Feeds:
Posts
Comments

Archive for March, 2009

Jembatan Keledai

Di zaman modern seperti sekarang ini, segalanya mungkin. Film Oliver! produksi Inggris tahun 1968 yang dibintangi oleh Mark Lester, yang pertama kali saya tonton di TVRI pada suatu hari Minggu siang, dan sudah belasan tahun tidak saya tonton, kini dapat ditemukan dengan mudah lewat YouTube.

Ketika menyaksikan cuplikan film tersebut, pas di adegan lagu “Consider Yourself At Home“, saya teringat akan masa-masa sebelum menghadapi EBTANAS, waktu kelas 6 SD. Pada saat itu, bagi saya bahasa Inggris sama asingnya dengan bahasa Swahili. Karena itu, tak ada satu kata pun dalam lirik lagu tersebut yang membekas di kepala saya. Hanya melodinya saja yang terus terngiang dalam ingatan.

Dalam rangka menghadapi EBTANAS, wali kelas menyarankan kami untuk menghafal pasal-pasal dalam UUD 1945. Menurutnya, pasal 27 hingga 37 sering ditanyakan dalam ujian. Jadi kami diberi peer untuk menghafal pasal-pasal tersebut, minimal judulnya saja. Wali kelas juga mempersilakan kami membuat sendiri ‘jembatan keledai’, guna mempermudah proses menghafal. Misalnya dengan lagu.

Dalam perjalanan pulang sekolah, saya dan Esther teman sekelas mendiskusikan, lagu apa ya yang cocok untuk menghafal pasal-pasal dalam UUD 1945. Soalnya lirik lagu itu bunyinya kira-kira harus begini:

27 Hukum

28 Berserikat dan berkumpul

29 Agama

30 Pertahanan Negara

31 Pendidikan

32 Kebudayaan

33 Kesejahteraan Sosial

34 Anak Terlantar

35 Bendera

36 Bahasa

37 Perubahan UUD

Lagu “Naik-Naik ke Puncak Gunung” jelas tidak cocok. Demikian juga lagu “Pelangi-Pelangi”.

Tiba-tiba Esther teman saya itu berkata, “Kenapa tidak memakai lagunya Oliver aja?”. Maklum, Oliver! adalah film favorit kami saat itu.

“Yang mana?” tanya saya.

“Yang begini lho, lalalala-lala…”

Lantaran tidak mengerti bahasa Inggris, lagu tersebut hanya bisa di-lalala-kan. Yang dimaksud adalah “Consider Yourself At Home“.

Ternyata melodinya 100% cocok! (boleh dicoba!) Seolah-olah komposernya menciptakan lagu tersebut khusus untuk dijadikan jembatan keledai penghafal pasal 27-37 UUD 1945.

Dalam perjalanan pulang yang singkat tersebut (sekitar 10 menit saja) kami berulang-kali menyanyikan lagu tersebut, dengan liriknya yang baru. Alhasil, setiba di rumah kami sudah hafal luar kepala.

Seingat saya, ada satu soal mengenai pasal tersebut yang keluar dalam EBTANAS tahun itu. Memang cuma satu, tapi kami senangnya amit-amit!

Terima kasih, Oliver!

^^

Advertisements

Read Full Post »

Apa pekerjaan paling sulit di dunia?

Mungkin… menjadi astronot yang bertugas di Discovery dan ISS (International Space Station), menaklukkan puncak Himalaya, menjadi atlet pemenang medali emas Olimpiade 5x berturut-turut, menjadi presiden yang: bebas korupsi, kolusi dan nepotisme, mampu mengayomi dan memakmurkan rakyatnya, menjalin hubungan baik dan menguntungkan dengan negara-negara lain, menegakkan wibawa bangsanya, sekaligus berperan aktif dalam mengurangi emisi karbon di dunia! (Sudah disebutkan pekerjaan paling sulit yang terpikir, yang terakhir itu bahkan nyaris mustahil kayaknya, apalagi di Indonesia) ^^

Ya, semuanya memang sulit. Sekarang, apa pekerjaan paling sulit di dunia yang berhubungan dengan menyanyi?

Wah, kurang tahu deh. Mungkin… menyanyikan Opera Madam Butterfly sambil lompat-lompat dengan suara tetap stabil? Katanya sih, sulit banget. Tapi jujur, saya kurang tahu.

Ok. Sekarang pertanyaan terakhir, apa pekerjaan paling sulit sehubungan dengan konser amal Paduan Suara Eliata?

Nah, yang ini saya tahu pasti…!!! Setelah menjalani latihan rutin dan memelototi not-not balok bagai tauge menari, kesulitan yang dijumpai belum ada apa-apanya bila dibandingkan dengan: menjual tiket konser amal…!!! ^^

Di bawah ini adalah kesulitan-kesulitan yang saya temui saat berusaha menjual tiket Konser Amal Paduan Suara Eliata, beserta alasan-alasannya. Barangkali berguna bagi Anda yang ingin menyelenggarakan pertunjukan musik ^^

Here we go:

  1. Amal atau bukan amal, musik klasik memang hanya segelintir penikmatnya. Bisa jadi dari 100 orang yang Anda temui di kantor atau di mana saja, 101 orang di antaranya tidak menggemari musik klasik. Bisa dibayangkan sulitnya menjual sesuatu yang tidak digemari orang. Bila saya harus menjual tiket konser jazz, rock, atau pop, mestinya sih tidak sesulit ini. Masih lekang di ingatan, betapa tahun 2007 lalu saya sendiri juga mencari-cari tiket murah International Java Jazz Festival, demi menyaksikan pianis David Benoit, penyanyi Kimiko Ito, dan masih banyak lagi… ^^
  2. Waktu dan tempat yang mungkin kurang kondusif bagi sebagian orang kerja. Konser diselenggarakan pada hari Jumat pukul 19.30 WIB di Gereja Kristus, Ketapang. Sebenarnya seorang teman baik saya yang tinggal tak jauh dari Gereja Kristus, berminat menyaksikan konser. Namun apa daya, sehari-hari ia bekerja di kawasan Kelapa Gading yang macet. Alhasil ia khawatir tak dapat tiba tepat pada waktunya.
  3. Alasan ketiga barangkali merupakan turunan dari alasan nomor 1. Orang lebih suka pertunjukan musik modern. Harus diakui bahwa paduan suara kurang diminati. Puluhan orang yang menyanyikan 4 suara: Sopran-Alto-Tenor-Bass, dengan iringan chamber orchestra: ada violin, viola, flute, dan alat musik bass yang segede-gede gaban itu, beserta sejumlah alat musik lain yang saya bahkan tak tahu namanya (lha situ sendiri ndak tahu kok mau ajak orang lain nonton?), tidak masuk kategori pertunjukan menarik. Orang lebih suka menyaksikan penampilan band, atau penyanyi-penyanyi terkenal, dengan iringan drum, bass guitar, melody guitar, electric guitar, keyboard, dan lain sebagainya.
  4. Nama-nama komposer yang ciptaannya kami nyanyikan, kurang terkenal pada zaman modern saat ini. Tak banyak yang tahu tentang musik karya Bach dan Mendelssohn. Kalau setidaknya pernah mendengar namanya, itu saja sudah bagus. Saya sendiri juga baru tahu Mendelssohn saat bergabung di PS Eliata kok. Kalau Bach, dari dulu memang sudah dengar namanya, saking terkenalnya. Karena nama komposer tidak dikenal, jadi sori-sori stoberi, blueberi, apalagi blekberi, ga usah ajah ya…
  5. Alasan kelima 100% bersifat pribadi. Saya dari dulu memang bukan tukang jualan yang baik. Biasanya kalau ada konser-konser sehubungan dengan Jakarta Singing School atau Antim, saya punya pembeli setia yaitu adik saya sendiri, serta pacar (sekarang tunangan) saya. Nah, adik saya pas banget Jumat ini harus bertugas sebagai mesin jahit (alias singer) di persekutuan doanya, jadi tak dapat menyaksikan konser. Sedangkan tunangan saya terjebak macet karena sekarang musim kampanye. Jadi apa boleh buat, lebih baik putar balik saja. Kampanye kadang-kadang bisa berakhir dengan tindakan anarkis, jadi sangat tidak dianjurkan untuk melewati jalur-jalur yang akan dilalui peserta kampanye.

Setelah berusaha email sana email sini (maunya sih mengikuti jejak kesuksesan Obama, jadi saya menawarkan tiket konser amal melalui Facebook), telepon sana telepon sini, sms sana sms sini, akhirnya Tuhan berbelas kasih kepada saya. Diberi-Nya saya 3 orang yang bersedia membeli tiket.

Yang pertama adalah Robert, anak studio Da Ai TV yang suka beramal dan menggemari musik, diikuti oleh Soffy teman se-apartemen saya, yang juga mengajak pembeli ketiga, yaitu Bu Monica, atasannya. Tak terkirakan rasa terima kasih saya kepada ketiga orang tersebut…!!! ^^

Selamat menyaksikan konser amal paduan suara kami… semoga puas (dijamin puas…) ^^

Read Full Post »

konser-eliata3Konser amal Paduan Suara Eliata memang belum diselenggarakan (masih nanti tanggal 20 Maret 2009), namun setidaknya sudah ada 1 kisah menarik mengenainya.

Salah seorang soprano paduan suara Eliata, biduanita bersuara emas bercerita kepadaku mengenai pengalamannya saat membantu menjualkan tiket konser amal tersebut. Setelah melihat brosur (seperti yang terpampang di sisi kiri), seorang temannya yang berminat membeli tiket bertanya,

“Di konser ini nanti ada solois asingnya ya?”

“Nggak ada, anggota paduan suara ini semuanya orang Indonesia kok.”

“Lho… pria bule dalam brosur ini siapa? Bukan soloisnya ya?”

Read Full Post »