Feeds:
Posts
Comments

Archive for April, 2009

5 detik vs 5 menit

Pernahkan Anda mendengar komentar yang tidak mengenakkan, lantas menjadi bete selama berminggu-minggu karenanya? Atau pernahkan Anda merasa sakit hati gara-gara perbuatan seseorang, lalu menyimpannya dalam hati selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun? Masihkah Anda marah saat ini, akibat kesalahan yang diperbuat orang lain pada masa lalu?

Kalau iya, maka ini saatnya cuci gudang!!!

Bila tidak segera mencuci gudang, kita sendiri yang rugi. Mari kita hitung-hitungan matematika. Saya bukan jenius matematika, tapi waktu SD saya sangat mencintai mata pelajaran yang satu ini, dan berhasil mendapat nilai 9,5 pada EBTANAS SD. Setelah SMP dan selanjutnya, angka tadi kebanyakan dibalik, hehe… ^^

Ini saya alami sendiri kira-kira seminggu yang lalu. Pada saat berlatih paduan suara, saya mendadak merasa ‘hilang arah’ di tengah-tengah lagu, sehingga saya berhenti sejenak, mendengarkan suara teman-teman yang lain, baru ikut menyanyi lagi. Mungkin gara-gara kurang konsentrasi, atau lupa, atau salah membalik halaman buku. Setelah latihan hampir berakhir, seorang rekan nyeletuk ke arah saya dengan sinis, “ini dia yang dari tadi fales” (= bersuara sumbang).

Dug! Saya merasa terpukul. Rekan tadi memang benar sih, saya ada kesalahan waktu menyanyi… tapi masa iya harus sinis begitu bicaranya? Apakah kesalahan yang saya buat tadi demikian fatal? Tapi kok pelatih paduan suara dan dirigen tidak mengatakan apa-apa ya? Saya merasa bingung, sedih, dan takut bersuara lantang. Akhirnya saya menyanyi dengan suara pelan, sambil menajamkan telinga mendengarkan suara teman-teman lain. Suasana hati saya rusak sudah.

Saya menengok arloji. Sudah 5 menit saya merasa sedih gara-gara mendengar komentar sinis tadi. Anggaplah komentar itu diucapkan dalam waktu 5 detik saja. Efeknya terhadap saya masih terus terasa setelah 5 menit = 300 detik. Betapa ruginya! Komentar selama 5 detik telah merusakkan suasana hati saya selama 300 detik! Tidak perlu jenius matematika untuk memahami bahwa hal ini amat merugikan!

Saya bertekad, sudah sampai di sini saja! Ceria mode: on. Kalau saya konsentrasi, tentunya tidak akan salah dalam menyanyi. Kalaupun ada yang salah, tentu pelatih, dirigen, atau rekan satu suara akan memberitahu. Kalau ada rekan yang memberitahu dengan nada sinis, bukan berarti dia menyebalkan, tapi karena mungkin nada bicaranya memang begitu. Lagipula maksudnya baik, memberi tahu agar saya cepat memperbaiki. Nah, kalau begitu, buat apa bersedih?

Kadang perkataan atau perbuatan singkat seseorang, dapat merusak suasana hati kita selama berhari-hari. Ibarat sembelit, (maaf) kotoran yang tertahan dalam tubuh selama berhari-hari dapat menimbulkan racun yang buruk bagi kesehatan. Demikian juga perasaan dan suasana hati. Karena itu, segeralah cuci gudang. Bersihkan dan sehatkan suasana hati Anda.

Jangan biarkan setitik nila merusak susu sebelanga. Jangan biarkan perkataan, perbuatan, atau apa saja yang dilakukan orang lain menghalangi Anda untuk merasa bahagia. Ambil hikmahnya (kalau ada), selebihnya tinggalkan. Ingat, 5 detik vs 5 menit saja sudah rugi banyak. Apalagi kalau lebih dari 5 menit.

Mulai sekarang kalau ada yang membuat Anda kesal, marah, bete, sedih, jengkel, kecewa, sakit hati, dan kroni-kroninya, jangan biarkan emosi negatif itu mengendap selama lebih dari 5 menit ya… ^^

#Membaca komentar dari You-know-who, saya jadi ingat salah satu kata perenungan Master Cheng Yen yang bunyinya kira-kira “Marah adalah menghukum diri sendiri atas kesalahan yang diperbuat orang lain.”#

Read Full Post »

Antara CSI dan C-netron

Pertama kali menyaksikan sebuah episode CSI beberapa tahun lalu (kalau tidak salah CSI: New York), mata saya seolah tak rela berkedip. Betapa cerdasnya tayangan film serial televisi bertajuk Crime, Scene, Investigation ini! TKP diperiksa dengan super cermat, setiap bukti, sekecil apapun ditelusuri, lantas dites di laboratorium yang canggih. Agar penonton lebih paham, serial ini dilengkapi dengan animasi yang menggambarkan terjadinya peristiwa pembunuhan. Ada pembunuhan yang tak disengaja, disengaja, terencana, dan ada pula kematian yang terjadi murni karena kecelakaan.

Pikiran saya hanya satu, kalau petugas penyelidik di seluruh dunia sehebat, seterlatih, setekun kru CSI, serta dilengkapi dengan fasilitas laboratorium yang sama canggihnya, maka tak ada lagi tempat bersembunyi bagi penjahat! Setiap pelaku kejahatan akan dapat dilacak, diungkap identitasnya, ditangkap, lantas dihukum sebagaimana mestinya. Dengan demikian, orang akan berpikir-pikir trilyunan kali sebelum mencabut nyawa manusia lain.

Sayang, beribu sayang, kini CSI baru dapat dinikmati oleh mereka-mereka yang sanggup membayar biaya berlangganan televisi kabel. Saya sendiri dapat menikmati tayangan televisi kabel karena baru ada free trial di apartemen tempat saya tinggal. Jadi sementara ini gratis…tis…!!! ^^

Berlangganan televisi kabel seakan mendapat hadiah berupa hiburan sekaligus pendidikan. Betapa tidak, tayangan dokumenter mengenai kebudayaan, alam, satwa liar, kuliner, hingga ilmu pengetahuan luar angkasa dan kedokteran, siap menemani kita 24 jam sehari. Belum lagi ditambah tayangan berita, ada berita umum, ada pula yang khusus berita ekonomi. Bagi penggemar film, aneka film yang angle pengambilan gambarnya keren-keren, alur ceritanya menarik, skenarionya cerdas, dan akting para pemainnya berkelas, dapat dinikmati. Sekali-kali ada selingan film komedi kurang bermutu sih, tapi tidak apa-apa, tinggal ganti channel saja. Untuk anak-anak, tersedia film-film kartun, mulai dari yang lucu, sampai yang ceritanya tidak kalah seru dengan film-film yang dibintangi manusia. Pokoknya banyak sekali yang didapat. Ilmu pengetahuan, perfilman, musik, hiburan, apa saja.

Bagaimana dengan masyarakat yang tidak mampu atau tidak bersedia membayar biaya berlangganan televisi kabel? Maka bersiaplah menyediakan buku-buku bacaan atau DVD film untuk hiburan di petang hari usai bekerja. Soalnya stasiun televisi nasional kita kebanyakan menayangkan acara-acara yang (maaf) tidak bermutu. Alih-alih CSI, penonton malah disuguhi C-netron yang alur ceritanya (maaf) super tolol, angle pengambilan gambarnya itu-itu saja (wajah pemeran di-close up hingga sebatas leher), skenarionya (sekali lagi maaf) ketahuan asal tulis, akting para pemainnya (kali ini maaf banget) tidak layak ditonton, dan sebagainya. Ada juga reality show seputar mencari orang hilang yang jelas-jelas tidak real, melainkan murni akting semata. Semuanya kaya akan kebodohan, ketamakan, kemarahan, kekerasan, serta kesewenang-wenangan. Sifat-sifat yang dikhawatirkan telah merasuki bangsa ini.

Hanya segelintir program berkelas yang dapat dinikmati masyarakat. Favorit saya adalah program Kick Andy, serta Mata Hati, Refleksi, Buletin Internasional, dan Da Ai Inspirasi ^^

Pernahkan Anda melongok ke dalam rumah-rumah kumuh di bantaran kali? Banyak sekali rumah yang dari luar terlihat amat kumuh, namun di dalamnya bertengger sebuah televisi besar dengan layar minimal 21 inchi. Bahkan pengungsi di Aceh yang (waktu itu) tinggal di tenda Yayasan Tzu Chi, rata-rata memiliki televisi. Meski mereka masih tidur di atas tikar. Wajar, karena setiap orang membutuhkan hiburan. Sedangkan hiburan yang paling mudah dijangkau dan murah, ya televisi.

Karena itu, televisi seyogianya dapat menjadi sarana pendidikan yang sangat efektif bagi masyarakat Indonesia. Kenyataannya toh hampir setiap orang, tua dan muda, menyalakan televisi dengan suka rela tanpa disuruh, setiap hari.

Bayangkan, andai tayangan televisi nasional kita dipenuhi oleh film-film dokumenter yang kaya akan khasanah ilmu pengetahuan, macam Discovery Channel. Film-film cerdas dan bermutu yang menggambarkan tentang cinta kasih, persahabatan, pengorbanan, pengabdian, perjuangan, kerja keras, kebenaran dan keadilan, pendeknya film yang membuat kita seolah memperoleh pencerahan usai menontonnya. Mungkin sedikit banyak akan berpengaruh terhadap pendidikan rakyat Indonesia.

Mungkin…

Read Full Post »