Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Kenangan’ Category

Liputan tanggal 5 Februari 2006 yang digagas oleh camera person Adi Nugraha Da Ai TV ini, sekaligus merupakan pengalaman yang tidak terlupakan untuk saya. Pertama kalinya saya menumpang pesawat terbang layang atau glider, yaitu pesawat tidak bermesin yang mula-mula ditarik oleh sebuah pesawat penarik. Setelah mencapai ketinggian 600 meter dari permukaan tanah, pesawat terbang layang akan dilepas, dan pilotnya harus pandai-pandai mencari termal, agar bisa terbang selama dan sejauh mungkin.

Salah satu narasumber, sekaligus pilot yang mengajak saya terbang hari itu adalah Bapak Wiwin Anggono, atlit terbang layang andalan DKI Jakarta.  Bayangkan saja, bapak yang low profile ini pernah terbang tanpa mesin dari Malang hingga Cepu, dengan jarak tempuh 174 kilometer!!!

Berikut adalah foto-foto kenangan, yang diambil oleh camera person Adi Nugraha, di Hanggar Terbang Layang Portela Jaya, Pondok Cabe, Jakarta Timur. Kebetulan kami diperbolehkan terbang naik Marianne, glider terbaik di sana saat itu. Terima kasih ya… ^^

Advertisements

Read Full Post »

Saya tidak pandai memotret. Namun ketika masih aktif liputan untuk Da Ai TV tahun 2005-2008 , setiap reporter juga diwajibkan memotret untuk keperluan dokumentasi, di samping liputan yang menjadi tugas utama tentunya. Nah, berikut ini beberapa foto favorit yang diambil oleh saya dan juga oleh rekan camera person Sigit Purwanto, selama liputan tanggal 17 Juli 2006. Selamat menikmati ^^

(more…)

Read Full Post »

Teman-teman yang baik, akhirnya jadi juga DVD saya berduet bersama Mr. D yang ganteng itu. Kalau nada-nadanya banyak yang goyah (dari pihak saya tentunya), mohon dimaklumi ya, hehe… gemeteran bo…!!! ^^

Tapi video yang di blog ini sepertinya kurang bagus dari segi gambar maupun suara… soalnya di-compress-nya bener-bener jadi sampai kecil banget… Saya sudah coba updload versi mp4  yang lebih bagus, tapi gagal. Jadi kalau mau lihat yang lebih jelas, ke facebook saya saja ya, tinggal diketik ‘Santi Kurniasari’, kalau perlu di-add sekalian, hehe… ^^

Read Full Post »

Tahun 80-an. Seorang bapak berkacamata dengan baret hitamnya yang khas memperlihatkan sebuah gambar ke arah kamera, sambil berkata, “Gambar ayam berkokok, hasil karya ###, dari SD ### bagus… Gambar pak tani, dari adik kita ###, TK Pertiwi ### bagus… Gambar pemandangan…” dan seterusnya.

Bertahun-tahun saya menjadi pemirsa setia acara ‘Gemar Menggambar’ produksi  Televisi Republik Indonesia. Mungkin kalau dijumlah total, sudah ribuan gambar kiriman anak-anak dari seluruh Indonesia yang saya saksikan. Semuanya punya satu kesamaan, yaitu bagus. Tidak ada satu pun yang jelek.

Padahal kenyataannya… ada saja gambar yang jelek. Atau bahkan luar biasa jelek. Kadang saya bertanya-tanya, apakah bapak berkacamata ini tidak takut dinilai tidak punya selera? Tidak punya cita rasa seni? Kok gambar jelek dibilang bagus?

Lalu tiba-tiba pada suatu hari, saya temukan jawabannya. Bapak bertopi ini selalu mengatakan bagus, karena beliau tidak sok tahu! Beliau tidak ingin mendahului Yang Maha Kuasa.

Saat itu, mungkin si pengirim yang masih duduk di bangku SD baru bisa membuat gambar cakar ayam. Namun tidak menutup kemungkinan kelak ia akan bisa membuat karya lukis yang mengagumkan. Saat itu gambar yang dikirim masih berupa coret-coretan. Namun, siapa tahu kelak si anak bisa jadi seniman pelukis abstrak yang jempolan.

Kita tidak akan pernah tahu. Konon, waktu SD dulu  Elvis Presley cilik mendapat nilai C untuk mata pelajaran musik. Di masa SD, Albert Einstein pernah dianggap sebagai pelajar yang daya pikirnya lambat. Tapi lihat apa yang terjadi ketika mereka dewasa.

Segalanya mungkin. Lihatlah putra Anda yang sedang berlarian di atas rumput sambil merentangkan kedua tangan, seolah ingin terbang. Konon, dulu Wright bersaudara juga begitu. Lihatlah anak perempuan tetangga yang menari berputar-putar tidak karuan. Barangkali mirip masa kecil Isadora Duncan?

Anak kecil, serupa dengan tunas yang bertumbuh. Mungil, namun sarat akan asa. Pohon redwood 115,2 meter yang merupakan pohon tertinggi di dunia, dulunya juga bermula dari sebuah tunas mungil, kok.

Kadang ada bakat dan kemampuan yang begitu jelas terlihat. Namun banyak juga bakat dan kemampuan yang tersembunyi. Karenanya, tidak adil jika kita menghakimi anak-anak, dan menuduh mereka kurang pandai, kurang berbakat, dan sebagainya. Lebih baik kita bimbing dan kita semangati, agar mereka dapat bertumbuh dengan maksimal.

Seperti halnya semua gambar adalah ‘bagus’, karena kata tersebut menyiratkan harapan Pak Tino Sidin. Harapan bahwa semua anak Indonesia gemar menggambar. Kalau Pak Tino Sidin dulu mengatakan jelek… jelek… bisa jadi anak-anak Indonesia tidak akan merasa pede untuk mengirimkan gambar hasil karya mereka, dan hilang semangat untuk berkarya.

Selain itu, boleh ya saya tambahkan sedikit catatan dari pengalaman pribadi ^^

Kalau Anda merasa tertarik pada satu bidang, kesenian atau apa saja, jangan pikir panjang, belajar saja! Tekuni saja! Hajar! Singkirkan pemikiran dan kebimbangan seputar Anda berbakat atau tidak, terlalu tua untuk belajar atau tidak.

Kita tidak akan pernah tahu kita berbakat atau tidak, sebelum setidaknya mencoba.  Minimal, dengan belajar  kita akan menjadi lebih pintar. Selain itu, mengutip nyanyian Jonathan Knight dari New Kids On The Block, age is just a number. Jangan pikir Anda terlalu tua untuk belajar. Saya sendiri baru belajar vokal klasik di usia 28 tahun. Memang sih, dengan les vokal, barangkali suara saya tetap tidak akan pernah menjadi seindah Mbak Church, karena kadar bakat yang jauuuuuh berbeda. Namun setidaknya saya hari ini lebih baik daripada saya beberapa tahun lalu, sebelum berlatih vokal klasik ^^

Pernah saya dengar seorang musisi mengatakan, bila tidak berbakat lebih baik tidak usah menekuni musik, karena hasilnya pasti tidak bagus.

Namun yang terus saya ingat adalah perkataan engkoh sepupu saya Koh Liang, pada saat saya masih SD dulu. Katanya, bakat itu cuma berpengaruh sebesar 1%, yang 99% adalah kerja keras dan latihan terus-menerus. Itulah yang saya yakini, sampai sekarang ^^

Read Full Post »

Selamat Jalan Mbak Esthie

Kenangan abadi perjamuan suci.
Saat Kau berkati secawan anggur dan roti.
Sungguh tak terperi kasih cinta di hati.
Walaupun Kalvari telah menanti…

Masih kuingat begitu merdu alunan suaramu saat menyanyikan lagu ‘Tuhan Mengubah Hidupmu’. Bukan hanya merdu, namun juga amat teduh dan lembut. Hanya damai saja yang kurasa, saat mendengarkanmu menyanyi.

Kurasa damai juga dirasakan oleh umat yang sedang mengikuti perayaan misa di gereja saat itu. Seisi gereja sontak menjadi hening. Seolah ingin memberi ruang, agar setiap orang dapat menikmati indahnya suara itu.

Pukul 15.52 hari ini, kuterima pesan singkat lewat telepon seluler, mengabarkan kondisimu yang sedang kritis di rumah sakit.

Pukul 16.21 kembali kuterima sebuah pesan singkat. Mengabarkan bahwa engkau sudah tak lagi bersama kami.

Tahukah engkau, temanku yang tersayang, kami berencana menengokmu usai misa Natal nanti, mengobrol dan tertawa-tawa denganmu, sambil menyanyikan lagu-lagu Natal bersama-sama.

Namun Tuhan begitu menyayangimu. Tak dibiarkan-Nya engkau menderita lebih lama. Direngkuhnya jiwamu dengan tangan-tangan-Nya yang penuh kasih. Diberi-Nya engkau Natal yang terindah tahun ini, bersama dengan Bapa di surga.

Mbak yang lembut dan baik hati, pastilah engkau sudah berbahagia di sana. Selamat tinggal, selamat jalan. Takkan pernah kulupakan suaramu yang teduh dan indah. Kenangan tentangmu, selalu tersimpan rapi di hati kami.

Selamat menyanyi untuk Bapa di surga ya mbak. Aku yakin Ia juga menyukai suaramu.

*untuk mbak Esthie di surga*

Read Full Post »

singin' with an idolMenyanyi bersama cowok ganteng yang bersuara merdu? Bisa-bisa saja, namun terlebih dahulu Anda harus menyisihkan ribuan kandidat lain yang juga bersuara merdu (hal ini terjadi ketika sebuah produsen sampo mengadakan kompetisi beberapa tahun lalu, di mana si pemenang yang bersuara merdu dan berambut indah dapat berduet dengan sang idola).

Untunglah saya tidak perlu melalui tahap-tahap seperti yang disebutkan di atas!!! Kalau iya, hampir bisa dipastikan saya tidak akan lolos… ^^

Awalnya, seorang sahabat yang sudah saya kenal sejak masa Taman Kanak-Kanak, hendak melangsungkan pesta pernikahannya di bulan Oktober lalu. Pada bulan September, pasangan tersebut telah melangsungkan sakramen perkawinan di sebuah gereja di Auckland. Setelah itu, mereka kembali ke tanah air, untuk menyelenggarakan resepsi pernikahan sebanyak dua kali. Satu kali di Jakarta, dan satu kali di Yogyakarta.

Kebetulan saya diundang ke resepsi yang di Jakarta (karena saya berdomisili di Jakarta), dan juga ke resepsi yang di Yogyakarta (karena resepsi di Yogyakarta ini diselenggarakan oleh keluarga sahabat saya, sang pengantin wanita).

Saya  memutuskan untuk menghadiri kedua-duanya. Soalnya menikah itu kan hanya sekali seumur hidup. Kalau memungkinkan secara finansial, sebenarnya saya juga ingin menghadiri sakramen pernikahan sahabat saya di Auckland (nah, mupeng deh).

Saat menghadiri pesta yang di Jakarta, kebetulan saya datang terlalu awal (maklum lokasi pestanya amat dekat dari kantor). Jadilah saya ikutan masuk ke ruang tunggu, bergabung dengan keluarga mempelai pria dan wanita. Ngobrol punya ngobrol dengan mempelai wanita, dia bercerita bahwa pada pesta di Yogyakarta pekan mendatang, dia tidak jadi mengundang O, seorang penyanyi terkenal, untuk memeriahkan pestanya. Pasalnya, persyaratan yang diminta si artis terlalu banyak, dan biayanya terlalu mahal.  Jadilah dia mengundang Mr. D, yang bersedia menyanyi diiringi oleh musisi setempat.

Iseng-iseng, mempelai wanita yang gemar bercanda tersebut bertanya pada saya, “Kowe gelem po, nyanyi karo Mr. D?” (Kamu mau nyanyi sama Mr. D?)

Saya tersentak. Tersentak yang mendebarkan dan menyenangkan. Lantas menjawab sambil nyengir kuda (sesuai shio saya), “nanti aku nyanyikan sebuah lagu, kalo menurutmu oke, baru deh di Yogya nyanyi lagi.

Kemudian pesta dimulai, dan di tengah-tengah pesta saya nyanyikan lagu ‘Bridge Over Troubled Water‘ untuk kedua mempelai (sebisa mungkin nyontek gayanya Mbak Church). Sambil berharap suara saya memenuhi kualifikasi untuk menyanyi di pestanya yang di Yogya. Soalnya, sahabat saya ini akan mengundang beberapa penyanyi yang bagus-bagus, jadi kalau suara saya tidak memenuhi standar, lebih baik saya yang mundur duluan, hehe… ^^

Usai pesta, saya masih terus berpikir. Serius nggak ya, sahabat saya itu, waktu menawari saya menyanyi dengan Mr. D? Toh itu kan pestanya? Sebagai tuan rumah, ia bisa meminta Mr. D untuk menyanyi dengan siapa saja, kan?

Kalau iya, saya harus segera berlatih. Karena pesta akan diselenggarakan minggu berikutnya. Saya sudah terpikir sebuah lagu yang sangat indah, yaitu ‘The Prayer‘. Pasalnya, waktu Mr. D masih berkompetisi dalam acara pemilihan idola Indonesia beberapa tahun lalu, ia pernah menyanyikan lagu tersebut di layar kaca. Dan suaranya sangat cocok untuk lagu tersebut!!!

Teman se-apartemen saya berkata, “nanya aja sama temanmu, serius atau nggak. Kalau iya, cepatlah berlatih.” Dan itulah yang saya lakukan.

Ayah sahabat saya berbaik hati menanyakan kepada pihak Mr. D, bersedia atau tidak untuk berduet ‘The Prayer‘ dengan saya. Jawabannya tiba tak lama kemudian. Mr. D bersedia untuk memberi saya kesempatan untuk mencoba, pada saat gladi bersih!!!

Pagi-pagi sekali pada hari-H, saya sudah naik taksi ke bandara, untuk pulang kampuang. Siang hari sekitar pukul dua, saya sudah siap di gedung, karena gladi bersih dan check sound dijadwalkan pada pukul tiga. Mendekati pukul empat, Mr. D tiba dan langsung melakukan check sound, menyanyi dengan mikrofon nirkabel sambil berjalan mengelilingi ruangan pesta. Kemudian, barulah ia menyanyi dengan saya.

Usai menyanyi, Mr. D tersenyum, melakukan ‘tos’ dengan saya, dan meneruskan check sound. Ayah mempelai wanita yang juga sudah tiba di gedung bertanya kepada Mr. D, “bagaimana, si S oke?” Mr. D mengangguk. Nah, artinya nanti saya boleh berduet dengannya ^^

Usai gladi bersih, saya langsung menjalankan anjuran teman se-apartemen saya, yaitu pergi ke salon. “Biar ndak njegleg,” kata teman saya tersebut. “Soalnya Mr. D pasti tampil keren.

Hasilnya? Seperti yang bisa dilihat di atas. Jujur, soal suara, saya masih jauuuuuh tertinggal. Tapi setidaknya dalam foto saya tidak terlihat njegleg kan? Hehe… ^^

Terima kasih banyak ya Pe, untuk kenangan indah yang tak terlupakan ini ^^

10-10-2009

Read Full Post »

Memories

I read a note written by Michelle Dian Lestari Anugrah on Facebook (you’ll find it at the bottom of this page). Suddenly all the memories came flooding back! It was like looking at the mirror, and see myself ten years ago.

In 1999, I sacrificed two weeks of my one-month vacation to attend a debating workshop at campus. The workshop was started with about 20 persons who were crazy enough to attend it. On the second day there were only 15 crazy people left. On the third day there were only 10. And so on and so forth. There were also days when the trainers outnumbered the learners. At the end of the second week, all the crazy people left were told to leave campus and enjoy the rest of the vacation, while the trainers, along with the members of the panel drew their swords, fought and killed each other, to choose 6 crazy people who would represent our campus in IVED (Indonesian Varsities English Debate) 1999.

Of course it was only a figurative writing. The crazy people were actually smart and love challenges, the trainers and members of the panel were actually discussing matters peacefully, in a wise, grown-up manner, accompanied by coffee and cigarettes… ooops…!!! ^^

The two-week workshop really changed my entire life! I spent the following two years debating (which is another way to say ‘enjoying life’). In 2001 it came to a stop (at least for me). Yet, the memories live forever. Yeah, the kind of memories that will fuel my heart to be happy for the rest of my life… ^^

This is what Michelle Dian Lestari Anugrah had written. I love it so much that I decided to put it here for you guys to read!!! It also works as a back up. I mean if someday, somebody attacks and destroys Facebook, we would still be able to read this lovely writing here in wordpress ^^ (please don’t attack wordpress, anyone…peace…!!!)

Reminiscing the Past

by Michelle Dian Lestari Anugrah

Friday, October 2, 2009 at 12:17am

It’s 11.28 PM and I’m still stuck at the 33rd floor of Artha Graha building, working on concept paper for my client’s upcoming event. While the other conceptors were picking on the keyboard, selecting most difficult English words to be pronounced (and there are a lot, since my client’s English is equal to a junior highschooler), I pecked on my keyboard trying to google my name in the net. And, guess, what I’ve found? The following posting from Indodebaters back in 2000. Some of you might remember this, but I totally forgot myself. The thread was followed by Flori and Avie.“Guys,

Let me remind you that BANKS WILL BE CLOSED FOR HOLIDAYS FROM DECEMBER 23
TILL JANUARY 01 NEXT YEAR. All transactions, especially money transfer,
must be done by 11 AM on Dec 23 to have the money delivered on the same day.
Banks will operate again on Monday Jan 02. This is rather tough for you
guys whose university birocracy is complicated and needs at least one week
of ass-licking to have got the money proposal read by the honourable purek
III, not to mention the delay of actually getting our hand on the dough. So,
get a rush guys and good luck…!!!

Michelle

PS: When you get your invitation from ITB, read the Registration Form
carefully. One of the clause says (and I quote) “BAndung in January will be
very cold and wet. Please bring your raincoats, umbrellas and sweaters or
jackets as the committee will no be able to provide enough bodyheat.” Any
comments?

PS for RIVAN: You might want to look again re. eligibility of participants
written in your Registration Form. It says that participants are not
eligible if they have participated 3 times in IVED. I think, the count
starts when the constitution was ratified, means the participation is
counted starting from IVED 2000 at PETRA (iya khan ya?)

Hei….it means that I still can debate…hmm…hmm..wonder if Avie wants to
be my team mate….hmm…hmm…what do you think, Rivan?”

Suddenly, it all came back to me. Those crazy years of debating, my first debating championship that threw me, a newbie, an innocent, pure, loveable, timid me, into an adrenalin pumped, argument craving, fact junkie bitch I am now, the fear and thrill of facing Ade, Agung and Ria in the finals, and lost to them. The headaches, the materials, the coffee craving, the lack of sleep, the drama, the tantrums, the tears, the booze, and most of all, the comradeship that I always experience whenever there was a championship loomed and we had to prepare to our teeth for it.

What have I learned from those years? What have I got from them? What did these years do to my life now? Was it worth it? Is it still in my blood?

First of all, I learned about being me, that I actually loved being me, that I am a significant being. I learned that I was quite awesome, that I had something worth being proud of, that my brain can actually work, that I am someone worth to be feared by someone else, and could actually intimidate someone (admit it Flori, you were intimidated by me, yes?). I was no longer this low esteemed girl who slinked away from any arguments and never peeped any words in a crowd, just because she felt she was not beautiful enough, rich enough, or smart enough to be noticed.

I also learn that there are people who accept you as you are, who admired you not because you were beautiful, rich, nicely dressed, loaded with cash and wore designer goods. My fellow debaters accept the quirky me, because I am one of them, a freak of nature who just love to debate. And I learned to accept other people who were freakos, just like me, and admire their ability to think, rather that they were rich, beautiful, handsome, so on and so forth. I learn to love myself and be proud of myself.

Secondly, I’ve got the ability to put everything that I think into order (not necessarily what I’m doing though. I’m still learning to do that until now). I’ve learned to be competitive when I need to competitive, how to argue effectively, how to talk and who to talk to about intelligent stuff without being thought as a weirdo.

Moreover, debating has changed the course of my life. I used to be content to think that I would work for a certain number of years, got married, have kids, and….that’s it. However, debating has opened my small, insignificant, narrow, tunneled view of life into a wider, more interesting vista. I was introduced to many things that I didn’t know exist before. I used to read newspaper just for the sake of reading, and then turn into the funnies and then left the paper. I even existed for years without reading any newspapers (shudders….the horrors….the dark age). Now, I just have to read newspapers, and I just have to comment on something, analyze some news, ponder on some thoughts, and whenever I have the time (which is now really rare) write something in my blog, journal or in my mind. Debating has turned me into a thinking being, and thus, I started to exist. And starting to exist has made me want to do things, to leave my mark in the world, to do good, to be someone useful to my surroundings. Or, in YB Mangunwijaya’s words, I start to live as a humanized human being, not merely an entity. Plus, I’ve got the skills that enable me to find good paying jobs that are satisfying both to my soul and my pocket.

But the most important thing is, I have found a lot, and I mean a lot, of people that I can consider as my friends, both in needs and in deeds. I’ve found two of the loveliest gems in the world, Lita and Avie, the two bestest friends one can ever have. I have found Nuansa, a great friend with warm heart, Santi, the best team mate you could ever have, who was ready to jump into the fire with me with only five minutes preparation (remember IVED Petra’s Quarter Final, San?). I have found Tedjo, Ijoel, Norman, Plo-plo, Ria, Ade, Agung, Nad-nad, Day-day, Bubu, Budi, Widj, Maryadi and many other friends I could not name one by one, who are there for me and like me for who I am and what I am, not who my parents are and what I’m made from. I have found my birds of the same feathers. And it is the most valuable thing one can get from debating. Friends who are great to talk with, great to be with, and great to make you feel good. And that, my friend, is something worth more than all the gold and diamonds in the world.

So I thought, all those sweat, those tears, those sleepless nights, the stress, the pressure, the pure hard work, the social life and time sacrificed for debating have been worth it. Those were small payments compared to what I’ve got from debating: My self esteem, my existence, my life, and my friends.

The final question, is it still in blood? Oh, hell, yes it is. I was, am and will always be a debater. I learned to think critically and logically, and that stays for now and forever, amen. I learned to value people not from their looks and appearance, and that, my friend, is something that can make you survive in this cruel, cruel world. And most of all, I learned to appreciate what I have and to be sensitive to others, and I’m proud to say, that makes me a better person than I was before.

Finally, I’ve put my mark in the world. The three bitches of Atma Jaya Debating Club, Aviva, Lita and Michelle, with helps from other crazies, have founded the distinguished Atma Jaya Debating Club, surviving for more than nine, yes, nine years, and is still something worth considering in the debating society in Indonesia. Plus, the people of ADC, those who have graduated from Atma Jaya and those who are still in Atma Jaya, are also people of great existence, worth being considered. They are successful, smart and fun at the same time, retaining their craziness and uniqueness in the world full of conformity, daring to do the change and to change the do!! Ain’t that something to be proud of, guys?

With that, ladies and gentlemen, I rest my case.

PS: Younger generations of ADC, I’m proud to be your senior, believe you me!!!

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »