghitung-hitung, sampai puasss…baru akhirnya membeli.

Semuanya masih sama seperti yang dulu. Yang berbeda hanya harganya.

^^

Read Full Post »