Feeds:
Posts
Comments

Archive for February, 2009

Tuhan punya seekor kucing. Tidak usah dicari di Alkitab karena pasti tidak akan ketemu. Tapi aku yakin bahwa Tuhan pasti punya, setidaknya seekor kucing.

Kucing itu tadinya milikku. Aku yang memberinya nama, memberinya makan (kalau tidak sedang malas), aku pula yang mengajarinya trik berjalan di atas punggung manusia (seperti kucing sirkus). Kalau sedang iseng, aku belajar mengeong darinya. Suatu hari aku mampu mengeong dengan demikian miripnya sampai-sampai si kucing merasa perlu memanjat bahuku dan melongok ke dalam mulutku, untuk melihat apakah ada kucing lain di dalamnya. Wajahnya yang keheranan saat itu, masih terpatri di benakku.

Ada saja ulahnya yang membuat kami tertawa. Suatu malam, aku, papiku, dan encekku tengah menyaksikan sebuah film laga di televisi, ketika tiba-tiba terdengar bunyi … plas… gedebyurrr!!! Olala, ternyata si kucing tercebur ke dalam bak mandi! Tak pelak lagi si hitam mungilku basah kuyup. Khawatir si kucing jatuh sakit karena kedinginan, mamiku langsung mengeluarkan hair dryer. Namun suara bising mesin pengering rambut itu tidak disukai oleh si kucing. Ia memilih duduk diam di belakang kulkas, tempat yang senantiasa hangat. Untunglah bulunya segera kering.

Kucing itu melengkapi hidupku. Bila hari hujan, dan si kucing belum pulang dari bermain, betapa cemasnya hatiku! Aku akan menunggu di dekat pintu sampai sosok hitam mungil itu menerobos masuk, tentunya dengan tubuh yang basah. Si kucing yang menggigil kedinginan kemudian akan duduk di belakang kulkas, tempat favoritnya kalau sedang basah kuyup. Sampai-sampai terpikir olehku pada saat itu, bila suatu saat nanti aku bekerja sebagai tenaga penjual kulkas, akan kutambahkan satu poin penting pada daftar keunggulan produk lemari pendingin itu: “mampu mengeringkan bulu anjing/kucing Anda dalam waktu singkat, dijamin!

Suatu hari ia pergi. Begitu saja. Entah ke mana. Aku tidak (belum) khawatir. Memang kalau sedang musim kawin, si hitam mungil bisa menghilang berhari-hari tanpa pulang ke rumah.

Seminggu berlalu. Aku mulai khawatir. Biasanya ia tak pernah pergi selama ini. Paranoid kemudian menjadi nama tengahku. Setiap mendengar suara kucing, aku langsung pergi melihat. Ternyata bukan kucingku. Kucoba menghibur diri. Besok sepulang sekolah, si mungilku pasti sudah kembali. Namun hal itu tak pernah terjadi.

Kucingku tak mungkin kabur. Di rumah yang sederhana ini, ia disayang. Selalu diberi cukup makan. Ada pula kulkas penghangat badan. Tak satu hari pun berlalu tanpa belaian. Hidupnya bahagia bagai dalam negeri impian.

Maka, cuma ada satu kemungkinan.

Mulanya aku takut mendengar jawabnya. Namun akhirnya kuberanikan diri untuk bertanya.

“Lho, Figaro kan sudah dibuang…” jawab mamiku.

“Ingat tidak, terakhir kali melahirkan, kondisinya agak payah. Anak-anaknya juga mati semua. Lebih baik dibuang, biar kelak tidak merepotkan. Dibuangnya dekat pasar kok, jadi pasti tidak kekurangan makanan.”

Bagaimana caranya memberi tahu mamiku, bahwa aku sungguh sayang pada Figaro, dan bahwa rumah ini takkan terasa lengkap tanpanya? Aku tidak tahu. Yang kutahu, rasa sedih mulai gencar menyerang. Untuk mematahkan serangan rasa sedih, aku memulai proyek penelitian kecil-kecilan. Kuwawancara semua orang yang pernah punya pengalaman kehilangan kucing (atau membuang kucing), lantas kucingnya kembali. Kucing punya kemampuan navigasi yang hebat, kok.

“Setelah dibuang, seminggu kemudian ia sudah nongol lagi. Kucing selalu tahu jalan pulang ke rumah.”

“Kucingku butuh waktu sebulan untuk pulang. Soalnya kami buang ia ke kota sebelah, agak jauh, jadi butuh waktu cukup lama.”

“Tenang saja, kucingmu pasti kembali.”

“Kucingmu yang hitam-putih itu kan? Kayaknya aku melihatnya kemarin…”

9 dari 10 orang yang kuwawancara, mendapatkan kembali kucingnya. Ya, 9 dari 10. Yang 1 itu aku sendiri. Kucingku tak pernah kembali.

Sedikit pun aku tak pernah menyalahkan mamiku, atau siapa pun yang membuang kucingku. Aku hanya menyalahkan diri sendiri karena tak mampu lagi melindunginya. Memberinya sekadar tempat berteduh. Sudahkah ia makan hari ini? Di malam-malam turun hujan, bantalku ikutan basah. Tuhan, kucingku pasti kehujanan dan kedinginan di luar sana!

Berbulan-bulan aku menunggu. Dan terus menunggu.

Sampai akhirnya aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku harus mencarikan ‘pemilik baru’ untuk kucingku. Dan mengucapkan selamat tinggal.

“Tuhan, sekarang dia milikmu. Rawat dia baik-baik ya Tuhan. Hanya kepada-Mu aku mempercayakan kucing kesayanganku. Aku percaya Engkau takkan membiarkannya kelaparan atau kedinginan. Aku percaya Engkau mampu merawatnya jauh lebih baik daripada aku.”

“Figaro, kau milik-Nya sekarang. Aku masih berharap kau pulang. Tapi kalau tidak, minimal kau sudah punya Majikan Baru yang baik. Dia akan senantiasa melindungimu. Selamat tinggal.”

Aku teringat sebuah lagu yang diajarkan Suster di Taman Kanak-Kanak:

Burung pipit yang kecil

Dikasihi Tuhan

Terlebih diriku

Dikasihi Tuhan

Ah, tentunya kucing hitam yang lucu juga dikasihi Tuhan.

Advertisements

Read Full Post »

神秘的你

脸如雨

音如风

入我的心

留在我的梦

Read Full Post »

Have you ever felt confident about your own abilities, yet failure is all you can find while trying to accomplish them?

Well, I have. For many, many times, actually. Quite shameful, you know. But here are some examples:

  1. Every time I hear “The Prayer” sung by Josh Groban and Charlotte Church, I always feel confident that I can sing it the way Miss Church does. I would practice it as soon as I get home. The result is: practice more, work harder, may God have mercy.
  2. Every time I visit my friend Tessa’s blog (kajoemanis) and read all the beautiful poems she had written, I feel confident that I can do the same to my blog. Result: Shakespeare was not my great-great grandpa. His blood doesn’t run through mine. Wake up!!!
  3. I have always admired Enid Blyton’s “The Naughtiest Girl at School” and “Five Find-Outers” series so much, that I once believed, if the series are to be continued, I’ll be the one who write them. Result: I only managed to write one opening paragraph. Don’t want to ruin the characters she had created (sounds like a suitable, honorable reason enough for me to back off, huh?)
  4. I have always admired Gong Li for her talent and beauty. I believe I could act like her, and astonish the world through my movies. Result: every fiber in my body trembled horribly when I acted as an old woman during a theater competition in University of Indonesia. Acting… in the next life, perhaps?
  5. I believe I can speak English well, without any influence from my Javanese accent. I even believed that a two-hour Harry Potter movie had successfully produced a British accent out of me. The result is: I speak Muntlish, you know (Muntilanese English)

Now, let’s work it out the other way around.

Have you ever questioned your own abilities, yet you are able to accomplish them?

Well, I have. It’s not something to be proud of, though. But I’d love to write them here! ^^

  1. I have always prayed to God to give me beautiful voice to sing with. But deep down inside, I realize that I simply wasn’t born with ‘it”. Yet I remember the Chinese 命運 (mingyun: fate and luck). Ming 命 is what you are born with. For example you are born as a girl. You know, something you can’t change. But aside of ming, there is also yun 運 which means luck. It is something we can change! For example, I know I wasn’t born with a beautiful voice, but if a great vocal instructor trained me, and I practice hard enough, I would sing better, for sure! After attending Jakarta Singing School for a year, I underwent a vocal exam. I got a B-. In the following year, I underwent a vocal exam again, and this time, it’s a B+! The result is: Thank God for showing me the way to JSS. Jia you…!!! ^^
  2. I’m not into adults poems like my talented friend, Tessa. But if you check this blog you would find some children poems, like ‘Kepiting‘, it’s one of my favorite. I also thought of some very simple poems in Mandarin. Anyway, if I want to create a poem in Mandarin, it’d better be a simple one, to hinder myself from grammatical mistakes. ^^ Result: Poem is for everyone. Believe me…!!! ^^
  3. Novels or children storybooks are still a very long way for a junior writer like me. I have written stories since my elementary school years, yet I was too shy to show my writings to anyone at all. When I was a kid, two cousins of mine loved to sneak in and grab a book contained of my writings. I would run after them all day long, just to keep them busy enough NOT to read what I’ve written! But you see, now I have my own blog (and busy telling people to visit it), well, at least I’m a blogger (the modern way to say ‘writer’) now…^^. Result: Jia you…!!!
  4. In this life, I could never be an actress-lah… But I do some kind of ‘acting’ all the times. I am trusted to be a presenter of a news-feature program in Da Ai TV. While having a good mood, it’s not difficult to smile at the camera and talk to it as if you were talking to some very close friends. But in the times of bad mood, producing the slightest smile would be unbearably difficult! Yet, I have to do it, for the sake of the audience who has dedicated their time watching our programs. Result: I do love my job! So no matter what, just smile sincerely and talk to the audience through the camera… Isn’t it some kind of ‘acting’? ^^
  5. Once, I was to teach Mandarin to an American citizen. It wasn’t so difficult, since he only wanted to know what Mandarin is like. So I taught him Pinyin, simple sentence structures, basic conversation, and so on. We used English as the media of learning. During the first lesson, he said to me, “Your boyfriend must be an Englishman.” I said no, he’s an Indonesian-born Chinese. Why did you say so? He said, “Well, you speak British English.” Dear God, the Harry Potter movie does work!!! ^^ Result: My English accent is not that bad, actually. If I am to speak English from the very beginning, there wouldn’t be any problem. The most difficult thing is when I speak Indonesian… then suddenly there are some English words. I find it difficult to switch from Indonesian to English within less than a second. Still working on it ’till now.

Isn’t confidence one of the best gifts God has given to us? To survive in this world full of uncertainties?

The main result would be: Failures are OK, as long as you have confidence inside your heart… ^^

Read Full Post »

Figaro melahirkan

Di dalam kardus berisi kain dan pakaian bekas itu, keajaiban terjadi. Kucingku Figaro bergerak-gerak dengan gelisah, lalu tiba-tiba… voila! Lahirlah seekor kucing belang abu-abu, anaknya yang pertama! Wah, seolah-olah rumahku jadi punya bagian ‘Ginekologi’…

Bagiku, memelihara kucing adalah pengalaman yang menakjubkan. Kesedihan di hati gara-gara ulangan dapat lima lenyap seketika, melihat kucingku berlari-lari menyambutku sepulang dari sekolah.

Namun sewaktu memelihara kucing, salah satu pengalaman yang paling mengagumkan adalah menyaksikan langsung proses kelahiran bayi-bayi kucing! Setahuku ada 2 jenis kucing:

  1. Kucing yang bersembunyi saat melahirkan
  2. Kucing yang minta ditunggui saat melahirkan.

Nah, kucingku Figaro termasuk jenis yang kedua ^^

Encekku (adiknya papiku, seseorang yang memiliki pengetahuan luas tentang apa saja, terutama alam, flora dan fauna) mengatakan, ketika hendak melahirkan, kucing jenis ini akan minta ditunggui oleh orang yang paling disayangi. Berhubung aku adalah pemilik Figaro, maka wajar jika waktu melahirkan untuk yang pertama kalinya, si hitam mungil ini minta aku duduk di samping kardusnya, yang sudah diisi dengan kain dan pakaian bekas biar empuk dan hangat.

Ketika aku beranjak sejenak, hendak mengambil buku cerita (biar tidak nganggur), Figaro langsung protes. Mengeong dengan wajah mengiba. Alhasil aku tidak jadi pergi mengambil buku cerita. Namun apa daya, ketika kebelet buang air kecil, terpaksa kutinggalkan dia untuk satu-dua menit saja. Sewaktu aku selesai buang air kecil, kudapati Figaro sudah keluar dari kardusnya, duduk manis tepat di depan pintu kamar mandi. Padahal tadi air ketubannya sudah pecah! Cepat kugendong dia, lantas dengan hati-hati kuletakkan ia kembali ke dalam kardus. Nah, di sini terbukti bahwa kucingku adalah seekor satwa bersifat nekad dan bertekad baja! Kalau melahirkan harus ditunggui! Titik!!!

Setelah anaknya lahir, Figaro tidak lagi minta ditunggui. Ia asyik menjilat-jilat anaknya, supaya bersih dari air ketuban dan lain-lain. Aku bebas…!!!

Harus kuakui, aku adalah orang dengan sifat iseng dan jahil yang kadang tak dapat dibendung. Kadang sifat iseng ini kulampiaskan pada kucingku. Misalnya, aku tahu pasti bagaimana menggendong kucing, lantas mengunci tubuhnya sedemikian rupa sehingga si kucing tak dapat bergerak. Alhasil, si kucing hanya bisa menggeram marah. Selain itu, aku yang tadinya rajin memberi makan kucing pagi hari sebelum ke sekolah, berubah menjadi sering bangun kesiangan. Alhasil aku jadi jarang memberi makan kucing. Tugas yang semestinya menyenangkan itu lebih banyak dikerjakan oleh Si Mbok.

Pendek kata, kucingku Figaro punya banyak alasan untuk tidak menyayangiku lagi. Dia jadi makin jarang mau kugendong, kadang malah menghindar bila kudekati. Lama-kelamaan, Figaro jadi sangat menyayangi encekku yang disebut di atas tadi. Ia sering terlihat tidur mendengkur di samping kaki encekku, atau bahkan di atas pangkuannya. Ya, encekku memang penyayang binatang sejati. Tak pernah ia menjahili Figaro.

Sebagai kucing yang terlibat dalam ‘pergaulan bebas’, beberapa bulan kemudian, Figaro mulai ‘berisi’ lagi. Kali ini aku tidak menyambut dengan antusias. Buat apa? Dia takkan minta kutunggui lagi. Paling-paling dia akan minta ditunggui oleh encekku. Toh, aku bukan lagi orang yang paling disayanginya.

Siang itu, seperti biasa aku pulang dari sekolah. Sampai di rumah, aku langsung disambut oleh banyak orang. Lho…???

“Ini dia, untung sudah pulang,” kata papiku.

“Figaro dari pagi gelisah,” kata mamiku.

“Sudah mau melahirkan tapi tidak mau diam di kardusnya,” tambah Si Mbok.

“Dia menunggu orang yang paling disayanginya,” kata encekku.

“Meong, meong… MEONG!!!” kata Figaro dengan mata panik.

Kucing berkepala batu ini, masih bisa-bisanya berlari-lari menyambutku sepulang sekolah, padahal air ketubannya sudah berceceran kemana-mana. Tekadnya sudah bulat. Kalau melahirkan, harus ditunggui! Titik!!! Dan harus ditunggui oleh orang yang paling disayangi!!!

Tenggorokanku tercekat. Rasa haru menyerbu.

Kembali kugendong dia, lantas kuletakkan di dalam kardus dengan hati-hati. Sepasang matanya tak lagi panik. Ia terlihat tenang dan penuh percaya diri.

“Kucing bodoh,” ujarku dalam hati sambil membelai kepalanya. “Kenapa musti menungguku? Aku ini siswi SD biasa, bukan dokter hewan. Kalau terjadi apa-apa denganmu, aku juga tak bisa menolong.”

“Tidak apa-apa,” dengkur Figaro. “Pokoknya diam saja di situ ya.”*)

Aku menunggu sampai kucingku selesai melahirkan, dengan perasaan takjub. Siapa bilang kucing tak bisa setia seperti anjing? Buktinya setelah berkali-kali kujahili, kucingku masih sayang kepadaku…!!! ^^

***

*) Ini hanya interpretasi saja lho, karena aku tidak mengerti bahasa kucing ^^

Read Full Post »

Kenapa Klasik?

Sekitar dua tahun yang lalu, aku memutuskan untuk belajar vokal alias menyanyi dengan serius. Kenapa? Karena hidup begitu singkat. Jadi harus diisi dengan hal-hal yang menyenangkan dan berguna (perhatikan urutannya ya, menyenangkan dulu, baru berguna ^^). Dan karena menyanyi adalah hobiku yang paling utama. Orang Jawa bilang, mangan ra mangan sing penting kumpul. Bagiku, mangan ra mangan, sing penting nembang (nyanyi), hehe bercanda lho… ^^

Setelah mencapai keputusan ini, tibalah aku pada keputusan kedua. Mau belajar vokal apa? Di mana? Sama siapa? Aku mulai melakukan riset kecil-kecilan. Mendatangi beberapa sekolah vokal. Telepon sini, telepon sana. Tanya sini, tanya sana.

Ada sebuah sekolah vokal terkenal yang kuincar, namun sayang jadwal untuk hari Sabtu sudah penuh (dan memang selalu penuh). Hari Minggu tidak ada kelas. Sedangkan pada hari kerja, pukul enam sore kelas vokal sudah berakhir. Jelas tidak cocok dengan jadwal kerjaku. Ada pula sekolah vokal lain yang jadwalnya cukup fleksibel, di mana kelas-kelas vokal diselenggarakan hingga pukul delapan malam. Namun entah mengapa, setelah didatangi kok rasanya kurang sreg di hati. Akhirnya aku hanya sebatas audisi, dan tak jadi mendaftar.

Sementara belum mendapatkan sekolah vokal, waktu yang ada kugunakan untuk berpikir. Sebenarnya pelajaran vokal apa yang kuingini? Pop? Jazz? Klasik?

Aku tidak tahu banyak tentang vokal klasik. Karena vokal klasik tidak bisa kita tonton di MTV. Tapi aku sangat mengagumi Charlotte Church, seorang penyanyi klasik asal Britania Raya. Bila sedang menyanyi, dia tidak pernah bergaya atau melakukan aksi panggung yang aneh-aneh. Tidak pernah jingkrak-jingkrak atau menari. Seringkali dia hanya berdiri di satu titik, dan menyanyi sampai selesai, begitu saja. Namun bisa kulihat seluruh anggota tubuhnya, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, ikut bernyanyi. Aneh memang, tapi kesan itulah yang kudapat.

Kalau di Indonesia, penyanyi terkenal yang seperti digambarkan di atas adalah Aning Katamsi dan Christopher Abimanyu. Tidak pakai gaya-gayaan, tapi suara yahud!

Aku berpikir, kalau misalnya ditakdirkan bisa menyanyi, aku ingin menyanyi seperti itu! Sejak saat itu aku hanya fokus mencari sekolah vokal yang mengajarkan vokal klasik.

Kemudian seorang teman lama memperkenalkanku pada sebuah sekolah vokal, yang mengkhususkan diri pada vokal klasik. Saat audisi di sekolah vokal tersebut (Jakarta Singing School) dan bertemu dengan Renata Lim laoshi, aku langsung merasa sreg. Inilah tempat yang tepat. Pucuk dicinta ulam tiba!

Menyanyi klasik memang tidak mudah. Belajar pernapasan diafragma yang baik dan benar saja memerlukan waktu sedikitnya berbulan-bulan, atau bahkan lebih. Selain itu, selama belajar vokal klasik, kemampuanku menyanyikan lagu-lagu pop tidak lantas meningkat dengan sendirinya. Ibarat olah raga, cabangnya berbeda. Seorang perenang ulung, bukan berarti serta-merta mahir dalam atletik, bukan? Kira-kira seperti itulah. Dari luar memang bungkusnya sama = menyanyi. Namun teknik dan peraturan-peraturannya jauh berbeda. Jadi kalau sedang ber-karaoke dengan teman-teman lama, suaraku tetap saja seperti yang dulu.

Makin lama belajar, aku makin mencintai vokal klasik. Tidak perlu banyak bergerak, tidak perlu bergaya. Pokoknya konsentrasi, pahami dan hayati isi lagu, bernapas yang benar, dan menyanyi. Itu saja.

Aku beruntung mendapat guru vokal klasik yang memiliki tingkat keahlian tinggi dalam bidangnya, baik hati, dan sabar. Selain itu, guru vokalku ini memiliki jiwa mengajar sejati. Laoshi senantiasa menggali potensi yang ada pada murid-muridnya.

Ya, setiap kali menghadapi hal-hal yang menyebalkan dalam hidup ini, aku tinggal mengingat semua yang ada di atas, dan aku akan merasa amat beruntung. Beruntung bisa belajar vokal klasik, dan beruntung mendapat guru seperti laoshi.

Tidak terasa hari sudah malam, lebih baik aku cepat pulang supaya bisa berlatih lagu “Sound An Alarm!”-nya Judas Maccabeus yang bagus tapi sulitnya amit-amit itu… ^^

Read Full Post »

Perang

red-cliffIni bukan resensi film. Tapi sungguh, film Red Cliff 2 yang baru saja saya tonton di bioskop benar-benar bagus. Sulit dijelaskan lebih jauh. Pokoknya bagus, aja!* Namun sambil menyaksikan keindahan film epik tersebut, satu pertanyaan terlintas di benak saya.

Kenapa manusia gemar berperang, menyerang dan saling menginvasi satu sama lain? Bukankah alam telah menyediakan semua yang kita perlukan, secara gratis? Kenapa kita musti berebut?

Maka terpikir oleh saya, tulisan pendek berikut ini.

头发一样黑

皮肤一样黄

眼睛一样小

干吗打仗呢?

Rambut sama hitam

Mata sama sipit

Kulit sama kuning

Kenapa berperang?

Perang Tiga Kerajaan boleh jadi sudah usai sejak ribuan tahun lalu. Namun yang namanya ‘perang’ itu sendiri belum usai hingga kini. Hanya ganti lokasi, ganti pemimpin, ganti pemain, ganti zaman, ganti alasan, ganti senjata.

Saya kadang berpikir, bagaimana ya, kalau suatu saat nanti bumi diserbu oleh alien? Seperti pada film Independence Day atau War of the World. Akankah umat manusia bersatu padu, tanpa mempersoalkan perbedaan ras, agama, dan lain-lain? Saya rasa, serangan alien pastilah menyeramkan. Namun persatuan umat manusia pastilah menggembirakan. Semoga perdamaian di atas bumi dapat tercapai, tanpa perlu menunggu serangan alien.

Kapan-kapan kalau seluruh dunia sudah damai, bolehlah kita berkumpul bersama keluarga pada pertengahan musim gugur, memandang bulan yang bulat sempurna, makan kue bulan, sambil menyitir sebuah puisi karya Li Bai dari zaman Tang berikut ini:

Sinar bulan purnama di depan pembaringan,

embunkah yang membeku di pelataran?

Tengadah menatap bulan purnama

tertunduk mengingat kampung halaman

***

*Yang membuat film Red Cliff 2 bagus (menurut saya lho):

  1. Takeshi Kaneshiro (金城 武) berdarah Jepang-Taiwan yang berperan sebagai Zhu Ge Liang (諸葛亮) memang asli, gantengnya amit-amit. Biar dikasih kumis dan jenggot, kegantengannya tak tertutupi.
  2. Adegan perangnya keren, taktik perangnya juga keren.
  3. Salah satu kisah favorit saya, “Perahu Jerami Meminjam Panah” ada dalam film ini.
  4. Sambil nonton sekalian mengingat kembali pelajaran bahasa Mandarin di UI dulu (emangnya masih inget…???)
  5. Banyak kudanya (maklum, penggemar kuda…^^)

Read Full Post »