Feeds:
Posts
Comments

Archive for February 28th, 2009

Tuhan punya seekor kucing. Tidak usah dicari di Alkitab karena pasti tidak akan ketemu. Tapi aku yakin bahwa Tuhan pasti punya, setidaknya seekor kucing.

Kucing itu tadinya milikku. Aku yang memberinya nama, memberinya makan (kalau tidak sedang malas), aku pula yang mengajarinya trik berjalan di atas punggung manusia (seperti kucing sirkus). Kalau sedang iseng, aku belajar mengeong darinya. Suatu hari aku mampu mengeong dengan demikian miripnya sampai-sampai si kucing merasa perlu memanjat bahuku dan melongok ke dalam mulutku, untuk melihat apakah ada kucing lain di dalamnya. Wajahnya yang keheranan saat itu, masih terpatri di benakku.

Ada saja ulahnya yang membuat kami tertawa. Suatu malam, aku, papiku, dan encekku tengah menyaksikan sebuah film laga di televisi, ketika tiba-tiba terdengar bunyi … plas… gedebyurrr!!! Olala, ternyata si kucing tercebur ke dalam bak mandi! Tak pelak lagi si hitam mungilku basah kuyup. Khawatir si kucing jatuh sakit karena kedinginan, mamiku langsung mengeluarkan hair dryer. Namun suara bising mesin pengering rambut itu tidak disukai oleh si kucing. Ia memilih duduk diam di belakang kulkas, tempat yang senantiasa hangat. Untunglah bulunya segera kering.

Kucing itu melengkapi hidupku. Bila hari hujan, dan si kucing belum pulang dari bermain, betapa cemasnya hatiku! Aku akan menunggu di dekat pintu sampai sosok hitam mungil itu menerobos masuk, tentunya dengan tubuh yang basah. Si kucing yang menggigil kedinginan kemudian akan duduk di belakang kulkas, tempat favoritnya kalau sedang basah kuyup. Sampai-sampai terpikir olehku pada saat itu, bila suatu saat nanti aku bekerja sebagai tenaga penjual kulkas, akan kutambahkan satu poin penting pada daftar keunggulan produk lemari pendingin itu: “mampu mengeringkan bulu anjing/kucing Anda dalam waktu singkat, dijamin!

Suatu hari ia pergi. Begitu saja. Entah ke mana. Aku tidak (belum) khawatir. Memang kalau sedang musim kawin, si hitam mungil bisa menghilang berhari-hari tanpa pulang ke rumah.

Seminggu berlalu. Aku mulai khawatir. Biasanya ia tak pernah pergi selama ini. Paranoid kemudian menjadi nama tengahku. Setiap mendengar suara kucing, aku langsung pergi melihat. Ternyata bukan kucingku. Kucoba menghibur diri. Besok sepulang sekolah, si mungilku pasti sudah kembali. Namun hal itu tak pernah terjadi.

Kucingku tak mungkin kabur. Di rumah yang sederhana ini, ia disayang. Selalu diberi cukup makan. Ada pula kulkas penghangat badan. Tak satu hari pun berlalu tanpa belaian. Hidupnya bahagia bagai dalam negeri impian.

Maka, cuma ada satu kemungkinan.

Mulanya aku takut mendengar jawabnya. Namun akhirnya kuberanikan diri untuk bertanya.

“Lho, Figaro kan sudah dibuang…” jawab mamiku.

“Ingat tidak, terakhir kali melahirkan, kondisinya agak payah. Anak-anaknya juga mati semua. Lebih baik dibuang, biar kelak tidak merepotkan. Dibuangnya dekat pasar kok, jadi pasti tidak kekurangan makanan.”

Bagaimana caranya memberi tahu mamiku, bahwa aku sungguh sayang pada Figaro, dan bahwa rumah ini takkan terasa lengkap tanpanya? Aku tidak tahu. Yang kutahu, rasa sedih mulai gencar menyerang. Untuk mematahkan serangan rasa sedih, aku memulai proyek penelitian kecil-kecilan. Kuwawancara semua orang yang pernah punya pengalaman kehilangan kucing (atau membuang kucing), lantas kucingnya kembali. Kucing punya kemampuan navigasi yang hebat, kok.

“Setelah dibuang, seminggu kemudian ia sudah nongol lagi. Kucing selalu tahu jalan pulang ke rumah.”

“Kucingku butuh waktu sebulan untuk pulang. Soalnya kami buang ia ke kota sebelah, agak jauh, jadi butuh waktu cukup lama.”

“Tenang saja, kucingmu pasti kembali.”

“Kucingmu yang hitam-putih itu kan? Kayaknya aku melihatnya kemarin…”

9 dari 10 orang yang kuwawancara, mendapatkan kembali kucingnya. Ya, 9 dari 10. Yang 1 itu aku sendiri. Kucingku tak pernah kembali.

Sedikit pun aku tak pernah menyalahkan mamiku, atau siapa pun yang membuang kucingku. Aku hanya menyalahkan diri sendiri karena tak mampu lagi melindunginya. Memberinya sekadar tempat berteduh. Sudahkah ia makan hari ini? Di malam-malam turun hujan, bantalku ikutan basah. Tuhan, kucingku pasti kehujanan dan kedinginan di luar sana!

Berbulan-bulan aku menunggu. Dan terus menunggu.

Sampai akhirnya aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku harus mencarikan ‘pemilik baru’ untuk kucingku. Dan mengucapkan selamat tinggal.

“Tuhan, sekarang dia milikmu. Rawat dia baik-baik ya Tuhan. Hanya kepada-Mu aku mempercayakan kucing kesayanganku. Aku percaya Engkau takkan membiarkannya kelaparan atau kedinginan. Aku percaya Engkau mampu merawatnya jauh lebih baik daripada aku.”

“Figaro, kau milik-Nya sekarang. Aku masih berharap kau pulang. Tapi kalau tidak, minimal kau sudah punya Majikan Baru yang baik. Dia akan senantiasa melindungimu. Selamat tinggal.”

Aku teringat sebuah lagu yang diajarkan Suster di Taman Kanak-Kanak:

Burung pipit yang kecil

Dikasihi Tuhan

Terlebih diriku

Dikasihi Tuhan

Ah, tentunya kucing hitam yang lucu juga dikasihi Tuhan.

Advertisements

Read Full Post »