Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Menyanyi’ Category

Passio pertama

Jumat 2 April kemarin, kaki saya sempat pegal-pegal lantaran harus berdiri diam selama lebih dari 60 menit. Bukan karena dihukum lho! Saya berdiri di ujung sebelah kiri, rekan-rekan saya Fiona dan Marlon berdiri di ujung sebelah kanan. Sedangkan Romo Purwanto yang memimpin misa berada di tengah-tengah, agak ke belakang. Selama lebih dari satu jam, kami berempat menyanyikan Passio, kisah sengsara Yesus Kristus.

Teman-teman yang biasa mengikuti misa Jumat Agung di gereja Katolik, pastilah pernah mendengarkan Passio. Passio adalah kisah sengsara Yesus Kristus, mulai dari peristiwa penangkapan Yesus di Taman Getsemani, hingga wafat-Nya di gunung Golgota. Passio dinyanyikan dengan melodi ala Gregorian. Nah, karena kisahnya cukup panjang, maka Passio panjangnya kira-kira satu jam lebih sedikit.

Sudah tidak terhitung berapa kali saya medengarkan Passio.  Saya pernah mendengarkan Passio yang dibawakan dengan tempo amat lambat, sehingga rasanya lamaaa sekali baru selesai. Tapi kalau dibawakan dengan tempo terlalu cepat, rasanya juga kurang pantas. Jadi tempo yang tepat itu sangat penting. Demikian yang diajarkan oleh Mas Momon, pelatih tim pemazmur Raja Daud (yang kadang dipelesetkan menjadi ‘Raja Dangdut’!) ^^

Latihan dilaksanakan dua kali. Untung saya datang pas latihan pertama, meskipun teman-teman satu grup yaitu Fiona dan Marlon tidak bisa datang waktu itu. Soalnya pas latihan kedua, giliran saya yang tidak bisa datang akibat terkena masuk angin. (Sekilas berita tidak penting: angin tersebut telah sukses dikeluarkan kembali, melalui jalan yang tidak perlu diceritakan di sini, hehe…^^)

Saya narator 1 merangkap wanita yang mempertanyakan Petrus, Fiona narator 2, Marlon Pontius Pilatus merangkap Petrus, Romo Purwanto sebagai Yesus. Meski belum pernah berlatih bersama sebelumnya, namun untunglah grup kami amat kompak!!!

Setelah diberi tahu Fiona, saya baru ngeh kalau saya harus merangkap sebagai wanita yang bertanya kepada Petrus! Baru latihan saat itu juga! Untung cuma satu kalimat, tapi nadanya itu lho, tinggi sekali! Tapi yah… pede saja Bung!!! Berbekal latihan bersama selama kurang-lebih 15 menit di Sakristi menjelang misa, akhirnya majulah kami membawakan Passio.

Kalau boleh jujur, ada beberapa kesalahan yang kami buat. Saya misalnya, ada satu nada yang saya korupsi alias tidak saya nyanyikan, karena tiba-tiba di atas altar saya merasa tidak tahu pasti, bagaimana ya menyanyikan nada tersebut??? Daripada fals atau sumbang, yah lebih baik dikorupsi saja… (jangan laporkan saya pada KPK ya…)

Ohya, selain menyanyi, saya masih punya satu tugas tambahan yang sangat menyenangkan, yaitu mempersilakan umat duduk, sebelum Passio dimulai. Menyenangkan, karena setelah mengumumkan, “umat dipersilakan duduk“, saya melihat wajah-wajah lega. Umat pun segera mengambil posisi duduk senyaman mungkin. Mereka sudah tahu kalau Passio-nya bakal lama! ^^

Tahun lalu saya juga termasuk salah satu di antara mereka yang berwajah lega tersebut. Betapa tidak, biasanya kan umat dipersilakan berdiri selama mendengarkan bacaan Injil. Namun pada misa Jumat Agung umat boleh duduk, karena bacaaan Injilnya berupa Passio yang berdurasi satu jam lebih! Tahun ini Passio diambil dari Injil Yohanes.

Passio sangat berpotensi untuk jadi membosankan, karena durasinya yang lama. Kisahnya juga itu-itu terus. Melodi Gerogorian yang dinyanyikan juga sudah ada pola pakemnya. Pokoknya serba itu-itu terus! Tapi dengan usaha dari para petugasnya, Passio bisa dibawakan dengan cukup menarik, tanpa membuat umat ingin kabur.

Seorang teman saya koh Rinto bercerita, bahwa ia pernah membawakan Passio, dan berperan sebagai Yesus dengan penuh penghayatan. Ketika tiba pada bagian kisah menjelang wafat Yesus, suaranya sengaja dibuat agak serak, seperti orang yang sedang menjemput ajal sungguhan. Hasilnya, seorang suster yang mengikuti misa terlihat menyeka air matanya…

Saya lantas berusaha agar setiap vokal dan konsonan diucapkan dengan jelas, ingat-ingat saja petuah laoshi kalau sedang les, hehe… ^^ Tujuannya agar umat tidak bosan, dan dapat mengikuti Passio tanpa perlu susah-susah membaca teksnya. Tapi saya rasa umat tidak bosan kok, terlebih saat mendengarkan suara angelic Fiona yang bening dan lantang. Wah, bisa merinding!!! Marlon yang berperan sebagai Pontius Pilatus juga terdengar garang, sesuai karakternya. Sedangkan Romo Purwanto membawakan Yesus dengan sangat baik (maklum, romo soalnya, hehe…^^).

Demikianlah pengalaman pertama saya ikut ambil bagian dalam Passio. Kalau tahun depan disuruh menyanyi Passio lagi, saya tidak akan menolak… (mupeng-dot-com, kalo istilahnya ci Pipi, hehe… ^^)

Read Full Post »

Teman-teman yang baik, akhirnya jadi juga DVD saya berduet bersama Mr. D yang ganteng itu. Kalau nada-nadanya banyak yang goyah (dari pihak saya tentunya), mohon dimaklumi ya, hehe… gemeteran bo…!!! ^^

Tapi video yang di blog ini sepertinya kurang bagus dari segi gambar maupun suara… soalnya di-compress-nya bener-bener jadi sampai kecil banget… Saya sudah coba updload versi mp4  yang lebih bagus, tapi gagal. Jadi kalau mau lihat yang lebih jelas, ke facebook saya saja ya, tinggal diketik ‘Santi Kurniasari’, kalau perlu di-add sekalian, hehe… ^^

Read Full Post »

singin' with an idolMenyanyi bersama cowok ganteng yang bersuara merdu? Bisa-bisa saja, namun terlebih dahulu Anda harus menyisihkan ribuan kandidat lain yang juga bersuara merdu (hal ini terjadi ketika sebuah produsen sampo mengadakan kompetisi beberapa tahun lalu, di mana si pemenang yang bersuara merdu dan berambut indah dapat berduet dengan sang idola).

Untunglah saya tidak perlu melalui tahap-tahap seperti yang disebutkan di atas!!! Kalau iya, hampir bisa dipastikan saya tidak akan lolos… ^^

Awalnya, seorang sahabat yang sudah saya kenal sejak masa Taman Kanak-Kanak, hendak melangsungkan pesta pernikahannya di bulan Oktober lalu. Pada bulan September, pasangan tersebut telah melangsungkan sakramen perkawinan di sebuah gereja di Auckland. Setelah itu, mereka kembali ke tanah air, untuk menyelenggarakan resepsi pernikahan sebanyak dua kali. Satu kali di Jakarta, dan satu kali di Yogyakarta.

Kebetulan saya diundang ke resepsi yang di Jakarta (karena saya berdomisili di Jakarta), dan juga ke resepsi yang di Yogyakarta (karena resepsi di Yogyakarta ini diselenggarakan oleh keluarga sahabat saya, sang pengantin wanita).

Saya  memutuskan untuk menghadiri kedua-duanya. Soalnya menikah itu kan hanya sekali seumur hidup. Kalau memungkinkan secara finansial, sebenarnya saya juga ingin menghadiri sakramen pernikahan sahabat saya di Auckland (nah, mupeng deh).

Saat menghadiri pesta yang di Jakarta, kebetulan saya datang terlalu awal (maklum lokasi pestanya amat dekat dari kantor). Jadilah saya ikutan masuk ke ruang tunggu, bergabung dengan keluarga mempelai pria dan wanita. Ngobrol punya ngobrol dengan mempelai wanita, dia bercerita bahwa pada pesta di Yogyakarta pekan mendatang, dia tidak jadi mengundang O, seorang penyanyi terkenal, untuk memeriahkan pestanya. Pasalnya, persyaratan yang diminta si artis terlalu banyak, dan biayanya terlalu mahal.  Jadilah dia mengundang Mr. D, yang bersedia menyanyi diiringi oleh musisi setempat.

Iseng-iseng, mempelai wanita yang gemar bercanda tersebut bertanya pada saya, “Kowe gelem po, nyanyi karo Mr. D?” (Kamu mau nyanyi sama Mr. D?)

Saya tersentak. Tersentak yang mendebarkan dan menyenangkan. Lantas menjawab sambil nyengir kuda (sesuai shio saya), “nanti aku nyanyikan sebuah lagu, kalo menurutmu oke, baru deh di Yogya nyanyi lagi.

Kemudian pesta dimulai, dan di tengah-tengah pesta saya nyanyikan lagu ‘Bridge Over Troubled Water‘ untuk kedua mempelai (sebisa mungkin nyontek gayanya Mbak Church). Sambil berharap suara saya memenuhi kualifikasi untuk menyanyi di pestanya yang di Yogya. Soalnya, sahabat saya ini akan mengundang beberapa penyanyi yang bagus-bagus, jadi kalau suara saya tidak memenuhi standar, lebih baik saya yang mundur duluan, hehe… ^^

Usai pesta, saya masih terus berpikir. Serius nggak ya, sahabat saya itu, waktu menawari saya menyanyi dengan Mr. D? Toh itu kan pestanya? Sebagai tuan rumah, ia bisa meminta Mr. D untuk menyanyi dengan siapa saja, kan?

Kalau iya, saya harus segera berlatih. Karena pesta akan diselenggarakan minggu berikutnya. Saya sudah terpikir sebuah lagu yang sangat indah, yaitu ‘The Prayer‘. Pasalnya, waktu Mr. D masih berkompetisi dalam acara pemilihan idola Indonesia beberapa tahun lalu, ia pernah menyanyikan lagu tersebut di layar kaca. Dan suaranya sangat cocok untuk lagu tersebut!!!

Teman se-apartemen saya berkata, “nanya aja sama temanmu, serius atau nggak. Kalau iya, cepatlah berlatih.” Dan itulah yang saya lakukan.

Ayah sahabat saya berbaik hati menanyakan kepada pihak Mr. D, bersedia atau tidak untuk berduet ‘The Prayer‘ dengan saya. Jawabannya tiba tak lama kemudian. Mr. D bersedia untuk memberi saya kesempatan untuk mencoba, pada saat gladi bersih!!!

Pagi-pagi sekali pada hari-H, saya sudah naik taksi ke bandara, untuk pulang kampuang. Siang hari sekitar pukul dua, saya sudah siap di gedung, karena gladi bersih dan check sound dijadwalkan pada pukul tiga. Mendekati pukul empat, Mr. D tiba dan langsung melakukan check sound, menyanyi dengan mikrofon nirkabel sambil berjalan mengelilingi ruangan pesta. Kemudian, barulah ia menyanyi dengan saya.

Usai menyanyi, Mr. D tersenyum, melakukan ‘tos’ dengan saya, dan meneruskan check sound. Ayah mempelai wanita yang juga sudah tiba di gedung bertanya kepada Mr. D, “bagaimana, si S oke?” Mr. D mengangguk. Nah, artinya nanti saya boleh berduet dengannya ^^

Usai gladi bersih, saya langsung menjalankan anjuran teman se-apartemen saya, yaitu pergi ke salon. “Biar ndak njegleg,” kata teman saya tersebut. “Soalnya Mr. D pasti tampil keren.

Hasilnya? Seperti yang bisa dilihat di atas. Jujur, soal suara, saya masih jauuuuuh tertinggal. Tapi setidaknya dalam foto saya tidak terlihat njegleg kan? Hehe… ^^

Terima kasih banyak ya Pe, untuk kenangan indah yang tak terlupakan ini ^^

10-10-2009

Read Full Post »

Bermimpi dan bernyanyi

Dulu, semasa kecil saya hanya bisa menikmati alunan suara biduan dan biduanita yang menyanyikan Ave Maria gubahan Schubert. Hati ini rasanya ingin turut menyanyikan lagu seindah itu. Namun apa daya suara tak sampai. Nadanya terlalu tinggi untuk diraih. Alhasil, saya hanya dapat bermimpi.

Sejak Charlotte Church kecil berusia 12 tahun mengeluarkan albumnya yang bertitel ‘Voice of an Angel’, saya langsung jatuh cinta pada suaranya yang serupa malaikat cilik. Saya terus membeli album-albumnya, sambil berpikir bahwa suara seperti ini hanya dimiliki oleh mereka-mereka yang berbakat alam. Orang dengan suara cempreng seperti saya hanya bisa mendengarkan dan bermimpi.

Ketika Charlotte Church beranjak dewasa, ia menyanyikan lagu ‘Bridge Over Troubled Water’ dengan gaya seriosa yang amat indah. Saya yakin, ketika bersin pun suaranya pasti merdu! Apalagi ketika menyanyikan ‘The Prayer’ bersama Josh Groban, hasilnya luar biasa! Saya bertepuk tangan usai menyaksikan konsernya dari layar kaca (norak ye!!!). Pernah beberapa kali saya mencoba untuk turut menyanyi, namun nadanya terlalu tinggi. Daripada mengeluarkan suara seperti orang tercekik, saya memilih berhenti menyanyi. Dan kembali bermimpi.

Untunglah hal ini tidak berlangsung lama. Ada dua hal yang membuat saya memutuskan untuk berhenti bermimpi, dan mulai sungguh-sungguh menyanyi.

Yang pertama adalah seorang teman saya ketika kuliah di FKIP Atma Jaya dulu, yaitu Sylvia Onggo (sekarang Sylvia Kusuma ^^). Teman saya yang satu ini sudah hobi menyanyi sejak dulu. Suaranya memang indah. Pernah, sewaktu masih kuliah, ia terpilih mewakili Indonesia dalam lomba menyanyi ‘Asia Bagus’.

Singkat cerita, setelah bertahun-tahun tidak berjumpa, saya kembali bertemu dengannya, dalam sebuah acara reuni. Teman saya ini bercerita, bahwa setelah menikah ia mengambil kursus vokal klasik dan berlatih menyanyi dengan serius. Saat itu, sempat ia nyanyikan sepenggal lagu ‘The Lord’s Prayer’. Wow, suaranya yang sejak dulu sudah bagus, kali ini berubah menjadi istimewa! Luar biasa! Saya jadi terinspirasi! Vokal klasik yang ia tekuni membuat suaranya menjadi seindah ini. Berkat latihan dan bimbingan guru vokal, suaranya kian matang.

Yang kedua adalah status di Yahoo Messenger teman sekantor saya yang bernama Paulus. Pernah ia memasang status sebagai berikut ‘When we wake up in the morning, we have two simple choices. Go back to sleep and dream, or wake up and chase those dreams!’

Kedua hal tersebut mendorong saya untuk segera bangun dari mimpi, dan mencari kursus vokal klasik! Teman saya Sylvia memberikan nomor telepon Jakarta Singing School, yang langsung saya tindak lanjuti. Menelepon, mendaftar, audisi, dan mengikuti kursus vokal. Pada bulan November 2006, saya resmi menjadi salah satu siswi Jakarta Singing School. Yippieee…!!!

Kini, 3 tahun kemudian, apakah mimpi saya sudah tercapai? Jelas jawabannya adalah: belum. Soalnya, suara saya belum ada sekuku pink-nya Charlotte Church.

Namun ada beberapa hal yang patut disyukuri. Setidaknya suara saya sekarang cukup tinggi untuk menyanyikan lagu ‘The Prayer’. Sehingga ketika ada kesempatan untuk berduet dengan Mr. D yang ganteng dan bersuara merdu, saya merasa cukup pede untuk setidaknya mencoba. Waktu gladi bersih, pianis bertanya, “nadanya seberapa?” Berkat latihan vokal selama 3 tahun saya dapat menjawab “disamakan dengan aslinya saja.” Tanpa latihan vokal, diturunkan beberapa nada saja mungkin suara saya masih belum ‘nyampe’. ^^

Lagu Ave Maria gubahan Schubert kini hidup dalam diafragma dan tenggorokan, bukan hanya dalam impian. Sewaktu pemberkatan pernikahan di gereja, sebagai pengantin yang mandiri, saya nyanyikan sendiri lagu ini ^^ Demikian pula dengan lagu Ave Maria gubahan Bach. Selanjutnya, saya ingin belajar Ave Maria gubahan Caccini ^^

Awal mengikuti les vokal, saya diajak bergabung dalam Paduan Suara Eliata sebagai alto. Kira-kira setahun yang lalu, saya disuruh pindah ke sopran. Menurut laoshi, dengan bantuan teknik yang baik dan benar, jangkauan nada memang bisa bertambah luas. Dulu, saat melihat partitur lagu Kein hamlein wächst auf erden, dan mendapati ada nada F yang sedang (bukan yang tinggi), rasanya sudah kepingin kabur. Sekarang??? Hajar, bleh!!! ^^

Seorang teman saya iseng-iseng bertanya, “berapa banyak yang sudah kau keluarkan untuk belajar vokal selama 3 tahun?”

Saya cuma bisa nyengir dan menjawab, “pokoknya cukuplah, buat jalan-jalan ke Tiongkok!”

Ya, jalan-jalan ke Tiongkok dan mendaki Tembok Besar adalah salah satu impian saya juga. Tapi dengan jumlah sekian, paling banter saya hanya bisa jalan-jalan selama 2 minggu. Sedangkan dengan mengikuti les vokal, saya bisa menyanyi seumur hidup! Dan mengubah hampir seumur hidup saya yang tadinya hanya ‘bermimpi’ menjadi sungguh-sungguh ‘beryanyi’ ^^

Read Full Post »

Bersyukur itu mudah

konser emerald 1Orang seperti saya kemungkinan besar takkan bisa menulis artikel yang berjudul ‘Memasak itu Mudah’, atau ‘Berkebun itu Mudah’, atau lebih-lebih ‘Bermain Bulu Tangkis itu Mudah’ (yang terakhir disebut tadi saya tidak bisa sama sekali!!!!!). Namun setidaknya saya bisa menulis tentang hal di bawah ini.

Bersyukur itu mudah. Kapan saja dan di mana saja, orang bisa bersyukur. Saya sendiri, setelah mengambil langkah seribu sambil melompat tinggi-tinggi gara-gara dikejar kecoa, segera dipenuhi oleh rasa syukur. Bersyukur karena kaki saya cukup lincah untuk dipakai kabur, bilamana diperlukan. Padahal, beberapa menit sebelumnya saya sempat berkeluh kesah dalam hati, mengapa kaki saya tidak seindah kaki Titi DJ atau Agnes Monica, misalnya. Namun setelah peristiwa dikejar kecoa, yang ada hanya rasa bersyukur…!!! ^^

Peristiwa yang terjadi sekitar 5-6 bulan lalu juga membuat saya merasa amat bersyukur. Pada suatu hari Minggu yang indah (halah!) saya bertugas menjadi pemazmur di Gereja Kristoforus. Mazmur yang saya bawakan waktu itu kental akan melodi khas lagu-lagu Jawa, yang notabene gue bangets bo, dan karena itu saya membawakannya dengan sepenuh hati.

Malam harinya ada seseorang yang mengirimkan sms kepada saya. Rupanya ia adalah salah seorang anggota paduan suara yang bertugas di misa tadi. Nomor telepon seluler saya, ia dapatkan dari lembar absen pemazmur. Singkat cerita, ia mengajak saya bergabung dalam paduan suaranya. Wow, saya langsung tertarik! Pasalnya, ketika bertugas membawakan mazmur tadi, saya sempat melihat ke arah bangku tempat paduan suara. Yang membuat saya kagum, paling-paling penyanyinya hanya ada 10-12 orang, namun suara yang mereka hasilkan setara dengan 20-25 orang! Makanya ketika diajak bergabung, saya senang sekali!

Paduan suara tersebut bernama Emerald Voices. Ketika saya mulai ikut berlatih, ternyata paduan suara ini tengah mempersiapkan diri untuk menyelenggarakan konser perdananya, yang bertitel ‘Emerald Voices: Melodies of Life’. Wow, tambah bersemangat rasanya…!!! ^^

Singkat kata, konser perdana tersebut telah berlangsung, dan rasanya cukup sukses. Memang ada kekurangan dan kesalahan di sana-sini, namun respons penonton rata-rata positif, dan mereka senang menyaksikan konser kami… fffiiiuuhhh… syukurlah…!!! ^^

Lagi-lagi, saya merasa amat bersyukur. Biasanya orang merasa penat dan lelah sepulang kerja. Namun tiap hari Selasa, Rabu, dan Jumat, saya pulang kerja dan melanjutkan beraktivitas dengan hati gembira. Selasa malam ada latihan paduan suara Eliata (disambung dengan nonton CSI: New York di rumah). Rabu malam, les vokal dengan laoshi (lagi-lagi, disambung dengan nonton CSI: Miami dan CSI di rumah). Sedangkan Jumat malam, waktunya latihan paduan suara Emerald Voices!

Saya bersyukur bisa melampiaskan hobi teriak-teriak saya dengan mengikuti dua paduan suara yang keren-keren. Saya bersyukur, dulu diajak Renata Laoshi bergabung dalam Eliata. Saya bersyukur pernah bertugas dalam satu misa dengan Emerald, sehingga diajak Leo untuk bergabung. Saya bersyukur bisa ikut serta menyanyi dalam konser-konser Eliata dan Emerald. Saya bersyukur bisa mengenal dan menyanyikan lagu-lagu yang yahud-yahud. Saya bersyukur mendapat banyak teman yang baik, lucu, dan kocak dengan mengikuti kedua paduan suara tersebut! Etc, dsb, dll, lsp…

Yang di atas tadi adalah perasaan bersyukur, sehubungan dengan paduan suara. Masih banyak lagi hal yang bisa saya syukuri dalam hidup ini. Benar kan… bersyukur itu mudah…!!! ^^

Read Full Post »

Jembatan Keledai

Di zaman modern seperti sekarang ini, segalanya mungkin. Film Oliver! produksi Inggris tahun 1968 yang dibintangi oleh Mark Lester, yang pertama kali saya tonton di TVRI pada suatu hari Minggu siang, dan sudah belasan tahun tidak saya tonton, kini dapat ditemukan dengan mudah lewat YouTube.

Ketika menyaksikan cuplikan film tersebut, pas di adegan lagu “Consider Yourself At Home“, saya teringat akan masa-masa sebelum menghadapi EBTANAS, waktu kelas 6 SD. Pada saat itu, bagi saya bahasa Inggris sama asingnya dengan bahasa Swahili. Karena itu, tak ada satu kata pun dalam lirik lagu tersebut yang membekas di kepala saya. Hanya melodinya saja yang terus terngiang dalam ingatan.

Dalam rangka menghadapi EBTANAS, wali kelas menyarankan kami untuk menghafal pasal-pasal dalam UUD 1945. Menurutnya, pasal 27 hingga 37 sering ditanyakan dalam ujian. Jadi kami diberi peer untuk menghafal pasal-pasal tersebut, minimal judulnya saja. Wali kelas juga mempersilakan kami membuat sendiri ‘jembatan keledai’, guna mempermudah proses menghafal. Misalnya dengan lagu.

Dalam perjalanan pulang sekolah, saya dan Esther teman sekelas mendiskusikan, lagu apa ya yang cocok untuk menghafal pasal-pasal dalam UUD 1945. Soalnya lirik lagu itu bunyinya kira-kira harus begini:

27 Hukum

28 Berserikat dan berkumpul

29 Agama

30 Pertahanan Negara

31 Pendidikan

32 Kebudayaan

33 Kesejahteraan Sosial

34 Anak Terlantar

35 Bendera

36 Bahasa

37 Perubahan UUD

Lagu “Naik-Naik ke Puncak Gunung” jelas tidak cocok. Demikian juga lagu “Pelangi-Pelangi”.

Tiba-tiba Esther teman saya itu berkata, “Kenapa tidak memakai lagunya Oliver aja?”. Maklum, Oliver! adalah film favorit kami saat itu.

“Yang mana?” tanya saya.

“Yang begini lho, lalalala-lala…”

Lantaran tidak mengerti bahasa Inggris, lagu tersebut hanya bisa di-lalala-kan. Yang dimaksud adalah “Consider Yourself At Home“.

Ternyata melodinya 100% cocok! (boleh dicoba!) Seolah-olah komposernya menciptakan lagu tersebut khusus untuk dijadikan jembatan keledai penghafal pasal 27-37 UUD 1945.

Dalam perjalanan pulang yang singkat tersebut (sekitar 10 menit saja) kami berulang-kali menyanyikan lagu tersebut, dengan liriknya yang baru. Alhasil, setiba di rumah kami sudah hafal luar kepala.

Seingat saya, ada satu soal mengenai pasal tersebut yang keluar dalam EBTANAS tahun itu. Memang cuma satu, tapi kami senangnya amit-amit!

Terima kasih, Oliver!

^^

Read Full Post »

Apa pekerjaan paling sulit di dunia?

Mungkin… menjadi astronot yang bertugas di Discovery dan ISS (International Space Station), menaklukkan puncak Himalaya, menjadi atlet pemenang medali emas Olimpiade 5x berturut-turut, menjadi presiden yang: bebas korupsi, kolusi dan nepotisme, mampu mengayomi dan memakmurkan rakyatnya, menjalin hubungan baik dan menguntungkan dengan negara-negara lain, menegakkan wibawa bangsanya, sekaligus berperan aktif dalam mengurangi emisi karbon di dunia! (Sudah disebutkan pekerjaan paling sulit yang terpikir, yang terakhir itu bahkan nyaris mustahil kayaknya, apalagi di Indonesia) ^^

Ya, semuanya memang sulit. Sekarang, apa pekerjaan paling sulit di dunia yang berhubungan dengan menyanyi?

Wah, kurang tahu deh. Mungkin… menyanyikan Opera Madam Butterfly sambil lompat-lompat dengan suara tetap stabil? Katanya sih, sulit banget. Tapi jujur, saya kurang tahu.

Ok. Sekarang pertanyaan terakhir, apa pekerjaan paling sulit sehubungan dengan konser amal Paduan Suara Eliata?

Nah, yang ini saya tahu pasti…!!! Setelah menjalani latihan rutin dan memelototi not-not balok bagai tauge menari, kesulitan yang dijumpai belum ada apa-apanya bila dibandingkan dengan: menjual tiket konser amal…!!! ^^

Di bawah ini adalah kesulitan-kesulitan yang saya temui saat berusaha menjual tiket Konser Amal Paduan Suara Eliata, beserta alasan-alasannya. Barangkali berguna bagi Anda yang ingin menyelenggarakan pertunjukan musik ^^

Here we go:

  1. Amal atau bukan amal, musik klasik memang hanya segelintir penikmatnya. Bisa jadi dari 100 orang yang Anda temui di kantor atau di mana saja, 101 orang di antaranya tidak menggemari musik klasik. Bisa dibayangkan sulitnya menjual sesuatu yang tidak digemari orang. Bila saya harus menjual tiket konser jazz, rock, atau pop, mestinya sih tidak sesulit ini. Masih lekang di ingatan, betapa tahun 2007 lalu saya sendiri juga mencari-cari tiket murah International Java Jazz Festival, demi menyaksikan pianis David Benoit, penyanyi Kimiko Ito, dan masih banyak lagi… ^^
  2. Waktu dan tempat yang mungkin kurang kondusif bagi sebagian orang kerja. Konser diselenggarakan pada hari Jumat pukul 19.30 WIB di Gereja Kristus, Ketapang. Sebenarnya seorang teman baik saya yang tinggal tak jauh dari Gereja Kristus, berminat menyaksikan konser. Namun apa daya, sehari-hari ia bekerja di kawasan Kelapa Gading yang macet. Alhasil ia khawatir tak dapat tiba tepat pada waktunya.
  3. Alasan ketiga barangkali merupakan turunan dari alasan nomor 1. Orang lebih suka pertunjukan musik modern. Harus diakui bahwa paduan suara kurang diminati. Puluhan orang yang menyanyikan 4 suara: Sopran-Alto-Tenor-Bass, dengan iringan chamber orchestra: ada violin, viola, flute, dan alat musik bass yang segede-gede gaban itu, beserta sejumlah alat musik lain yang saya bahkan tak tahu namanya (lha situ sendiri ndak tahu kok mau ajak orang lain nonton?), tidak masuk kategori pertunjukan menarik. Orang lebih suka menyaksikan penampilan band, atau penyanyi-penyanyi terkenal, dengan iringan drum, bass guitar, melody guitar, electric guitar, keyboard, dan lain sebagainya.
  4. Nama-nama komposer yang ciptaannya kami nyanyikan, kurang terkenal pada zaman modern saat ini. Tak banyak yang tahu tentang musik karya Bach dan Mendelssohn. Kalau setidaknya pernah mendengar namanya, itu saja sudah bagus. Saya sendiri juga baru tahu Mendelssohn saat bergabung di PS Eliata kok. Kalau Bach, dari dulu memang sudah dengar namanya, saking terkenalnya. Karena nama komposer tidak dikenal, jadi sori-sori stoberi, blueberi, apalagi blekberi, ga usah ajah ya…
  5. Alasan kelima 100% bersifat pribadi. Saya dari dulu memang bukan tukang jualan yang baik. Biasanya kalau ada konser-konser sehubungan dengan Jakarta Singing School atau Antim, saya punya pembeli setia yaitu adik saya sendiri, serta pacar (sekarang tunangan) saya. Nah, adik saya pas banget Jumat ini harus bertugas sebagai mesin jahit (alias singer) di persekutuan doanya, jadi tak dapat menyaksikan konser. Sedangkan tunangan saya terjebak macet karena sekarang musim kampanye. Jadi apa boleh buat, lebih baik putar balik saja. Kampanye kadang-kadang bisa berakhir dengan tindakan anarkis, jadi sangat tidak dianjurkan untuk melewati jalur-jalur yang akan dilalui peserta kampanye.

Setelah berusaha email sana email sini (maunya sih mengikuti jejak kesuksesan Obama, jadi saya menawarkan tiket konser amal melalui Facebook), telepon sana telepon sini, sms sana sms sini, akhirnya Tuhan berbelas kasih kepada saya. Diberi-Nya saya 3 orang yang bersedia membeli tiket.

Yang pertama adalah Robert, anak studio Da Ai TV yang suka beramal dan menggemari musik, diikuti oleh Soffy teman se-apartemen saya, yang juga mengajak pembeli ketiga, yaitu Bu Monica, atasannya. Tak terkirakan rasa terima kasih saya kepada ketiga orang tersebut…!!! ^^

Selamat menyaksikan konser amal paduan suara kami… semoga puas (dijamin puas…) ^^

Read Full Post »

Older Posts »