Feeds:
Posts
Comments

Archive for May 27th, 2011

Sejak duduk di bangku SMP, saya sudah mengidolakan seorang penyanyi dan bintang film berinisial JL, yang berasal dari Taiwan. Saya berpendapat bahwa JL adalah cowok terganteng sedunia. Sayangnya, pendapat ini langsung disanggah dan dibantah habis-habisan oleh teman-teman saya! Karenanya saya lantas menggantinya dengan ‘cowok terganteng se-Asia’. Sebetulnya ini pun masih dibantah, tapi saya memutuskan untuk tetap keukeuh.

Namun belakangan ini, saya merasa bahwa saya telah salah memilih bintang idola. Memang betul, si JL ini guantengnya amit-amit, bahkan di usia 37 tahun saat ini. Namun prestasinya begitu-begitu saja, tidak berkembang. Berbeda dengan rekan-rekan seangkatan JL, di mana beberapa ada yang sudah sukses, dan merambah dunia musik serta film internasional.

Salah satunya, sebut saja si TK. Pada tahun 90-an, TK dan JL sama-sama masih remaja, dan main dalam film-film konsumsi remaja (yang aktingnya banyak haha-hihi, serta mengedepankan kegantengan fisik).

Namun prestasi TK terus melejit. Ia berperan dalam beberapa film yang juga diperlombakan di Cannes. Sejumlah penghargaan diraih. Aktingnya kian mantap. TK juga mendapat peran utama dalam film bagus macam The Red Cliff, misalnya. Dalam bidang menyanyi pun, suara si TK juga makin bagus, makin matang.

Bagaimana dengan JL? Beberapa tahun lalu saya menonton film silat seri terbaru yang dibintangi oleh JL. Aktingnya masih begitu-begitu aja, perannya masih tipe-tipe yang haha-hihi, dan mengedepankan kegantengan fisik. Jalan cerita filmnya pun cukup membosankan dan mudah ditebak.

Saya juga sempat membeli CD terbaru JL (nitip sama teman yang saat itu tinggal di Taiwan). Tipe lagu-lagu, serta kualitas suaranya, masih saja seperti yang dulu. Tidak ada perkembangan yang berarti. Ohya, JL sempat menekuni bidang balap mobil dan meraih sejumlah prestasi. Tapi kini tidak ada kelanjutannya lagi.

Dalam hati, saya merasa kecewa. Salahkah saya dalam memilih bintang idola? Kenapa dulu saya tidak mengidolakan si TK saja ya?

Muncul pula satu pemikiran horror yang membuat bulu kuduk saya berdiri. Bagaimana kalau saya senasib dengan JL? Mandeg, tidak berkembang, dan hanya begitu-begitu saja, dalam profesi yang saya tekuni.

Saya pernah berprofesi menjadi guru. Namun pada satu titik, saya merasa tidak bisa berkembang dalam bidang pendidikan, dan lantas melirik bidang lain. Pilihan saya jatuh pada media, yaitu televisi. Namun akhir-akhir ini, perasaan yang sama mulai mengusik. Saya tidak berkembang di bidang ini.

Saya pernah menekuni studi bahasa Mandarin selama 3 tahun. Namun sekarang bisa dibilang  sudah lupa semuanya.

Saya pernah menekuni vokal klasik selama 4 tahun. Namun kini terpaksa berhenti dulu (wah, kalau yang ini, jangan sampai hilang!!! Harus terus berlatih dan menyanyi sesering mungkin!!! Kalau ada yang butuh solis untuk Ave Maria Bach-Schubert-Caccini di gereja misalnya, atau lagu-lagu sejenis, hubungi saya ya, free of charge^^)

Dalam waktu dekat ini, diharapkan saya akan menjadi seorang ibu, profesi yang sama sekali baru. Saya hanya bisa ora et labora, agar dalam bidang yang satu ini saya bisa berhasil. Tidak ada kata ‘mandeg’, tidak ada kata ‘tak berprestasi’ ^^

Harus berhasil!!! Viva mothers…!!! ^^

Advertisements

Read Full Post »