Feeds:
Posts
Comments

Archive for June, 2009

Mengakui Kesalahan

Kebebasan mengeluarkan pendapat… tiba-tiba istilah itu menjadi asing bagi saya. Bahasa Indonesia atau Bahasa Swahili-kah itu? Saya sungguh-sungguh tidak mengerti apa artinya. Bolehkah Anda menjelaskannya pada saya?

Setiap kali menjelang Hari Raya Idul Fitri, toko sepatu mungil milik orang tua saya, yang terletak di persimpangan jalan, akan ramai dibanjiri pembeli. Karena itu sejak sudah bisa berhitung, saya rajin membantu orang tua saya di toko, terutama saat-saat menjelang Idul Fitri. Orang tua saya selalu mengajar saya untuk melayani pembeli sebaik mungkin, seramah mungkin dan secepat mungkin, terutama bila toko sedang penuh sesak. Alasannya, bila pembeli cepat mendapatkan sepatu yang diinginkan, mereka tidak akan berlama-lama di toko, dan tempatnya bisa segera diisi oleh pembeli lain. Sayangnya sebagai anak yang kurang teliti, saya kadang hanya mengutamakan aspek kecepatan saja.

Suatu ketika, seorang bapak tua membeli sepasang sandal kulit, untuk dikenakan saat berangkat ke tempat Sholat Ied keesokan harinya. Sandal tersebut tinggal satu-satunya (sebelah kanan dipajang di rak, dan pasangan sebelah kirinya ada di gudang). Lantaran toko penuh sesak, Si Bapak sudah merasa cukup puas setelah mencoba sandal sebelah kanan saja, dan langsung membayarnya. Ia percaya, kalau yang sebelah kanan pas, tentunya yang sebelah kiri pas juga. Saya yang kurang teliti tidak menyadari bahwa sandal sebelah kiri belum dimasukkan ke dalam kotak, bersama dengan yang kanan! Jadi saya membungkus kotak berisi sebuah sandal itu dan memberikannya kepada Si Bapak.

Pada saat toko sudah tutup, kami sibuk membereskan dan mengembalikan barang-barang dagangan yang berserakan di toko. Papi saya yang teliti menemukan sebuah sandal kiri yang tidak bertuan.

“Bukannya kita hanya memajang sepatu atau sandal bagian kanan saja? Mengapa sandal kiri ini bisa ada di sini?”

Mami saya langsung ingat (karena sandal itu tinggal satu-satunya), sandal sebelah kiri itu tadinya sudah dibayar oleh seorang bapak tua.

Saya juga ingat pada bapak tua yang telah bersusah payah menembus kerumunan pembeli demi membeli sepasang sandal, dan terlihat gembira menemukan sandal yang pas dengan model yang disuka, lantas cepat-cepat mengeluarkan lembaran-lembaran uang dari dompet tuanya. Seharusnya ia bisa mengenakan sandal barunya besok pagi. Sekarang tidak mungkin lagi, gara-gara saya!

Mami saya berkata, “Ya sudahlah. Besok pagi Bapak itu pasti datang lagi untuk mengambil sandalnya yang sebelah kiri. Kita bangun pagi saja, supaya sudah siap kalau Si Bapak datang mengambil.”

Maka itulah yang kami lakukan.

Sholat Ied biasanya dilaksanakan pagi-pagi sekali. Sekitar pukul tujuh, umat Muslim telah selesai beribadah. Pukul tujuh kami sengaja membiarkan pintu samping terbuka bagian atasnya. Pukul tujuh lewat sedikit, Si Bapak datang, seperti yang sudah diperkirakan. Mami saya memberikan sandal yang telah dibungkus rapi itu kepada Si Bapak, sambil berkali-kali mengucapkan maaf.

“Maaf ya Pak, kemarin yang menjuali anak saya yang masih SD, tidak teliti, jadi cuma dijuali satu. Maaf ya, Bapak sampai harus repot-repot datang ke mari lagi. Rumahnya di mana tho, Pak? Wah… jauh juga ya, sekali lagi saya mohon maaf lho ya. Anak saya juga sudah saya marahi, biar lain kali lebih teliti lagi.”

Si Bapak adalah seorang yang baik hati dan ramah, sedikit pun ia tidak terlihat marah, malah tertawa lantaran menganggap hal ini lucu.

“Iya, saya juga sudah ndak lihat-lihat lagi, langsung saya bawa pulang. Pas di rumah dibuka, ternyata cuma satu, haha… Saya jadi ditertawakan oleh istri dan anak-anak. Haha… Ya sudah, saya mau ujung* dulu ya, terima kasih lho.”

Mungkin lantaran sejak awal Mami saya mengakui kesalahan ada pada pihak kami, dan meminta maaf dengan rendah hati, maka kesalahan yang saya perbuat berakhir dengan baik dan menyenangkan.

Namun hal meminta maaf dan mengakui kesalahan ini tidak selalu berakhir demikian. Menurut headline berita yang saya baca akhir-akhir ini, kejadiannya tidaklah seperti itu. Seorang ibu bernama PM (bisa jadi singkatan dari Perdana Menteri, Perancang Mode, Pembuat Makanan, Perajin Mebel, dan lain-lain) mengalami kejadian seperti di bawah ini.

Suatu hari Si Ibu memasuki sebuah toko sepatu untuk membeli sepasang sepatu. Setelah memilih sepasang sepatu yang disukai, ia bertanya kepada pelayan toko mengenai spesifikasi sepatu tersebut. Apakah terbuat dari kulit asli, apakah modelnya mutakhir, apakah sepatu tersebut masih baru atau sudah bertahun-tahun dipajang di toko, dan lain sebagainya.

Pelayan toko menjawab asal-asalan. Kulit kok, tapi gak tahu kulit asli atau palsu. Modelnya jelas mutakhir, baru minggu lalu keluar dari pabrik, Ibu mau nomor berapa?

Si Ibu menyebutkan nomor yang diinginkan, mencoba sepatu tersebut, lantas membayarnya dan membawanya pulang. Sesampainya di rumah barulah disadari bahwa pelayan toko amat sangat tidak teliti. Sepatu yang dibungkus tadi sama sekali bukan sepatu yang telah dicobanya. Sepatu yang ini terbuat dari plastik ringkih, bukan kulit, dan 2 nomor lebih kecil. Jelas-jelas tidak dapat dipakai, padahal Si Ibu telah mengeluarkan uang cukup banyak untuk membelinya.

Si Ibu lantas kembali ke toko sepatu tadi untuk menukarkan sepatunya. Alih-alih dimintai maaf, ia malah mendapat penjelasan yang tidak memuaskan dari pelayan toko, sepatu ini kok yang tadi dicoba, bukan yang lain… ah masa? Si Ibu meminta bertemu dengan pemilik toko, namun dihalang-halangi. Besok saja, besok saja…

Si Ibu yang pulang dengan perasaan kecewa lantas menuliskan pengalamannya dan mengirimkannya ke beberapa temannya yang tergabung dalam sebuah milis. ‘Toko Sepatu Dapatkan Pembeli dari Sepatu Fiktif’, demikian judul surat elektronik tersebut, yang lantas menyebar luas hingga ke milis-milis lainnya.

Alih-alih menyesal dan meminta maaf atas kecerobohannya, pihak toko sepatu justru merasa berang dan menuntut Si Ibu, dengan tuduhan pencemaran nama baik. Demi menjaga reputasinya, pemilik toko menyewa pengacara untuk membersihkan nama toko tersebut, sekaligus melindungi pelayan-pelayan tokonya yang telah berbuat ceroboh.

Jadilah Si Ibu, konsumen pembeli sepatu yang mestinya dilayani dengan baik bagaikan sudah jatuh tertimpa tangga. Mendapat sepatu yang sama sekali tidak cocok, tidak bisa dipakai, namun tetap harus membayar, dituntut, dipenjara, harus membayar denda pula!

Kebebasan mengeluarkan pendapat… janganlah engkau menjadi seperti kuda terbang atau peri yang hanya hidup dalam buku-buku dongeng zaman dulu…

*ujung: istilah yang digunakan di kota saya, artinya mengunjungi sanak saudara dan handai taulan ketika Hari Raya Idul Fitri tiba.

Read Full Post »