Feeds:
Posts
Comments

Archive for April 16th, 2010

Rabu 14 April 2010 terjadi peristiwa berdarah di Koja, Tanjung Priuk, Jakarta Utara. Bentrokan tak terelakkan, ketika petugas Satpol PP hendak menggusur paksa makam Mbah Priuk, seorang tokoh penyebar agama Islam di Batavia pada abad ke-18. Sedangkan warga mempertahankan makam tempat ziarah umat Islam tersebut. Bentrokan berakhir tragis, dengan 3 orang korban meninggal dunia dan ratusan korban luka-luka berat maupun ringan.

Kamis 15 April 2010 (mengutip artikel Kompas 16/4 ‘Kesepakatan “Koja” Tercapai’) Akhirnya mediasi konflik antara keluarga ahli waris Al Imam Al Arif Billah Al Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan PT Pelindo II menghasilkan sembilan kesepakatan.

Pada satu hari, Satpol PP seolah diadu dengan warga, kedua belah pihak unjuk kekuatan, seakan perang melawan penjajah atau alien serangga raksasa di film Starship Troopers.

Kedua belah pihak sama-sama punya alasan kuat. Pihak Satpol PP sekedar menjalankan tugas dari atasan. Sedangkan warga berusaha mempertahankan makam Mbah Priuk, tempat keramat yang juga bernilai sejarah tinggi (yang memang seharusnya dijaga dan dilestarikan, bukannya digusur!!!).

Pada hari berikutnya, langsung dicapai kesepakatan antara ahli waris makam Mbah Priuk, Pemprov DKI Jakarta, dan PT Pelindo II. Makam tetap dipertahankan, dan bahkan dijadikan cagar budaya. Akan dibuat jalan khusus menuju makam, sehingga peziarah tak perlu bersinggungan jalan dengan pengguna Terminal Peti Kemas.

Nah, pertanyaan saya, kalau memang masalah ini bisa diselesaikan dengan relatif mudah, (dalam satu hari saja kesepakatan langsung tercapai), kenapa tidak sejak awal diadakan musyawarah???

Kenapa musti menunggu jatuhnya korban jiwa? Korban luka-luka? Apakah pemerintah sedemikian tidak peduli sehingga memilih menggunakan cara (yang dikira) mudah (seperti biasa) dengan mengerahkan Satpol PP?

Hanya saja, di luar dugaan, warga melawan dengan sekuat tenaga. Ternyata, cara penuh kekerasan ini pun terbukti jauh dari mudah, dan malah menumpahkan darah.

Pemprov DKI Jakarta yang baik, saya tahu mengemban tugas sebagai pemerintah tidaklah mudah.

Setiap hari harus mengurus dan menyelesaikan berbagai masalah.

Namun ingatlah bahwa nyawa manusia bukan barang murah.

Pimpinlah dan aturlah kami dengan baik, jangan gegabah.

Toh di setiap kamus Bahasa Indonesia tercantum kata ‘musyawarah’.

Kata itu jangan hanya dijadikan pelengkap, tapi gunakanlah.

Jangan menjadikan kekerasan sebagai satu-satunya jalan. Banyak jalan ke Roma. Carilah jalan paling bijaksana, yang menjauhkan rakyat dari sengsara.

Akhirnya suara warga Koja didengar juga. Namun bagaimana ya, dengan warga Cina Benteng di tepi Sungai Cisadane yang pemukimannya juga akan digusur? Siapa yang akan mendengar suara mereka?

Advertisements

Read Full Post »