Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Kenangan’ Category

Jujur oh jujur…

Kisah Ibu Siami dan putranya Alif, yang menjunjung tinggi kejujuran, namun malah diusir dari kampung, sungguh miris. Sekolah semestinya dijadikan tempat untuk mengajarkan dan melatih kejujuran. Ini kok malah sebaliknya.

Saya jadi teringat saat hendak masuk SMA dulu. Nggak segawat pengalaman Si Kecil Alif sih, tapi masih ada sangkut-pautnya dengan kejujuran, dan cukup membuat bingung.

Waktu itu, untuk masuk ke SMA saya, calon murid harus menjalani 2 jenis tes. Yang pertama adalah tes mata pelajaran biasa seperti matematika, bahasa Inggris, dan sebagainya. Yang kedua adalah tes wawancara.

Nah, alih-alih mencari tahu seputar kepribadian, watak, dan sebagainya, tes yang kedua ini berfokus pada menyelidiki latar belakang keluarga dan ekonomi si calon murid. Tujuannya untuk menetapkan, seberapa besar uang pangkal yang harus dibayar oleh calon orang tua murid, kalau anaknya diterima masuk ke sekolah ini.

Sudah menjadi rahasia umum (terutama bagi anak-anak dari kota saya yang sudah banyak mendapat masukan dari kakak-kakak senior), bahwa dalam tes wawancara ini, kita bahkan dianjurkan untuk berbohong.

Jangan mengaku kalau di rumah ada sambungan telepon, jangan mengaku kalau punya pesawat TV, pemutar kaset video, kulkas, apalagi mobil. Jangan mengaku kalau orang tua kita punya toko atau tempat usaha lain (yang kemungkinan akan dipandang bonafid). Mengakulah bahwa keluarga kita semiskin dan sesederhana mungkin, agar uang pangkal ringan, dan uang sekolah selama 3 tahun juga ringan. Begitu nasihat kakak-kakak senior.

Namun apa boleh buat, sejak kecil orang tua sudah mengajarkan kepada saya untuk jujur. Apalagi saat itu sudah tahun 1993. Negeri kita sedang sedang maju-majunya. Mana ada orang yang percaya kalau dibilang di rumah kita tidak ada pesawat TV?

Selain itu, orang tua juga tidak menginstruksikan saya untuk berbohong. Mereka hanya berpesan, hati-hati kalau menjawab, jangan sampai terlihat seperti anak orang kaya. Jadi saya pikir, jawab apa adanya saja. Toh saya memang bukan anak orang kaya kok. Mestinya sih, tidak akan dibebani uang pangkal dan uang sekolah berlebihan.

Namun di luar dugaan, uang pangkal yang harus dibayar oleh orang tua saya ternyata cukup besar. Lebih besar dari uang pangkal seorang teman saya, yang bapaknya bisa disebut juragan bapak saya (kalo dilihat dari skala usaha yang dijalankan). Uang pangkal ini tidak bisa ditawar-tawar lagi, karena ditentukan berdasarkan hasil tes wawancara.

Merasa penasaran, orang tua saya lantas menghubungi seorang bapak guru senior, sebut saja Bapak C. Bapak C ini dulunya adalah guru SMA bapak saya (sampai sekarang masih berhubungan baik dan cukup akrab). Saat itu, Bapak C sudah punya jabatan tinggi di beberapa sekolah dan universitas di kota Y. Termasuk SMA saya. Karenanya, beliau punya wewenang untuk melihat hasil tes wawancara di SMA saya.

Setelah melihat hasil tes wawancara, dan membandingkan hasil tes saya dengan teman saya (yang bapaknya adalah juragan bapak saya), Bapak C lantas menghubungi orang tua saya.

“Pantes uang pangkalnya tinggi. Anakmu kuwi bodho” (Anakmu itu bodoh)

“Anakmu mengaku orang tuanya punya toko sepatu dengan 2 karyawan. Ibunya punya usaha sampingan membuat makanan kecil, dengan dibantu oleh tenaga beberapa orang pembantu rumah tangga. Karena itu orang tuanya dinilai mampu untuk membayar uang pangkal sebesar ini.”

Lantas, bagaimanakah kira-kira jawaban teman saya (yang bapaknya bisa dibilang juragannya bapak saya itu)?

“Nah, kalo temennya ini pinter. Dia mengaku orang tuanya punya toko kelontong kecil, dengan 1 karyawan, tidak punya pembantu rumah tangga, dan tidak punya usaha sampingan. Karena itu, uang pangkalnya lebih ringan.”

Waktu itu saya tidak terlalu peduli akan perbedaan uang pangkal yang harus dibayar oleh saya maupun teman saya. Saya tidak merasa iri. Wong bedanya juga nggak fantastis-fantastis amat kok. Lagipula dia adalah teman baik yang sangat saya sayangi.

Apalagi SMA ini cukup ketat menyeleksi calon murid. Ada beberapa teman dari SMP saya yang tidak diterima, meski bersedia membayar. Jadi, diterima saja saya sudah sangat bersyukur. Selain itu, toh orang tua saya juga masih sanggup dan bersedia membayar. Jadi tidak ada masalah.

Tapi saya sedih… karena dibilang bodoh. Apakah berkata jujur sama dengan bodoh…???

Advertisements

Read Full Post »

Memori 2005

Sekitar 5 tahun yang lalu, stasiun televisi lokal tempat saya bekerja menanyakan, apakah saya punya paspor atau tidak. Jika punya, apakah masih berlaku atau tidak. Pada saat itu, paspor saya sudah tidak berlaku lagi. Karenanya saya diberi waktu libur selama beberapa hari untuk pulang ke kampung halaman guna membuat paspor. Lantas, pada suatu hari yang indah di bulan November, kami berempat (mas Nanang, Hendrik, Nelvy dan saya) bertolak ke Taipei, Taiwan…!!! ^^

Kewajiban saya adalah menjalani pelatihan, dengan cara ikut bekerja di DAAI TV Taiwan. Kebetulan saya mendapat rekan kerja yang asyik-asyik, yaitu Patricia, Youzi dan Xiuyi. Sampai sekarang, Patty dan saya masih bekerja di DAAI TV Jakarta (sama-sama betah ya Pat ^^)

Nah, usai jam kerja biasanya ada saja teman dari DAAI TV Taiwan yang mengajak kami berjalan-jalan. Seingat saya, pada hari pertama bekerja sudah ada yang mengajak kami ke pasar malam. Makanannya enak-enak. Asyiiik…!!!

Akhir pekan biasanya kami manfaatkan untuk berjalan-jalan… tapi pada waktu itu mas Nanang harus mengikuti pelatihan, sehingga hanya Hendrik, Nelvy dan saya yang pergi ke 淡水(Danshui).

Nah, ini dia 水哥 (Shui Ge) yang berbaik hati mengajak kami berjalan-jalan ke berbagai tempat…

Naik kapal, asyiiikkk…!!! ^^

Saya dan Nelvy foto bareng kuda hitam raksasa… kuda beneran lho… ^^

Dapat latar belakang bagus, langsung foto-foto lagi…

Me, myself and ice cream…

Pemain ocarina cilik yang hebat sekali…

Inilah foto favorit saya sepanjang masa, saat kulit wajah bersih dan mulus, padahal waktu itu baru seminggu terkena udara bersih dan segar… (sekarang sih udah jerawatan lageee…)

Nelvy…

Hendrik…

Foto-foto di Taipei 101, dulu pernah menjadi gedung tertinggi di dunia hingga dikalahkan oleh Burj di Dubai…

Nah, ini dia foto ‘horror’…

Sedikit bukti bahwa di samping jalan-jalan, kami juga bekerja, malah sempat siaran live segala…

Malam hari yang indah di Longshan Temple (龍山寺)…

Hendrik dan Li Shao, seorang sutradara film asal Taiwan yang mengajak mas Nanang, Hendrik dan saya berjalan-jalan ke Longshan Temple…

Nah, ini dia mas Nanang…

Ohya, tidak kalah penting, inilah tempat tidur di asrama lantai teratas gedung DAAI TV Taipei. Efektif, efisien, indah, dan nyaman. Yang dipotret tempat tidur Nelvy saja yang rapi, hehe…

3 minggu pelatihan kerja (plus jalan-jalan) di Taipei ini sangat mengesankan, meski saya gagal bertemu dengan Jimmy Lin (林志颖), penyanyi dan bintang film Taiwan idola saya, cowok terganteng se-Asia… Mungkin lain kali ya koh… ^^ Foto Jimmy Lin diambil dari http://hongkongstar.tripod.com/jl/jl04.htm

Demikianlah kenangan indah yang ingin saya abadikan di blog ini… ^^

Read Full Post »

One day I was going home by transjakarta when rain suddenly poured down from the sky. The rain was so heavy that you’d soon be soaked in water although you had an umbrella. So there was no way for me to ride an ojek as I usually do. The other option was to get a taxi… but the traffic jam was extremely dreadful that you’d be wasting time (and lots of money) anyway.

The last option was to wait at the bus shelter, and that’s what I did. I got there around 7.30 pm, and guess what… the rain didn’t stop pouring until 9 pm…!!! So there I was, standing for 1,5 hours without any book to read or anyone to talk to. When the rain finally stopped at 9 pm, I was so happy as I could be, quickly got myself an ojek, smiling all the way home :p

Then I realized I’ve learned something new. We have the right to pursue our goals, yet God is the one who decides whether we deserve it or not. He also decides the right time for us to get what we are worthy of. No matter how hard we’ve tried, no matter how much we want to make our dreams come true, it can’t always come in an instant.

Keep on working hard… but sometimes we simply have to WAIT. It leaves us two options: waiting happily or unhappily. I believe there are lots of goals we’re not yet to reach… but for me, ever since that day, I’ve decided to wait happily and thank God for everything He’s given to me… It’s not always easy though, but it makes me feel lots better.

What about you…??? :p

* It was written on October 19, 2006, the second writing posted in my friendster blog. Actually I have forgotten the art of waiting happily. That’s why I decided to post this old writing here. To remind myself of my revelation under the rain ^^ *

Now I’m waiting happily to get pregnant again ^^

Read Full Post »

Pernahkah engkau mensyukuri setiap jerawat yang muncul di wajahmu? Mula-mual yang dirasakan nyaris sepanjang waktu? Atau perasaan mudah lelah sehingga harus beristirahat setiap beberapa jam sekali? Naik-turun tangga dan bergerak serba pelan seolah menderita encok?

Aku pernah!!!

Jerawat, mual-mual dan mudah capek ternyata sangat mudah disyukuri, karena hal itu mengingatkan akan si mungil yang sedang bertumbuh dalam rahimku. Setiap kali ada jerawat baru muncul, aku bersyukur karena konon (entah benar atau tidak), jerawat banyak bermunculan akibat hormon tertentu semasa kehamilan. Tidak semua ibu hamil mengalaminya, sih. Namun aku mengenal beberapa orang teman yang jerawatan semasa hamil, lantas wajahnya kembali mulus beberapa bulan setelah melahirkan!

Semasa mengandung, aku tidak pernah jauh-jauh dari sebotol minyak kayu putih (harus selalu ada di dalam tas, sama pentingnya dengan KTP atau ATM!) Pasalnya, aromanya lumayan ampuh untuk mengurangi rasa mual yang sering muncul.

Semasa mengandung pula, aku harus sejenak melepaskan khayalan menjadi seorang jago kungfu. Aku tidak lagi berlari menaiki tangga, atau melompat ke sana kemari seolah menghindari serangan musuh!

Setiap kali les vokal, berlatih vokal di rumah, atau bertugas menyanyi di gereja, aku selalu berbisik pada si kecil, dengar ya, Mama menyanyikan lagu ini untukmu ^^

Aku banyak membaca kisah-kisah Sherlock Holmes dalam bahasa aslinya, dengan harapan si kecil akan memiliki otak secerdas Holmes! Tapi kamu tidak harus menjadi detektif kok Nak, kalau kelak kamu ingin mengabdikan hidupmu untuk merawat orang utan misalnya, Mama tidak akan melarang. Yang penting kamu mencintai profesimu kelak, dan hidup berbahagia karenanya!

Demikianlah, setiap jerawat mengandung asa, mual-mual membuatku bahagia, dan pegal-pegal mengundang ceria!

Namun pada suatu hari Sabtu yang indah, ketika tiba jadwal kontrol ke dokter kandungan, segalanya berubah. Pada saat menimbang berat badan, aku sudah merasa sedikit cemas. Pasalnya, berat badanku tidak jauh berbeda dari 4 minggu sebelumnya. Kandunganku sudah berusia 14 minggu. Namun dilihat dari hasil USG, seperti baru berusia 12 minggu saja.

Yang lebih mengkhawatirkan, terdapat nuchal translucency (NT) sejauh 1,05 cm dari dinding rahim. Padahal menurut dokter, seharusnya NT tidak boleh lebih dari 1-2 mm saja. Berarti ada sejumlah besar cairan di belakang leher si janin, yang menandakan adanya kelainan bawaan. Tubuh si kecilku juga terlihat seperti diselubungi cairan.

Dokter lantas merujuk kami kepada dua orang seniornya, dosennya saat mengambil spesialis obstetri dan ginekologi dulu. Namun kedua dokter senior ini begitu sibuknya, sehingga aku baru bisa memeriksakan kandungan kepada salah seorang dokter, pada hari Kamis berikutnya. Itupun karena si dokter berbaik hati menyelipkan seorang pasien rujukan dalam jadwalnya yang padat.

Itulah 5 hari paling panjang dalam hidupku. Belum pernah aku merasa secemas itu. Tak henti-hentinya aku berdoa, ya Tuhan, berkatilah agar bayiku sehat dan normal. Kalaupun bayiku mengalami kelainan bawaan, biarlah kelainannya yang seringan mungkin. Misalnya polydactyly (memiliki jari tambahan). Dulu adik temanku mempunyai jempol tambahan, dan ketika sudah cukup umur, jempol tambahannya bisa dihilangkan dengan operasi. Jangan berikan ia kelainan bawaan yang berat ya Tuhan.

Namun pada hari Kamis, ketika diintip melalui USG di ruang praktek si dokter senior, jantung si mungil sudah berhenti berdetak.

Ia memang tidak akan sanggup bertahan hidup, kata dokter. Bisa bertahan selama 14 minggu saja sudah hebat.

Air mata mengalir karena sedih, kehilangan, rasa hampa, dan juga terharu. Kamu ingin bertemu dengan mama-papamu ya Nak? Karena itukah engkau berusaha bertahan hidup selama ini?

Namun kami yakin, apa yang ditakdirkan oleh Tuhan, tentulah yang terbaik. Ia begitu mencintai umat-Nya hingga rela berkorban di kayu salib. Begitu besar kasih-Nya, sehingga aku yakin, si kecilku tidak menderita, dan kini telah bahagia dalam pelukan-Nya. Kalau sampai bertahan hidup dan dilahirkan dengan kelainan bawaan yang berat, tentu ia akan sangat menderita.

Pada hari Rabu siang tanggal 23 Juni aku dikuret, dan berpisah dengan si kecil untuk selama-lamanya.

Selama-lamanya? Ah, belum tentu. Bisa jadi kami akan berkumpul kembali suatu hari nanti, di surga. Si kecilku tidak berdosa, dan bisa dipastikan mendapat tiket langsung. Tinggal bagaimana aku dan garwa (sigaran nyawa) serta anak-anak kami kelak menjalani hidup ini dan memanggul salib masing-masing. Bila kami sekeluarga sungguh-sungguh mengikuti jalan-Nya, tentu kami akan bisa berkumpul kembali nanti di surga.

Untuk sementara waktu, kuucapkan selamat tinggal pada si kecil. Sampaikan peluk dan cium dariku ya Tuhan. Aku tak bisa memeluk dan menciumnya, tapi Engkau pasti bisa.

Dokter meminta kami menunggu selama 3 bulan. Setelah itu, barulah aku boleh hamil lagi.

Aku bertekad, dalam 3 bulan ini aku harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Makan makanan yang bergizi, rutin mengkonsumsi asam folat, minum susu, mengurangi aktivitas agar bisa cukup beristirahat, pokoknya menganut gaya hidup sehat! Agar anak yang dikaruniakan pada kami nanti, dapat tumbuh dan berkembang dengan maksimal dalam tubuh seorang ibu yang sehat.

Memang kalau diingat-ingat, kehamilanku yang pertama baru diketahui saat usianya sudah 6 minggu. Selama 6 minggu itu kan aku tidak rutin minum susu, makan makanan yang bergizi, seringkali beraktivitas dari pagi hingga malam sampai kecapean, dan sebagainya. Aku yakin, orang harus belajar dari pengalaman. Segala yang terjadi kepada kita, pastilah mengandung hikmah. Tak boleh ada pengalaman yang sia-sia.

Dan yakinlah, Tuhan akan membuat segala sesuatu indah pada waktunya.

Selama ini aku banyak khawatir akan hal-hal yang remeh-temeh. Namun dalam kehadirannya yang amat singkat, si kecil telah membuatku sadar mengenai hal-hal yang paling penting dalam hidup ini. Yaitu rasa syukur terhadap seluruh karunia yang dilimpahkan Tuhan kepada kita. Dan kesehatan.

Kini jerawat di wajahku sudah mulai berkurang.

3 bulan lagi, berilah agar aku mengandung lagi ya Tuhan. Berkatilah agar bayiku yang akan hadir nanti sehat dan sempurna.

Jerawat dan mual-mual (atau bahkan muntah-muntah juga boleh, deh) serta pegal-pegal tidak menjadi masalah. Akan kujalani dengan penuh rasa syukur dan bahagia!!! ^^

Read Full Post »

Gone Too Soon

The song was written by Buz Kohan and Larry Grossman, and performed by Michael Jackson in his album ‘Dangerous’ (1991). The song was dedicated to the memory of Ryan White.

The lyrics is so beautiful, the melody melancholy, and Jacko sang it with all his heart. Now I dedicate this song to our little one, who had been with us for about 14 weeks only. My husband and I had seen him, and listened to his heartbeat several times (thanks to the USG machine). For several reasons, we believe that our little one is a ‘he’, although we would never know for sure. He is with his Father in heaven now.

Well, we haven’t got the chance to tell him how much we love him. But I guess the song will do.

Gone Too Soon

(Michael Jackson)

Like a comet
Blazing ‘cross the evening sky
Gone too soon

Like a rainbow
Fading in the twinkling of an eye
Gone too soon

Shiny and sparkly
And splendidly bright
Here one day
Gone one night

Like the loss of sunlight
On a cloudy afternoon
Gone too soon

Like a castle
Built upon a sandy beach
Gone too soon

Like a perfect flower
That is just beyond your reach
Gone too soon

Born to amuse, to inspire, to delight
Here one day
Gone one night

Like a sunset
Dying with the rising of the moon
Gone too soon
Gone too soon

Read Full Post »

Jajanan zaman SD

Pernahkah Anda merasa kaya-raya dengan uang Rp 200,- di kantong? Saya pernah, waktu masih SD! Semasa bersekolah di Muntilan dulu, kebetulan TK-SD dan SMP saya terletak berderet di satu jalan yang sama, yaitu Jalan Kartini. Jadi, jajanan favorit sejak TK misalnya, bisa saya nikmati sampai lulus SMP.

Dari arah TK Theresia, usai menyeberangi sebuah jalan kecil, kita akan tiba di sebuah tanah lapang yang cukup luas, biasanya digunakan untuk tempat berdagang makanan kecil dan mainan anak-anak murah-meriah. Sekarang sih, sudah tidak lagi. Nah, berikut ini jajanan favorit saya waktu masih sekolah di TK Theresia, SD St. Yoseph, dan SMP Marganingsih ^^

1. Sego seket

Sego seket artinya adalah sebungkus nasi seharga Rp 50,- (sudah termasuk PPN). Sebungkus nasi ini berisi nasi (ya iyalah!), sedikit bihun, sedikit oseng-oseng tahu, dan sedikit oseng-oseng kacang panjang, plus sedikit sambel. Meski lauk-pauknya sederhana, namun rupanya yang masak jago sekali, sehingga sebungkus nasi ini baunya sungguh harum. Kadang saya dan teman-teman beli sego seket untuk dimakan bareng-bareng di teras depan kelas. Hmmm… lezat!!! Kadang bapak-simbok saya menitip dibelikan untuk nostalgia, karena rupanya sego deket ini sudah ada sejak zaman mereka masih kecil. Ohya, sego seket bisa didapat di kantin SD saya.

2. Bakso kojeg

Tadinya bapak-simbok saya tidak mengizinkan anak-anaknya jajan di luar kantin sekolah. Namun setelah melihat sendiri bahwa jajanan di luar sekolah juga cukup bersih, maka kami diperbolehkan jajan di tanah lapang dekat TK. Bakso kojeg adalah favorit saya sepanjang masa. Melihat harganya yang hanya Rp 5,- (sudah termasuk PPN) per butir, maka bakso ini sudah pasti tidak mengandung daging. 100% tepung terigu doang. Namun rasanya menjadi lezat berkat sambal kacang. Dulu ada beberapa pedagang bakso kojeg, namun favorit saya adalah dagangan bapak yang berjenggot, sebab meski wajahnya agak menyeramkan, bumbu kacangnya luarrr biasa! Saya biasa membeli 5-10 butir bakso kojeg setiap pulang sekolah, untuk dinikmati sambil berjalan pulang ke rumah. Mmm… lezat!!!

3. Sempe

Sempe ini mirip wafer, tapi hanya rotinya saja yang bentuknya lembaran. Rasanya sedikit manis, dan renyah sekali kalau digigit. Sempe juga merupakan makanan favorit orang serumah, sehingga saya sering beli sempe agak banyak untuk oleh-oleh. Harganya dulu Rp 25,- (sudah termasuk PPN) sekantong plastik kecil. Pedagang sempe tidak setiap hari berdagang di dekat TK. Tapi setiap hari Sabtu dan Minggu, pak pedagang sempe bisa dijumpai di depan Gereja St. Antonius. Rajin ke gereja, berhadiah sempe!

4. Arumanis

Arumanis yang bentuknya agak seperti rambut dan teksturnya kasar, di Jakarta biasa disebut rambut nenek. Dulu saya lumayan sering beli untuk dimakan sambil berjalan pulang ke rumah. Biasanya musti menghadapi dilema dulu, memilih antara bakso kojeg atau arumanis ^^

5. Gulali

Gulali adalah permen tradisional yang manis dan enak. Sebetulnya adonan gulali yang masih cair dan panas cukup higienis. Namun saat membentuk gulali, kadang pak pedagang menggunakan jari-jari tangannya. Jadi para orang tua dan guru sepakat, anak-anak boleh membeli gulali, asal beli gulali yang dibentuk dengan cetakan (pokoknya gulali jangan sampai kena tangan pedagangnya!). Cetakannya bermacam-macam, ada yang berbentuk jagung (paling kecil dan murah, harganya Rp 25,- termasuk PPN), ayam jago, dan yang paling besar berbentuk boneka.

6. Binteng

Nah, yang ini saya agak sulit menjelaskannya, karena Mbah Google pun tidak tahu. Binteng adalah sejenis permen tradisional, yang dibuat dari jahe. Binteng berbentuk lembaran tipis, lantas digunting-gunting berbentuk persegi kecil-kecil oleh ibu pedagangnya. Binteng yang berwarna merah muda dan hijau rasanya manis dan berbau jahe (favorit saya). Binteng yang berwarna abu-abu mengkilat rasanya manis, pedas, dan berbau jahe (favorit ibu saya). Binteng yang berbentuk bulat-bulat kecil konon pedas sekali, jadi saya tidak pernah membeli. Ibu pedagang binteng bersedia menjual bintengnya, tak peduli berapa pun uang yang ada di kantong kita. Kalau beli Rp 25,- isinya sedikit, kalau beli Rp 50,- isinya agak banyak. Entah ke mana ibu pedagang binteng sekarang… sudah belasan tahun saya tidak makan binteng… hiks…

7. Nasi soto Bu Sis

Warung soto Bu Sis letaknya tidak jauh dari sekolah, hanya 5-10 menit berjalan kaki. Kalau pengen makan di sana, saya biasanya janjian dengan teman-teman sehari sebelumnya, dan tak lupa meminta tambahan uang saku pada ortu. Tidak banyak kok, dengan uang Rp 200,- kita sudah bisa menikmati sepiring nasi soto yang lezat (Rp 150,-), plus tempe (Rp 25,-) dan segelas kecil teh manis (Rp 25,-). Sayang sekarang Bu Sis sudah tidak jualan lagi…

Read Full Post »

Aval artinya mendengar. Lokite berarti dunia. Svara berarti suara.  Avalokitesvara berarti mendengar suara dunia yang penuh dengan penderitaan. Avalokitesvara juga sering disebut sebagai Dewi Welas Asih.

Pada dasarnya saya jarang sekali meninggalkan Pulau Jawa. Namun pada bulan Juni 2007, saya beruntung bisa liputan (dan tentunya jalan-jalan) di kota Medan Sumatera Utara dan sekitarnya. Nah, salah satu yang paling berkesan adalah liputan wisata religi Vihara Avalokitesvara di kota Pematang Siantar, kira-kira 4 jam perjalanan dari kota Medan.

Sebelum tiba di vihara pun, saya dan rekan camera person Hadi Pranoto sudah terkagum-kagum melihat patung Avalokitesvara,  juga dikenal dengan Dewi Kwan Im (Guan Yin 观音), yang sudah terlihat dari jauh. Patung setinggi 22,8 meter yang terbuat dari batu granit ini memang memesona. Tidak pandang agama, kepercayaan, ras, apalagi bulu, siapa pun akan terpesona melihat keindahan patung Avalokitesvara.

Selain patung, komplek vihara juga ditata dengan sangat apik, sehingga langsung saja kamera dijeprat-jepret di sana-sini untuk mengabadikan keindahannya. Langit biru yang berawan menjadi latar belakang yang gorgeous sekaligus gratis.

Bagi teman-teman yang belum pernah ke sana, ini dia foto-fotonya. Foto-foto yang angle-nya bagus, jelas-jelas diambil oleh camera person. Foto yang angle-nya biasa-biasa saja, kemungkinan besar diambil oleh saya… ^^

Selamat menikmati ^^

Read Full Post »

Older Posts »