Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Bingung’ Category

Sejak duduk di bangku SMP, saya sudah mengidolakan seorang penyanyi dan bintang film berinisial JL, yang berasal dari Taiwan. Saya berpendapat bahwa JL adalah cowok terganteng sedunia. Sayangnya, pendapat ini langsung disanggah dan dibantah habis-habisan oleh teman-teman saya! Karenanya saya lantas menggantinya dengan ‘cowok terganteng se-Asia’. Sebetulnya ini pun masih dibantah, tapi saya memutuskan untuk tetap keukeuh.

Namun belakangan ini, saya merasa bahwa saya telah salah memilih bintang idola. Memang betul, si JL ini guantengnya amit-amit, bahkan di usia 37 tahun saat ini. Namun prestasinya begitu-begitu saja, tidak berkembang. Berbeda dengan rekan-rekan seangkatan JL, di mana beberapa ada yang sudah sukses, dan merambah dunia musik serta film internasional.

Salah satunya, sebut saja si TK. Pada tahun 90-an, TK dan JL sama-sama masih remaja, dan main dalam film-film konsumsi remaja (yang aktingnya banyak haha-hihi, serta mengedepankan kegantengan fisik).

Namun prestasi TK terus melejit. Ia berperan dalam beberapa film yang juga diperlombakan di Cannes. Sejumlah penghargaan diraih. Aktingnya kian mantap. TK juga mendapat peran utama dalam film bagus macam The Red Cliff, misalnya. Dalam bidang menyanyi pun, suara si TK juga makin bagus, makin matang.

Bagaimana dengan JL? Beberapa tahun lalu saya menonton film silat seri terbaru yang dibintangi oleh JL. Aktingnya masih begitu-begitu aja, perannya masih tipe-tipe yang haha-hihi, dan mengedepankan kegantengan fisik. Jalan cerita filmnya pun cukup membosankan dan mudah ditebak.

Saya juga sempat membeli CD terbaru JL (nitip sama teman yang saat itu tinggal di Taiwan). Tipe lagu-lagu, serta kualitas suaranya, masih saja seperti yang dulu. Tidak ada perkembangan yang berarti. Ohya, JL sempat menekuni bidang balap mobil dan meraih sejumlah prestasi. Tapi kini tidak ada kelanjutannya lagi.

Dalam hati, saya merasa kecewa. Salahkah saya dalam memilih bintang idola? Kenapa dulu saya tidak mengidolakan si TK saja ya?

Muncul pula satu pemikiran horror yang membuat bulu kuduk saya berdiri. Bagaimana kalau saya senasib dengan JL? Mandeg, tidak berkembang, dan hanya begitu-begitu saja, dalam profesi yang saya tekuni.

Saya pernah berprofesi menjadi guru. Namun pada satu titik, saya merasa tidak bisa berkembang dalam bidang pendidikan, dan lantas melirik bidang lain. Pilihan saya jatuh pada media, yaitu televisi. Namun akhir-akhir ini, perasaan yang sama mulai mengusik. Saya tidak berkembang di bidang ini.

Saya pernah menekuni studi bahasa Mandarin selama 3 tahun. Namun sekarang bisa dibilang  sudah lupa semuanya.

Saya pernah menekuni vokal klasik selama 4 tahun. Namun kini terpaksa berhenti dulu (wah, kalau yang ini, jangan sampai hilang!!! Harus terus berlatih dan menyanyi sesering mungkin!!! Kalau ada yang butuh solis untuk Ave Maria Bach-Schubert-Caccini di gereja misalnya, atau lagu-lagu sejenis, hubungi saya ya, free of charge^^)

Dalam waktu dekat ini, diharapkan saya akan menjadi seorang ibu, profesi yang sama sekali baru. Saya hanya bisa ora et labora, agar dalam bidang yang satu ini saya bisa berhasil. Tidak ada kata ‘mandeg’, tidak ada kata ‘tak berprestasi’ ^^

Harus berhasil!!! Viva mothers…!!! ^^

Read Full Post »

Rabu 14 April 2010 terjadi peristiwa berdarah di Koja, Tanjung Priuk, Jakarta Utara. Bentrokan tak terelakkan, ketika petugas Satpol PP hendak menggusur paksa makam Mbah Priuk, seorang tokoh penyebar agama Islam di Batavia pada abad ke-18. Sedangkan warga mempertahankan makam tempat ziarah umat Islam tersebut. Bentrokan berakhir tragis, dengan 3 orang korban meninggal dunia dan ratusan korban luka-luka berat maupun ringan.

Kamis 15 April 2010 (mengutip artikel Kompas 16/4 ‘Kesepakatan “Koja” Tercapai’) Akhirnya mediasi konflik antara keluarga ahli waris Al Imam Al Arif Billah Al Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan PT Pelindo II menghasilkan sembilan kesepakatan.

Pada satu hari, Satpol PP seolah diadu dengan warga, kedua belah pihak unjuk kekuatan, seakan perang melawan penjajah atau alien serangga raksasa di film Starship Troopers.

Kedua belah pihak sama-sama punya alasan kuat. Pihak Satpol PP sekedar menjalankan tugas dari atasan. Sedangkan warga berusaha mempertahankan makam Mbah Priuk, tempat keramat yang juga bernilai sejarah tinggi (yang memang seharusnya dijaga dan dilestarikan, bukannya digusur!!!).

Pada hari berikutnya, langsung dicapai kesepakatan antara ahli waris makam Mbah Priuk, Pemprov DKI Jakarta, dan PT Pelindo II. Makam tetap dipertahankan, dan bahkan dijadikan cagar budaya. Akan dibuat jalan khusus menuju makam, sehingga peziarah tak perlu bersinggungan jalan dengan pengguna Terminal Peti Kemas.

Nah, pertanyaan saya, kalau memang masalah ini bisa diselesaikan dengan relatif mudah, (dalam satu hari saja kesepakatan langsung tercapai), kenapa tidak sejak awal diadakan musyawarah???

Kenapa musti menunggu jatuhnya korban jiwa? Korban luka-luka? Apakah pemerintah sedemikian tidak peduli sehingga memilih menggunakan cara (yang dikira) mudah (seperti biasa) dengan mengerahkan Satpol PP?

Hanya saja, di luar dugaan, warga melawan dengan sekuat tenaga. Ternyata, cara penuh kekerasan ini pun terbukti jauh dari mudah, dan malah menumpahkan darah.

Pemprov DKI Jakarta yang baik, saya tahu mengemban tugas sebagai pemerintah tidaklah mudah.

Setiap hari harus mengurus dan menyelesaikan berbagai masalah.

Namun ingatlah bahwa nyawa manusia bukan barang murah.

Pimpinlah dan aturlah kami dengan baik, jangan gegabah.

Toh di setiap kamus Bahasa Indonesia tercantum kata ‘musyawarah’.

Kata itu jangan hanya dijadikan pelengkap, tapi gunakanlah.

Jangan menjadikan kekerasan sebagai satu-satunya jalan. Banyak jalan ke Roma. Carilah jalan paling bijaksana, yang menjauhkan rakyat dari sengsara.

Akhirnya suara warga Koja didengar juga. Namun bagaimana ya, dengan warga Cina Benteng di tepi Sungai Cisadane yang pemukimannya juga akan digusur? Siapa yang akan mendengar suara mereka?

Read Full Post »

Apa yang terjadi bila seseorang benar-benar tak punya uang?

Saya pernah membaca sebuah berita di media elektronik tahun 2009 lalu, yang mengisahkan tentang seorang petugas kebersihan/penyapu jalan yang mendadak meninggal dunia ketika sedang bertugas. Setelah dilakukan otopsi, ditemukan bahwa yang bersangkutan meninggal dengan perut kosong. Maka ditarik kesimpulan sederhana, bapak tersebut meninggal akibat kelaparan.

Oh my God??? Meninggal akibat kelaparan? Bila hal ini terjadi di pedalaman benua Afrika sana, rasanya masih dapat dimengerti. Namun kalau tidak salah, peristiwa ini terjadi di Bogor, Jawa Barat. Bukankah di sana banyak terdapat warteg murah-meriah, atau setidaknya warung tempat orang bisa membeli mi instan (untuk dimasak di rumah), dan lain sebagainya?

Inilah salah satu akibat, bila seseorang benar-benar tak punya uang.

Apa yang terjadi bila seseorang punya cukup banyak uang, namun bernasib kurang beruntung?

Maka orang tersebut mungkin akan menabungkan uangnya di Bank Century. Belum lama ini saya membaca berita di media elektronik, yang mengetengahkan wawancara dengan salah seorang nasabah bank tersebut. Nasabah tersebut adalah seorang wanita, yang berkat kerja kerasnya selama 27 tahun, sanggup mengumpulkan tabungan sebanyak 700 juta rupiah. Sialnya, dana tersebut didepositokan di Bank Century. Kini, si ibu hanya dapat berharap pada pemerintah dan juga wakil-wakil rakyat, serta berdoa pada Yang Kuasa, agar hasil jerih payahnya tersebut dapat kembali.

Pemeriksaan Pansus yang ditayangkan di televisi hari ini juga menghadirkan sejumlah nasabah bank naas tersebut untuk dimintai keterangan. Belum lama ini saya menyaksikan seorang bapak marah-marah, menuntut para wakil rakyat yang terhormat agar mengembalikan uang mereka. Dana 7 trilyun ditalangi!!! Uang nasabah 1,4 trilyun tidak diganti!!!

Sedih, memang. Lha wong saldo dipotong 5 ribu perak gara-gara bertransaksi di atm bank lain saja rasanya beteeeee…. sekali. Apalagi setelah dicoba 2 kali, transaksi tetap gagal. Sementara uang 10 ribu perak sudah melayang. Bila tidak ingat akan bapak dan ibu saya yang mendidik saya sejak kecil, mungkin sudah keluar umpatan bernuansa flora dan fauna. Tapi itu baru 10 ribu perak saja.

Apalagi kehilangan sekian juta rupiah, sekian puluh juta, sekian ratus juta, bahkan sekian milyar…???

Memang sih, dalam hidup ini uang bukanlah yang utama. Namun di negeri tercinta ini, sebagian besar orang baru bisa mendapatkan pendidikan yang memadai, perawatan kesehatan, sandang, pangan, dan papan yang layak, bila punya uang.

Katakanlah, si nasabah Bank Century yang kehilangan uang sebesar 700 juta rupiah tersebut bukan orang miskin. Untuk makan dan biaya hidup sehari-hari, mungkin memang tak perlu dicemaskan. Namun bagaimana kalau dana itu tadinya untuk biaya pendidikan anaknya? Untuk biaya berobat orang tuanya? Atau untuk pegangan hidup di masa tua? Dan lain sebagainya.

Saya memang bukan nasabah Bank Century. Mendengar namanya saja baru belakangan ini. Tapi turut merasa kehilangan. Karena saya adalah salah satu anggota masyarakat yang hidup dari bekerja, dan setiap bulan berjuang menabungkan sekian persen penghasilan saya, untuk masa depan.

Semoga para nasabah yang kehilangan uangnya, di mana uang tersebut merupakan hasil jerih payah yang didapat secara jujur dan hallal, bisa mendapatkan uangnya kembali. Dan semoga mereka dianugerahi hati yang tabah, apapun yang terjadi.

Gusti Allah boten sare…

Read Full Post »