Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Flora dan Fauna’ Category

Bila diminta menyebutkan nama-nama satwa laut yang cerdas, biasanya kita akan langsung terpikir lumba-lumba, paus, anjing laut, dan lain sebagainya. Pokoknya hewan-hewan pintar yang bisa kita lihat aksinya di Ancol, atau di film ‘Free Willy‘.

Kecil sekali kemungkinannya kita akan menyebutkan: gurita.

Ya, satwa laut yang tidak bertulang belakang ini memang tidak dikenal sebagai sosok yang cerdas. Namun hasil penelitian yang diterbitkan oleh peneliti Australia dalam jurnal ‘Current Biology’ belum lama ini, menyebutkan hasil yang mengejutkan.

Siap-siap kaget ya…!!! ^^

Ternyata gurita mampu menyanyi dan membaca puisi (ini jelas bo’ong, hehe… peace…!!!) Tapi yang di bawah ini beneran lho.

Gurita mampu memanfaatkan benda yang ia temukan di lingkungan sekitar, sebagai alat untuk membuat hidupnya menjadi lebih nyaman.

Ceritanya, sejumlah ilmuwan Australia menyelam di perairan lepas pantai Sulawesi Utara, untuk mencari Mimic Octopus. Namun mereka malah memfilmkan sekelompok gurita sedang memilih-milih batok kelapa, yang berserakan di dasar laut. Setelah dipilih, batok kelapa diangkut ke tempat lain. Kemudian dua batok kelapa disatukan, menjadi sebuah tempat bersembunyi berbentuk bulat. Nah, jadilah sebuah rumah untuk gurita…Hore…!!! Plok…Plok…Plok…Hebaaaaattt…!!! ^^

Rekaman video tadi sekaligus merupakan bukti pertama,  bahwa hewan tak bertulang belakang juga bisa menggunakan peralatan.

Sumber: APTN

Dengan kata lain, sedikit banyak gurita sanggup berpikir seperti manusia, yaitu memanfaatkan benda yang ada di sekitarnya.

Ohya, karena gurita memanfaatkan batok kelapa, yang notabene merupakan sampah, maka bisa dibilang gurita melakukan kegiatan daur ulang sampah dong…???

Nah, mari kita perhatikan lingkungan sekitar kita. Siapa tahu ada sampah yang masih bisa kita daur ulang dan manfaatkan. Jangan mau kalah sama gurita ya…!!!

Isn’t a wonder, to see you assembling two coconut shells, thus creating a perfect hiding spot…!!! That scene really made my day…^^

I’m proud of you, Octopus dear… ^^


Foto diambil dari:

http://www.sciencedaily.com/releases/2009/12/091214121953.htm

http://museumvictoria.com.au/coconut-carrying-octopus

(Courtesy of Current Biology)


Advertisements

Read Full Post »

Kacamata kuda

*Saya mencoba menulis dari sudut pandang seekor kuda. Kenapa? Pertama, karena saya shio kuda (gak nyambung yah?). Kedua, saya sangat menyukai kuda, meski agak takut juga kalo nekat dekat-dekat lantas ditendang. Ketiga, film ‘Hidalgo’ dengan tokoh utama seorang koboi dan seekor kuda, adalah salah satu film favorit saya. Kempat, judulnya kan ‘Kacamata kuda’, jadi saya rasa tidak salah menulis dari sudut pandang hewan mulia sahabat manusia ini.*

Seekor kuda dilahirkan di sebuah tanah pertanian. Masa kecilnya amat bahagia. Kerja Si Kuda Kecil setiap hari hanya bermain-main, menunggu induknya pulang bekerja. Pak Tani membebaskan Kuda Kecil bermain sepuas hati, lantaran di desa tersebut tidak ada kendaraan hilir mudik yang berbahaya bagi kuda. Demikianlah Kuda Kecil bebas melompat ke kanan, melonjak ke kiri, menarikan tari kuda, melatih kuda-kuda (seperti dalam wushu) ala kuda, berenang layaknya barakuda, tanpa mengenal bahaya. Ia tumbuh sebagai seekor kuda yang kreatif dan gemar berinovasi.

Suatu hari Kuda Kecil tak lagi kecil. Maka namanya diganti menjadi hanya Kuda saja. Pak Tani mulai mengajak Si Kuda bekerja menarik dokar, menggantikan induknya yang telah renta. Pertama-tama, Pak Tani memakaikan kacamata kuda ke Si Kuda.

“Untuk apa kacamata ini?” tanya Kuda.

Pak Tani berdehem-dehem. Ia tahu, Kuda adalah hewan yang cerdas. Jadi penjelasan sederhana saja tidaklah cukup.

“Jadi begini ya Kuda, kan mulai hari ini kamu bekerja menarik dokar. Nah, kebijakan pertanian kita mengharuskan setiap kuda mengenakan kacamata kuda saat bertugas.”

“Tapi kacamata ini hanya memungkinkanku melihat ke depan saja. Aku jadi tidak bisa menoleh ke kanan atau ke kiri.”

“Ya, begitulah syarat utama untuk bekerja menarik dokar, sebagaimana tertera dalam buku petunjuk kebijakan pertanian. Lagian kamu memang hanya perlu melihat ke depan kok. Kiri dan kanan tidak penting. Begitulah kebijakan pertanian kita.”

“Namun sahabat-sahabatku Si Sapi, Kambing, Anjing, Bebek, Ayam dan Merpati kok tidak harus mengenakan kacamata kuda?”

“Ya begitulah nasibmu sebagai spesies yang bernama Kuda. Kalau kamu termasuk dalam keluarga Bebek misalnya, tentu kamu tidak perlu mengenakan kacamata, lantaran tidak ada kacamata bebek.”

“Kalau begitu, aku mau pindah ke keluarga bebek saja, boleh tidak?”

“Tentu saja tidak, Kuda yang baik, karena kakimu ada empat dan kamu tidak punya sayap. Sudah, syukuri sajalah keberadaanmu sebagai seekor kuda. Lagian, kenapa sih kamu menolak? Seluruh kuda penarik dokar juga mengenakan kacamata seperti ini kok.”

“Aku hanya takut pandanganku terbatas dan aku menjadi bodoh” jawab Si Kuda. “Seperti katak dalam tempurung, begitulah aku, kuda dengan kacamata kuda. Hanya boleh melihat apa yang diperintahkan saja. Masih bisakah potensiku dikembangkan?”

Sungguh, Kuda tidak takut kelaparan karena toh mampu mencari rumput sendiri. Ia hanya takut terkungkung, terkekang, dan kelak menjadi bodoh. Pak Tani yang bijaksana mengerti kegalauan hati ternaknya.

“Ah Kuda, kalau memang pada dasarnya cerdas dan ingin maju, kamu akan bisa terus berkembang. Kacamata kuda jenis apapun takkan mampu mengekangmu. Begini saja, setiap sore sepulang bekerja, akan kulepas kacamatamu agar kamu bisa bebas melihat kembali. Bagaimana?”

Kuda melonjak-lonjak dengan gembira!!!

Read Full Post »

red-squirrel-4He sneaked into my room through the little window in the dark of the night, and crept quietly under my blanket. Only his cute little snout could be seen.

If it were a cartoon movie, I would have dropped my jaw!

He whispered to me with his heavy breath.

“We’ve lost, we’ve lost the battle!”

Well, I was ‘lost’ as well, for I didn’t know what he was talking about.

“What battle?” I asked.

“The battle, for heaven’s sake! The battle against the pox virus, of course! Where have you been?” cried the little fella, frustrated. His twinkling little black eyes examined me carefully. Suddenly he jumped out of the blanket.

“Gosh, I’ve climbed into the wrong house! I have to go!”

But he didn’t. His eyes examined me once more.

“I’m so exhausted, I may not be strong enough to travel again. Well, you’re a human, right? And you look like a nice one… you won’t hurt me… will you? ‘Cause you’re so big and I’m so small”

“I would never hurt you,” said I. “You’re so cute! I have always wanted to see you! A British Red Squirrel??? In my room??? I’m not even in Britain right now!”

He looked a bit insulted. “I don’t think ‘cute’ is the proper word. But yeah, I am the British red squirrel.” His voice was weak.

“Can I offer you a drink or something? Some hazelnuts maybe?” He only smiled and shook his head faintly.

I noticed something wrong.

“There are lesions around your eyes… and your mouth is swollen… did anything bad happen to you recently?”

“It’s the pox.” Again he whispered as if unable to speak. Then he sat, with his back leaning on my pillow, and told me his sad story.

“There used to be a plenty of us in Britain. We were simply everywhere! Until the gray squirrels arrived from America over a century ago. They brought along something called pox virus. A virus that does no harm to them, yet threatens the lives of my kin! Once we are infected by that virus, a will must be prepared, a grave must be dug.”

The black eyes of his were then full of tears.

“The virus doesn’t kill us instantly. But it affects our health, causes lesions around our eyes and mouth. We cannot eat or drink. Thus we would starve to death in fifteen days.”

He forced a smile upon his face.

“You know something? It has been fifteen days since I got infected. Yea, fifteen. And I’m so tired.”

He closed his eyes.

“Where am I?”

“At a safe place,” said I. “Just go to sleep now, little dear.”

“Well, it’s a bit cold.”

“I’ll hold you.”

There I was, spending the night with the adorable little fella sleeping peacefully in my arms.

In the morning he had gone. What a strange dream. Maybe I’ve read too much Beatrix Potter.

May God help the scientists to develop a vaccine against the squirrel pox virus, and save the lives of the British red squirrels.

NB: The picture is taken from: http://en.wikipedia.org/wiki/Red_Squirrel

Read Full Post »

Kepiting

Ring-a-ding-ding

Lihatlah aku Si Kepiting

Senyumku tersungging

Jalanku miring

Kaki-kakiku ceking

Rumahku, lautan yang tak pernah kering

Di atas pasir aku berbaring

Di atas ombak terpelanting

Indahnya dunia kala fajar menyingsing

Mentari semburat kuning

Burung camar berseru melengking

Hingga suatu hari muncul jaring

Dengan cekatan menggiring

Aku tersangkut tersaring

Percuma berenang pontang-panting

Keadaan menjadi genting

Tapi aku tak bergeming

Mungkin sudah nasibku sebagai kepiting

Satwa laut tak penting

Yang dicari karena daging

Setelah digoreng garing

Aku dihidangkan di atas piring

Lantas dikoyak dengan gigi taring

Kriiiiiiiingggg…!!!

Lonceng kolesterol berbunyi nyaring

Jangan kau makan aku sering-sering

Read Full Post »

Sejak kecil, kita sudah diajari untuk takut, menjauhi, bahkan membenci mahkluk yang bernama ular. Iblis menyamar sebagai ular dan menjatuhkan Adam dan Hawa ke dalam dosa. Di pelbagai dongeng yang pernah kubaca sewaktu kanak-kanak, karakter ular digambarkan tak jauh berbeda. Di buku Harry Potter pun sama. Ular adalah hewan yang jahat, licik, selalu punya itikad buruk terhadap manusia.

Pandangan seperti ini sebetulnya tidak benar. Kalaupun dulu iblis menyamar jadi ular, tetap saja iblisnya yang jahat, bukan ular. Ular cuma dijadikan kedok. Kalau saat itu iblis menyamar jadi anjing, akankah kita membenci sahabat manusia itu? Ular pun bisa menjadi sahabat manusia. Kalau kita bertanya pada pak tani, ular adalah sahabat, penolong yang setia memangsa hama tikus.

Nah, bila kita tanggalkan pandangan lama kita terhadap ular (beracun, jahat, licik), maka yang tersisa adalah seekor reptil biasa yang kegiatannya hanyalah makan, minum, tidur, buang air, dan sebagainya, tak jauh berbeda dengan hewan lain. Mengenai bisa ular, ada fakta yang cukup menenangkan. Dari sekitar 400 spesies ular yang hidup di Indonesia, hanya sekitar 20 spesies saja yang berbisa.

Belum lama ini, dua orang teman di kantorku membeli dan memelihara ular. Sebagai penyayang binatang, aku tidak tinggal diam. Melihat ular dari dekat, termasuk membelai sisiknya yang halus dan licin, kemudian meningkat ke menggendong dan berfoto bersama (narsistik abiz), terbersit dalam benakku, ular pun berhak untuk dicintai. Lidah yang menjulur-julur, bila diamati terkesan lucu, jauh dari menyeramkan. Begitu pula sepasang mata yang tak pernah berkedip. Belum lagi sisiknya yang indah, bermotif, dan berwarna-warni. Sungguh, ular adalah binatang yang cantik dan lucu sekali! Jujur, sempat terpikir olehku untuk ikut memelihara ular. Hewan satu ini tidak bersuara, dan suka berbaring melingkar tenang-tenang dalam kandang. Ular hanya perlu diberi makan 2 minggu sekali. Pokoknya tidak berisik, tidak bau, dan tidak merepotkan.

Namun yang menjadi masalah adalah makanannya. Sebagai binatang peliharaan, ular tidak bisa diberi pet food siap beli dari supermarket. Tidak doyan pula makanan siap masak seperti ayam goreng, misalnya. Ia hanya suka makanan yang masih “hidup”. Biasanya ular diberi makan tikus putih atau anak ayam oleh pemiliknya.

Itulah yang menjadi persoalan. Tikus putih? Aku sangat suka melihat si kecil yang lincah dan lucu ini. Anak ayam? Terbit rasa iba di hati setiap kali melihat wajahnya yang polos tanpa dosa. Tegakah aku menyediakan, atau mengumpankan tikus putih dan anak ayam untuk dimakan ular? Jawabannya tidak.

Karena itu, aku tidak akan pernah bisa memelihara ular. Paling banter, cuma pinjam si Chiko sebentar (imut banget namanya) untuk diajak bermain-main dan foto bersama. Chiko yang manis, lihat ke kamera ya… klik!!!

Read Full Post »

house sparrow

Bang!!!

For a few seconds I can see nothing but little twinkling stars dancing around, followed by a sudden sharp pain on my head. Then, gaining my sight back, I start to wonder. It shouldn’t be so difficult. My eyes are telling me that I’m just a few steps away from the green grass, a few flaps away from the tree tops. But somehow, I just can’t get out!

I spring back, take a deep breath, get myself ready. Yes, I’m going to try again. Spread my wings, and… (fly again?)

Bang!!!

It happens again. So comes again the pain, more severe than the previous one. I check my beak, fortunately it’s fine. Standing on trembling little feet, I force myself to think. It mustn’t be a coincidence. There must be an invisible barrier that separates me from the outside world.

I examine the mysterious “barrier” closely. I see nothing. The sky is just as blue, and the leaves, as green. Yet something is missing. Where’s the sweet smell of the grass? The sound of other birds singing? The warm sunshine? The wind breeze?

I decide to take a rest and examine my surrounding more carefully. There’s no other bird in this room. I only see humans. I’m glad they’re not interested in me. Anyway, I’m just an unattractive little brown feathered bird. Not valuable enough for them to catch.

Those humans are busy with their meals.

I’m hungry. And so are my babies…

How many hours has elapsed since the last time I saw them this morning? Mommy’s going out to fetch you some food, said I. Be nice and don’t leave the nest until Mommy returns. My five adorable little babies… they hatched a week ago, and it’s my first experience to be a mother. I feed them every morning, noon, and night. They could never be satisfied. It was the happiest moment of my life! To hear the eggs cracked, and…

Stay focus! You want to leave this place and go home to your babies, right? So, stay focus and think!!!

Too tired to fly, I hop along the window panes. (Little birds do not walk. We hop.) Checking here and there, searching for a spot where “the barrier” doesn’t exist. After checking around twice (or thrice?) I still can’t find the right spot. The invincible “barrier” is covering this room. Gosh, I almost give up!

Wait, I managed to get in here, right? If there’s an entrance, there should also be an exit. All I have to do is find the entrance, then I’ll be able to exit. The idea rises my spirit back. Once again I spread my wings and fly. I need to find the entrance soon.

The flaps of my wings attract the humans’ attention. Some of them look up, and see me flying around. Watch me, I say, watch me finding my way home!

Time goes by… and here I am still, in this very room. I could hardly move my wings anymore. They’re exhausted, just like me. I stand still and look down.

A woman is watching me. Sympathy is written on her face. She’s trying to say something… but I don’t understand the human language. Ah, who cares…

Legs trembling, tears falling, oh how I miss my babies…

Looking out at the darkening sky, suddenly I gain my strength back. The last power, just adequate for one final effort!!! I stand up, straighten my legs, throw one final glance at the humans… at the woman who’s still watching.

You may look down on me, on my tiny little figure. And yes, I’m only equipped with a pair of tiny little wings. My strength won’t last the night. Neither will my life. But I’m a bird, and a bird never gives up!!!

One final effort, I say to my wings. For the sake of my hungry babies, I’ll have to try again. If I get lucky, “the barrier” might no longer be there. Who knows?

There’s only a way to find out.

I close my eyes, praying to my Creator, thinking of my babies. Mommy’s coming home.

One, two, three, go…!!!

Bang!!!

After hitting the glass window severely, the bird falls down. Its eyes, no longer open, its beak no longer chirps. A woman removes the dead bird from the floor, holding it close to her chest. Tears are falling down her cheeks. If only you understand the language of human, she whispers sadly. I know you only want to find a way out. I’ll take you out and release you in the open. I’ve offered you a help… but how would you understand my intention? We don’t even speak the same language.

*dedicated to one confused little bird trapped in the food court of Summarecon Mall Serpong, one Sunday afternoon*

Read Full Post »