Feeds:
Posts
Comments

Archive for May 14th, 2010

Jajanan zaman SD

Pernahkah Anda merasa kaya-raya dengan uang Rp 200,- di kantong? Saya pernah, waktu masih SD! Semasa bersekolah di Muntilan dulu, kebetulan TK-SD dan SMP saya terletak berderet di satu jalan yang sama, yaitu Jalan Kartini. Jadi, jajanan favorit sejak TK misalnya, bisa saya nikmati sampai lulus SMP.

Dari arah TK Theresia, usai menyeberangi sebuah jalan kecil, kita akan tiba di sebuah tanah lapang yang cukup luas, biasanya digunakan untuk tempat berdagang makanan kecil dan mainan anak-anak murah-meriah. Sekarang sih, sudah tidak lagi. Nah, berikut ini jajanan favorit saya waktu masih sekolah di TK Theresia, SD St. Yoseph, dan SMP Marganingsih ^^

1. Sego seket

Sego seket artinya adalah sebungkus nasi seharga Rp 50,- (sudah termasuk PPN). Sebungkus nasi ini berisi nasi (ya iyalah!), sedikit bihun, sedikit oseng-oseng tahu, dan sedikit oseng-oseng kacang panjang, plus sedikit sambel. Meski lauk-pauknya sederhana, namun rupanya yang masak jago sekali, sehingga sebungkus nasi ini baunya sungguh harum. Kadang saya dan teman-teman beli sego seket untuk dimakan bareng-bareng di teras depan kelas. Hmmm… lezat!!! Kadang bapak-simbok saya menitip dibelikan untuk nostalgia, karena rupanya sego deket ini sudah ada sejak zaman mereka masih kecil. Ohya, sego seket bisa didapat di kantin SD saya.

2. Bakso kojeg

Tadinya bapak-simbok saya tidak mengizinkan anak-anaknya jajan di luar kantin sekolah. Namun setelah melihat sendiri bahwa jajanan di luar sekolah juga cukup bersih, maka kami diperbolehkan jajan di tanah lapang dekat TK. Bakso kojeg adalah favorit saya sepanjang masa. Melihat harganya yang hanya Rp 5,- (sudah termasuk PPN) per butir, maka bakso ini sudah pasti tidak mengandung daging. 100% tepung terigu doang. Namun rasanya menjadi lezat berkat sambal kacang. Dulu ada beberapa pedagang bakso kojeg, namun favorit saya adalah dagangan bapak yang berjenggot, sebab meski wajahnya agak menyeramkan, bumbu kacangnya luarrr biasa! Saya biasa membeli 5-10 butir bakso kojeg setiap pulang sekolah, untuk dinikmati sambil berjalan pulang ke rumah. Mmm… lezat!!!

3. Sempe

Sempe ini mirip wafer, tapi hanya rotinya saja yang bentuknya lembaran. Rasanya sedikit manis, dan renyah sekali kalau digigit. Sempe juga merupakan makanan favorit orang serumah, sehingga saya sering beli sempe agak banyak untuk oleh-oleh. Harganya dulu Rp 25,- (sudah termasuk PPN) sekantong plastik kecil. Pedagang sempe tidak setiap hari berdagang di dekat TK. Tapi setiap hari Sabtu dan Minggu, pak pedagang sempe bisa dijumpai di depan Gereja St. Antonius. Rajin ke gereja, berhadiah sempe!

4. Arumanis

Arumanis yang bentuknya agak seperti rambut dan teksturnya kasar, di Jakarta biasa disebut rambut nenek. Dulu saya lumayan sering beli untuk dimakan sambil berjalan pulang ke rumah. Biasanya musti menghadapi dilema dulu, memilih antara bakso kojeg atau arumanis ^^

5. Gulali

Gulali adalah permen tradisional yang manis dan enak. Sebetulnya adonan gulali yang masih cair dan panas cukup higienis. Namun saat membentuk gulali, kadang pak pedagang menggunakan jari-jari tangannya. Jadi para orang tua dan guru sepakat, anak-anak boleh membeli gulali, asal beli gulali yang dibentuk dengan cetakan (pokoknya gulali jangan sampai kena tangan pedagangnya!). Cetakannya bermacam-macam, ada yang berbentuk jagung (paling kecil dan murah, harganya Rp 25,- termasuk PPN), ayam jago, dan yang paling besar berbentuk boneka.

6. Binteng

Nah, yang ini saya agak sulit menjelaskannya, karena Mbah Google pun tidak tahu. Binteng adalah sejenis permen tradisional, yang dibuat dari jahe. Binteng berbentuk lembaran tipis, lantas digunting-gunting berbentuk persegi kecil-kecil oleh ibu pedagangnya. Binteng yang berwarna merah muda dan hijau rasanya manis dan berbau jahe (favorit saya). Binteng yang berwarna abu-abu mengkilat rasanya manis, pedas, dan berbau jahe (favorit ibu saya). Binteng yang berbentuk bulat-bulat kecil konon pedas sekali, jadi saya tidak pernah membeli. Ibu pedagang binteng bersedia menjual bintengnya, tak peduli berapa pun uang yang ada di kantong kita. Kalau beli Rp 25,- isinya sedikit, kalau beli Rp 50,- isinya agak banyak. Entah ke mana ibu pedagang binteng sekarang… sudah belasan tahun saya tidak makan binteng… hiks…

7. Nasi soto Bu Sis

Warung soto Bu Sis letaknya tidak jauh dari sekolah, hanya 5-10 menit berjalan kaki. Kalau pengen makan di sana, saya biasanya janjian dengan teman-teman sehari sebelumnya, dan tak lupa meminta tambahan uang saku pada ortu. Tidak banyak kok, dengan uang Rp 200,- kita sudah bisa menikmati sepiring nasi soto yang lezat (Rp 150,-), plus tempe (Rp 25,-) dan segelas kecil teh manis (Rp 25,-). Sayang sekarang Bu Sis sudah tidak jualan lagi…

Advertisements

Read Full Post »