Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Iseng’ Category

Nyinyir, barangkali memang sudah mendarah daging dalam diri saya. Barangkali itu pulalah yang menjadikan saya seorang debater (baca: third speaker) yang lumayan baik beberapa tahun lalu… eh, sebenarnya sih lebih dari 10 tahun lalu (oh masa-masa indah itu, saat saya masih sangat muda dan begitu berapi-api) ^^

Kembali ke nyinyir, saya baru saja membaca tulisan yang berbunyi ‘schedule cleaning fridge‘. Sekilas terlihat keren karena menggunakan bahasa Inggris. Kalau ditulis ‘jadwal membersihkan kulkas’, apa kerennya? Tapi sayang, meskipun terkesan keren dan bernuansa internasional, namun grammar alias tata bahasanya salah kaprah.

Mungkin penulisnya menggunakan kosakata bahasa Inggris, namun ia masih berpikir dengan tata bahasa Indonesia. Jadilah ‘jadwal membersihkan kulkas’ diterjemahkan kata demi kata, menjadi ‘schedule cleaning fridge‘. Padahal yang benar justru kalau dibalik menjadi ‘fridge cleaning schedule‘.

Dalam tulisan tersebut, ‘schedule‘ adalah kata benda, sedangkan ‘fridge cleaning‘ berfungsi sebagai keterangan untuk menjelaskan tentang si kata benda. Perlu diingat, dalam bahasa Inggris, strukturnya adalah MD (menerangkan-diterangkan). Sedangkan struktur bahasa Indonesia adalah DM (diterangkan-menerangkan).

Selain itu masih ada tulisan lain yang berbunyi ‘only staff‘. Padahal yang betul semestinya ‘staff only‘ ^^ Menurut saya, kalau memang tidak paham betul, tidak perlulah menuliskan segala sesuatu dalam bahasa Inggris. Kecuali kalau kita terpaksa, harus, dan kudu berkomunikasi dengan pihak asing. Pada saat itu, bahasa Tarzan pun jadi! ^^

Tidak sulit kok, untuk mencari tahu tata bahasa Inggris yang benar. Ketik saja kata yang dimaksud ke dalam Google search… dan voila…!!! Anda akan langsung tahu bahwa yang benar adalah ‘staff only‘, bukannya ‘only staff‘ ^^

Advertisements

Read Full Post »

Keajaiban di lantai 6 ^^

Hari Jumat, pukul 15.40 sore. Saya kebetulan melewati meja seorang editor, sebut saja namanya I. Di atas mejanya terdapat sebuah G4 yang layarnya sudah gelap, dan di atas keyboard G4 tersebut bertenggerlah 2 lembar skrip. Skrip tersebut adalah hasil terjemahan saya sendiri, yang sudah selesai saya kerjakan sehabis istirahat makan siang, sekitar pukul 13.15 atau 13.30 tadi. Si I sendiri tidak kelihatan batang hidungnya.

Saya pikir, aneh juga. Skrip tersebut jelas-jelas sudah di-VO (voice over, di mana seseorang membacakan skrip tersebut dan suaranya direkam, untuk kemudian digabungkan dengan gambar, agar menjadi  sebuah berita utuh) tidak lama setelah selesai dikerjakan. Mungkin sekitar pukul 14.00 proses VO sudah selesai. Lantas, kenapa hingga pukul 15.40 Si I belum mengedit berita tersebut?

Kalau diambil kesimpulan sepihak, tentunya Si I ini adalah seorang yang malas dan tidak bertanggung jawab, lha wong pekerjaan belum dikerjakan sama sekali kok malah menghilang. Namun saya mengenal baik Si I ini. Kebiasaannya adalah mengerjakan editan secepat-cepatnya, agar kalau ada kesalahan bisa direvisi secepatnya pula. Setelah pekerjaannya selesai, jika masih ada waktu, barulah ia akan bersendau-gurau dengan teman-teman lain. Jadi kesimpulan tadi tidak sesuai dengan kebiasaannya.

Saat hendak pergi mencari I, kebetulan saya berpapasan dengan I dan beberapa teman lain. Beberapa orang teman ini mengajak I untuk pergi sebentar guna mencari makanan (maklumlah, jam sekian memang jam-jamnya orang kelaparan ^^). Namun I menolak, dengan alasan bahwa dia sama sekali belum mengedit berita yang ditugaskan, karena footage (gambar)-nya saja belum ia dapatkan.

Tentu saja saya kaget. Kok belum dapat footage-nya? Kenapa? Rupanya, divisi A di kantor kami (yang antara lain tugasnya merekam dan menyimpan footage dari kantor berita luar negeri), sedang mengadakan rapat penting. Akibatnya, pintu masuk ke ruang A dikunci. Pintu tersebut terbuat dari kayu yang ada kacanya, sehingga mereka bisa mendengar dan melihat jika ada yang mengetuk pintu. Namun jika mereka berpikir urusan orang tersebut kurang penting, mereka tidak akan membukakan pintu.

Ternyata Si I dianggap kurang penting, karena ia tidak juga dibukakan pintu. Padahal ia sudah meminta kaset berisi footage tersebut sejak tadi. Seorang rekan bernama O juga bernasib sama. Ia membutuhkan materi dari sebuah kaset. Materi tersebut masih harus diedit ulang, lantas diserahkan ke pihak M selambat-lambatnya pukul 16.00. Tapi apa daya, divisi A sedang rapat, sehingga tidak bersedia membukakan pintu.

Saya sendiri, editan yang mestinya dikerjakan I tersebut, rencananya akan dipakai untuk taping hari berikutnya. Karena itu, saya langsung mendatangi pintu divisi A dan mengetuk pintu dengan sedikit bersemangat. Akhirnya dibukakan juga. Saya meminta maaf telah mengganggu rapat divisi A, dan meminta bantuan untuk meminjam footage. Akhirnya diberikan juga. Meski seseorang sedikit mengeluh, kapan rapatnya bisa selesai kalau diganggu terus, katanya.

Saya hanya bisa meminta maaf. Pasalnya, bila tidak ada footage, editor tidak bisa mengedit. Bila editor tidak bisa mengedit, maka tidak ada berita yang bisa ditayangkan.

Sebuah keajaiban yang barangkali hanya terjadi di lantai 6 ^^

Read Full Post »

Yang b*go, yang ditayangkan

Dalam perjalanan pulang dari kantor ke rumah, biasanya saya menumpang bis TransBSD yang ber-ac, nyaman buat tidur, dan meskipun agak mahal, tapi paling praktis dan bisa mengantar saya hingga beberapa ratus meter saja dari pintu rumah. Bis juga dilengkapi dengan sebuah pesawat televisi. Sayangnya, televisi tersebut kebanyakan dipakai untuk menonton sinetron. Karenanya, sebelum nyenyak tertidur, biasanya saya sempat menyaksikan sinetron barang beberapa menit.

Berkali-kali saya melihat iklan sinetron yang kira-kira bunyinya begini (2 orang pemeran utamanya tampil lalu mengatakan) “…sekarang nonton sinetron ‘titik-titik’ makin seru lho! Durasi tayang lebih lama, jeda iklan lebih singkat,…” Padahal, bagi saya, bagian terbaik dari sinetron adalah jeda iklannya. Lebih seru menonton iklan, karena kebanyakan iklan televisi digarap dengan sungguh-sungguh, dan dari iklannya saja sudah terlihat, kira-kira siapa saja target market-nya, pesan apa yang hendak disampaikan, bagaimana membuat agar penonton tertarik untuk membeli produk/jasanya, dsb. Pokoknya iklan jauuuhhh lebih menarik ketimbang sinetron…!!! Hear, hear!!!

Banyak sekali hal-hal bego yang dengan mudah bisa kita temukan dalam sinetron. Misalnya saja, dalam cerita sinetron itu banyaaakkk sekali tokoh yang tiba-tiba minggat, kabur, diculik, hilang ingatan, dan sebagainya. Nah, bila ada tokoh yang dikisahkan hilang, biasanya tokoh-tokoh lain akan mencarinya.

Caranya? Dengan mengendarai mobil atau motor, lantas bertanya pada siapa pun yang dijumpai di jalan. Tukang siomay, tukang bakso, orang di pinggir jalan, pokoknya siapa saja. Biasanya mereka akan bertanya, “Pak, melihat teman saya tidak? Tingginya segini (digambarkan pakai gerakan tangan), rambutnya segini.”

Mengherankan memang. Di era teknologi informasi dan telepon seluler berkamera seperti sekarang, mereka tidak bisa menunjukkan foto si orang hilang??? Orang yang ‘tingginya segini’ dan ‘rambutnya segini’ kan pasti banyak??? Bagaimana bisa ketemu??? Tunjukkan fotonya dooong…!!! ^^

Read Full Post »

Apa kata jarimu? ^^

Untuk setiap jari telunjuk yang mengarah kepada orang lain, ada 4 jari lain yang menunjuk ke arah diri kita sendiri.

Berbagai tanggapan bermunculan, atas rekaman wawancara Qory Sandioriva dalam penjurian Miss Universe 2010, yang bisa dilihat dengan mudah di youtube. Banyak yang mencemooh kemampuan berbahasa Inggris wakil dari Indonesia ini. Memang sih, kemampuan berbahasa Inggrisnya hanya sekedar terjemahan kata demi kata dari bahasa Indonesia, alias word by word translation. Tanpa mengindahkan tata bahasa, gaya bahasa, dan lain sebagainya.

Mungkin akan jauh lebih baik bila Qory menggunakan jasa interpreter, agar ia bisa lebih fokus pada isi jawaban, tanpa perlu memusingkan soal bahasa. Banyak kok, pemenang Miss Universe yang memanfatkan jasa interpreter lantaran tidak lancar berbahasa Inggris. Saya punya banyak teman yang berprofesi sebagai interpreter. Saya sendiri ingin mencoba menjadi interpreter (^@^)

Tidak bisa dipungkiri, Qory memang punya kelemahan. Orang boleh saja mencemooh, mengejek, dan menghinakan ketidakmampuannya berbahasa Inggris. Namun ingatlah, untuk setiap jari telunjuk yang mengarah kepada orang lain, ada 4 jari lain yang menunjuk ke arah diri kita sendiri.

Jujur saja, saya termasuk orang yang menyaksikan rekaman wawancara itu di youtube, sambil tertawa-tawa menghina.

“Hahaha…wkwkwk…qiqiqi…”, tawa Si Jari Telunjuk.

Tapi tidak lama. Sebab, 4 jari tangan saya (selain telunjuk), terarah kepada diri saya sendiri.

Kata Si Jempol, “Kenapa menertawakan dia? Usianya baru 19 tahun. Mengikuti kontes Miss Universe pada usia 19 tahun tidaklah mudah. Pada usia semuda itu ia harus banyak belajar, mempersiapkan diri, dan menanggung beban moral karena menyandang nama negerinya tercinta, Indonesia. Tidak sepantasnya kita menertawakan orang yang telah berusaha keras” (waduh, si Jempol emang paling galak, deh).

Si Jari Tengah langsung menyambung, “Pada usia 19 tahun ia sudah punya prestasi yang bertaraf nasional. Kalau belum bisa meraih prestasi bertaraf internasional, itu bukan salahnya dong. Kamu sendiri, apa prestasi yang telah diraih pada usia 19 tahun?” (Huaaa… Si Jari Tengah tidak kalah galak rupanya. Prestasi saya di usia 19 tahun…? Pernah menang lomba makan kerupuk saat perayaan 17-an di kampung ‘kali ya…?)

“Ah, ia sangat cantik dan wajahnya khas wanita Indonesia. Proporsi tubuhnya juga ideal. Kelihatannya jauh lebih bagus dibanding saat kita sedang melihat ke cermin,” ujar Si Jari Manis. (Hiks… Si Jari Manis jujur sekalee…)

Si Jari Kelingking melontarkan komentar ringan saja, “Setidaknya ia sudah pernah menjejakkan kaki di Las Vegas, Amerika Serikat. Kamu sendiri belum pernah pergi sejauh itu, kan?” (Oh, iya ya, saya tidak berpikir sejauh itu saat tertawa-tawa menghina tadi…)

Kapok deh.

Ah, lain kali saya harus berpikir-pikir seribu kali dulu sebelum menghina orang lain. Sebab jari-jari tangan saya galak-galak dan berpikiran kritis… ^^



Read Full Post »

Diskon

Orang sabar disayang Tuhan. Kalimat tersebut sangat ‘mengena’ bagi saya. Seringkali saya ingin membeli sesuatu namun memilih untuk menunda atau menahan (dan menyabarkan) diri, lantaran harganya cukup mahal. Lantas beberapa waktu kemudian benda tersebut didiskon, kadang kala dengan presentase yang cukup fantastis! Berikut ini beberapa pengalaman indah saya dengan si ‘diskon’ ^^

  1. Dulu sekali, tahun ’90-an, ketika masih kuliah di Unika Atma Jaya Jakarta (terpercaya kualitas lulusannya!), saya naksir banget sama rok hitam A-line dari bahan jeans yang stretch, merek C. Tapi harganya cukup mahal, seingat saya sekitar IDR 189000. Jelas tidak saya beli! 1-2 tahun kemudian setelah lulus kuliah dan punya penghasilan sendiri, rok tersebut didiskon 50%. Wow!!! Langsung saya beli ^^
  2. Dulu, awal tahun 2000-an, waktu masih ngekos di kawasan Karet Sawah, saya bertetangga dengan seorang wanita yang cantik, feminin dan modis. Dia punya rok bawahan hitam yang bagus sekali, terbuat dari kain stretch dilapisi kain kaca yang lembut, dengan sulaman dan sedikit taburan motik. Modelnya sedikit unik namun masih tergolong klasik, sehingga tidak gampang ketinggalan mode. Saya pernah melihatnya di mal, mereknya M&L, harganya sekitar IDR 300000 lebih. Jelas tidak saya beli! 1-2 tahun kemudian, merek M&L mengadakan diskon besar-besaran, dan saya mendapatkan rok bawahan tersebut dengan harga sekitar IDR 100000 saja ^^
  3. Sejak ‘The Lost Symbol’ karya Dan Brown diterbitkan pada tahun 2009, saya sudah gatal pengen beli. Saya bertekad untuk beli yang English version, agar sama dengan keempat buku karya Dan Brown yang sudah saya miliki. Tapi waktu itu hanya ada yang hardcover, dan harganya sekitar IDR 242000 di toko buku G. Sempat mau titip ke teman yang tinggal di Manila, atau ke garwa yang kebetulan ke negeri Singa, namun di kedua tempat tersebut harganya tak jauh berbeda, di negeri Singa bahkan lebih mahal. Lantas saya menjumpai ‘The Lost Symbol’ versi terjemahan bahasa Indonesia seharga IDR 110000 didiskon 20%. Sempat tergiur, tapi tidak saya beli. Kemudian suatu sore adik saya sms, bercerita bahwa ia sedang ‘kalap’ memborong buku di toko buku G dekat tempat tinggalnya yang baru dibuka. 30% all items! Saya langsung membalas sms, menitip dibelikan ‘The Lost Symbol’. Pikir saya, IDR 242000 tidak apa-apalah, kan masih didiskon. Sepertinya tidak lama lagi novel tersebut akan difilmkan. Sebelum nonton, kan saya harus membacanya terlebih dahulu! Ternyata buku tersebut sudah turun harga menjadi hanya IDR 100000 saja, dan itu pun masih didiskon 30%. Wow!!! I luph you toko buku G! Buku bersampul tebal itu saya miliki dengan harga IDR 70000 saja ^^
  4. Usai menitip ‘The Lost Symbol’, saya ingat bahwa ada 2 novel karya Ayu Utami yang ingin saya beli. ‘Bilangan Fu’ IDR 60000 dan ‘Cakrabirawa’ IDR 45000. Namun pada malam diskon tersebut, di toko buku G kedua novel itu dijadikan satu pak, dan dijual seharga IDR 85000 saja, masih didiskon 30%. Harganya tinggal IDR 59500. Wow!!! I luph you more, toko buku G ^^
  5. Pada usia yang sudah menginjak awal 30-an ini, saya pikir tidak ada salahnya mencoba memakai krem atau apalah untuk meremajakan kulit, terutama daerah sekitar mata, agar tidak berkerut. Kemudian saya tertarik pada sebuah produk kosmetik, gara-gara bintang iklannya adalah aktris favorit saya yaitu Gong Li. Harganya sekitar IDR 118000 di supermarket G dekat rumah. Saya juga tertarik pada pelembap wajahnya, yang harganya kurang lebih sama. Memutuskan untuk pikir-pikir dulu, akhirnya saya tidak jadi beli. Pada minggu berikutnya, saya memutuskan untuk beli sajalah, terutama krem untuk daerah sekitar mata. Soalnya saya baru saja nonton film ‘Shanghai’ yang dibintangi Gong Li, dan memang tidak ada kerutan di sekitar matanya (termakan iklan ^^). Eh, ternyata produk tersebut sudah didiskon, sehingga harganya tinggal sekitar IDR 69000 saja. Pelembap wajah juga didiskon dengan harga kurang lebih sama. Asyik! Untung minggu sebelumnya saya tidak jadi beli ^^
  6. Sejak membeli buku kesatu dari serial ‘Kesastraan Melayu-Tionghoa dan kebangsaan Indonesia’, saya langsung jatuh cinta pada isi dan juga gaya bahasanya! Saya jadi mengenal karya-karya penulis Tionghoa ternama pada zamannya, seperti Kwee Tek Hoay. Saya jadi ingin mengoleksi, tapi harus beli satu-persatu karena harganya cukup mahal. Kemudian saya pergi liputan ke sebuah acara Pesta Buku di Gelora Bung Karno, di mana serial ‘Kesastraan Melayu-Tionghoa’ tersedia lengkap dari jilid 1-8, dengan harga diskon! Ada yang diskonnya mencapai 60%, sedangkan jilid 8 hanya didiskon 20% karena baru saja terbit. Saat liputan, kebetulan saya tidak membawa uang, ATM terdekat entah di mana, sedangkan penjual buku hanya menerima uang tunai. Keesokan harinya, barulah saya kembali lagi, untuk melengkapi koleksi buku ‘Kesastraan Melayu-Tionghoa’ saya ^^
  7. Selama kuliah di Unika Atma Jaya, saya bertahan hingga lulus dengan menggunakan sebuah kamus saku bahasa Inggris terbitan Oxford yang kecil dan murah-meriah. Namun setelah lulus, saya jadi pengen punya kamus yang bagus dan lengkap. Teman saya bilang, beli yang Macmillan aja, bagus dan bisa dibilang lengkap. Saya mendapati kamus tersebut di toko buku K yang banyak menjual buku impor. Harganya IDR 400000, hardcover, tapi kondisinya sudah jelek. Yang paperback harganya IDR 300000, namun tidak tersedia. Tahun 2005, saya dan 3 orang rekan kerja dikirim ke Taipei untuk menjalani training. Pada saat jalan-jalan ke toko buku setempat, saya melihat kamus Macmillan yang hardcover, kondisi mulus, dengan harga 1000 NT atau sekitar IDR 300000. Jadinya, ke Taipei bukannya beli kamus Mandarin, tapi malah beli Macmillan ^^

Itulah sedikit pengalaman tentang si ‘diskon’ ^^

Read Full Post »

Pemikiran manusia bekerja dengan cara yang aneh. Misalnya saja, ingatan akan sebuah film karya M. Night Syamalan, ditambah dengan apa yang saya baca di blog Alice, plus idung kembang-kempis akibat menerima pujian, menghasilkan tulisan di bawah ini.

Yang pertama adalah film ‘Lady in the Water‘. Dalam film tersebut, seorang pemuda diramalkan akan menulis sebuah buku yang kontroversial, lantas meninggal akibat dibunuh, gara-gara buku yang ditulisnya itu. Sekilas peranannya tidak penting: menulis buku, kemudian mati dibunuh. Namun kelak, bertahun-tahun setelah kematiannya, seorang anak akan membaca buku yang ditulis Si Pemuda. Pemikiran dalam buku itu membekas di hatinya. Si Anak kemudian tumbuh menjadi seorang pemimpin yang baik dan mendatangkan kesejahteraan bagi banyak orang. Kesimpulannya, secara tidak langsung Si Pemuda berperan penting bagi kesejahteraan banyak orang, lewat bukunya yang menginspirasi Si Anak.

Yang kedua adalah blog tetangga saya, Alice in Wonderland. Tulisannya yang bertanggal 12 Juli mempertanyakan apakah blog-nya bermanfaat untuk orang lain?

Yang ketiga adalah idung saya yang sempat kembang-kempis sebentar, setelah seorang sahabat mengirimkan pesan singkat, mengabarkan bahwa sebuah tulisan saya yang berjudul ‘Karunia Terindah’ membuatnya menangis. Tulisan itu juga membantunya untuk tetap mensyukuri karunia Tuhan, di kala bayinya sedang super rewel sekalipun.

Ah, padahal saya membuat tulisan itu sekedar untuk curhat, sekaligus mengenang kebersamaan saya yang singkat bersama Si Kecil.  Sebab yang terucap akan lenyap, namun yang tertulis akan abadi. Verba volent, scripta manent.

Saya kebanyakan menulis untuk diri sendiri. Jika ternyata tulisan-tulisan itu bisa bermanfaat untuk orang lain, maka hal ini merupakan bonus untuk saya ^^

Kadang saya berpikir, kenapa saya ini biasa-biasa saja ya??? Tampang, biasa. Penampilan, biasa. Kepribadian, biasa. Otak, biasa (masih untung gak jongkok sih…^^) Kemampuan nyanyi, (dengan berat hati saya akui) biasa. Profesi, biasa. Bakat dan kemampuan di bidang lain-lain, juga biasa. Pokoknya biasa-biasa saja, tak ada yang istimewa. Orang yang biasa-biasa seperti saya ini, bisakah bermanfaat bagi orang lain?

Saya tidak tahu. Saya hanya tahu menulis. Kemungkinan besar saya hanya akan menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja. Namun bisa jadi tulisan saya akan berguna bagi orang lain. Dan orang lain itulah yang kelak akan menjadi pribadi yang istimewa.

Siapa tahu…???

Kesimpulannya… tetap menulis ‘kali ya??? ^^

Read Full Post »

Tradisi memuji

Ketika seseorang masih hidup, ia seolah dilupakan begitu saja. Namun begitu seseorang ini berpulang, langsung muncul puji-pujian atas namanya. Ibu Negara yang elegan, begitu cuplikan judul salah satu artikel di Kompas Cyber Media hari ini, dalam rangka mengenang almarhumah Mantan Ibu Negara Hasri Ainun Habibie. Ketika beliau masih hidup, apa yang ditulis atau dikatakan tentang beliau? Sepertinya sih, tidak banyak. Puji-pujian baru bermunculan setelah beliau tiada.

Dulu ketika pelukis kebanggaan Indonesia, Affandi berpulang, di TVRI muncul tayangan khusus berupa gambar lilin menyala diiringi pembacaan puisi yang indah sekali untuk mengenang beliau. Tentu tujuannya agar rakyat Indonesia mengenang Affandi. Tetapi, apa ya kegunaan puisi itu untuk almarhum Affandi sendiri? Mengapa kita tidak membacakan puisi indah ketika Affandi masih hidup, agar beliau merasa senang? Kenapa harus menunggu sampai beliau berpulang?

Saya tidak mengatakan bahwa puji-pujian setelah seseorang meninggal itu tidak berguna. Tentu ada gunanya. Untuk menghibur keluarga yang ditinggalkan, misalnya. Tentu Mantan Presiden Habibie merasa terhibur, membaca artikel-artikel untuk mengenang almahumah istri tercinta di berbagai suratkabar. Bangsa Indonesia juga dapat sejenak mengenang kembali sosok mantan Ibu Negara, dan berdoa untuk beliau.

Memuji seseorang setelah ia meninggal, tidaklah salah. Namun alangkah baiknya jika kita menyempatkan diri memuji dan menghormati orang tersebut saat ia masih hidup. Agar ia merasa gembira, dan lebih termotivasi untuk berkarya!

Ini adalah sedikit puji-pujian dari saya kepada beberapa blogger yang tergolong aktif dan biasa malang melintang di dunia persil… eh perbloggeran.

Ria, tulisanmu kreatif, inovatif, dan humoris banget. Bahasa Inggrismu juga nyaris sempurna. TOP BGT! Aku rasa suatu hari nanti kamu pasti bisa menulis buku! ^^

Kristina, meski sekarang kamu sudah agak jarang menulis, tapi aku selalu menanti-nantikan tulisanmu yang lincah, polos, jujur, apa adanya, dan selalu bisa membuatku ngakak-ngakak kayak orang gila! ^^

Jessie, membaca tulisan-tulisanmu aku jadi pengen kenal langsung. Kayaknya kamu adalah salah satu orang paling optimis di dunia. Boleh ya, ke-optimisan-mu ditularkan padaku! ^^

Fanda, ternyata keseharian bisa dibuat menarik asal Fanda yang menuliskannya. Bahasanya sopan namun mengalir, pokoknya enak dibaca. Ditunggu terus tulisan-tulisan terbarunya! ^^

Vicky, tulisanmu tajam, kritikmu mengena, aku jadi bertanya-tanya, di mana Vicky ketika tim debat Atma Jaya kami dibabat sama tim debat Oxford ya? Hehe… Biar ga bisa buka blog-mu di kantor, aku buka di rumah kalo wiken kok! ^^

Alice, jatuh ke blog-mu merupakan pengalaman seru, dan tulisan-tulisanmu asyik dibaca! Begitu ada yang baru, aku pasti langsung berkunjung! ^^

Grace Receiver, ternyata menulis resensi film atau buku itu menyenangkan ya! Jadi terinspirasi! ^^

Nima, tulisan-tulisanmu nyeni, jujur, enak buanget dibaca. Memang sih, jarang di-update, tapi untunglah aku masih bisa menikmati hasil karyamu lewat tayangan-tayangan ‘Refleksi’ Da Ai TV! ^^

You-know-who, orang satu ini tulisannya asyik poenja, dan pengetahuan IT-nya boleh dibanggakan. Tapi kok jarang-jarang di-update ya blog-nya… terus ditunggu lho…! ^^

Tessa, kalau hidup di zaman dahulu, kamu pasti bisa jadi Pujangga Baru atau sejenisnya! Terus menulis puisi ya, nanti kalau ada wangsit atau ilham, akan kugubahkan menjadi lagu! ^^

Read Full Post »

Older Posts »