Feeds:
Posts
Comments

Archive for February, 2010

Tahun 80-an. Seorang bapak berkacamata dengan baret hitamnya yang khas memperlihatkan sebuah gambar ke arah kamera, sambil berkata, “Gambar ayam berkokok, hasil karya ###, dari SD ### bagus… Gambar pak tani, dari adik kita ###, TK Pertiwi ### bagus… Gambar pemandangan…” dan seterusnya.

Bertahun-tahun saya menjadi pemirsa setia acara ‘Gemar Menggambar’ produksi  Televisi Republik Indonesia. Mungkin kalau dijumlah total, sudah ribuan gambar kiriman anak-anak dari seluruh Indonesia yang saya saksikan. Semuanya punya satu kesamaan, yaitu bagus. Tidak ada satu pun yang jelek.

Padahal kenyataannya… ada saja gambar yang jelek. Atau bahkan luar biasa jelek. Kadang saya bertanya-tanya, apakah bapak berkacamata ini tidak takut dinilai tidak punya selera? Tidak punya cita rasa seni? Kok gambar jelek dibilang bagus?

Lalu tiba-tiba pada suatu hari, saya temukan jawabannya. Bapak bertopi ini selalu mengatakan bagus, karena beliau tidak sok tahu! Beliau tidak ingin mendahului Yang Maha Kuasa.

Saat itu, mungkin si pengirim yang masih duduk di bangku SD baru bisa membuat gambar cakar ayam. Namun tidak menutup kemungkinan kelak ia akan bisa membuat karya lukis yang mengagumkan. Saat itu gambar yang dikirim masih berupa coret-coretan. Namun, siapa tahu kelak si anak bisa jadi seniman pelukis abstrak yang jempolan.

Kita tidak akan pernah tahu. Konon, waktu SD dulu  Elvis Presley cilik mendapat nilai C untuk mata pelajaran musik. Di masa SD, Albert Einstein pernah dianggap sebagai pelajar yang daya pikirnya lambat. Tapi lihat apa yang terjadi ketika mereka dewasa.

Segalanya mungkin. Lihatlah putra Anda yang sedang berlarian di atas rumput sambil merentangkan kedua tangan, seolah ingin terbang. Konon, dulu Wright bersaudara juga begitu. Lihatlah anak perempuan tetangga yang menari berputar-putar tidak karuan. Barangkali mirip masa kecil Isadora Duncan?

Anak kecil, serupa dengan tunas yang bertumbuh. Mungil, namun sarat akan asa. Pohon redwood 115,2 meter yang merupakan pohon tertinggi di dunia, dulunya juga bermula dari sebuah tunas mungil, kok.

Kadang ada bakat dan kemampuan yang begitu jelas terlihat. Namun banyak juga bakat dan kemampuan yang tersembunyi. Karenanya, tidak adil jika kita menghakimi anak-anak, dan menuduh mereka kurang pandai, kurang berbakat, dan sebagainya. Lebih baik kita bimbing dan kita semangati, agar mereka dapat bertumbuh dengan maksimal.

Seperti halnya semua gambar adalah ‘bagus’, karena kata tersebut menyiratkan harapan Pak Tino Sidin. Harapan bahwa semua anak Indonesia gemar menggambar. Kalau Pak Tino Sidin dulu mengatakan jelek… jelek… bisa jadi anak-anak Indonesia tidak akan merasa pede untuk mengirimkan gambar hasil karya mereka, dan hilang semangat untuk berkarya.

Selain itu, boleh ya saya tambahkan sedikit catatan dari pengalaman pribadi ^^

Kalau Anda merasa tertarik pada satu bidang, kesenian atau apa saja, jangan pikir panjang, belajar saja! Tekuni saja! Hajar! Singkirkan pemikiran dan kebimbangan seputar Anda berbakat atau tidak, terlalu tua untuk belajar atau tidak.

Kita tidak akan pernah tahu kita berbakat atau tidak, sebelum setidaknya mencoba.  Minimal, dengan belajar  kita akan menjadi lebih pintar. Selain itu, mengutip nyanyian Jonathan Knight dari New Kids On The Block, age is just a number. Jangan pikir Anda terlalu tua untuk belajar. Saya sendiri baru belajar vokal klasik di usia 28 tahun. Memang sih, dengan les vokal, barangkali suara saya tetap tidak akan pernah menjadi seindah Mbak Church, karena kadar bakat yang jauuuuuh berbeda. Namun setidaknya saya hari ini lebih baik daripada saya beberapa tahun lalu, sebelum berlatih vokal klasik ^^

Pernah saya dengar seorang musisi mengatakan, bila tidak berbakat lebih baik tidak usah menekuni musik, karena hasilnya pasti tidak bagus.

Namun yang terus saya ingat adalah perkataan engkoh sepupu saya Koh Liang, pada saat saya masih SD dulu. Katanya, bakat itu cuma berpengaruh sebesar 1%, yang 99% adalah kerja keras dan latihan terus-menerus. Itulah yang saya yakini, sampai sekarang ^^

Advertisements

Read Full Post »

Terpesona selama 4 jam

Pengalaman terpesona selama kurang lebih 4 jam ini, biasanya saya alami setiap tahun sekali. Semuanya bermula pada tahun 2006.

Pada saat itu, seorang rekan bertugas meliput pentas Teater Koma, yang bertajuk ‘Festival Topeng’. Usai liputan, ia bercerita tentang serunya pentas teater tersebut. Saya yang belum pernah menonton pentas Teater Koma, tapi sudah lama mendengar nama besarnya, jelas tertarik. Setelah memprovokasi, dan menggalang persatuan dan kesatuan di kalangan teman sekantor, akhirnya ada beberapa orang yang bersedia diajak pergi menonton bersama-sama. Kami sepakat membeli tiket paling murah, menonton di balkon, seharga 30 ribu rupiah per tiket. Selain sesuai dengan isi kantong, tiket di balkon merupakan satu-satunya yang tersisa, karena waktu sudah mepet.

Saya yang bertugas memesan dan membelikan tiket, karena lokasi penjualan tiket tak jauh dari tempat kos saya di kawasan Karet Sawah, Jakarta Selatan. Pada satu malam yang berhujan, sepulang kerja saya naik ojek menuju ke sebuah alamat di kawasan Setiabudi Barat. Mengarungi banjir setinggi lutut. Tak pelak lagi, tukang ojek yang piawai perlu mendapat acungan jempol. Upaya yang sepadan, karena saya berhasil pulang dengan mengantongi 6 lembar tiket. Cihuy…!!!

Itulah kali pertama saya terpesona selama 4 jam. Hebat nian para pemain teater itu. Misalnya, ada satu adegan, di mana para pemain bicara dengan suara berbisik lantaran sedang membicarakan suatu rahasia. Namun ucapan mereka amat jelas tertangkap oleh telinga!

Kali kedua, tahun 2007, saya kembali terpesona dengan pentas Teater Koma yang bertajuk ‘Kunjungan Cinta’. Kali itu, kebetulan kedua orangtua saya  sedang berada di Jakarta. Jadilah saya ajak orang tua, adik, seorang tante, dan saudara sepupu pergi menonton. Pengalaman yang mengesankan bagi mereka. Meski ibu dan tante saya sempat tertidur selama beberapa saat (karena pentas teaternya malam, jadi mereka sudah mengantuk), namun adegan di mana Pak Butet dan ‘keluarganya’ pergi berkeliling kota amat membuat mereka terpingkal-pingkal.

Kali ketiga, tahun 2008, nyaris saja saya kehabisan tiket! Saya baru ngeh kalau Teater Koma pentas lagi, setelah pentas itu sendiri berjalan selama kurang lebih seminggu (biasanya mereka pentas selama 2 minggu). Akhirnya, meskipun mendapat tempat duduk yang kurang strategis dan tercerai-berai, kami berhasil juga menonton pentas ‘Kenapa Leonardo’. Terkagum-kagum kami menyimak permainan Budi Ros yang berperan sebagai Leonardo. Jago bener maennya! Konon, Evald Flisar sang penulis drama aslinya pun terpesona. Maka terpesona pulalah kami selama 4 jam lebih!

Kali keempat, saya tidak mau mengulang kesalahan yang sama. Sengaja saya mengikuti milis Teater Koma, agar selalu mendapatkan berita terkini. Pada tahun 2009, kami sukses mendapatkan tiket di tempat yang sangat nyaman dan strategis, untuk menyaksikan ‘Republik Petruk’. Lagi-lagi, penampilan Budi Ros dan kawan-kawan begitu memikat! Sambil tertawa terpingkal-pingkal, kami terpesona selama 4 jam. Ah, adakah tontonan live yang lebih memesona daripada kelompok teater ini?

Kali kelima, baru saja terjadi, tepatnya tanggal 7 Februari lalu. Kali ini yang diusung adalah kisah ‘Sie Jin Kwie’. Pinyin-nya Xue Rengui, tulisan kanjinya 薛仁贵. Sebagai penggemar kisah-kisah dunia persilatan, saya penasaran, kok belum pernah mendengar nama Sie Jin Kwie ya? Saya tahunya cuma Pendekar Harum, Yo Ko, Kwee Ceng, Thio Bu Kie, 108 Pendekar Liangshan, Pendekar Negeri Tayli, dan lain sebagainya. Kata garwa (sigaran nyawa: belahan jiwa) saya, kisah ini rupanya kurang populer di Hong Kong, Taiwan dan sebagainya, jadi jarang difilmkan. Nah, tak kurang kan, motivasi untuk kembali menyaksikan pentas Teater Koma? Selain sebagai penggemar fanatik, saya sekaligus bisa tahu kisah Sie Jin Kwie. Kali ini kami mendapat tempat duduk nomor 4 dari depan. Wow, ternyata menonton dari jarak dekat lebih mengasyikkan! Apalagi pemain favorit saya, Budi Ros, berperan sebagai dalang yang sering-sering muncul untuk mengocok perut penonton.

Pulang menonton, saya memberitahu garwa, bahwa ada teman saya, Tedjo, yang selalu menonton pentas Teater Koma 2 kali. Awal dan akhir pementasan. Katanya, selalu ada improvisasi yang menarik dari para pemain.

Rupanya garwa saya tertarik. “Kita nonton lagi aja,” ujarnya.

Jadilah hari ini saya menelepon lagi, dan mendapat 4 tiket untuk pementasan tanggal 21 Februari mendatang. Baris ketiga dari depan, di bagian tengah. Lho, kok 4? Iya, saya bercerita pada Wi Laoshi, dosen saya di UI dulu, dan beliau tertarik untuk ikut menonton. Sampai ketemu tanggal 21 Februari nanti ya, Laoshi ^^

Read Full Post »