Feeds:
Posts
Comments

Archive for April 5th, 2010

Passio pertama

Jumat 2 April kemarin, kaki saya sempat pegal-pegal lantaran harus berdiri diam selama lebih dari 60 menit. Bukan karena dihukum lho! Saya berdiri di ujung sebelah kiri, rekan-rekan saya Fiona dan Marlon berdiri di ujung sebelah kanan. Sedangkan Romo Purwanto yang memimpin misa berada di tengah-tengah, agak ke belakang. Selama lebih dari satu jam, kami berempat menyanyikan Passio, kisah sengsara Yesus Kristus.

Teman-teman yang biasa mengikuti misa Jumat Agung di gereja Katolik, pastilah pernah mendengarkan Passio. Passio adalah kisah sengsara Yesus Kristus, mulai dari peristiwa penangkapan Yesus di Taman Getsemani, hingga wafat-Nya di gunung Golgota. Passio dinyanyikan dengan melodi ala Gregorian. Nah, karena kisahnya cukup panjang, maka Passio panjangnya kira-kira satu jam lebih sedikit.

Sudah tidak terhitung berapa kali saya medengarkan Passio.  Saya pernah mendengarkan Passio yang dibawakan dengan tempo amat lambat, sehingga rasanya lamaaa sekali baru selesai. Tapi kalau dibawakan dengan tempo terlalu cepat, rasanya juga kurang pantas. Jadi tempo yang tepat itu sangat penting. Demikian yang diajarkan oleh Mas Momon, pelatih tim pemazmur Raja Daud (yang kadang dipelesetkan menjadi ‘Raja Dangdut’!) ^^

Latihan dilaksanakan dua kali. Untung saya datang pas latihan pertama, meskipun teman-teman satu grup yaitu Fiona dan Marlon tidak bisa datang waktu itu. Soalnya pas latihan kedua, giliran saya yang tidak bisa datang akibat terkena masuk angin. (Sekilas berita tidak penting: angin tersebut telah sukses dikeluarkan kembali, melalui jalan yang tidak perlu diceritakan di sini, hehe…^^)

Saya narator 1 merangkap wanita yang mempertanyakan Petrus, Fiona narator 2, Marlon Pontius Pilatus merangkap Petrus, Romo Purwanto sebagai Yesus. Meski belum pernah berlatih bersama sebelumnya, namun untunglah grup kami amat kompak!!!

Setelah diberi tahu Fiona, saya baru ngeh kalau saya harus merangkap sebagai wanita yang bertanya kepada Petrus! Baru latihan saat itu juga! Untung cuma satu kalimat, tapi nadanya itu lho, tinggi sekali! Tapi yah… pede saja Bung!!! Berbekal latihan bersama selama kurang-lebih 15 menit di Sakristi menjelang misa, akhirnya majulah kami membawakan Passio.

Kalau boleh jujur, ada beberapa kesalahan yang kami buat. Saya misalnya, ada satu nada yang saya korupsi alias tidak saya nyanyikan, karena tiba-tiba di atas altar saya merasa tidak tahu pasti, bagaimana ya menyanyikan nada tersebut??? Daripada fals atau sumbang, yah lebih baik dikorupsi saja… (jangan laporkan saya pada KPK ya…)

Ohya, selain menyanyi, saya masih punya satu tugas tambahan yang sangat menyenangkan, yaitu mempersilakan umat duduk, sebelum Passio dimulai. Menyenangkan, karena setelah mengumumkan, “umat dipersilakan duduk“, saya melihat wajah-wajah lega. Umat pun segera mengambil posisi duduk senyaman mungkin. Mereka sudah tahu kalau Passio-nya bakal lama! ^^

Tahun lalu saya juga termasuk salah satu di antara mereka yang berwajah lega tersebut. Betapa tidak, biasanya kan umat dipersilakan berdiri selama mendengarkan bacaan Injil. Namun pada misa Jumat Agung umat boleh duduk, karena bacaaan Injilnya berupa Passio yang berdurasi satu jam lebih! Tahun ini Passio diambil dari Injil Yohanes.

Passio sangat berpotensi untuk jadi membosankan, karena durasinya yang lama. Kisahnya juga itu-itu terus. Melodi Gerogorian yang dinyanyikan juga sudah ada pola pakemnya. Pokoknya serba itu-itu terus! Tapi dengan usaha dari para petugasnya, Passio bisa dibawakan dengan cukup menarik, tanpa membuat umat ingin kabur.

Seorang teman saya koh Rinto bercerita, bahwa ia pernah membawakan Passio, dan berperan sebagai Yesus dengan penuh penghayatan. Ketika tiba pada bagian kisah menjelang wafat Yesus, suaranya sengaja dibuat agak serak, seperti orang yang sedang menjemput ajal sungguhan. Hasilnya, seorang suster yang mengikuti misa terlihat menyeka air matanya…

Saya lantas berusaha agar setiap vokal dan konsonan diucapkan dengan jelas, ingat-ingat saja petuah laoshi kalau sedang les, hehe… ^^ Tujuannya agar umat tidak bosan, dan dapat mengikuti Passio tanpa perlu susah-susah membaca teksnya. Tapi saya rasa umat tidak bosan kok, terlebih saat mendengarkan suara angelic Fiona yang bening dan lantang. Wah, bisa merinding!!! Marlon yang berperan sebagai Pontius Pilatus juga terdengar garang, sesuai karakternya. Sedangkan Romo Purwanto membawakan Yesus dengan sangat baik (maklum, romo soalnya, hehe…^^).

Demikianlah pengalaman pertama saya ikut ambil bagian dalam Passio. Kalau tahun depan disuruh menyanyi Passio lagi, saya tidak akan menolak… (mupeng-dot-com, kalo istilahnya ci Pipi, hehe… ^^)

Advertisements

Read Full Post »