Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Iseng’ Category

Si Kecil memang baru berusia sekitar 6-7 minggu. Ketika di-USG hari Sabtu lalu, yang terlihat baru kantungnya saja. Si Kecil sendiri belum terlihat, saking kecilnya. Namun beberapa pemikiran telah dilakukan. Antara lain siapa namanya kelak. Karena belum tahu jenis kelaminnya, maka kami (garwa dan saya) mencari nama cowok maupun cewek.

“Bagaimana kalau namanya A?”

Saya lantas mengingat-ingat. Dulu, murid saya yang bernama A biasanya pintar-pintar, tapi bandel-bandel juga.

“J saja,” usul saya. “Dulu, murid saya yang namanya J, anaknya baik, pinter, ganteng pula!”

Kalo untuk cewek, saya suka nama S atau F. Soalnya dua orang yang saya kenal bernama S dan F sama-sama baik, cantik, pintar, dan punya suara merdu, hehe… ^^

Ya, kira-kira begitulah.

Lalu beralih ke bagaimana nanti dia akan memanggil orang tuanya. Ada beberapa set pilihan. Ayah dan ibu (atau bunda) sih bagus ya, tapi terkesan formal. Bisa juga papa dan mama, atau papi dan mami.

Garwa saya mengusulkan, daddy and mommy. Tapi menurut saya, kok terlalu kebarat-baratan ya. Bagaimana kalau kejawa-jawaan saja, pak’e dan bu’e?

“Dad, please buy me some ice cream.”

“Pak’e, kula ditumbasaken es grim nggih?”

“爸,买冰淇淋给我吧。”

“Pa (atau Pi), beliin es krim ya.”

Mana yang lebih ok ya? Atau keempat-empatnya saja? ^^

Advertisements

Read Full Post »

Hidup ini memang susah-susah gampang.

Seorang ibu muda yang barangkali membunuh lalat saja tidak tega, dijebloskan dalam penjara dan dijerat hukum, gara-gara mengirimkan surat elektronik.

Seorang artis cantik yang sedang menggendong anak kecil dipojokkan oleh sejumlah pekerja infotainment, sampai hampir jatuh dari tangga. Kepala anak kecil itu sempat kejedot kamera pula. Yang terjadi, si artis kemudian dituntut gara-gara melampiaskan kemarahan lewat Twitter-nya.

Sebetulnya semua ini tak perlu terjadi, kalau mereka menguasai kungfu tenaga dalam. Waktu masih kecil, saya memang agak terobsesi pada dunia persilatan. Sempat pula saya bercita-cita jadi pendekar yang merajai dunia persilatan. Namun kadang kisah para pendekar papan atas tersebut demikian tragis, sehingga saya sekedar ingin menjadi petani yang hidup bahagia, jauh dari intrik-intrik dunia persilatan.

Marilah kembali ke topik semula.

Bila menguasai ilmu kungfu tenaga dalam, kesehatan kita akan lebih terjaga. Ibu muda yang disebut di atas tadi kemungkinan takkan terserang penyakit cacar (kalau tidak salah ia masuk RS gara-gara penyakit cacar ya… maaf kalau saya salah). Kalaupun si penyakit sudah terlanjur menyerang, bisa dienyahkan dengan menggunakan tenaga dalam (sekali lagi maaf kalau sama sekali tidak ilmiah, namun pendekar-pendekar zaman dulu bisa mengusir racun yang masuk ke tubuh, hanya dengan menggunakan tenaga dalam lho). Dus, si ibu tidak akan perlu mondok di RS Internasional itu, dan karenanya perkara tersebut tak perlu terjadi.

Sekarang, marilah kita beralih ke artis cantik yang sedang mengendong seorang anak kecil. Dikejar dan dipojokkan oleh sejumlah pekerja infotainment sampai ke bibir tangga, yang notabene berbahaya sekali kalau ia sampai jatuh. Kalau menguasai kungfu tenaga dalam, yang perlu ia lakukan hanyalah menarik napas dalam-dalam, memusatkan tenaga pada telapak tangan, lalu HIYYYAAAAATTT…!!! Dalam sekejap, tenaga dalam akan menghambur keluar dari telapak tangan, menyapu para pengejarnya, hingga terhempas sedikitnya sejauh 5 meter. Si artis bisa mengibaskan rambutnya (seperti yang biasa dilakukan oleh pendekar wanita) lalu melangkah pergi dengan gagah.

Tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan tenaga dalam. Tapi bayangkan, alangkah kerennya… ^^

#Selamat Natal dan Tahun Baru semuanya…# ^^

Read Full Post »

Agustus tanpa nge-blog…

Suatu malam, saya tersentak setelah melihat kalender. Sudah tanggal 31 Agustus! Dan saya belum menuliskan sepatah kata pun untuk blog ini…!!! Jreng 100000 x…!!! (ini meniru gaya tulisan Kristina…^^) Keterlaluan ya, sudah bulan Juli lalu cuma menghasilkan beberapa patah kata (itu pun isinya tidak bermutu, cuma curhat)… bulan Agustus malah tidak ‘menghasilkan’ apa-apa sama sekali…!!!

Kenapa ya, Agustus berlalu tanpa nge-blog? Katanya can’t live without singing and writing? Nah, di bawah ini ada sedikit penjelasan yang mengandung pembelaan diri, sehubungan dengan hal tersebut.

Saya bertugas mengurus sebuah program berita harian (tayang Senin hingga Jumat) di stasiun televisi lokal tempat saya bekerja. Berita yang kami tayangkan, sebagian merupakan feature yang bersifat timeless, sehingga bisa ditayangkan kapan saja, tidak terikat waktu. Karena itulah, feature kadang kami tayangkan lebih dari satu kali.

Entah kenapa, setiap kali terpaksa harus menayangkan ulang feature yang pernah tayang sebelumnya, saya merasa maluuuuu… sekali…(mukanya pengen ditaruh di pan..t)!!! Pasalnya, nama program berita tersebut mengandung kata ‘buletin’. Dan buletin mestinya berisikan kisah-kisah yang baru, yang belum pernah ditayangkan sebelumnya.

Karena itu sejak bulan Juli lalu saya bertekad, program berita yang saya urusi ini tidak boleh lagi tayang ulang!!! Meski jumlah kru dan peralatan sangat ‘pas’, tidak lebih. Meski program ini harian, sehingga kalau ada satu saja kru yang tidak masuk, atau terjadi ‘kecelakaan’ dengan hardisk sehingga item berita ada yang hilang, kami harus bekerja hingga larut. Apalagi kalau harus membuat episode dobel untuk mengisi hari libur tanggal merah, kami harus bekerja ekstra keras!

Nah, pada liburan Idul Fitri mendatang, rencananya divisi kami akan mengambil libur seminggu penuh. Karena itu, sambil terus mengerjakan episode yang tayang harian, kami juga harus menyicil mengerjakan 5 episode untuk ditayangkan pada tanggal 21-25 September mendatang. Diusahakan semuanya baru, tidak ada tayang ulang. Pokoknya ‘Harus Bisa’ (yang ini nyontek judul buku karya Dino Patti Djalal^^).

Karena itulah otak saya rasanya penuuuuuhhh banget. Kadang terlintas ide tulisan yang rasanya lumayan bagus, tapi karena ditunda-tunda terus, akhirnya lenyap juga.

Itulah sebabnya Agustus berlalu tanpa nge-blog…

Waktu usai jam kerja yang biasanya saya manfaatkan untuk menulis, rasanya lebih baik dimanfaatkan untuk menambah jumlah skrip berita. Tapi tenang saja, setelah beban kerja demi mempersiapkan episode 21-25 September berlalu, saya akan punya cukup banyak waktu untuk menulis lagi.

Para pembaca yang baik, harap sabar ya… (halah, memange ono sing moco…)

@Ria: lapor, blog sudah di-update, laporan selesai… ^^

Read Full Post »

Sang Katak

KermitBertahun-tahun lalu, saat masih kanak-kanak, saya sangat gemar membaca. Buku-buku yang dipinjam oleh encek (adik ayah) saya dari perpustakaan kelenteng pun, kalau cukup menarik, pasti saya baca juga. Salah satunya adalah buku-buku karya Anthony de Mello SJ. Waktu itu saya belum sepenuhnya memahami tulisan-tulisan de Mello. Saya hanya menggemari gaya bertuturnya yang ringan dan singkat, serta kaya makna.

Salah satu tulisan singkatnya yang masih saya ingat kira-kira sebagai berikut:

Letakkan seekor katak dalam sebuah panci berisi air yang dipanaskan perlahan-lahan, ia akan merasa hangat dan nyaman sehingga tidak beranjak, meski air telah mendidih dan mencelakakannya.

Tapi letakkan seekor katak dalam panci yang berisi air mendidih, ia akan melompat keluar saat itu juga, dan dengan demikian, menyelamatkan nyawanya!

Akhir-akhir ini saya berpikir, bagaimana kalau bukan seekor katak yang dipanaskan dalam panci secara perlahan-lahan tersebut? Bagaimana kalau itu adalah saya? Bagaimana kalau saya merasa aman dan nyaman dengan kondisi saya yang sekarang, dan kehilangan semangat juang untuk menggapai yang lebih baik?

Seorang motivator favorit saya yang setiap minggu tampil di televisi mengatakan, “leave your comfort zone!”

Sebuah dilema yang membingungkan. (Namanya saja dilema, ya pasti membingungkan tho, mbakyu). Saya mencintai kondisi saya yang sekarang, namun kondisi ini tidak mencintai saya. Tidak memungkinkan saya untuk maju dan meraih yang lebih baik. Kondisi yang sekarang ini cukup baik untuk saya pribadi, tapi saya kan tidak selamanya hidup sendirian. Nantinya saya akan berkeluarga, punya anak, dan wajib merawat orang tua dan mertua saya dengan sebaik-baiknya. Nah, pada saat itu, diperkirakan kondisi yang sekarang ini tidak lagi memadai.

Haruskah saya melompat keluar dari panci sebelum terlambat? Sepertinya iya.

#daripada tidak ada tulisan sama sekali bulan Juli ini, lebih baik curhat. Ya tidak?# ^^

Read Full Post »

Mengakui Kesalahan

Kebebasan mengeluarkan pendapat… tiba-tiba istilah itu menjadi asing bagi saya. Bahasa Indonesia atau Bahasa Swahili-kah itu? Saya sungguh-sungguh tidak mengerti apa artinya. Bolehkah Anda menjelaskannya pada saya?

Setiap kali menjelang Hari Raya Idul Fitri, toko sepatu mungil milik orang tua saya, yang terletak di persimpangan jalan, akan ramai dibanjiri pembeli. Karena itu sejak sudah bisa berhitung, saya rajin membantu orang tua saya di toko, terutama saat-saat menjelang Idul Fitri. Orang tua saya selalu mengajar saya untuk melayani pembeli sebaik mungkin, seramah mungkin dan secepat mungkin, terutama bila toko sedang penuh sesak. Alasannya, bila pembeli cepat mendapatkan sepatu yang diinginkan, mereka tidak akan berlama-lama di toko, dan tempatnya bisa segera diisi oleh pembeli lain. Sayangnya sebagai anak yang kurang teliti, saya kadang hanya mengutamakan aspek kecepatan saja.

Suatu ketika, seorang bapak tua membeli sepasang sandal kulit, untuk dikenakan saat berangkat ke tempat Sholat Ied keesokan harinya. Sandal tersebut tinggal satu-satunya (sebelah kanan dipajang di rak, dan pasangan sebelah kirinya ada di gudang). Lantaran toko penuh sesak, Si Bapak sudah merasa cukup puas setelah mencoba sandal sebelah kanan saja, dan langsung membayarnya. Ia percaya, kalau yang sebelah kanan pas, tentunya yang sebelah kiri pas juga. Saya yang kurang teliti tidak menyadari bahwa sandal sebelah kiri belum dimasukkan ke dalam kotak, bersama dengan yang kanan! Jadi saya membungkus kotak berisi sebuah sandal itu dan memberikannya kepada Si Bapak.

Pada saat toko sudah tutup, kami sibuk membereskan dan mengembalikan barang-barang dagangan yang berserakan di toko. Papi saya yang teliti menemukan sebuah sandal kiri yang tidak bertuan.

“Bukannya kita hanya memajang sepatu atau sandal bagian kanan saja? Mengapa sandal kiri ini bisa ada di sini?”

Mami saya langsung ingat (karena sandal itu tinggal satu-satunya), sandal sebelah kiri itu tadinya sudah dibayar oleh seorang bapak tua.

Saya juga ingat pada bapak tua yang telah bersusah payah menembus kerumunan pembeli demi membeli sepasang sandal, dan terlihat gembira menemukan sandal yang pas dengan model yang disuka, lantas cepat-cepat mengeluarkan lembaran-lembaran uang dari dompet tuanya. Seharusnya ia bisa mengenakan sandal barunya besok pagi. Sekarang tidak mungkin lagi, gara-gara saya!

Mami saya berkata, “Ya sudahlah. Besok pagi Bapak itu pasti datang lagi untuk mengambil sandalnya yang sebelah kiri. Kita bangun pagi saja, supaya sudah siap kalau Si Bapak datang mengambil.”

Maka itulah yang kami lakukan.

Sholat Ied biasanya dilaksanakan pagi-pagi sekali. Sekitar pukul tujuh, umat Muslim telah selesai beribadah. Pukul tujuh kami sengaja membiarkan pintu samping terbuka bagian atasnya. Pukul tujuh lewat sedikit, Si Bapak datang, seperti yang sudah diperkirakan. Mami saya memberikan sandal yang telah dibungkus rapi itu kepada Si Bapak, sambil berkali-kali mengucapkan maaf.

“Maaf ya Pak, kemarin yang menjuali anak saya yang masih SD, tidak teliti, jadi cuma dijuali satu. Maaf ya, Bapak sampai harus repot-repot datang ke mari lagi. Rumahnya di mana tho, Pak? Wah… jauh juga ya, sekali lagi saya mohon maaf lho ya. Anak saya juga sudah saya marahi, biar lain kali lebih teliti lagi.”

Si Bapak adalah seorang yang baik hati dan ramah, sedikit pun ia tidak terlihat marah, malah tertawa lantaran menganggap hal ini lucu.

“Iya, saya juga sudah ndak lihat-lihat lagi, langsung saya bawa pulang. Pas di rumah dibuka, ternyata cuma satu, haha… Saya jadi ditertawakan oleh istri dan anak-anak. Haha… Ya sudah, saya mau ujung* dulu ya, terima kasih lho.”

Mungkin lantaran sejak awal Mami saya mengakui kesalahan ada pada pihak kami, dan meminta maaf dengan rendah hati, maka kesalahan yang saya perbuat berakhir dengan baik dan menyenangkan.

Namun hal meminta maaf dan mengakui kesalahan ini tidak selalu berakhir demikian. Menurut headline berita yang saya baca akhir-akhir ini, kejadiannya tidaklah seperti itu. Seorang ibu bernama PM (bisa jadi singkatan dari Perdana Menteri, Perancang Mode, Pembuat Makanan, Perajin Mebel, dan lain-lain) mengalami kejadian seperti di bawah ini.

Suatu hari Si Ibu memasuki sebuah toko sepatu untuk membeli sepasang sepatu. Setelah memilih sepasang sepatu yang disukai, ia bertanya kepada pelayan toko mengenai spesifikasi sepatu tersebut. Apakah terbuat dari kulit asli, apakah modelnya mutakhir, apakah sepatu tersebut masih baru atau sudah bertahun-tahun dipajang di toko, dan lain sebagainya.

Pelayan toko menjawab asal-asalan. Kulit kok, tapi gak tahu kulit asli atau palsu. Modelnya jelas mutakhir, baru minggu lalu keluar dari pabrik, Ibu mau nomor berapa?

Si Ibu menyebutkan nomor yang diinginkan, mencoba sepatu tersebut, lantas membayarnya dan membawanya pulang. Sesampainya di rumah barulah disadari bahwa pelayan toko amat sangat tidak teliti. Sepatu yang dibungkus tadi sama sekali bukan sepatu yang telah dicobanya. Sepatu yang ini terbuat dari plastik ringkih, bukan kulit, dan 2 nomor lebih kecil. Jelas-jelas tidak dapat dipakai, padahal Si Ibu telah mengeluarkan uang cukup banyak untuk membelinya.

Si Ibu lantas kembali ke toko sepatu tadi untuk menukarkan sepatunya. Alih-alih dimintai maaf, ia malah mendapat penjelasan yang tidak memuaskan dari pelayan toko, sepatu ini kok yang tadi dicoba, bukan yang lain… ah masa? Si Ibu meminta bertemu dengan pemilik toko, namun dihalang-halangi. Besok saja, besok saja…

Si Ibu yang pulang dengan perasaan kecewa lantas menuliskan pengalamannya dan mengirimkannya ke beberapa temannya yang tergabung dalam sebuah milis. ‘Toko Sepatu Dapatkan Pembeli dari Sepatu Fiktif’, demikian judul surat elektronik tersebut, yang lantas menyebar luas hingga ke milis-milis lainnya.

Alih-alih menyesal dan meminta maaf atas kecerobohannya, pihak toko sepatu justru merasa berang dan menuntut Si Ibu, dengan tuduhan pencemaran nama baik. Demi menjaga reputasinya, pemilik toko menyewa pengacara untuk membersihkan nama toko tersebut, sekaligus melindungi pelayan-pelayan tokonya yang telah berbuat ceroboh.

Jadilah Si Ibu, konsumen pembeli sepatu yang mestinya dilayani dengan baik bagaikan sudah jatuh tertimpa tangga. Mendapat sepatu yang sama sekali tidak cocok, tidak bisa dipakai, namun tetap harus membayar, dituntut, dipenjara, harus membayar denda pula!

Kebebasan mengeluarkan pendapat… janganlah engkau menjadi seperti kuda terbang atau peri yang hanya hidup dalam buku-buku dongeng zaman dulu…

*ujung: istilah yang digunakan di kota saya, artinya mengunjungi sanak saudara dan handai taulan ketika Hari Raya Idul Fitri tiba.

Read Full Post »

5 detik vs 5 menit

Pernahkan Anda mendengar komentar yang tidak mengenakkan, lantas menjadi bete selama berminggu-minggu karenanya? Atau pernahkan Anda merasa sakit hati gara-gara perbuatan seseorang, lalu menyimpannya dalam hati selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun? Masihkah Anda marah saat ini, akibat kesalahan yang diperbuat orang lain pada masa lalu?

Kalau iya, maka ini saatnya cuci gudang!!!

Bila tidak segera mencuci gudang, kita sendiri yang rugi. Mari kita hitung-hitungan matematika. Saya bukan jenius matematika, tapi waktu SD saya sangat mencintai mata pelajaran yang satu ini, dan berhasil mendapat nilai 9,5 pada EBTANAS SD. Setelah SMP dan selanjutnya, angka tadi kebanyakan dibalik, hehe… ^^

Ini saya alami sendiri kira-kira seminggu yang lalu. Pada saat berlatih paduan suara, saya mendadak merasa ‘hilang arah’ di tengah-tengah lagu, sehingga saya berhenti sejenak, mendengarkan suara teman-teman yang lain, baru ikut menyanyi lagi. Mungkin gara-gara kurang konsentrasi, atau lupa, atau salah membalik halaman buku. Setelah latihan hampir berakhir, seorang rekan nyeletuk ke arah saya dengan sinis, “ini dia yang dari tadi fales” (= bersuara sumbang).

Dug! Saya merasa terpukul. Rekan tadi memang benar sih, saya ada kesalahan waktu menyanyi… tapi masa iya harus sinis begitu bicaranya? Apakah kesalahan yang saya buat tadi demikian fatal? Tapi kok pelatih paduan suara dan dirigen tidak mengatakan apa-apa ya? Saya merasa bingung, sedih, dan takut bersuara lantang. Akhirnya saya menyanyi dengan suara pelan, sambil menajamkan telinga mendengarkan suara teman-teman lain. Suasana hati saya rusak sudah.

Saya menengok arloji. Sudah 5 menit saya merasa sedih gara-gara mendengar komentar sinis tadi. Anggaplah komentar itu diucapkan dalam waktu 5 detik saja. Efeknya terhadap saya masih terus terasa setelah 5 menit = 300 detik. Betapa ruginya! Komentar selama 5 detik telah merusakkan suasana hati saya selama 300 detik! Tidak perlu jenius matematika untuk memahami bahwa hal ini amat merugikan!

Saya bertekad, sudah sampai di sini saja! Ceria mode: on. Kalau saya konsentrasi, tentunya tidak akan salah dalam menyanyi. Kalaupun ada yang salah, tentu pelatih, dirigen, atau rekan satu suara akan memberitahu. Kalau ada rekan yang memberitahu dengan nada sinis, bukan berarti dia menyebalkan, tapi karena mungkin nada bicaranya memang begitu. Lagipula maksudnya baik, memberi tahu agar saya cepat memperbaiki. Nah, kalau begitu, buat apa bersedih?

Kadang perkataan atau perbuatan singkat seseorang, dapat merusak suasana hati kita selama berhari-hari. Ibarat sembelit, (maaf) kotoran yang tertahan dalam tubuh selama berhari-hari dapat menimbulkan racun yang buruk bagi kesehatan. Demikian juga perasaan dan suasana hati. Karena itu, segeralah cuci gudang. Bersihkan dan sehatkan suasana hati Anda.

Jangan biarkan setitik nila merusak susu sebelanga. Jangan biarkan perkataan, perbuatan, atau apa saja yang dilakukan orang lain menghalangi Anda untuk merasa bahagia. Ambil hikmahnya (kalau ada), selebihnya tinggalkan. Ingat, 5 detik vs 5 menit saja sudah rugi banyak. Apalagi kalau lebih dari 5 menit.

Mulai sekarang kalau ada yang membuat Anda kesal, marah, bete, sedih, jengkel, kecewa, sakit hati, dan kroni-kroninya, jangan biarkan emosi negatif itu mengendap selama lebih dari 5 menit ya… ^^

#Membaca komentar dari You-know-who, saya jadi ingat salah satu kata perenungan Master Cheng Yen yang bunyinya kira-kira “Marah adalah menghukum diri sendiri atas kesalahan yang diperbuat orang lain.”#

Read Full Post »

Antara CSI dan C-netron

Pertama kali menyaksikan sebuah episode CSI beberapa tahun lalu (kalau tidak salah CSI: New York), mata saya seolah tak rela berkedip. Betapa cerdasnya tayangan film serial televisi bertajuk Crime, Scene, Investigation ini! TKP diperiksa dengan super cermat, setiap bukti, sekecil apapun ditelusuri, lantas dites di laboratorium yang canggih. Agar penonton lebih paham, serial ini dilengkapi dengan animasi yang menggambarkan terjadinya peristiwa pembunuhan. Ada pembunuhan yang tak disengaja, disengaja, terencana, dan ada pula kematian yang terjadi murni karena kecelakaan.

Pikiran saya hanya satu, kalau petugas penyelidik di seluruh dunia sehebat, seterlatih, setekun kru CSI, serta dilengkapi dengan fasilitas laboratorium yang sama canggihnya, maka tak ada lagi tempat bersembunyi bagi penjahat! Setiap pelaku kejahatan akan dapat dilacak, diungkap identitasnya, ditangkap, lantas dihukum sebagaimana mestinya. Dengan demikian, orang akan berpikir-pikir trilyunan kali sebelum mencabut nyawa manusia lain.

Sayang, beribu sayang, kini CSI baru dapat dinikmati oleh mereka-mereka yang sanggup membayar biaya berlangganan televisi kabel. Saya sendiri dapat menikmati tayangan televisi kabel karena baru ada free trial di apartemen tempat saya tinggal. Jadi sementara ini gratis…tis…!!! ^^

Berlangganan televisi kabel seakan mendapat hadiah berupa hiburan sekaligus pendidikan. Betapa tidak, tayangan dokumenter mengenai kebudayaan, alam, satwa liar, kuliner, hingga ilmu pengetahuan luar angkasa dan kedokteran, siap menemani kita 24 jam sehari. Belum lagi ditambah tayangan berita, ada berita umum, ada pula yang khusus berita ekonomi. Bagi penggemar film, aneka film yang angle pengambilan gambarnya keren-keren, alur ceritanya menarik, skenarionya cerdas, dan akting para pemainnya berkelas, dapat dinikmati. Sekali-kali ada selingan film komedi kurang bermutu sih, tapi tidak apa-apa, tinggal ganti channel saja. Untuk anak-anak, tersedia film-film kartun, mulai dari yang lucu, sampai yang ceritanya tidak kalah seru dengan film-film yang dibintangi manusia. Pokoknya banyak sekali yang didapat. Ilmu pengetahuan, perfilman, musik, hiburan, apa saja.

Bagaimana dengan masyarakat yang tidak mampu atau tidak bersedia membayar biaya berlangganan televisi kabel? Maka bersiaplah menyediakan buku-buku bacaan atau DVD film untuk hiburan di petang hari usai bekerja. Soalnya stasiun televisi nasional kita kebanyakan menayangkan acara-acara yang (maaf) tidak bermutu. Alih-alih CSI, penonton malah disuguhi C-netron yang alur ceritanya (maaf) super tolol, angle pengambilan gambarnya itu-itu saja (wajah pemeran di-close up hingga sebatas leher), skenarionya (sekali lagi maaf) ketahuan asal tulis, akting para pemainnya (kali ini maaf banget) tidak layak ditonton, dan sebagainya. Ada juga reality show seputar mencari orang hilang yang jelas-jelas tidak real, melainkan murni akting semata. Semuanya kaya akan kebodohan, ketamakan, kemarahan, kekerasan, serta kesewenang-wenangan. Sifat-sifat yang dikhawatirkan telah merasuki bangsa ini.

Hanya segelintir program berkelas yang dapat dinikmati masyarakat. Favorit saya adalah program Kick Andy, serta Mata Hati, Refleksi, Buletin Internasional, dan Da Ai Inspirasi ^^

Pernahkan Anda melongok ke dalam rumah-rumah kumuh di bantaran kali? Banyak sekali rumah yang dari luar terlihat amat kumuh, namun di dalamnya bertengger sebuah televisi besar dengan layar minimal 21 inchi. Bahkan pengungsi di Aceh yang (waktu itu) tinggal di tenda Yayasan Tzu Chi, rata-rata memiliki televisi. Meski mereka masih tidur di atas tikar. Wajar, karena setiap orang membutuhkan hiburan. Sedangkan hiburan yang paling mudah dijangkau dan murah, ya televisi.

Karena itu, televisi seyogianya dapat menjadi sarana pendidikan yang sangat efektif bagi masyarakat Indonesia. Kenyataannya toh hampir setiap orang, tua dan muda, menyalakan televisi dengan suka rela tanpa disuruh, setiap hari.

Bayangkan, andai tayangan televisi nasional kita dipenuhi oleh film-film dokumenter yang kaya akan khasanah ilmu pengetahuan, macam Discovery Channel. Film-film cerdas dan bermutu yang menggambarkan tentang cinta kasih, persahabatan, pengorbanan, pengabdian, perjuangan, kerja keras, kebenaran dan keadilan, pendeknya film yang membuat kita seolah memperoleh pencerahan usai menontonnya. Mungkin sedikit banyak akan berpengaruh terhadap pendidikan rakyat Indonesia.

Mungkin…

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »