Feeds:
Posts
Comments

Archive for May, 2011

Sejak duduk di bangku SMP, saya sudah mengidolakan seorang penyanyi dan bintang film berinisial JL, yang berasal dari Taiwan. Saya berpendapat bahwa JL adalah cowok terganteng sedunia. Sayangnya, pendapat ini langsung disanggah dan dibantah habis-habisan oleh teman-teman saya! Karenanya saya lantas menggantinya dengan ‘cowok terganteng se-Asia’. Sebetulnya ini pun masih dibantah, tapi saya memutuskan untuk tetap keukeuh.

Namun belakangan ini, saya merasa bahwa saya telah salah memilih bintang idola. Memang betul, si JL ini guantengnya amit-amit, bahkan di usia 37 tahun saat ini. Namun prestasinya begitu-begitu saja, tidak berkembang. Berbeda dengan rekan-rekan seangkatan JL, di mana beberapa ada yang sudah sukses, dan merambah dunia musik serta film internasional.

Salah satunya, sebut saja si TK. Pada tahun 90-an, TK dan JL sama-sama masih remaja, dan main dalam film-film konsumsi remaja (yang aktingnya banyak haha-hihi, serta mengedepankan kegantengan fisik).

Namun prestasi TK terus melejit. Ia berperan dalam beberapa film yang juga diperlombakan di Cannes. Sejumlah penghargaan diraih. Aktingnya kian mantap. TK juga mendapat peran utama dalam film bagus macam The Red Cliff, misalnya. Dalam bidang menyanyi pun, suara si TK juga makin bagus, makin matang.

Bagaimana dengan JL? Beberapa tahun lalu saya menonton film silat seri terbaru yang dibintangi oleh JL. Aktingnya masih begitu-begitu aja, perannya masih tipe-tipe yang haha-hihi, dan mengedepankan kegantengan fisik. Jalan cerita filmnya pun cukup membosankan dan mudah ditebak.

Saya juga sempat membeli CD terbaru JL (nitip sama teman yang saat itu tinggal di Taiwan). Tipe lagu-lagu, serta kualitas suaranya, masih saja seperti yang dulu. Tidak ada perkembangan yang berarti. Ohya, JL sempat menekuni bidang balap mobil dan meraih sejumlah prestasi. Tapi kini tidak ada kelanjutannya lagi.

Dalam hati, saya merasa kecewa. Salahkah saya dalam memilih bintang idola? Kenapa dulu saya tidak mengidolakan si TK saja ya?

Muncul pula satu pemikiran horror yang membuat bulu kuduk saya berdiri. Bagaimana kalau saya senasib dengan JL? Mandeg, tidak berkembang, dan hanya begitu-begitu saja, dalam profesi yang saya tekuni.

Saya pernah berprofesi menjadi guru. Namun pada satu titik, saya merasa tidak bisa berkembang dalam bidang pendidikan, dan lantas melirik bidang lain. Pilihan saya jatuh pada media, yaitu televisi. Namun akhir-akhir ini, perasaan yang sama mulai mengusik. Saya tidak berkembang di bidang ini.

Saya pernah menekuni studi bahasa Mandarin selama 3 tahun. Namun sekarang bisa dibilang  sudah lupa semuanya.

Saya pernah menekuni vokal klasik selama 4 tahun. Namun kini terpaksa berhenti dulu (wah, kalau yang ini, jangan sampai hilang!!! Harus terus berlatih dan menyanyi sesering mungkin!!! Kalau ada yang butuh solis untuk Ave Maria Bach-Schubert-Caccini di gereja misalnya, atau lagu-lagu sejenis, hubungi saya ya, free of charge^^)

Dalam waktu dekat ini, diharapkan saya akan menjadi seorang ibu, profesi yang sama sekali baru. Saya hanya bisa ora et labora, agar dalam bidang yang satu ini saya bisa berhasil. Tidak ada kata ‘mandeg’, tidak ada kata ‘tak berprestasi’ ^^

Harus berhasil!!! Viva mothers…!!! ^^

Advertisements

Read Full Post »

Dedekius

Pagi-pagi, sudah ada yang berlatih Wing Chun di rumah kami. Ya, siapa lagi kalau bukan Dedekius. Sebetulnya, kami tidak pernah yakin benar apakah Dedekius sedang berlatih Wing Chun, atau melatih jurus ‘Tendangan Tanpa Bayangan’. Bisa jadi ia sedang berlatih ‘Pukulan Tanpa Bayangan’, ‘Pukulan Topan Badai’, ‘Kiu Yang Sin Kang’, atau jurus-jurus lain. Kami tidak tahu pasti. Wong latihannya di dalam perut, jadi tidak kelihatan, dan cuma bisa dirasakan.

Itu pun karena kebetulan saya penggemar film-film silat dan kungfu. Kalau saya penggemar balet misalnya, saya akan berpendapat bahwa Dedekius sedang melatih gerakan ‘Arabesque‘ atau ‘Brisé volé‘. Bagi penggemar sepak bola, boleh berpendapat Dedekius sedang berlatih menggiring bola, dan seterusnya.

Kadang-kadang, di hari Sabtu atau Minggu Dedekius bisa tenang sekali, hanya sedikit bergerak-gerak. Saya yang sempat khawatir lantas menanyakannya kepada dokter. Kata dokter sambil tersenyum, “yang ada di dalam sini orang lho, manusia, jadi bisa merasa capek.”

Hihihi, seperti orang kerja saja ya, hari Senin-Jumat aktif, hari Sabtu berisirahat. Mungkin kalau hari Sabtu, Dedekius sudah capek berlatih kungfu, jadi cukup les piano atau vokal saja ^^

Untunglah saya tidak gaptek-gaptek amat, dan bisa surfing di internet. Berkat internet, saya bisa tahu bahwa sebagian besar ibu mulai merasakan gerakan bayinya pada usia kehamilan 16-20 minggu. Karenanya, saat hamil 16 minggu, saya perhatikan betul kalau ada gerakan dari dalam perut.

Ternyata benar-benar ada!!! Mulanya samar-samar sekali, seperti kalau kita habis minum soft drink, lalu berasa ada yang greyel-greyel di dalam perut. Namun selama hamil saya bisa dibilang tak pernah minum soft drink (cuma pernah beberapa kali minta seteguk kalo adik saya baru minum). Jadi gerakan itu sudah pasti bersumber dari Dedekius!!!

Mula-mula saya menyombong pada Papakius. Dedekius sudah mulai nendang-nendang lho, tapi masih halus banget tendangannya, jadi cuma Mamakius yang bisa ngerasain. Papakius belum bisa, soalnya kalau dipegang dari luar, belum terasa. Kesannya eksklusif banget, bo ^^

Namun rupanya Dedekius tidak mengizinkan Mamakius berlama-lama menyombongkan diri. Suatu hari, saya kembali berkata keras-keras bahwa cuma Mamakius saja yang bisa merasakan tendangan istimewa ini.

Tepat keesokan harinya, saat sedang mengelus-elus perut, tiba-tiba terasa sebuah gerakan kecil. Wow, tendangan Dedekius sudah bisa dirasakan dari luar! Cepat-cepat saya panggil Papakius, dan menyuruhnya memegang perut saya. Seolah hendak memberitahukan keberadaannya, Dedekius kembali menendang! Kali ini Papakius bisa ikut merasakan! Betapa senangnya!!! ^^

Ah, tendangan kecil yang menyejukkan ^^

Bisa jadi itu bukan tendangan, melainkan pukulan, atau sikutan. Tapi tidak apa, kita pakai istilah universal saja, yaitu tendangan. Soalnya, jarang sekali ada yang bilang pukulan atau sikutan bayi.

Sebagai manusia yang fana (halah!), banyak sekali yang saya khawatirkan dalam hidup ini. Bagaimana ya, kalau harga cabe keriting terus naik? Bagaimana kalau timnas kita loyo terus? Kok Komisi Delapan bisa gak punya email resmi? Kenapa ada orang yang suka menanam bom? Bukankah menanam pohon duren lebih menguntungkan? Udah lama nggak ikut koor atau les vokal nih, masih bisa nyanyi nggak ya? Teater Koma masih akan melanjutkan pementasan Sie Jin Kwie 3 tahun depan atau tidak? Bagaimana soal penyelesaian pajak film asing? Dan yang paling penting, Harry Potter 7B main di bioskop-bioskop kita nggak? Juga Pirates of Carribean 4: On Stranger’s Tides? Itu kan 2 film yang masuk kategori ‘wajib tonton’?

Hanya dibutuhkan satu tendangan kecil untuk menghilangkan kekhawatiran-kekhawatiran di atas. Tung! (dulu tendangnya masih ringan-ringan saja). Dung! (tendangannya makin kuat). Jedung! (wow, tenaga dalamnya sudah banyak kemajuan). JEBUNG! (iya deh, nanti dibeliin tiang kayu yang khusus buat latihan Wing Chun ya… ^^)

I have nothing to worry about, now that I have you… ^^

(ditulis dalam rangka bersyukur, hari ini kehamilan Mamakius genap 28 minggu alias 7 bulan) ^^

Read Full Post »