Feeds:
Posts
Comments

Archive for February 9th, 2010

Terpesona selama 4 jam

Pengalaman terpesona selama kurang lebih 4 jam ini, biasanya saya alami setiap tahun sekali. Semuanya bermula pada tahun 2006.

Pada saat itu, seorang rekan bertugas meliput pentas Teater Koma, yang bertajuk ‘Festival Topeng’. Usai liputan, ia bercerita tentang serunya pentas teater tersebut. Saya yang belum pernah menonton pentas Teater Koma, tapi sudah lama mendengar nama besarnya, jelas tertarik. Setelah memprovokasi, dan menggalang persatuan dan kesatuan di kalangan teman sekantor, akhirnya ada beberapa orang yang bersedia diajak pergi menonton bersama-sama. Kami sepakat membeli tiket paling murah, menonton di balkon, seharga 30 ribu rupiah per tiket. Selain sesuai dengan isi kantong, tiket di balkon merupakan satu-satunya yang tersisa, karena waktu sudah mepet.

Saya yang bertugas memesan dan membelikan tiket, karena lokasi penjualan tiket tak jauh dari tempat kos saya di kawasan Karet Sawah, Jakarta Selatan. Pada satu malam yang berhujan, sepulang kerja saya naik ojek menuju ke sebuah alamat di kawasan Setiabudi Barat. Mengarungi banjir setinggi lutut. Tak pelak lagi, tukang ojek yang piawai perlu mendapat acungan jempol. Upaya yang sepadan, karena saya berhasil pulang dengan mengantongi 6 lembar tiket. Cihuy…!!!

Itulah kali pertama saya terpesona selama 4 jam. Hebat nian para pemain teater itu. Misalnya, ada satu adegan, di mana para pemain bicara dengan suara berbisik lantaran sedang membicarakan suatu rahasia. Namun ucapan mereka amat jelas tertangkap oleh telinga!

Kali kedua, tahun 2007, saya kembali terpesona dengan pentas Teater Koma yang bertajuk ‘Kunjungan Cinta’. Kali itu, kebetulan kedua orangtua saya  sedang berada di Jakarta. Jadilah saya ajak orang tua, adik, seorang tante, dan saudara sepupu pergi menonton. Pengalaman yang mengesankan bagi mereka. Meski ibu dan tante saya sempat tertidur selama beberapa saat (karena pentas teaternya malam, jadi mereka sudah mengantuk), namun adegan di mana Pak Butet dan ‘keluarganya’ pergi berkeliling kota amat membuat mereka terpingkal-pingkal.

Kali ketiga, tahun 2008, nyaris saja saya kehabisan tiket! Saya baru ngeh kalau Teater Koma pentas lagi, setelah pentas itu sendiri berjalan selama kurang lebih seminggu (biasanya mereka pentas selama 2 minggu). Akhirnya, meskipun mendapat tempat duduk yang kurang strategis dan tercerai-berai, kami berhasil juga menonton pentas ‘Kenapa Leonardo’. Terkagum-kagum kami menyimak permainan Budi Ros yang berperan sebagai Leonardo. Jago bener maennya! Konon, Evald Flisar sang penulis drama aslinya pun terpesona. Maka terpesona pulalah kami selama 4 jam lebih!

Kali keempat, saya tidak mau mengulang kesalahan yang sama. Sengaja saya mengikuti milis Teater Koma, agar selalu mendapatkan berita terkini. Pada tahun 2009, kami sukses mendapatkan tiket di tempat yang sangat nyaman dan strategis, untuk menyaksikan ‘Republik Petruk’. Lagi-lagi, penampilan Budi Ros dan kawan-kawan begitu memikat! Sambil tertawa terpingkal-pingkal, kami terpesona selama 4 jam. Ah, adakah tontonan live yang lebih memesona daripada kelompok teater ini?

Kali kelima, baru saja terjadi, tepatnya tanggal 7 Februari lalu. Kali ini yang diusung adalah kisah ‘Sie Jin Kwie’. Pinyin-nya Xue Rengui, tulisan kanjinya 薛仁贵. Sebagai penggemar kisah-kisah dunia persilatan, saya penasaran, kok belum pernah mendengar nama Sie Jin Kwie ya? Saya tahunya cuma Pendekar Harum, Yo Ko, Kwee Ceng, Thio Bu Kie, 108 Pendekar Liangshan, Pendekar Negeri Tayli, dan lain sebagainya. Kata garwa (sigaran nyawa: belahan jiwa) saya, kisah ini rupanya kurang populer di Hong Kong, Taiwan dan sebagainya, jadi jarang difilmkan. Nah, tak kurang kan, motivasi untuk kembali menyaksikan pentas Teater Koma? Selain sebagai penggemar fanatik, saya sekaligus bisa tahu kisah Sie Jin Kwie. Kali ini kami mendapat tempat duduk nomor 4 dari depan. Wow, ternyata menonton dari jarak dekat lebih mengasyikkan! Apalagi pemain favorit saya, Budi Ros, berperan sebagai dalang yang sering-sering muncul untuk mengocok perut penonton.

Pulang menonton, saya memberitahu garwa, bahwa ada teman saya, Tedjo, yang selalu menonton pentas Teater Koma 2 kali. Awal dan akhir pementasan. Katanya, selalu ada improvisasi yang menarik dari para pemain.

Rupanya garwa saya tertarik. “Kita nonton lagi aja,” ujarnya.

Jadilah hari ini saya menelepon lagi, dan mendapat 4 tiket untuk pementasan tanggal 21 Februari mendatang. Baris ketiga dari depan, di bagian tengah. Lho, kok 4? Iya, saya bercerita pada Wi Laoshi, dosen saya di UI dulu, dan beliau tertarik untuk ikut menonton. Sampai ketemu tanggal 21 Februari nanti ya, Laoshi ^^

Advertisements

Read Full Post »