Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘日记’ Category

Sun sing suwe

Konon, total biaya membesarkan seorang anak sejak lahir sampai selesai kuliah S1, memakan biaya sekitar 1 juta dolar, di negeri Pakdhe (atau Paklik) Sam. Biaya tersebut dihabiskan untuk susu, makanan, pakaian, mainan, buku-buku, pendidikan, kesehatan, rekreasi, dan masih banyak lagi kebutuhan si anak.

Jadi, pasangan yang tidak memiliki anak bisa dibilang mendapatkan jackpot senilai 1 juta dolar AS! Sampai-sampai muncul guyonan yang agak sadis mengenainya (lebih baik tidak usah saya tulis di sini ya).

Tidak mengherankan jika di zaman modern ini kian banyak orang yang memutuskan untuk tidak memiliki anak. Tapi menurut saya pribadi, punya anak itu banyak sekali manfaat atau keuntungannya lho.

Salah satunya, kalau punya anak sendiri, kita bebas mencium pipinya sesuka hati. Saya sering sekali merasa gemes melihat bayi atau anak kecil yang lucu-lucu, tapi tidak berani sembarangan mencium pipi. Bisa dimarahi sama orangtuanya nanti!

Sekarang, setelah punya Julian, saya bebas…!!! ^^ Bebas mencium pipinya, keningnya, rambutnya, tangannya, kakinya, perutnya, keteknya (ketek bayi wangi lho^^), berkali-kali dan berlama-lama, tanpa ada yang memprotes. Mencium bayi itu agak seperti makan cokelat, bisa menimbulkan ketagihan. Makin dicium rasanya makin gemes, maka cium lagi, cium lagi, lagi, lagi, dan lagi… ^^

Dari awal saya sudah ‘memperingatkan’ Julian, “Kamu kalau lucu begini nanti Mama cium lho. Jadi terserah kamu ya, lucu boleh, nggak lucu juga boleh. Yang pasti kalau lucu, ‘hukumannya’ adalah cium.”

Lantas, apa yang terjadi? Tentu saja Julian tetap lucu, malahan menurut pendapat ibunya, makin hari dia makin lucu. Akibatnya Julian sering mendapatkan 3S dari ibunya, Sun Sing Suwe ^^

Kalau sehabis ini saya jarang-jarang menulis di blog, penyebabnya utamanya adalah : hari ini hari terakhir saya di kantor, sesudah ini saya resmi mengundurkan diri, dan bekerja untuk Bos Kecil di rumah. Otomatis, saya akan jarang terhubung ke internet untuk mengakses wordpress.

Penyebab keduanya? Mungkin saya akan terlalu sibuk mencium Si Kecil yang fotonya terpampang di bawah ini, sehingga tidak sempat menulis ^^

Read Full Post »

Tadinya saya mengira, kehadiran Julian akan menjadi sumber inspirasi untuk menulis. Banyak sekali yang bisa diceritakan tentang bos saya yang satu ini. Tapi apa daya, energi terkuras untuk bekerja pada Si Bos. Pernah, saya meminjam paksa laptop bapaknya, dan langsung membuka wordpress. Tapi setelah 15 menit bengang-bengong di hadapan tulisan ‘add new post’ tanpa mengetik sepatah kata pun, akhirnya saya menyerah.

Mungkin jiwa menulis saya agak tumpul sementara ini. Untunglah jiwa bermusik dan bernyanyi saya masih terus menyala-nyala seperti biasa. Yang berbeda hanya jenis lagu dan cara menyanyikannya.

Saat berusia sekitar satu setengah bulan, Julian sudah mulai mengoceh. “Eu, euuu” demikian ucapnya sambil tersenyum-senyum. Kalau sedang gembira dan bersemangat, ocehan itu disertai dengan gerakan tangan serta tendangan heboh ^^Karena itu, ia mendapat nama kesayangan baru, yaitu Si ‘Eu’ ^^

Tapi itu kalau Eu sedang gembira dan penuh semangat. Ada juga masa-masa di mana bos saya ini bete dan rewel, sehingga perlu dihibur. Di sini baru terasa, betapa pentingnya ketrampilan bermusik dan bernyanyi. Kebetulan Eu menyukai suara ibunya (ya iyalah, disogok pake ASI gitu loh^^) dan juga bapaknya ^^

Inilah sejumlah hiburan ‘live music’ yang biasa kami tampilkan di rumah, untuk menghibur Eu.

Eu sangat menyukai lagu ‘The Chicken Dance’. Bagi yang hobi menonton film-film lawas Warkop Dono-Kasino-Indro, pasti tahu lagu ini ^^

Pernah, suatu siang dia menangis heboh sekali. Setelah saya gendong sambil berayun-ayun dan ber-na-na-na menyenandungkan ‘The Chicken Dance’, Eu langsung diam dan tersenyum-senyum. Di lain kesempatan, Eu yang sedang rewel langsung terdiam setelah ibunya menyanyikan lagu itu, dan bapaknya memperagakan gerakan tarinya ^^

Eu juga sangat menyukai lagu ‘Naik Delman’, terutama pada bagian ‘duk-tik-dak-tik-duk-tik-dak suara sepatu kuda’. Lagu ini sebaiknya dinyanyikan oleh dua orang. Satu orang menyanyikan lirik utama, dan yang satunya lagi menyuarakan sound effect untuk menggambarkan derap langkah kaki kuda ^^

Bagaimana dengan lagu pengantar tidur? Gampang sekali. Kalau ingat lirik lagunya boleh dinyanyikan. Tapi kalau tidak tahu (atau memang tidak ada) liriknya, cukup disenandungkan dengan mm-mm-mm. Jadi, sepanjang kita tahu melodinya, koleksi lagu pengantar tidur Eu bisa dibilang tidak terbatas ^^

Eu suka lagu ‘Rayuan Pulau Kelapa’ dan ‘Tanah Airku’ (untung ibunya juga suka, dan karena itu hafal liriknya^^), Rock-a-bye Baby, Gundul-Gundul Pacul, Lullabye, Ambilkan Bulan Bu, Bintang Kecil, Kodok Ngorek, The Beautiful Blue Danube, Bebek Adus Kali, Amazing Grace, Desaku Yang Kucinta, Edelweiss, dan masih banyaaaaak lagi ^^

Saat Eu agak sulit tidur di malam hari, atau tidur dengan gelisah hingga terbangun lagi, ibunya akan menyajikan hiburan ‘live music’ pengantar tidur. Rasanya bahagiaaaaa dan hangaaaaat sekali di hati, kalau Eu tertidur lelap dalam gendongan saya, saat sedang dinyanyikan lagu pengantar tidur. Rupanya tidak sia-sia Eu punya ibu yang hobi menyanyi ^^

Sebagai imbalannya, saya diberi ekspresi wajah seperti di bawah ini ^^

Read Full Post »

Julian

Waktu berusia 6 minggu, hanya kantongnya saja yang terlihat.

Waktu berusia 8 minggu, bentuknya terlihat lucu seperti Barney ^^

Waktu berusia 11 minggu 5 hari, bentuknya sudah seperti bayi, hanya saja ukurannya masih amat mungil. Saat dokter kandungan menekan perut ibunya, Si Dedek merasa daerah kekuasaannya terganggu. Sontak ia bergerak heboh, mengacungkan tangan dan kakinya, ke kiri dan ke kanan, ke atas dan ke bawah, ke segala arah pokoknya ^^

Untung ada USG. Kalau tidak, saya sendiri tidak akan percaya, janin berusia 11 minggu bisa bergerak seheboh itu ^^

Dari hari ke hari, ia terus bertumbuh…

Waktu berusia tepat 40 minggu, Si Dedek merasa sudah waktunya keluar!

Berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, serta dokter, bidan, dan suster yang hebat, dukungan keluarga, ketekunan saya senam hamil setiap minggu sejak kandungan berusia 30 minggu, ditambah dengan suntikan ILA (biar tidak sakit saat melahirkan), Marcus Julian Kajo dilahirkan ke dunia ini, pada tanggal 3 Agustus 2011, sekitar pukul 19.47 WIB. Berat badannya 3,47 kg, panjangnya 51 cm.

Sejak saat itulah saya mendapat seorang ‘bos’ baru ^^

Pada hari pertama, bos saya baiiik sekali. Ia tidur seharian, hanya bangun sebentar-sebentar untuk dimandikan dan belajar menyusu, serta tidak rewel.

Mulai hari kedua, bos saya sudah merasa haus dan lapar. Sayang ASI-nya belum keluar. Akhirnya bos saya hanya sekedar belajar menyusu, tanpa mendapatkan susu itu sendiri. Kalau sudah benar-benar merasa haus dan lapar, bos saya akan memperlihatkan ekspresi wajah sedih dan menangis.

Saya ikut merasa sediiih sekali. Betapa tidak, saya sendiri diberi berbagai macam makanan, sayuran dan minuman yang bergizi, serta merasa kenyang sepanjang waktu. Sedangkan bos saya itu justru kelaparan, dan belum mendapat apa-apa sama sekali. Tetapi tidak apa-apa, karena bayi yang baru dilahirkan masih mempunyai cadangan makanan yang cukup untuk 3 hari.

Waktu dilahirkan, badannya lumayan gemuk. Tapi makin lama terlihat makin kurus. Sungguh tidak tega rasanya…

Setelah dua setengah hari lamanya tinggal di klinik, dan ASI masih belum keluar, saya benar-benar merasa kasihan kepada bos saya. Lantas saya berkonsultasi dengan dokter. Dokter bilang, diberi susu formula dulu tidak apa-apa. ASI rasanya lebih enak kok. Nanti kalau produksi ASI sudah melimpah, Si Dedek pasti dengan mudah beralih ke ASI.

Begitu dibawa pulang ke rumah pada hari ketiga, bos langsung diberi hadiah berupa 30 ml susu formula. Betapa bahagia dan cerah rona wajahnya kala itu!!! ^^

Saya merasa sedih karena tidak bisa memberikan ASI eksklusif. Tapi tidak apa-apa, meski tanpa embel-embel eksklusif, bos saya harus tetap mendapat ASI. Hei payu****, berproduksilah! ^^

Saya melahap daun katuk, bayam, dan berbagai kacang-kacangan setiap hari, dalam porsi besar. Minum air sari kacang hijau yang sungguh mati saya benci (sambil menutup hidung dan memotivasi diri tentunya), temulawak, susu untuk ibu hamil, vitamin, dan entah apa lagi.

Setelah bos berusia sekitar 5 hari atau seminggu (lupa tepatnya), barulah ASI saya keluar. Fffiiiuuuhhh, lega… ^^

Keluarnya masih sedikit sekali, dan jelas tidak cukup untuk seorang bayi kecil yang sangat gemar minum susu. Tapi sesedikit apa pun tetap harus diberikan, karena dengan demikian, secara otomatis produksinya akan terus bertambah.

Kini produksinya memang sudah jauh bertambah. Tapi kebutuhan bayi kecil ini juga terus bertambah, sehingga susu formula juga tetap diberikan. Hanya saja, kalau dulu 1 kaleng dihabiskan dalam 5 hari, sekarang 1 kaleng bisa cukup untuk 7-8 hari ^^

Saya masih berharap dan berusaha, agar suatu hari nanti produksi ASI bisa mencukupi seluruh kebutuhannya ^^

Bos saya ini menuntut saya untuk bekerja 24/7, yaitu 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Kalau orang lain merasa senang saat hari Jumat sore tiba (wiken, yihaaa!^^), bagi saya mah tidak ada bedanya. Saya tetap harus bekerja. Tanggal merah juga sama.

Selain itu, jam kerjanya amat tidak pasti. Kalau membutuhkan saya pukul 3 pagi misalnya, bos yang satu ini tidak segan-segan membangunkan saya.

Barulah saya merasa, betapa enaknya kerja kantoran itu ya ^^ Jam kerjanya sudah pasti, kalaupun lembur juga sudah pasti, misalnya sampai pukul 22.00 saja, setelah itu bisa pulang dan beristirahat. Sabtu-Minggu libur, ada jatah cuti 12 hari, dan lain sebagainya.

Namun dari semua bos yang pernah menjadi atasan saya, bos inilah yang paling saya sayangi. Bos ini membuat saya merasa amat dibutuhkan, dan mengajarkan begitu banyak hal kepada saya. Nanti ditulis satu-persatu dalam blog ini, tunggu saja ya ^^

Selain itu, bos yang satu ini sangat unik. Kalau bos-bos saya yang dulu membayar saya dengan sejumlah rupiah, bos mungil ini cukup membayar saya dengan senyuman. Herannya, saya kok ya terima-terima saja ya. Tidak pakai protes dulu, gitu.

Tahukah Anda, mengapa? Karena senyumannya manis sekali ^^


Read Full Post »

Sejak duduk di bangku SMP, saya sudah mengidolakan seorang penyanyi dan bintang film berinisial JL, yang berasal dari Taiwan. Saya berpendapat bahwa JL adalah cowok terganteng sedunia. Sayangnya, pendapat ini langsung disanggah dan dibantah habis-habisan oleh teman-teman saya! Karenanya saya lantas menggantinya dengan ‘cowok terganteng se-Asia’. Sebetulnya ini pun masih dibantah, tapi saya memutuskan untuk tetap keukeuh.

Namun belakangan ini, saya merasa bahwa saya telah salah memilih bintang idola. Memang betul, si JL ini guantengnya amit-amit, bahkan di usia 37 tahun saat ini. Namun prestasinya begitu-begitu saja, tidak berkembang. Berbeda dengan rekan-rekan seangkatan JL, di mana beberapa ada yang sudah sukses, dan merambah dunia musik serta film internasional.

Salah satunya, sebut saja si TK. Pada tahun 90-an, TK dan JL sama-sama masih remaja, dan main dalam film-film konsumsi remaja (yang aktingnya banyak haha-hihi, serta mengedepankan kegantengan fisik).

Namun prestasi TK terus melejit. Ia berperan dalam beberapa film yang juga diperlombakan di Cannes. Sejumlah penghargaan diraih. Aktingnya kian mantap. TK juga mendapat peran utama dalam film bagus macam The Red Cliff, misalnya. Dalam bidang menyanyi pun, suara si TK juga makin bagus, makin matang.

Bagaimana dengan JL? Beberapa tahun lalu saya menonton film silat seri terbaru yang dibintangi oleh JL. Aktingnya masih begitu-begitu aja, perannya masih tipe-tipe yang haha-hihi, dan mengedepankan kegantengan fisik. Jalan cerita filmnya pun cukup membosankan dan mudah ditebak.

Saya juga sempat membeli CD terbaru JL (nitip sama teman yang saat itu tinggal di Taiwan). Tipe lagu-lagu, serta kualitas suaranya, masih saja seperti yang dulu. Tidak ada perkembangan yang berarti. Ohya, JL sempat menekuni bidang balap mobil dan meraih sejumlah prestasi. Tapi kini tidak ada kelanjutannya lagi.

Dalam hati, saya merasa kecewa. Salahkah saya dalam memilih bintang idola? Kenapa dulu saya tidak mengidolakan si TK saja ya?

Muncul pula satu pemikiran horror yang membuat bulu kuduk saya berdiri. Bagaimana kalau saya senasib dengan JL? Mandeg, tidak berkembang, dan hanya begitu-begitu saja, dalam profesi yang saya tekuni.

Saya pernah berprofesi menjadi guru. Namun pada satu titik, saya merasa tidak bisa berkembang dalam bidang pendidikan, dan lantas melirik bidang lain. Pilihan saya jatuh pada media, yaitu televisi. Namun akhir-akhir ini, perasaan yang sama mulai mengusik. Saya tidak berkembang di bidang ini.

Saya pernah menekuni studi bahasa Mandarin selama 3 tahun. Namun sekarang bisa dibilang  sudah lupa semuanya.

Saya pernah menekuni vokal klasik selama 4 tahun. Namun kini terpaksa berhenti dulu (wah, kalau yang ini, jangan sampai hilang!!! Harus terus berlatih dan menyanyi sesering mungkin!!! Kalau ada yang butuh solis untuk Ave Maria Bach-Schubert-Caccini di gereja misalnya, atau lagu-lagu sejenis, hubungi saya ya, free of charge^^)

Dalam waktu dekat ini, diharapkan saya akan menjadi seorang ibu, profesi yang sama sekali baru. Saya hanya bisa ora et labora, agar dalam bidang yang satu ini saya bisa berhasil. Tidak ada kata ‘mandeg’, tidak ada kata ‘tak berprestasi’ ^^

Harus berhasil!!! Viva mothers…!!! ^^

Read Full Post »

Dedekius

Pagi-pagi, sudah ada yang berlatih Wing Chun di rumah kami. Ya, siapa lagi kalau bukan Dedekius. Sebetulnya, kami tidak pernah yakin benar apakah Dedekius sedang berlatih Wing Chun, atau melatih jurus ‘Tendangan Tanpa Bayangan’. Bisa jadi ia sedang berlatih ‘Pukulan Tanpa Bayangan’, ‘Pukulan Topan Badai’, ‘Kiu Yang Sin Kang’, atau jurus-jurus lain. Kami tidak tahu pasti. Wong latihannya di dalam perut, jadi tidak kelihatan, dan cuma bisa dirasakan.

Itu pun karena kebetulan saya penggemar film-film silat dan kungfu. Kalau saya penggemar balet misalnya, saya akan berpendapat bahwa Dedekius sedang melatih gerakan ‘Arabesque‘ atau ‘Brisé volé‘. Bagi penggemar sepak bola, boleh berpendapat Dedekius sedang berlatih menggiring bola, dan seterusnya.

Kadang-kadang, di hari Sabtu atau Minggu Dedekius bisa tenang sekali, hanya sedikit bergerak-gerak. Saya yang sempat khawatir lantas menanyakannya kepada dokter. Kata dokter sambil tersenyum, “yang ada di dalam sini orang lho, manusia, jadi bisa merasa capek.”

Hihihi, seperti orang kerja saja ya, hari Senin-Jumat aktif, hari Sabtu berisirahat. Mungkin kalau hari Sabtu, Dedekius sudah capek berlatih kungfu, jadi cukup les piano atau vokal saja ^^

Untunglah saya tidak gaptek-gaptek amat, dan bisa surfing di internet. Berkat internet, saya bisa tahu bahwa sebagian besar ibu mulai merasakan gerakan bayinya pada usia kehamilan 16-20 minggu. Karenanya, saat hamil 16 minggu, saya perhatikan betul kalau ada gerakan dari dalam perut.

Ternyata benar-benar ada!!! Mulanya samar-samar sekali, seperti kalau kita habis minum soft drink, lalu berasa ada yang greyel-greyel di dalam perut. Namun selama hamil saya bisa dibilang tak pernah minum soft drink (cuma pernah beberapa kali minta seteguk kalo adik saya baru minum). Jadi gerakan itu sudah pasti bersumber dari Dedekius!!!

Mula-mula saya menyombong pada Papakius. Dedekius sudah mulai nendang-nendang lho, tapi masih halus banget tendangannya, jadi cuma Mamakius yang bisa ngerasain. Papakius belum bisa, soalnya kalau dipegang dari luar, belum terasa. Kesannya eksklusif banget, bo ^^

Namun rupanya Dedekius tidak mengizinkan Mamakius berlama-lama menyombongkan diri. Suatu hari, saya kembali berkata keras-keras bahwa cuma Mamakius saja yang bisa merasakan tendangan istimewa ini.

Tepat keesokan harinya, saat sedang mengelus-elus perut, tiba-tiba terasa sebuah gerakan kecil. Wow, tendangan Dedekius sudah bisa dirasakan dari luar! Cepat-cepat saya panggil Papakius, dan menyuruhnya memegang perut saya. Seolah hendak memberitahukan keberadaannya, Dedekius kembali menendang! Kali ini Papakius bisa ikut merasakan! Betapa senangnya!!! ^^

Ah, tendangan kecil yang menyejukkan ^^

Bisa jadi itu bukan tendangan, melainkan pukulan, atau sikutan. Tapi tidak apa, kita pakai istilah universal saja, yaitu tendangan. Soalnya, jarang sekali ada yang bilang pukulan atau sikutan bayi.

Sebagai manusia yang fana (halah!), banyak sekali yang saya khawatirkan dalam hidup ini. Bagaimana ya, kalau harga cabe keriting terus naik? Bagaimana kalau timnas kita loyo terus? Kok Komisi Delapan bisa gak punya email resmi? Kenapa ada orang yang suka menanam bom? Bukankah menanam pohon duren lebih menguntungkan? Udah lama nggak ikut koor atau les vokal nih, masih bisa nyanyi nggak ya? Teater Koma masih akan melanjutkan pementasan Sie Jin Kwie 3 tahun depan atau tidak? Bagaimana soal penyelesaian pajak film asing? Dan yang paling penting, Harry Potter 7B main di bioskop-bioskop kita nggak? Juga Pirates of Carribean 4: On Stranger’s Tides? Itu kan 2 film yang masuk kategori ‘wajib tonton’?

Hanya dibutuhkan satu tendangan kecil untuk menghilangkan kekhawatiran-kekhawatiran di atas. Tung! (dulu tendangnya masih ringan-ringan saja). Dung! (tendangannya makin kuat). Jedung! (wow, tenaga dalamnya sudah banyak kemajuan). JEBUNG! (iya deh, nanti dibeliin tiang kayu yang khusus buat latihan Wing Chun ya… ^^)

I have nothing to worry about, now that I have you… ^^

(ditulis dalam rangka bersyukur, hari ini kehamilan Mamakius genap 28 minggu alias 7 bulan) ^^

Read Full Post »

Sekelompok biarawati Katolik (berjumlah 4 hingga 6 orang, saya lupa pastinya berapa ^^) diberikan tiket untuk menonton ‘Sie Jin Kwie Kena Fitnah’, produksi ke-122 Teater Koma, yang dipentaskan tanggal 4-26 Maret 2011 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM).

“Bagus lho,” kata si pemberi tiket yang entah siapa. “Suster mau nonton?”

Tawaran ini tentu saja disambut baik oleh para biarawati dari Tarekat CB (Carolus Borromeus) tersebut. Jadilah, pada petang hari tanggal 26 Maret, para suster ini berangkat dari tempat bertugas mereka, yaitu RS St. Carolus di Jakarta Pusat, menuju ke TIM. Sarana transportasi yang digunakan pun cukup unik, yaitu menumpang mobil ambulans yang kebetulan hari itu rutenya memang melewati kawasan Cikini!!!

Jangan tanya kepada para suster ini, nantinya mereka akan pulang naik apa. Mereka sendiri juga belum tahu pulangnya bagaimana. Namun justru itulah kelebihan orang beriman. Nonton teater, ya nonton saja.  Tuhan sendirilah yang akan menjaga dan mengantar mereka sampai ke rumah dengan selamat.

Benar saja. Begitu menapakkan kaki di teras GBB, seorang pria muda langsung menyapa seorang suster, dengan heran bercampur gembira. “Lho, suster…??? Nonton sama siapa saja? Kok kebetulan bisa barengan? Nanti pulangnya bagaimana? Saya anterin aja ya…???” dan seterusnya. Demikianlah, akhirnya para suster dapat menonton teater dengan tenang, karena sudah ada yang menjanjikan akan mengantar mereka pulang.

Rupanya pria muda ini adalah keponakan salah seorang suster. Teater Koma berpentas selama kurang lebih 3 minggu. Tanpa janjian dulu, tante dan keponakan ini menonton pada hari yang sama. Kebetulan yang lumayan juga ya ^^

Tuhan bekerja dengan cara yang misterius, begitu kata orang. Kalau boleh saya tambahkan, Tuhan juga bekerja dengan cara yang sangat hati-hati dan terencana.

Ada seorang penggemar fanatik yang suka mengajak orang-orang pergi menonton pertunjukan Teater Koma. Sebab, menurut seorang pemain teater favoritnya, mengajak orang nonton teater itu adalah tugas mulia, hehe… ^^

Sekitar bulan Oktober tahun 2010, si penggemar fanatik mendapat orang baru yang potensial untuk diajak menonton. Si orang baru ini tertarik, lantas mengajak suaminya. Suaminya adalah keponakan si suster tadi.

Mengenai tanggal 26 Maret, sebenarnya si penggemar fanatik ingin mengajak rombongannya menonton lebih awal. Kalau bukan weekend tanggal 12-13 Maret, ya tanggal 19-20 Maret. Tapi adik si penggemar fanatik tidak bisa, karena pada dua weekend tersebut dia harus menghadiri outing bersama rekan-rekan kantornya, dan menjadi panitia dalam sebuah retret. Jadi, satu-satunya pilihan, ya Sabtu tanggal 26 Maret.

Setelah semua faktor prithil-prithil di atas digabungkan, hasilnya adalah: para suster mendapatkan tumpangan untuk pulang ke rumah ^^

Begitulah cara Tuhan bekerja. Hebat ya ^^

Read Full Post »

Keajaiban di lantai 6 ^^

Hari Jumat, pukul 15.40 sore. Saya kebetulan melewati meja seorang editor, sebut saja namanya I. Di atas mejanya terdapat sebuah G4 yang layarnya sudah gelap, dan di atas keyboard G4 tersebut bertenggerlah 2 lembar skrip. Skrip tersebut adalah hasil terjemahan saya sendiri, yang sudah selesai saya kerjakan sehabis istirahat makan siang, sekitar pukul 13.15 atau 13.30 tadi. Si I sendiri tidak kelihatan batang hidungnya.

Saya pikir, aneh juga. Skrip tersebut jelas-jelas sudah di-VO (voice over, di mana seseorang membacakan skrip tersebut dan suaranya direkam, untuk kemudian digabungkan dengan gambar, agar menjadi  sebuah berita utuh) tidak lama setelah selesai dikerjakan. Mungkin sekitar pukul 14.00 proses VO sudah selesai. Lantas, kenapa hingga pukul 15.40 Si I belum mengedit berita tersebut?

Kalau diambil kesimpulan sepihak, tentunya Si I ini adalah seorang yang malas dan tidak bertanggung jawab, lha wong pekerjaan belum dikerjakan sama sekali kok malah menghilang. Namun saya mengenal baik Si I ini. Kebiasaannya adalah mengerjakan editan secepat-cepatnya, agar kalau ada kesalahan bisa direvisi secepatnya pula. Setelah pekerjaannya selesai, jika masih ada waktu, barulah ia akan bersendau-gurau dengan teman-teman lain. Jadi kesimpulan tadi tidak sesuai dengan kebiasaannya.

Saat hendak pergi mencari I, kebetulan saya berpapasan dengan I dan beberapa teman lain. Beberapa orang teman ini mengajak I untuk pergi sebentar guna mencari makanan (maklumlah, jam sekian memang jam-jamnya orang kelaparan ^^). Namun I menolak, dengan alasan bahwa dia sama sekali belum mengedit berita yang ditugaskan, karena footage (gambar)-nya saja belum ia dapatkan.

Tentu saja saya kaget. Kok belum dapat footage-nya? Kenapa? Rupanya, divisi A di kantor kami (yang antara lain tugasnya merekam dan menyimpan footage dari kantor berita luar negeri), sedang mengadakan rapat penting. Akibatnya, pintu masuk ke ruang A dikunci. Pintu tersebut terbuat dari kayu yang ada kacanya, sehingga mereka bisa mendengar dan melihat jika ada yang mengetuk pintu. Namun jika mereka berpikir urusan orang tersebut kurang penting, mereka tidak akan membukakan pintu.

Ternyata Si I dianggap kurang penting, karena ia tidak juga dibukakan pintu. Padahal ia sudah meminta kaset berisi footage tersebut sejak tadi. Seorang rekan bernama O juga bernasib sama. Ia membutuhkan materi dari sebuah kaset. Materi tersebut masih harus diedit ulang, lantas diserahkan ke pihak M selambat-lambatnya pukul 16.00. Tapi apa daya, divisi A sedang rapat, sehingga tidak bersedia membukakan pintu.

Saya sendiri, editan yang mestinya dikerjakan I tersebut, rencananya akan dipakai untuk taping hari berikutnya. Karena itu, saya langsung mendatangi pintu divisi A dan mengetuk pintu dengan sedikit bersemangat. Akhirnya dibukakan juga. Saya meminta maaf telah mengganggu rapat divisi A, dan meminta bantuan untuk meminjam footage. Akhirnya diberikan juga. Meski seseorang sedikit mengeluh, kapan rapatnya bisa selesai kalau diganggu terus, katanya.

Saya hanya bisa meminta maaf. Pasalnya, bila tidak ada footage, editor tidak bisa mengedit. Bila editor tidak bisa mengedit, maka tidak ada berita yang bisa ditayangkan.

Sebuah keajaiban yang barangkali hanya terjadi di lantai 6 ^^

Read Full Post »

Older Posts »