Feeds:
Posts
Comments

Archive for October, 2011

Sun sing suwe

Konon, total biaya membesarkan seorang anak sejak lahir sampai selesai kuliah S1, memakan biaya sekitar 1 juta dolar, di negeri Pakdhe (atau Paklik) Sam. Biaya tersebut dihabiskan untuk susu, makanan, pakaian, mainan, buku-buku, pendidikan, kesehatan, rekreasi, dan masih banyak lagi kebutuhan si anak.

Jadi, pasangan yang tidak memiliki anak bisa dibilang mendapatkan jackpot senilai 1 juta dolar AS! Sampai-sampai muncul guyonan yang agak sadis mengenainya (lebih baik tidak usah saya tulis di sini ya).

Tidak mengherankan jika di zaman modern ini kian banyak orang yang memutuskan untuk tidak memiliki anak. Tapi menurut saya pribadi, punya anak itu banyak sekali manfaat atau keuntungannya lho.

Salah satunya, kalau punya anak sendiri, kita bebas mencium pipinya sesuka hati. Saya sering sekali merasa gemes melihat bayi atau anak kecil yang lucu-lucu, tapi tidak berani sembarangan mencium pipi. Bisa dimarahi sama orangtuanya nanti!

Sekarang, setelah punya Julian, saya bebas…!!! ^^ Bebas mencium pipinya, keningnya, rambutnya, tangannya, kakinya, perutnya, keteknya (ketek bayi wangi lho^^), berkali-kali dan berlama-lama, tanpa ada yang memprotes. Mencium bayi itu agak seperti makan cokelat, bisa menimbulkan ketagihan. Makin dicium rasanya makin gemes, maka cium lagi, cium lagi, lagi, lagi, dan lagi… ^^

Dari awal saya sudah ‘memperingatkan’ Julian, “Kamu kalau lucu begini nanti Mama cium lho. Jadi terserah kamu ya, lucu boleh, nggak lucu juga boleh. Yang pasti kalau lucu, ‘hukumannya’ adalah cium.”

Lantas, apa yang terjadi? Tentu saja Julian tetap lucu, malahan menurut pendapat ibunya, makin hari dia makin lucu. Akibatnya Julian sering mendapatkan 3S dari ibunya, Sun Sing Suwe ^^

Kalau sehabis ini saya jarang-jarang menulis di blog, penyebabnya utamanya adalah : hari ini hari terakhir saya di kantor, sesudah ini saya resmi mengundurkan diri, dan bekerja untuk Bos Kecil di rumah. Otomatis, saya akan jarang terhubung ke internet untuk mengakses wordpress.

Penyebab keduanya? Mungkin saya akan terlalu sibuk mencium Si Kecil yang fotonya terpampang di bawah ini, sehingga tidak sempat menulis ^^

Read Full Post »

Tadinya saya mengira, kehadiran Julian akan menjadi sumber inspirasi untuk menulis. Banyak sekali yang bisa diceritakan tentang bos saya yang satu ini. Tapi apa daya, energi terkuras untuk bekerja pada Si Bos. Pernah, saya meminjam paksa laptop bapaknya, dan langsung membuka wordpress. Tapi setelah 15 menit bengang-bengong di hadapan tulisan ‘add new post’ tanpa mengetik sepatah kata pun, akhirnya saya menyerah.

Mungkin jiwa menulis saya agak tumpul sementara ini. Untunglah jiwa bermusik dan bernyanyi saya masih terus menyala-nyala seperti biasa. Yang berbeda hanya jenis lagu dan cara menyanyikannya.

Saat berusia sekitar satu setengah bulan, Julian sudah mulai mengoceh. “Eu, euuu” demikian ucapnya sambil tersenyum-senyum. Kalau sedang gembira dan bersemangat, ocehan itu disertai dengan gerakan tangan serta tendangan heboh ^^Karena itu, ia mendapat nama kesayangan baru, yaitu Si ‘Eu’ ^^

Tapi itu kalau Eu sedang gembira dan penuh semangat. Ada juga masa-masa di mana bos saya ini bete dan rewel, sehingga perlu dihibur. Di sini baru terasa, betapa pentingnya ketrampilan bermusik dan bernyanyi. Kebetulan Eu menyukai suara ibunya (ya iyalah, disogok pake ASI gitu loh^^) dan juga bapaknya ^^

Inilah sejumlah hiburan ‘live music’ yang biasa kami tampilkan di rumah, untuk menghibur Eu.

Eu sangat menyukai lagu ‘The Chicken Dance’. Bagi yang hobi menonton film-film lawas Warkop Dono-Kasino-Indro, pasti tahu lagu ini ^^

Pernah, suatu siang dia menangis heboh sekali. Setelah saya gendong sambil berayun-ayun dan ber-na-na-na menyenandungkan ‘The Chicken Dance’, Eu langsung diam dan tersenyum-senyum. Di lain kesempatan, Eu yang sedang rewel langsung terdiam setelah ibunya menyanyikan lagu itu, dan bapaknya memperagakan gerakan tarinya ^^

Eu juga sangat menyukai lagu ‘Naik Delman’, terutama pada bagian ‘duk-tik-dak-tik-duk-tik-dak suara sepatu kuda’. Lagu ini sebaiknya dinyanyikan oleh dua orang. Satu orang menyanyikan lirik utama, dan yang satunya lagi menyuarakan sound effect untuk menggambarkan derap langkah kaki kuda ^^

Bagaimana dengan lagu pengantar tidur? Gampang sekali. Kalau ingat lirik lagunya boleh dinyanyikan. Tapi kalau tidak tahu (atau memang tidak ada) liriknya, cukup disenandungkan dengan mm-mm-mm. Jadi, sepanjang kita tahu melodinya, koleksi lagu pengantar tidur Eu bisa dibilang tidak terbatas ^^

Eu suka lagu ‘Rayuan Pulau Kelapa’ dan ‘Tanah Airku’ (untung ibunya juga suka, dan karena itu hafal liriknya^^), Rock-a-bye Baby, Gundul-Gundul Pacul, Lullabye, Ambilkan Bulan Bu, Bintang Kecil, Kodok Ngorek, The Beautiful Blue Danube, Bebek Adus Kali, Amazing Grace, Desaku Yang Kucinta, Edelweiss, dan masih banyaaaaak lagi ^^

Saat Eu agak sulit tidur di malam hari, atau tidur dengan gelisah hingga terbangun lagi, ibunya akan menyajikan hiburan ‘live music’ pengantar tidur. Rasanya bahagiaaaaa dan hangaaaaat sekali di hati, kalau Eu tertidur lelap dalam gendongan saya, saat sedang dinyanyikan lagu pengantar tidur. Rupanya tidak sia-sia Eu punya ibu yang hobi menyanyi ^^

Sebagai imbalannya, saya diberi ekspresi wajah seperti di bawah ini ^^

Read Full Post »

Julian

Waktu berusia 6 minggu, hanya kantongnya saja yang terlihat.

Waktu berusia 8 minggu, bentuknya terlihat lucu seperti Barney ^^

Waktu berusia 11 minggu 5 hari, bentuknya sudah seperti bayi, hanya saja ukurannya masih amat mungil. Saat dokter kandungan menekan perut ibunya, Si Dedek merasa daerah kekuasaannya terganggu. Sontak ia bergerak heboh, mengacungkan tangan dan kakinya, ke kiri dan ke kanan, ke atas dan ke bawah, ke segala arah pokoknya ^^

Untung ada USG. Kalau tidak, saya sendiri tidak akan percaya, janin berusia 11 minggu bisa bergerak seheboh itu ^^

Dari hari ke hari, ia terus bertumbuh…

Waktu berusia tepat 40 minggu, Si Dedek merasa sudah waktunya keluar!

Berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, serta dokter, bidan, dan suster yang hebat, dukungan keluarga, ketekunan saya senam hamil setiap minggu sejak kandungan berusia 30 minggu, ditambah dengan suntikan ILA (biar tidak sakit saat melahirkan), Marcus Julian Kajo dilahirkan ke dunia ini, pada tanggal 3 Agustus 2011, sekitar pukul 19.47 WIB. Berat badannya 3,47 kg, panjangnya 51 cm.

Sejak saat itulah saya mendapat seorang ‘bos’ baru ^^

Pada hari pertama, bos saya baiiik sekali. Ia tidur seharian, hanya bangun sebentar-sebentar untuk dimandikan dan belajar menyusu, serta tidak rewel.

Mulai hari kedua, bos saya sudah merasa haus dan lapar. Sayang ASI-nya belum keluar. Akhirnya bos saya hanya sekedar belajar menyusu, tanpa mendapatkan susu itu sendiri. Kalau sudah benar-benar merasa haus dan lapar, bos saya akan memperlihatkan ekspresi wajah sedih dan menangis.

Saya ikut merasa sediiih sekali. Betapa tidak, saya sendiri diberi berbagai macam makanan, sayuran dan minuman yang bergizi, serta merasa kenyang sepanjang waktu. Sedangkan bos saya itu justru kelaparan, dan belum mendapat apa-apa sama sekali. Tetapi tidak apa-apa, karena bayi yang baru dilahirkan masih mempunyai cadangan makanan yang cukup untuk 3 hari.

Waktu dilahirkan, badannya lumayan gemuk. Tapi makin lama terlihat makin kurus. Sungguh tidak tega rasanya…

Setelah dua setengah hari lamanya tinggal di klinik, dan ASI masih belum keluar, saya benar-benar merasa kasihan kepada bos saya. Lantas saya berkonsultasi dengan dokter. Dokter bilang, diberi susu formula dulu tidak apa-apa. ASI rasanya lebih enak kok. Nanti kalau produksi ASI sudah melimpah, Si Dedek pasti dengan mudah beralih ke ASI.

Begitu dibawa pulang ke rumah pada hari ketiga, bos langsung diberi hadiah berupa 30 ml susu formula. Betapa bahagia dan cerah rona wajahnya kala itu!!! ^^

Saya merasa sedih karena tidak bisa memberikan ASI eksklusif. Tapi tidak apa-apa, meski tanpa embel-embel eksklusif, bos saya harus tetap mendapat ASI. Hei payu****, berproduksilah! ^^

Saya melahap daun katuk, bayam, dan berbagai kacang-kacangan setiap hari, dalam porsi besar. Minum air sari kacang hijau yang sungguh mati saya benci (sambil menutup hidung dan memotivasi diri tentunya), temulawak, susu untuk ibu hamil, vitamin, dan entah apa lagi.

Setelah bos berusia sekitar 5 hari atau seminggu (lupa tepatnya), barulah ASI saya keluar. Fffiiiuuuhhh, lega… ^^

Keluarnya masih sedikit sekali, dan jelas tidak cukup untuk seorang bayi kecil yang sangat gemar minum susu. Tapi sesedikit apa pun tetap harus diberikan, karena dengan demikian, secara otomatis produksinya akan terus bertambah.

Kini produksinya memang sudah jauh bertambah. Tapi kebutuhan bayi kecil ini juga terus bertambah, sehingga susu formula juga tetap diberikan. Hanya saja, kalau dulu 1 kaleng dihabiskan dalam 5 hari, sekarang 1 kaleng bisa cukup untuk 7-8 hari ^^

Saya masih berharap dan berusaha, agar suatu hari nanti produksi ASI bisa mencukupi seluruh kebutuhannya ^^

Bos saya ini menuntut saya untuk bekerja 24/7, yaitu 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Kalau orang lain merasa senang saat hari Jumat sore tiba (wiken, yihaaa!^^), bagi saya mah tidak ada bedanya. Saya tetap harus bekerja. Tanggal merah juga sama.

Selain itu, jam kerjanya amat tidak pasti. Kalau membutuhkan saya pukul 3 pagi misalnya, bos yang satu ini tidak segan-segan membangunkan saya.

Barulah saya merasa, betapa enaknya kerja kantoran itu ya ^^ Jam kerjanya sudah pasti, kalaupun lembur juga sudah pasti, misalnya sampai pukul 22.00 saja, setelah itu bisa pulang dan beristirahat. Sabtu-Minggu libur, ada jatah cuti 12 hari, dan lain sebagainya.

Namun dari semua bos yang pernah menjadi atasan saya, bos inilah yang paling saya sayangi. Bos ini membuat saya merasa amat dibutuhkan, dan mengajarkan begitu banyak hal kepada saya. Nanti ditulis satu-persatu dalam blog ini, tunggu saja ya ^^

Selain itu, bos yang satu ini sangat unik. Kalau bos-bos saya yang dulu membayar saya dengan sejumlah rupiah, bos mungil ini cukup membayar saya dengan senyuman. Herannya, saya kok ya terima-terima saja ya. Tidak pakai protes dulu, gitu.

Tahukah Anda, mengapa? Karena senyumannya manis sekali ^^


Read Full Post »