Feeds:
Posts
Comments

Archive for December 19th, 2008

Sabar

Saya termasuk mudah jengkel atau bete bila melihat atau mengalami hal-hal yang tidak sesuai keinginan saya. Dan kalau sudah terlanjur bete, kebetean ini bisa merusak seluruh mood untuk hari itu. Agak bego memang, tapi yah begitulah. Bahasa Jawanya ora trimoan. Artinya tidak mudah menerima, bila merasa dicurangi atau diperlakukan dengan tidak baik.

Misalnya suatu hari saya dan seorang teman pergi makan di sebuah kafe murah meriah di kawasan Tanjung Duren. Lantaran dalam menu tertulis bahwa minuman green tea itu free flow alias boleh nambah, maka kami (sebagai orang pelit) memilih minuman tersebut. Tahu-tahu waktu kami minta tambah teh, tidak tersedia. Alasannya air panas habis, dan kompor satu-satunya sedang dipakai memasak, jadi tidak bisa menjerang air (menurut pengakuan si mbak pelayan lho ya). Lalu setelah kami menyatakan bersedia menunggu sampai air panas siap, dijawab bahwa daun tehnya habis. Pokoknya tidak bisa tambah, titik. Dan kami harus membayar harga sesuai yang tertera di menu, tanpa ada diskon, atau 2 gelas dihitung satu, atau apalah.

Hal kecil memang, tapi benar-benar membuat bete. Tadinya saya ingin menelepon si pemilik kafe untuk komplain, tapi setelah dipikir-pikir lagi, lebih baik saya tidak pergi ke kafe itu lagi, habis perkara!

Lantas malaikat kecil di atas bahu kiri saya mengetok kepala saya (dengan pelan biar tidak benjol) sambil memarahi saya. Katanya,

“Kamu itu manusia tidak tahu balas budi! Demi menebus dosamu, dulu Tuhanmu menyerahkan diri-Nya, memanggul salib-Nya, didera, dihina, dicaci maki, dimahkotai duri, dan dipaku pada kayu salib! Dan Dia menjalani semuanya dengan tabah! Tanpa mengeluh sedikitpun! Lha manusia macam kamu ini, memanggul salib yang demikian ringan saja kok banyak protes! Kebeteanmu itu apa sih? Tidak ada sekuku hitamnya penderitaan Tuhanmu, tahu!!!”

Saya tertunduk malu. Ya, Tuhanku menjalani semua penderitaan-Nya dengan tabah, tanpa mengeluh sedikitpun. Sedangkan saya, diperlakukan sedikit curang saja sudah marah-marah. Orang seperti saya berani mengaku pengikut Tuhan? Sana, pergi latihan kungfu tenaga dalam 10 tahun, baru kembali kemari lagi!!! Kata Si Pendekar Silat (lho, kok melenceng?)

Anyway, saya jelas-jelas perlu berlatih untuk lebih sabar dan tidak gampang protes atawa marah-marah atau komplain. Semoga saya bisa melakukannya. Cukup dengan mengingat teladan Tuhan saya. Semoga saya mampu memanggul salib saya sendiri (yang jelas jauuuuuuuuh lebih ringan dari salib Tuhan) dan bisa menjadi orang yang lebih sabar, jembar atine, dowo ususe, lan bolong s*@#&e ^^

NB: Saya baru ngeh kalau kafe yang disebut di atas tutup per 22 Desember lalu. Padahal di kawasan Tanjung Duren yang padat, segala jenis makanan mulai dari yang murah sampai yang mahal (yang penting enak) laris manis. Mungkin pemilik kafe ini harus meningkatkan mutu layanannya kelak kalau mau membuka kafe lagi ya…

Advertisements

Read Full Post »