Feeds:
Posts
Comments

Archive for April, 2010

Si Kecil memang baru berusia sekitar 6-7 minggu. Ketika di-USG hari Sabtu lalu, yang terlihat baru kantungnya saja. Si Kecil sendiri belum terlihat, saking kecilnya. Namun beberapa pemikiran telah dilakukan. Antara lain siapa namanya kelak. Karena belum tahu jenis kelaminnya, maka kami (garwa dan saya) mencari nama cowok maupun cewek.

“Bagaimana kalau namanya A?”

Saya lantas mengingat-ingat. Dulu, murid saya yang bernama A biasanya pintar-pintar, tapi bandel-bandel juga.

“J saja,” usul saya. “Dulu, murid saya yang namanya J, anaknya baik, pinter, ganteng pula!”

Kalo untuk cewek, saya suka nama S atau F. Soalnya dua orang yang saya kenal bernama S dan F sama-sama baik, cantik, pintar, dan punya suara merdu, hehe… ^^

Ya, kira-kira begitulah.

Lalu beralih ke bagaimana nanti dia akan memanggil orang tuanya. Ada beberapa set pilihan. Ayah dan ibu (atau bunda) sih bagus ya, tapi terkesan formal. Bisa juga papa dan mama, atau papi dan mami.

Garwa saya mengusulkan, daddy and mommy. Tapi menurut saya, kok terlalu kebarat-baratan ya. Bagaimana kalau kejawa-jawaan saja, pak’e dan bu’e?

“Dad, please buy me some ice cream.”

“Pak’e, kula ditumbasaken es grim nggih?”

“爸,买冰淇淋给我吧。”

“Pa (atau Pi), beliin es krim ya.”

Mana yang lebih ok ya? Atau keempat-empatnya saja? ^^

Read Full Post »

Rabu 14 April 2010 terjadi peristiwa berdarah di Koja, Tanjung Priuk, Jakarta Utara. Bentrokan tak terelakkan, ketika petugas Satpol PP hendak menggusur paksa makam Mbah Priuk, seorang tokoh penyebar agama Islam di Batavia pada abad ke-18. Sedangkan warga mempertahankan makam tempat ziarah umat Islam tersebut. Bentrokan berakhir tragis, dengan 3 orang korban meninggal dunia dan ratusan korban luka-luka berat maupun ringan.

Kamis 15 April 2010 (mengutip artikel Kompas 16/4 ‘Kesepakatan “Koja” Tercapai’) Akhirnya mediasi konflik antara keluarga ahli waris Al Imam Al Arif Billah Al Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan PT Pelindo II menghasilkan sembilan kesepakatan.

Pada satu hari, Satpol PP seolah diadu dengan warga, kedua belah pihak unjuk kekuatan, seakan perang melawan penjajah atau alien serangga raksasa di film Starship Troopers.

Kedua belah pihak sama-sama punya alasan kuat. Pihak Satpol PP sekedar menjalankan tugas dari atasan. Sedangkan warga berusaha mempertahankan makam Mbah Priuk, tempat keramat yang juga bernilai sejarah tinggi (yang memang seharusnya dijaga dan dilestarikan, bukannya digusur!!!).

Pada hari berikutnya, langsung dicapai kesepakatan antara ahli waris makam Mbah Priuk, Pemprov DKI Jakarta, dan PT Pelindo II. Makam tetap dipertahankan, dan bahkan dijadikan cagar budaya. Akan dibuat jalan khusus menuju makam, sehingga peziarah tak perlu bersinggungan jalan dengan pengguna Terminal Peti Kemas.

Nah, pertanyaan saya, kalau memang masalah ini bisa diselesaikan dengan relatif mudah, (dalam satu hari saja kesepakatan langsung tercapai), kenapa tidak sejak awal diadakan musyawarah???

Kenapa musti menunggu jatuhnya korban jiwa? Korban luka-luka? Apakah pemerintah sedemikian tidak peduli sehingga memilih menggunakan cara (yang dikira) mudah (seperti biasa) dengan mengerahkan Satpol PP?

Hanya saja, di luar dugaan, warga melawan dengan sekuat tenaga. Ternyata, cara penuh kekerasan ini pun terbukti jauh dari mudah, dan malah menumpahkan darah.

Pemprov DKI Jakarta yang baik, saya tahu mengemban tugas sebagai pemerintah tidaklah mudah.

Setiap hari harus mengurus dan menyelesaikan berbagai masalah.

Namun ingatlah bahwa nyawa manusia bukan barang murah.

Pimpinlah dan aturlah kami dengan baik, jangan gegabah.

Toh di setiap kamus Bahasa Indonesia tercantum kata ‘musyawarah’.

Kata itu jangan hanya dijadikan pelengkap, tapi gunakanlah.

Jangan menjadikan kekerasan sebagai satu-satunya jalan. Banyak jalan ke Roma. Carilah jalan paling bijaksana, yang menjauhkan rakyat dari sengsara.

Akhirnya suara warga Koja didengar juga. Namun bagaimana ya, dengan warga Cina Benteng di tepi Sungai Cisadane yang pemukimannya juga akan digusur? Siapa yang akan mendengar suara mereka?

Read Full Post »

Meski tidak bisa dibilang sering, namun saya pernah mengalami beberapa hal misterius dalam hidup ini. Lantaran tidak sebrilyan Mr. Holmes, M. Poirot, Miss Marple, Kapten Polisi Kosasih dan Gozali, Pasukan Mau Tahu, Mr. Parker Pyne ataupun Mr. Satterthwaite, hingga kini pun saya tidak tahu apa penyebabnya, atau mengapa bisa begitu.

Nah, pembaca budiman yang bisa memberi tahu saya apa yang sebenarnya terjadi, akan mendapatkan hadiah berupa… ditraktir makan seporsi soto Betawi ‘Babe Gue’ di Pasar 8 Alam Sutera kios KJ-12, di BSD Tangerang…!!! (Sekalian promosi soto Betawi ‘Babe Gue’ milik Herlambang dan Anita yang rasanya maknyusss tersebut…) Tapi ongkos transportasi pulang-pergi ditanggung sendiri ya, hehe…^^

Begini ceritanya. Pernah, pada satu masa dalam hidup ini, saya memiliki telepon seluler hingga 3 buah. Bukan bermaksud sok kaya, karena 2 di antaranya adalah lungsuran alias bekas milik adik-adik saya. Yang satunya lagi lagi adalah ponsel CDMA yang murah meriah, khusus untuk menelepon orang tua di rumah. Karena ketiganya merupakan ponsel bekas yang murah-meriah, maka saya tidak pernah terpikir akan ada orang yang mau susah-susah mengambilnya.

Namun pada suatu siang di kantor, ketiga ponsel saya itu, yang tersimpan di dalam sebuah kantong kain berwarna kuning-hijau, lenyap begitu saja!!! Saya langsung dag-dig-dug-duerrr karena ketiga ponsel tersebut amat penting. Bayangkan saja kalau saya kehilangan nomor telepon semua orang, dan harus mulai mencatat lagi satu-persatu…

Beberapa orang teman langsung membantu mencari dengan cara menelepon ketiga nomor ponsel tersebut. Hasilnya, 1 ponsel dalam kondisi mati, dan 2 ponsel lainnya dalam kondisi hidup, namun tidak diangkat.

Nah, heran kan? Kalau ponsel dicuri, tentunya langsung dimatikan. Karena ada 2 ponsel yang masih bisa ditelepon, maka saya merasa sedikit optimis. Namun ke mana gerangan ponsel-ponsel saya???

Pertanyaan ini baru terjawab sekitar 10 menit kemudian. Seorang teman yang baru mengetahui bahwa saya kehilangan ponsel, menceritakan apa yang dialaminya beberapa saat lalu. Saat berada di pantry kantor, teman saya ini serasa mendengar suara ponsel berbunyi, namun tidak jelas dari mana asalnya. Sepertinya dari arah kulkas, katanya. Tapi ia tidak mengecek, karena merasa tidak mungkin. Paling-paling salah dengar. Mana ada orang menaruh ponsel di kulkas!

Segera saya lari ke pantry dan membuka kulkas. Hasilnya nihil. Kemudian saya membuka pintu freezer, dan … voila! Kantong kuning-hijau saya beserta ketiga ponsel di dalamnya, bertengger dengan manis di dalam dinding freezer!!!

Ketiganya terasa dingin bagai es, dan sedikit basah. Dua ponsel sudah mati. Satu ponsel yang masih hidup langsung saya matikan, karena takut rusak. Setelah temperatur ponsel kembali normal, saya hidupkan ketiga-tiganya, untunglah semuanya masih berfungsi dengan baik.

Nah, aneh kan? Menurut teman-teman yang budiman, kenapa dan bagaimana ya, ponsel saya bisa nangkring di dalam freezer??? ^^

Read Full Post »

Passio pertama

Jumat 2 April kemarin, kaki saya sempat pegal-pegal lantaran harus berdiri diam selama lebih dari 60 menit. Bukan karena dihukum lho! Saya berdiri di ujung sebelah kiri, rekan-rekan saya Fiona dan Marlon berdiri di ujung sebelah kanan. Sedangkan Romo Purwanto yang memimpin misa berada di tengah-tengah, agak ke belakang. Selama lebih dari satu jam, kami berempat menyanyikan Passio, kisah sengsara Yesus Kristus.

Teman-teman yang biasa mengikuti misa Jumat Agung di gereja Katolik, pastilah pernah mendengarkan Passio. Passio adalah kisah sengsara Yesus Kristus, mulai dari peristiwa penangkapan Yesus di Taman Getsemani, hingga wafat-Nya di gunung Golgota. Passio dinyanyikan dengan melodi ala Gregorian. Nah, karena kisahnya cukup panjang, maka Passio panjangnya kira-kira satu jam lebih sedikit.

Sudah tidak terhitung berapa kali saya medengarkan Passio.  Saya pernah mendengarkan Passio yang dibawakan dengan tempo amat lambat, sehingga rasanya lamaaa sekali baru selesai. Tapi kalau dibawakan dengan tempo terlalu cepat, rasanya juga kurang pantas. Jadi tempo yang tepat itu sangat penting. Demikian yang diajarkan oleh Mas Momon, pelatih tim pemazmur Raja Daud (yang kadang dipelesetkan menjadi ‘Raja Dangdut’!) ^^

Latihan dilaksanakan dua kali. Untung saya datang pas latihan pertama, meskipun teman-teman satu grup yaitu Fiona dan Marlon tidak bisa datang waktu itu. Soalnya pas latihan kedua, giliran saya yang tidak bisa datang akibat terkena masuk angin. (Sekilas berita tidak penting: angin tersebut telah sukses dikeluarkan kembali, melalui jalan yang tidak perlu diceritakan di sini, hehe…^^)

Saya narator 1 merangkap wanita yang mempertanyakan Petrus, Fiona narator 2, Marlon Pontius Pilatus merangkap Petrus, Romo Purwanto sebagai Yesus. Meski belum pernah berlatih bersama sebelumnya, namun untunglah grup kami amat kompak!!!

Setelah diberi tahu Fiona, saya baru ngeh kalau saya harus merangkap sebagai wanita yang bertanya kepada Petrus! Baru latihan saat itu juga! Untung cuma satu kalimat, tapi nadanya itu lho, tinggi sekali! Tapi yah… pede saja Bung!!! Berbekal latihan bersama selama kurang-lebih 15 menit di Sakristi menjelang misa, akhirnya majulah kami membawakan Passio.

Kalau boleh jujur, ada beberapa kesalahan yang kami buat. Saya misalnya, ada satu nada yang saya korupsi alias tidak saya nyanyikan, karena tiba-tiba di atas altar saya merasa tidak tahu pasti, bagaimana ya menyanyikan nada tersebut??? Daripada fals atau sumbang, yah lebih baik dikorupsi saja… (jangan laporkan saya pada KPK ya…)

Ohya, selain menyanyi, saya masih punya satu tugas tambahan yang sangat menyenangkan, yaitu mempersilakan umat duduk, sebelum Passio dimulai. Menyenangkan, karena setelah mengumumkan, “umat dipersilakan duduk“, saya melihat wajah-wajah lega. Umat pun segera mengambil posisi duduk senyaman mungkin. Mereka sudah tahu kalau Passio-nya bakal lama! ^^

Tahun lalu saya juga termasuk salah satu di antara mereka yang berwajah lega tersebut. Betapa tidak, biasanya kan umat dipersilakan berdiri selama mendengarkan bacaan Injil. Namun pada misa Jumat Agung umat boleh duduk, karena bacaaan Injilnya berupa Passio yang berdurasi satu jam lebih! Tahun ini Passio diambil dari Injil Yohanes.

Passio sangat berpotensi untuk jadi membosankan, karena durasinya yang lama. Kisahnya juga itu-itu terus. Melodi Gerogorian yang dinyanyikan juga sudah ada pola pakemnya. Pokoknya serba itu-itu terus! Tapi dengan usaha dari para petugasnya, Passio bisa dibawakan dengan cukup menarik, tanpa membuat umat ingin kabur.

Seorang teman saya koh Rinto bercerita, bahwa ia pernah membawakan Passio, dan berperan sebagai Yesus dengan penuh penghayatan. Ketika tiba pada bagian kisah menjelang wafat Yesus, suaranya sengaja dibuat agak serak, seperti orang yang sedang menjemput ajal sungguhan. Hasilnya, seorang suster yang mengikuti misa terlihat menyeka air matanya…

Saya lantas berusaha agar setiap vokal dan konsonan diucapkan dengan jelas, ingat-ingat saja petuah laoshi kalau sedang les, hehe… ^^ Tujuannya agar umat tidak bosan, dan dapat mengikuti Passio tanpa perlu susah-susah membaca teksnya. Tapi saya rasa umat tidak bosan kok, terlebih saat mendengarkan suara angelic Fiona yang bening dan lantang. Wah, bisa merinding!!! Marlon yang berperan sebagai Pontius Pilatus juga terdengar garang, sesuai karakternya. Sedangkan Romo Purwanto membawakan Yesus dengan sangat baik (maklum, romo soalnya, hehe…^^).

Demikianlah pengalaman pertama saya ikut ambil bagian dalam Passio. Kalau tahun depan disuruh menyanyi Passio lagi, saya tidak akan menolak… (mupeng-dot-com, kalo istilahnya ci Pipi, hehe… ^^)

Read Full Post »