Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Mengajar’ Category

*Little children are like angels without wings. But if twenty of them are put in a class for you to teach, it turns out that some of them do have horns*

She was only six years old. She was the prettiest little girl I’ve ever seen, with brilliant black eyes and long black eyelashes. She was a daughter every mother would dream of. Everything about her can be described in one word only. Perfect!

She was standing in front of the class, shouting to her classmates.

“Everybody!!! Please be quiet and listen to Miss S****…!!!”

It had been a chaos from the very beginning. Not really from the very beginning, though. The class was quiet when the schoolteacher was still there. When the time had come for English lessons, the schoolteacher smiled at me and left. Actually I would rather have her in the class, because once she left, there would be chaos.

A very few students remained on their seats (mostly girls). The others were running around, shouting, chasing each other, quarreling, hopping on their tables, turning chairs upside down, throwing away friend’s belongings, just mention it.

What am I supposed to do? Well, since you are the teacher, I guess you should teach them. Welcome to the real world, my friend.

I had just graduated from faculty of education, English department, and I can speak a little bit of (hopefully) good English. But I wasn’t equipped with sufficient knowledge, as how to calm the second-grade-elementary students, and how to make them sit nicely and listen to the teacher’s words.

Like a statue, I was standing near the door, busy thinking of what to do next. And there she was, doing all she could to discipline her classmates. It was her responsibility because she was appointed to be the head of the class.

Well, I was the teacher. It was actually my responsibility. I should never burden the adorable little girl. I smiled, thanked her, and suddenly I felt my spirit rise! I’m the teacher, rite? I’ll do what I have to do.

I walked to the middle of the room with the smile still on my face, shouting as loudly as possible.

“WHO WANTS TO PLAY???”

Of course everybody WANTS to play!!!

Then we sang along together.

Row, row, row your boat, gently down the stream…

Merrily, merrily, merrily, life is just a dream… (2x)

Catch a fish, throw it away

Catch a fish, throw it away

Catch a fish… what is it?

It’s a shark!!!

The song ended, and the beautiful teacher (narsis amat seh!!! red.) suddenly grew her sharp teeth and became a vicious SHARK!!!

“Aaaaaaaa…!!!” The students ran away from the shark to save their lives. Some of them climbed the tables. Some of them stood on the chairs. But the shark managed to catch several students! Yummy…!

After 5 minutes or so, the teacher decided it was time to stop playing. She shouted once more.

“WHO’S TIRED???”

Of course, everybody was tired. The time had finally come to study.

“I have stickers for those who can sit nicely in five… four… three… two… one…!!!”

‘Sticker’ is a magic word. Everybody sat nicely in five seconds.

Thanks to the great LITTLE motivator. I should never give up.

*As rice paddy to Indonesian people, as stickers to teachers*

^^

Advertisements

Read Full Post »

oak tree

oak tree

Salah satu kategori kenangan yang paling manis dalam hidupku adalah saat aku mengajar di sejumlah SD di Jakarta dan sekitarnya. Begitu banyak manfaat yang bisa didapat dari profesi yang satu ini. Apalagi untuk seseorang yang pada dasarnya agak kaku dan sulit berinteraksi dengan anak-anak, seperti si penulis sendiri.

Pada waktu itu aku dan sejumlah rekan guru bertugas mengajar ekstrakurikuler bahasa Inggris di SD Pangudi Luhur, Jakarta Selatan, setiap hari Rabu pukul 14.00 (entah sekarang jadwalnya sudah berubah atau belum). Seperti biasa, pukul 16.00 sehabis mengajar, kami berkumpul kembali di ruang guru, melepas lelah sambil membereskan barang-barang dan bersiap pulang. Pada saat inilah kami biasanya saling bercerita. Cukup banyak memang kejadian-kejadian unik di dalam kelas.

Hari itu misalnya, sewaktu jam mengajar, ada suara lengkingan heboh dari sebuah kelas yang dipegang oleh seorang rekan guru senior. Kelas tersebut mayoritas diisi oleh murid-murid kelas 2 SD. Saking keras, heboh, dan tingginya nada teriakan itu (sekitar 5 oktaf!), sejumlah orang tua dan pengasuh yang menunggu di halaman sekolah sampai menengok ke dalam kelas. Rupanya ada seorang murid laki-laki, sebut saja K, yang marah gara-gara diganggu oleh temannya, dan amarah itu dilampiaskan dengan cara menjerit sekeras-kerasnya, dengan nada yang setinggi-tingginya, disusul dengan tangis berkepanjangan. Seingatku, dalam satu tahun ajaran, kejadian ini berulang beberapa kali.

Saat itu aku bersyukur, tidak ada seorang pun muridku yang berkelakuan seperti itu. Maklumlah, saat itu sebagai guru yunior aku diserahi tugas mengajar murid-murid kelas 3 SD yang notabene sudah cukup besar dan tidak cengeng lagi.

Tahun ajaran berikutnya tugasku masih sama, mengajar murid-murid kelas 3. Murid-muridku badung-badung (seperti biasa), namun kegiatan belajar-mengajar berjalan mulus, tanpa ada satupun masalah yang timbul. Sampai kejadian teriakan itu terulang lagi, kali ini di kelasku.

Rupanya K, murid kelas 2 itu tahun ini sudah naik ke kelas 3 dan masuk di kelasku. Astaganaga, aku sempat kaget. Tak heran waktu melihat wajahnya saat pertama kali masuk kelas, aku merasa lupa-lupa ingat. K tergolong bongsor untuk anak seusianya. Wajahnya manis dan lucu dengan pipi montok, seperti malaikat cilik. Dia salah satu murid terpandai di kelas, dan kelakuannya sangat baik, tergolong alim bila dibandingkan dengan teman-temannya. Hanya saja, ia memang mudah marah kalau diganggu.

Sehabis berteriak, K menangis. Bahunya terguncang-guncang hebat. Terlihat jelas ia berusaha keras mengontrol emosi. Aku menyuruh si biang keladi, sebut saja A, anak paling iseng di kelas, untuk meminta maaf. K menyambut uluran tangan temannya itu sekilas, lalu cepat dilepasnya kembali. Saat itu jam dinding menunjukkan pukul 15.00, waktunya istirahat. Murid-murid boleh beristirahat selama 15 menit. Setelah aku mengumumkan waktu istirahat tiba, seluruh murid bergegas keluar untuk bermain di halaman. Hanya K saja yang masih tinggal di dalam kelas. Tangisnya sudah agak reda.

Tidak tahu harus berbuat apa, perlahan, kudekati dia. Aku bertanya, mengapa tadi dia marah-marah. Masih terisak, K bercerita. Rupanya si A berbuat iseng. Aku lantas bertanya, apakah A jahat? K menjawab, tidak. Aku berkata (semoga saja benar), kalau ada teman berbuat iseng pada kita, asalkan tidak keterlaluan, itu berarti dia menganggap kita teman. Kalau tidak kenal sama sekali, kecil kemungkinannya dia iseng. Ya tidak? K mengangguk.

Saat itu aku merasa, inilah saat yang tepat untuk memotivasi K. Tapi bagaimana caranya ya? Sebatang pohon besar yang tumbuh tepat di depan kelas memberiku ide. Aku berkata lagi, orang yang suka iseng itu jumlahnya banyaaaaaaak sekali. Kan repot juga kalau setiap kali diisengi kita marah-marah. Nah, coba kamu lihat pohon besar itu. Setiap hari ia ditiup angin, kadang-kadang diterpa hujan dan badai, namun ia tetap berdiri teguh. Kamu harus bisa seperti pohon itu. Toh teman-temanmu tidak jahat, mereka hanya ingin mengajak bermain. Anggap saja mereka seperti angin dan hujan, kamu pohonnya. Tegar dan kuat. Bisa, kan?

K mengangguk. Wajahnya berubah cerah.

Aku menambahkan sambil bercanda, kalau ada yang keterlaluan bandelnya, bilang aja ke Miss. Nanti Miss jewerrrrr…!!!

K tertawa. Senang sekali melihatnya tertawa.

Sejak saat itu hingga tahun ajaran berakhir, tidak pernah sekali pun K marah-marah. Ia lebih ceria, dan karenanya, lebih banyak teman. A dan geng anak-anak badung itu pun menjadi temannya.

Itulah kisah K, seorang mantan muridku yang pandai, baik hati, dan tegar.

Read Full Post »