Feeds:
Posts
Comments

Archive for November, 2009

2012 (bukan resensi film)

Hari ini ada berita baru di televisi (selain perkembangan kasus KPK-Williardi-dsb-lsp-etc). Beberapa tokoh keagamaan mengeluarkan fatwa haram atas film 2012 yang sekarang sedang diputar di gedung-gedung bioskop. Alasannya, karena film tersebut ditakutkan akan menyesatkan masyarakat pada umumnya, dan kaum Muslim pada khususnya.

Huaaah, segitu seriusnya para tokoh keagamaan ini menanggapi sebuah film yang jelas-jelas fiksi. Hanya saja, memang pencetus ide film ini jeli dalam menangkat tema ‘Kiamat tahun 2012’ yang kini ramai dibicarakan orang.

Menurut saya, rakyat Indonesia tidak segitu bodohnya, sampai menelan mentah-mentah dan mempercayai keseluruhan cerita yang dikisahkan di film. Lha wong jelas-jelas fiksi, produksi Hollywood, lage!!! Kalau ada yang terlalu bego sampai menelan mentah-mentah semuanya, ya salahkanlah diri sendiri kenapa bisa sebego itu, jangan menyalahkan film.

Selain itu, rakyat Indonesia menghadapi banyak masalah yang jauuuuuh lebih pelik, seperti kelaparan, kurang gizi, kekeringan, banjir, fenomena anak jalanan, penggusuran, bentrokan, pelecehan seksual, kejahatan, penipuan, kaki gajah, dan yang paling populer akhir-akhir ini, korupsi. Dengan segitu banyaknya masalah, paling-paling film 2012 hanya akan dipandang sebagai hiburan saja (memang itu manfaat utama film, yaitu menghibur).

Tapi kita lihat sisi positifnya saja. Bagaimanapun, para tokoh agama tersebut sebenarnya bermaksud baik, yaitu melindungi umatnya dari pengaruh-pengaruh yang bisa menyesatkan.

Hanya saja, menurut saya, pendekatan yang diambil, kurang bijaksana.

Kita tidak bisa melapisi seluruh dunia dengan permadani. Karena itu, jauh lebih praktis jika masing-masing orang mengenakan sepatu pelindung kaki.

Demikian juga dengan para tokoh keagamaan. Sekeras apapun mereka berusaha, pengaruh-pengaruh buruk dan menyesatkan akan selalu ada. Tidak mungkin melarang semua pengaruh buruk demi melindungi umat. Lebih baik, bekali umat dengan ajaran agama dan kepercayaan yang benar, agar iman mereka tetap teguh, sehebat apapun godaan yang mereka jumpai.

Selain itu, saya tidak begitu setuju dengan penggunan kata ‘takut’. Kenapa kita sedikit-sedikit merasa takut, lalu bertindak kurang rasional. Makin dilindungi, makin seseorang merasa takut. Mengapa tidak mengajaknya menghadapi saja rasa takut itu.

Contohnya seperti di bawah ini:

Dulu waktu masih kecil, adik saya yang nomor dua, takut sekali kepada yang namanya anjing. Maklum, sejak kecil ia diasuh oleh Si Mbok, yang kebetulan juga sangat takut terhadap anjing. Setiap kali bermain ke rumah saudara saya yang memelihara anjing, adik saya akan bersembunyi di balik kain Si Mbok. Kalau digonggongi anjing, hampir bisa dipastikan ia akan menangis. Saya sendiri lebih beruntung. Sejak kecil, encek saya telah mengajarkan saya untuk berteman dengan anjing.

Lama-lama, timbul rasa iba juga melihat adik saya itu.

Suatu hari, salah seekor anjing betina milik saudara saya melahirkan untuk yang kesekian kalinya. Semua anaknya ada 6 ekor dan lucu-lucu! Inilah saat yang tepat, pikir saya. Adik saya harus diajari menghadapi rasa takutnya. Ia perlu dibuka pikirannya, agar melihat anjing sebagai sahabat manusia yang manis, lucu, dan setia.

Suatu sore kami pergi bermain ke rumah saudara saya (kali ini tanpa mengajak Si Mbok). Saya ajak dia melihat dan menggendong anak-anak anjing yang masih amat kecil (sebesar tikus). Dia terlihat senang, meski masih takut kalau melihat sang induk.

Saya terus mengajak adik saya bermain dengan anak-anak anjing, setiap kali ada waktu. Dimulai dari berteman dengan anak anjing (yang belum punya gigi jadi tidak bisa menggigit), hingga si doggie bertumbuh besar (giginya tajam-tajam), lama-lama adik saya tidak takut lagi kepada anjing. Sekarang ia justru menjadi seorang penyayang anjing…!!! (meskipun belum bisa piara anjing sendiri ya, huhu…)

Kenapa takut pada film 2012? Tonton saja (kalau memang suka nonton film fiksi yang seru-seru). Sehabis nonton, kita lihat apakah kita:

a. Merasa terhibur (berarti filmnya bagus)

b. Tidak merasa terhibur (berarti filmnya jelek)

c. Menjadi sesat dan takut akan kiamat (berarti kitanya begooo banget…)

Peace…!!! ^^

Advertisements

Read Full Post »

Bermimpi dan bernyanyi

Dulu, semasa kecil saya hanya bisa menikmati alunan suara biduan dan biduanita yang menyanyikan Ave Maria gubahan Schubert. Hati ini rasanya ingin turut menyanyikan lagu seindah itu. Namun apa daya suara tak sampai. Nadanya terlalu tinggi untuk diraih. Alhasil, saya hanya dapat bermimpi.

Sejak Charlotte Church kecil berusia 12 tahun mengeluarkan albumnya yang bertitel ‘Voice of an Angel’, saya langsung jatuh cinta pada suaranya yang serupa malaikat cilik. Saya terus membeli album-albumnya, sambil berpikir bahwa suara seperti ini hanya dimiliki oleh mereka-mereka yang berbakat alam. Orang dengan suara cempreng seperti saya hanya bisa mendengarkan dan bermimpi.

Ketika Charlotte Church beranjak dewasa, ia menyanyikan lagu ‘Bridge Over Troubled Water’ dengan gaya seriosa yang amat indah. Saya yakin, ketika bersin pun suaranya pasti merdu! Apalagi ketika menyanyikan ‘The Prayer’ bersama Josh Groban, hasilnya luar biasa! Saya bertepuk tangan usai menyaksikan konsernya dari layar kaca (norak ye!!!). Pernah beberapa kali saya mencoba untuk turut menyanyi, namun nadanya terlalu tinggi. Daripada mengeluarkan suara seperti orang tercekik, saya memilih berhenti menyanyi. Dan kembali bermimpi.

Untunglah hal ini tidak berlangsung lama. Ada dua hal yang membuat saya memutuskan untuk berhenti bermimpi, dan mulai sungguh-sungguh menyanyi.

Yang pertama adalah seorang teman saya ketika kuliah di FKIP Atma Jaya dulu, yaitu Sylvia Onggo (sekarang Sylvia Kusuma ^^). Teman saya yang satu ini sudah hobi menyanyi sejak dulu. Suaranya memang indah. Pernah, sewaktu masih kuliah, ia terpilih mewakili Indonesia dalam lomba menyanyi ‘Asia Bagus’.

Singkat cerita, setelah bertahun-tahun tidak berjumpa, saya kembali bertemu dengannya, dalam sebuah acara reuni. Teman saya ini bercerita, bahwa setelah menikah ia mengambil kursus vokal klasik dan berlatih menyanyi dengan serius. Saat itu, sempat ia nyanyikan sepenggal lagu ‘The Lord’s Prayer’. Wow, suaranya yang sejak dulu sudah bagus, kali ini berubah menjadi istimewa! Luar biasa! Saya jadi terinspirasi! Vokal klasik yang ia tekuni membuat suaranya menjadi seindah ini. Berkat latihan dan bimbingan guru vokal, suaranya kian matang.

Yang kedua adalah status di Yahoo Messenger teman sekantor saya yang bernama Paulus. Pernah ia memasang status sebagai berikut ‘When we wake up in the morning, we have two simple choices. Go back to sleep and dream, or wake up and chase those dreams!’

Kedua hal tersebut mendorong saya untuk segera bangun dari mimpi, dan mencari kursus vokal klasik! Teman saya Sylvia memberikan nomor telepon Jakarta Singing School, yang langsung saya tindak lanjuti. Menelepon, mendaftar, audisi, dan mengikuti kursus vokal. Pada bulan November 2006, saya resmi menjadi salah satu siswi Jakarta Singing School. Yippieee…!!!

Kini, 3 tahun kemudian, apakah mimpi saya sudah tercapai? Jelas jawabannya adalah: belum. Soalnya, suara saya belum ada sekuku pink-nya Charlotte Church.

Namun ada beberapa hal yang patut disyukuri. Setidaknya suara saya sekarang cukup tinggi untuk menyanyikan lagu ‘The Prayer’. Sehingga ketika ada kesempatan untuk berduet dengan Mr. D yang ganteng dan bersuara merdu, saya merasa cukup pede untuk setidaknya mencoba. Waktu gladi bersih, pianis bertanya, “nadanya seberapa?” Berkat latihan vokal selama 3 tahun saya dapat menjawab “disamakan dengan aslinya saja.” Tanpa latihan vokal, diturunkan beberapa nada saja mungkin suara saya masih belum ‘nyampe’. ^^

Lagu Ave Maria gubahan Schubert kini hidup dalam diafragma dan tenggorokan, bukan hanya dalam impian. Sewaktu pemberkatan pernikahan di gereja, sebagai pengantin yang mandiri, saya nyanyikan sendiri lagu ini ^^ Demikian pula dengan lagu Ave Maria gubahan Bach. Selanjutnya, saya ingin belajar Ave Maria gubahan Caccini ^^

Awal mengikuti les vokal, saya diajak bergabung dalam Paduan Suara Eliata sebagai alto. Kira-kira setahun yang lalu, saya disuruh pindah ke sopran. Menurut laoshi, dengan bantuan teknik yang baik dan benar, jangkauan nada memang bisa bertambah luas. Dulu, saat melihat partitur lagu Kein hamlein wächst auf erden, dan mendapati ada nada F yang sedang (bukan yang tinggi), rasanya sudah kepingin kabur. Sekarang??? Hajar, bleh!!! ^^

Seorang teman saya iseng-iseng bertanya, “berapa banyak yang sudah kau keluarkan untuk belajar vokal selama 3 tahun?”

Saya cuma bisa nyengir dan menjawab, “pokoknya cukuplah, buat jalan-jalan ke Tiongkok!”

Ya, jalan-jalan ke Tiongkok dan mendaki Tembok Besar adalah salah satu impian saya juga. Tapi dengan jumlah sekian, paling banter saya hanya bisa jalan-jalan selama 2 minggu. Sedangkan dengan mengikuti les vokal, saya bisa menyanyi seumur hidup! Dan mengubah hampir seumur hidup saya yang tadinya hanya ‘bermimpi’ menjadi sungguh-sungguh ‘beryanyi’ ^^

Read Full Post »