Feeds:
Posts
Comments

Archive for June, 2012

Ulat yang tangguh

Seekor ulat bertahan 3 hari di dalam kulkas, nyaris hanyut di bak cuci piring, namun pada akhirnya hidup bahagia di pohon delima.

Ulat ini tidak mungkin menulis autobiografi (menuliskan sendiri kisah hidupnya). Namun ada seorang penulis iseng nan kurang kerjaan yang kebetulan menggunakan Blackberry bekas milik adiknya, punya rumah maya di wordpress serta kompasiana, terhubung dengan internet, dan yang terpenting, bersedia membuatkannya sebuah biografi singkat.

Seekor ulat hidup dengan tenteram dan sejahtera di sebuah pertanian organik, tepatnya di sebuah tanaman brokoli. Suatu hari, brokoli tempat tinggalnya dipetik bersama dengan sayur-sayuran lain yang telah matang, dan didistribusikan ke pasar-pasar, supermarket-supermarket, toko-toko, dan sebagainya.

Pada hari Jumat pagi, tibalah ulat ini di pasar modern BSD, yang terletak di bilangan Serpong, Tangerang Selatan. Tepatnya di sebuah kios kecil yang khusus menjual produk-produk makanan organik.

Oleh pegawai kios, brokoli tempat tinggal Si Ulat lantas dibungkus dengan plastik, siap dimasukkan ke kulkas agar tidak mudah busuk. Plastik pembungkusnya rapat sekali, tentunya oksigen tidak bisa masuk, bagaimana kalau Si Ulat kekurangan oksigen? Mampus deh gue, pikir Si Ulat (keluh).

Untung, tidak lama kemudian, datanglah seorang ibu muda rupawan yang memesona nan cantik jelita (untung nggak ada editor, kalau ada, kalimat di atas tentu sudah disensor), yang hendak membeli sayuran organik untuk bayinya. Sebelum sempat dimasukkan ke dalam kulkas, brokoli tempat tinggal Si Ulat sudah berpindah tangan.

Setibanya di rumah, ibu muda rupawan yang memesona nan cantik jelita (please, deh!) ini langsung merobek sedikit plastik pembungkus brokoli, dan memetik sedikit brokoli untuk direbus bersama sayuran lainnya sebagai makanan bayi. Oksigen pun berlomba-lomba mengalir masuk. Ahhhhh, segarnya, pikir Si Ulat (lega).

Namun kelegaan itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba Si Ulat merasa bahwa udara di sekitarnya mendadak bertambah dingin dengan drastis. Waduh, serasa di Mount Everest aja! Tapi tidak sia-sia Si Ulat dilahirkan, dan tinggal di alam bebas seumur hidupnya. Tanpa jaket di saat dingin, tanpa payung saat hujan, tanpa air conditioner saat panas. Ya, Si Ulat telah ditempa oleh alam menjadi mahkluk yang ulet nan tangguh.

Setiap hari, si ibu muda rupawan yang memesona nan cantik jelita (plis deh iiihhh, gak pegel apa, ngetiknya!!!) akan mengeluarkan brokoli dari kulkas, memetiknya sedikit, lantas mengembalikannya. Sampai pada hari suatu hari Senin yang indah.

Saat mengeluarkan brokoli dari kulkas, ibu muda yang rupawan, memesona, eh apa tadi ya? (Nah, lupa kan? Bagus! Malah bagus!!!) Well, pokoknya ibu muda ini menyadari, bahwa ada seekor ulat yang bertengger pada brokolinya. Ooo, ulat mati, pikirnya. Ulat yang malang.

Si Ulat bergerak sedikit. Si ibu muda yang rupa… Oke deh, cukup si ibu muda saja ya. Ibu ini berpikir, mungkin ia salah lihat. Ulat tadi pasti sudah mati karena sudah berhari-hari tinggal di kulkas.

Disentakkannya brokoli tersebut ke arah bak cuci piring, untuk membuang Si Ulat. Sekali lagi, dilihatnya Si Ulat Mungil bergerak sedikit. Namun terlambat, tubuh mungil itu sudah terlempar ke bak cuci, dan lenyap terbawa air serta sabun.

Beberapa saat kemudian, si ibu (nah, gini kan bagus! Ringkas! Nggak narsis!!!) kembali ke bak cuci untuk mencuci peralatan makan bayinya. Dilihatnya Si Ulat tengah merayap pelan, berusaha keluar dari bak cuci.

Olala, ternyata ulat ini beneran masih hidup. Tadi kan jelas-jelas sudah hanyut. Sekarang bisa merayap keluar. Tidak diragukan lagi, satwa mungil ini masih hidup!

Betapa hebat perjuangannya untuk bertahan hidup! Betapa kerasnya cobaan yang ia jalani! Dibekap dalam plastik kedap udara, dimasukkan ke dalam kulkas, dihanyutkan dalam bak cuci piring pula!

Namun Si Ulat pantang menyerah. Selama Sang Pencipta masih menghembuskan napas kehidupan dalam tubuh mungilnya, Si Ulat bertekad untuk memenuhi panggilan itu, dan terus berjuang mempertahankan nyawanya.

Si ibu merasa bersalah. Ulat masih hidup kok dihanyutkan ke bak cuci piring! Ulat seulet dan setangguh ini patut diberikan habitat hidup yang sesuai. Dengan bantuan sehelai kertas, Si Ulat diangkut keluar dari bak cuci.

Di luar rumah si ibu muda, tumbuhlah dengan subur sebatang pohon delima. Di sana ia meletakkan Si Ulat, dengan tujuan agar Si Mungil itu hidup berbahagia. Barangkali kelak ia akan menjelma menjadi seekor kupu-kupu rupawan yang memesona nan cantik jelita…

Sampai di sini perjumpaan kita ya Lat. So long, farewell, auf wiedersehen, goodbye… ☀^^☀

Read Full Post »

Untung tidak marah ^^

Kalau ada orang yang bersalah pada kita, kadang momen tersebut kita manfaatkan untuk marah-marah sepuasnya. Ya nggak? Luapkan segala angkara murka. Mumpung ada alasan kuat untuk marah. Kapan lagi?

Namun percayalah Kawan, TIDAK marah itu selalu lebih baik.

Saya pernah nyaris marah… lalu teringat pada buku ‘Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya’ karya Ajahn Brahm yang baru dibaca malam sebelumnya… lantas tidak jadi marah… dan merasa amat bersyukur karenanya…!!! ^^

Waktu itu saya bekerja di sebuah stasiun televisi lokal, di bagian berita internasional. Kami berlangganan berita dari kantor berita asing. Skrip berita dalam bahasa Inggris, saya unduh dari internet. Sedangkan footage atau gambarnya, direkam oleh bagian arsip.

Saya bertugas mengedit naskah berita yang sudah diterjemahkan, kemudian meminta footage-nya ke arsip, agar bisa dikerjakan oleh editor.

Kadang dibutuhkan waktu lama untuk menerjemahkan dan mengedit naskah berita, terutama yang rumit dan berbau ilmiah. Padahal kami senantiasa dikejar waktu.

Suatu hari, penerjemah berhasil menyelesaikan sebuah naskah yang sulit, setelah bekerja selama 3 jam. Saya sendiri butuh waktu 1 jam untuk mengedit naskah tersebut. Tapi sepadan, sebab isi beritanya sangat bagus dan informatif. Masalah baru timbul saat meminta footage.

Bagian arsip menelepon, memberitahukan bahwa footage yang diminta tak lagi tersedia.

“Sebenarnya sudah di-record, tapi tertimpa footage lain yang lebih baru. Harap maklum ya, yang bertugas me-record anak baru sih, jadi belum pengalaman.”

Kerja keras penerjemah selama 3 jam, plus kerja keras saya selama 1 jam jadi sia-sia. Yang lebih parah, bisa jadi esok harinya kami terpaksa menayangkan berita re-run (sudah pernah tayang), gara-gara berita yang ini gagal tayang. Bakal jadi catatan kinerja yang buruk untuk program kami.

Alasan yang sempurna untuk marah-marah bukan?

Namun untunglah malam sebelumnya saya membaca buku ‘Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya’ karya Ajahn Brahm. Bab ‘Kemarahan dan Pemaafan’, kisah ke-28 yang berjudul ‘Kemarahan’, halaman 77 (baca sendiri ya ^^)

Saya memutuskan untuk tidak marah. Pasti si anak baru ini tidak sengaja. Saya hanya memintanya untuk lebih hati-hati me-record footage. Kalaupun ada footage yang terhapus, harap segera memberi tahu, agar kami tidak kecele dan bisa mengerjakan berita lain.

Si anak baru tersenyum, dan berjanji akan lebih hati-hati.

Huahhh, lagian mana bisa marah pada anak ini. Tampangnya yang imut dan amat polos mirip sama keponakan saya yang masih duduk di bangku SMU ^^

Untung, beribu untung saya tidak marah. Belakangan baru saya tahu, kami tinggal di kompleks perumahan yang sama, berangkat dan pulang kerja dengan bis feeder busway yang sama pula!

Pernah, waktu hamil tua, saya naik bis saat tempat duduknya sudah penuh. Anak ini langsung berdiri dan merelakan bangkunya untuk saya. Baik sekali ya ^^

Untung waktu itu saya tidak marah… Untunglah ^^

Read Full Post »

Local Idol ^^

Untuk sementara waktu ini, setiap Jumat malam (sekarang pindah ke Sabtu sore) telinga saya dimanjakan oleh alunan suara dari penyanyi-penyanyi sakti (atau bahkan super sakti!), para finalis Indonesian Idol 2012. Tahun ini gila! Harus nonton! Kirim sms! Telepon! Vote finalis favorit Anda! Kalau tidak sempat nonton, saksikan tayangan ulangnya!

Mendengar Regina menyanyi, bulu kuduk saya sampai berdiri. Menonton Sean yang jago, tak terasa saya melongo. Penampilan Dion, wow keren nion (maksa.com)! Suara Yoda, suara calon juara! Dan seterusnya.

Kalau anak saya belum tidur, saya akan menggendongnya sambil bergoyang ikut irama. Bayi berusia 10 bulan ini sepertinya menyukai musik, dan sanggup mengenali suara-suara bagus ^^

Tak terasa angan pun melayang… sampai ke beberapa tahun silam. Saat itu saya masih menyewa sebuah apartemen di bilangan Tanjung Duren, bersama seorang adik dan seorang teman. Sebut saja apartemen MGR. Pada saat menunggu lift, biasanya saya suka iseng melihat-lihat papan buletin. Kadang ada informasi yang berguna, seperti jadwal misa, atau jasa laundry kiloan murah misalnya. Namun petang itu, terdapat pengumuman yang agak lain dari biasa. Pemilihan MGR Idol!!!

Dalam rangka memperingati hari kemerdekaan RI tahun itu, apartemen MGR mengadakan lomba menyanyi. Ada babak penyisihan 1, babak penyisihan 2, hingga babak final. Pendaftarannya mudah saja. Tinggal minta formulir pada mas atau mbak resepsionis tower mana saja.

Pagi maupun sore hari biasanya lobby apartemen selalu ramai. Karena malu, saya memilih turun ke lobby setelah larut malam!

“Sudah banyak pesertanya, Mbak?”
“Belum, dari tower ini baru Mbak yang ambil formulir.”
“Ooo, begitu, terima kasih ya.”
Rupanya tidak banyak yang antusias mengikuti lomba ini ya. Kalau begitu, saya ikut meramaikan deh…

Babak penyisihan 1 diselenggarakan di kantor pengurus apartemen, yang bertempat di basement. Peserta bebas membawakan lagu apa saja. ‘Seindah Biasa’, sebuah nomor dari Siti Nurhaliza mengantar saya ke babak penyisihan 2.

Di babak penyisihan 2 dan babak final, seluruh peserta menyanyi dengan diiringi musik dari band yang beranggotakan karyawan pengurus apartemen. Para peserta boleh memilih 1 dari 5 lagu yang sudah ditentukan. Beruntung, saya lolos babak penyisihan 2, dan masuk babak final beserta 4 (atau 5, maaf lupa) peserta lainnya ^^

Yang lucu, foto kami berlima (atau berenam) dicetak dan dipasang di papan buletin. Lengkap dengan nama dan tower tempat tinggal. Untunglah cetakannya cukup buram sehingga foto-fotonya sulit dikenali. Kalau tidak, malu-lah yauw ^^

Singkat kata, saya menduduki posisi tepat di atas juru kunci. Hadiahnya lumayan, voucher senilai 30 ribu untuk berbelanja di sebuah minimarket, dan voucher senilai 20 ribu untuk makan di sebuah rumah makan Padang, keduanya berlokasi di dalam apartemen ^^

Tidak banyak yang saya ingat. Hanya bahwa kami semua merasa senang dan bersemangat. Bagi orang-orang yang suka menyanyi, kesempatan tampil menyanyi di depan umum, sekecil apa pun event-nya, tetaplah menegangkan sekaligus menyenangkan!

Kami saling menyemangati, bertepuk tangan sampai telapak tangan terasa pedas, tertawa bersama, bagaikan sahabat lama. Usai lomba, sudah tersedia hidangan berupa nasi dan ikan bakar lezat, gratis! Saya dan sahabat saya Ling-Ling, yang saat itu juga tinggal di apartemen MGR, makan malam bersama dengan gembira.

Usai acara, hari-hari kembali berjalan seperti biasa. Berangkat kerja, pulang, istirahat, tidur, keesokannya berangkat kerja lagi. Saya rasa para finalis lain juga demikian. Namun untuk sesaat, kami pernah mengalami menjadi finalis sebuah lomba nyanyi. Mempersiapkan diri dan berlatih sebaik mungkin, lantas tampil di panggung dadakan di area kolam renang, di hadapan penonton yang jumlahnya paling-paling hanya puluhan orang.

Sungguh senang rasanya. Terima kasih kepada pengelola apartemen MGR, atas kenangan indah ini. Kalau punya banyak uang kelak, saya beli deh 1 unit apartemennya ^^ Sekali lagi, terima kasih banyak.

Tertanda,

Finalis MGR Idol 2008 ^^

Read Full Post »