Feeds:
Posts
Comments

Archive for May, 2010

Tradisi memuji

Ketika seseorang masih hidup, ia seolah dilupakan begitu saja. Namun begitu seseorang ini berpulang, langsung muncul puji-pujian atas namanya. Ibu Negara yang elegan, begitu cuplikan judul salah satu artikel di Kompas Cyber Media hari ini, dalam rangka mengenang almarhumah Mantan Ibu Negara Hasri Ainun Habibie. Ketika beliau masih hidup, apa yang ditulis atau dikatakan tentang beliau? Sepertinya sih, tidak banyak. Puji-pujian baru bermunculan setelah beliau tiada.

Dulu ketika pelukis kebanggaan Indonesia, Affandi berpulang, di TVRI muncul tayangan khusus berupa gambar lilin menyala diiringi pembacaan puisi yang indah sekali untuk mengenang beliau. Tentu tujuannya agar rakyat Indonesia mengenang Affandi. Tetapi, apa ya kegunaan puisi itu untuk almarhum Affandi sendiri? Mengapa kita tidak membacakan puisi indah ketika Affandi masih hidup, agar beliau merasa senang? Kenapa harus menunggu sampai beliau berpulang?

Saya tidak mengatakan bahwa puji-pujian setelah seseorang meninggal itu tidak berguna. Tentu ada gunanya. Untuk menghibur keluarga yang ditinggalkan, misalnya. Tentu Mantan Presiden Habibie merasa terhibur, membaca artikel-artikel untuk mengenang almahumah istri tercinta di berbagai suratkabar. Bangsa Indonesia juga dapat sejenak mengenang kembali sosok mantan Ibu Negara, dan berdoa untuk beliau.

Memuji seseorang setelah ia meninggal, tidaklah salah. Namun alangkah baiknya jika kita menyempatkan diri memuji dan menghormati orang tersebut saat ia masih hidup. Agar ia merasa gembira, dan lebih termotivasi untuk berkarya!

Ini adalah sedikit puji-pujian dari saya kepada beberapa blogger yang tergolong aktif dan biasa malang melintang di dunia persil… eh perbloggeran.

Ria, tulisanmu kreatif, inovatif, dan humoris banget. Bahasa Inggrismu juga nyaris sempurna. TOP BGT! Aku rasa suatu hari nanti kamu pasti bisa menulis buku! ^^

Kristina, meski sekarang kamu sudah agak jarang menulis, tapi aku selalu menanti-nantikan tulisanmu yang lincah, polos, jujur, apa adanya, dan selalu bisa membuatku ngakak-ngakak kayak orang gila! ^^

Jessie, membaca tulisan-tulisanmu aku jadi pengen kenal langsung. Kayaknya kamu adalah salah satu orang paling optimis di dunia. Boleh ya, ke-optimisan-mu ditularkan padaku! ^^

Fanda, ternyata keseharian bisa dibuat menarik asal Fanda yang menuliskannya. Bahasanya sopan namun mengalir, pokoknya enak dibaca. Ditunggu terus tulisan-tulisan terbarunya! ^^

Vicky, tulisanmu tajam, kritikmu mengena, aku jadi bertanya-tanya, di mana Vicky ketika tim debat Atma Jaya kami dibabat sama tim debat Oxford ya? Hehe… Biar ga bisa buka blog-mu di kantor, aku buka di rumah kalo wiken kok! ^^

Alice, jatuh ke blog-mu merupakan pengalaman seru, dan tulisan-tulisanmu asyik dibaca! Begitu ada yang baru, aku pasti langsung berkunjung! ^^

Grace Receiver, ternyata menulis resensi film atau buku itu menyenangkan ya! Jadi terinspirasi! ^^

Nima, tulisan-tulisanmu nyeni, jujur, enak buanget dibaca. Memang sih, jarang di-update, tapi untunglah aku masih bisa menikmati hasil karyamu lewat tayangan-tayangan ‘Refleksi’ Da Ai TV! ^^

You-know-who, orang satu ini tulisannya asyik poenja, dan pengetahuan IT-nya boleh dibanggakan. Tapi kok jarang-jarang di-update ya blog-nya… terus ditunggu lho…! ^^

Tessa, kalau hidup di zaman dahulu, kamu pasti bisa jadi Pujangga Baru atau sejenisnya! Terus menulis puisi ya, nanti kalau ada wangsit atau ilham, akan kugubahkan menjadi lagu! ^^

Read Full Post »

Jajanan zaman SD

Pernahkah Anda merasa kaya-raya dengan uang Rp 200,- di kantong? Saya pernah, waktu masih SD! Semasa bersekolah di Muntilan dulu, kebetulan TK-SD dan SMP saya terletak berderet di satu jalan yang sama, yaitu Jalan Kartini. Jadi, jajanan favorit sejak TK misalnya, bisa saya nikmati sampai lulus SMP.

Dari arah TK Theresia, usai menyeberangi sebuah jalan kecil, kita akan tiba di sebuah tanah lapang yang cukup luas, biasanya digunakan untuk tempat berdagang makanan kecil dan mainan anak-anak murah-meriah. Sekarang sih, sudah tidak lagi. Nah, berikut ini jajanan favorit saya waktu masih sekolah di TK Theresia, SD St. Yoseph, dan SMP Marganingsih ^^

1. Sego seket

Sego seket artinya adalah sebungkus nasi seharga Rp 50,- (sudah termasuk PPN). Sebungkus nasi ini berisi nasi (ya iyalah!), sedikit bihun, sedikit oseng-oseng tahu, dan sedikit oseng-oseng kacang panjang, plus sedikit sambel. Meski lauk-pauknya sederhana, namun rupanya yang masak jago sekali, sehingga sebungkus nasi ini baunya sungguh harum. Kadang saya dan teman-teman beli sego seket untuk dimakan bareng-bareng di teras depan kelas. Hmmm… lezat!!! Kadang bapak-simbok saya menitip dibelikan untuk nostalgia, karena rupanya sego deket ini sudah ada sejak zaman mereka masih kecil. Ohya, sego seket bisa didapat di kantin SD saya.

2. Bakso kojeg

Tadinya bapak-simbok saya tidak mengizinkan anak-anaknya jajan di luar kantin sekolah. Namun setelah melihat sendiri bahwa jajanan di luar sekolah juga cukup bersih, maka kami diperbolehkan jajan di tanah lapang dekat TK. Bakso kojeg adalah favorit saya sepanjang masa. Melihat harganya yang hanya Rp 5,- (sudah termasuk PPN) per butir, maka bakso ini sudah pasti tidak mengandung daging. 100% tepung terigu doang. Namun rasanya menjadi lezat berkat sambal kacang. Dulu ada beberapa pedagang bakso kojeg, namun favorit saya adalah dagangan bapak yang berjenggot, sebab meski wajahnya agak menyeramkan, bumbu kacangnya luarrr biasa! Saya biasa membeli 5-10 butir bakso kojeg setiap pulang sekolah, untuk dinikmati sambil berjalan pulang ke rumah. Mmm… lezat!!!

3. Sempe

Sempe ini mirip wafer, tapi hanya rotinya saja yang bentuknya lembaran. Rasanya sedikit manis, dan renyah sekali kalau digigit. Sempe juga merupakan makanan favorit orang serumah, sehingga saya sering beli sempe agak banyak untuk oleh-oleh. Harganya dulu Rp 25,- (sudah termasuk PPN) sekantong plastik kecil. Pedagang sempe tidak setiap hari berdagang di dekat TK. Tapi setiap hari Sabtu dan Minggu, pak pedagang sempe bisa dijumpai di depan Gereja St. Antonius. Rajin ke gereja, berhadiah sempe!

4. Arumanis

Arumanis yang bentuknya agak seperti rambut dan teksturnya kasar, di Jakarta biasa disebut rambut nenek. Dulu saya lumayan sering beli untuk dimakan sambil berjalan pulang ke rumah. Biasanya musti menghadapi dilema dulu, memilih antara bakso kojeg atau arumanis ^^

5. Gulali

Gulali adalah permen tradisional yang manis dan enak. Sebetulnya adonan gulali yang masih cair dan panas cukup higienis. Namun saat membentuk gulali, kadang pak pedagang menggunakan jari-jari tangannya. Jadi para orang tua dan guru sepakat, anak-anak boleh membeli gulali, asal beli gulali yang dibentuk dengan cetakan (pokoknya gulali jangan sampai kena tangan pedagangnya!). Cetakannya bermacam-macam, ada yang berbentuk jagung (paling kecil dan murah, harganya Rp 25,- termasuk PPN), ayam jago, dan yang paling besar berbentuk boneka.

6. Binteng

Nah, yang ini saya agak sulit menjelaskannya, karena Mbah Google pun tidak tahu. Binteng adalah sejenis permen tradisional, yang dibuat dari jahe. Binteng berbentuk lembaran tipis, lantas digunting-gunting berbentuk persegi kecil-kecil oleh ibu pedagangnya. Binteng yang berwarna merah muda dan hijau rasanya manis dan berbau jahe (favorit saya). Binteng yang berwarna abu-abu mengkilat rasanya manis, pedas, dan berbau jahe (favorit ibu saya). Binteng yang berbentuk bulat-bulat kecil konon pedas sekali, jadi saya tidak pernah membeli. Ibu pedagang binteng bersedia menjual bintengnya, tak peduli berapa pun uang yang ada di kantong kita. Kalau beli Rp 25,- isinya sedikit, kalau beli Rp 50,- isinya agak banyak. Entah ke mana ibu pedagang binteng sekarang… sudah belasan tahun saya tidak makan binteng… hiks…

7. Nasi soto Bu Sis

Warung soto Bu Sis letaknya tidak jauh dari sekolah, hanya 5-10 menit berjalan kaki. Kalau pengen makan di sana, saya biasanya janjian dengan teman-teman sehari sebelumnya, dan tak lupa meminta tambahan uang saku pada ortu. Tidak banyak kok, dengan uang Rp 200,- kita sudah bisa menikmati sepiring nasi soto yang lezat (Rp 150,-), plus tempe (Rp 25,-) dan segelas kecil teh manis (Rp 25,-). Sayang sekarang Bu Sis sudah tidak jualan lagi…

Read Full Post »

http://en.wikipedia.org/wiki/Zhuge_LiangSepucuk surat tiba di negeri Shu. Surat tersebut berasal dari pemimpin Organisasi Internasional, dan ditujukan kepada Zhuge Liang. Isinya, meminta Zhuge Liang bergabung dengan Organisasi Internasional, dan menjabat posisi sebagai direktur. Intinya, Zhuge Liang akan menjadi tangan kanan pemimpin Organisasi Internasional tersebut. Dengan persetujuan Liu Bei, tentunya.

Seperti yang dikisahkan dalam buku-buku dan film-film, pasukan Zhuge Liang rata-rata berjumlah lebih sedikit, persenjataan minim, dan sering menghadapi kondisi terpojok. Namun berkat otak brilyan Si Naga Tidur, pasukannya berkali-kali mencetak kemenangan, memukul mundur Cao Cao yang lebih kuat, pasukannya jauh lebih banyak, dan persenjataannya jauh lebih hebat.

Ternyata sepak terjang Zhuge Liang dalam mengatur strategi sudah sampai ke telinga pemimpin Organisasi Internasional. Tak pelak lagi, Zhuge Liang merupakan kandidat sempurna untuk organisasi yang ia pimpin.

Bagi Zhuge Liang, tawaran ini adalah sebuah kehormatan. Bila selama ini ia sepenuh hati berjuang untuk negeri Shu, kali ini ia bisa berjuang demi kemajuan dunia internasional sekaligus, termasuk di antaranya negara-negara dunia ketiga dan negara-negara berkembang yang membutuhkan bantuan.

Pilihan yang berat, mengingat kondisi negeri Shu saat ini belum pulih dari gonjang-ganjing yang disetir oleh Cao Cao. Namun Liu Bei tidak punya pilihan selain memberikan restu. Menurutnya, Zhuge Liang akan memperkuat Organiasasi Internasional, dan bisa menjadi jembatan penghubung antara Organisasi Internasional dan negara-negara berkembang, termasuk negeri Shu.

Sebagian rakyat Shu memberikan selamat, turut bangga dan bahagia, namun juga khawatir. Apa jadinya negeri mereka tanpa Zhuge Liang yang 4 tahun lalu terpilih sebagai penasihat terbaik se-Asia?

Namun jodohnya dengan negeri Shu sudah berakhir. Kini, Liu Bei harus mencari pengganti.

Read Full Post »