Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Menyanyi’ Category

konser-eliata3Konser amal Paduan Suara Eliata memang belum diselenggarakan (masih nanti tanggal 20 Maret 2009), namun setidaknya sudah ada 1 kisah menarik mengenainya.

Salah seorang soprano paduan suara Eliata, biduanita bersuara emas bercerita kepadaku mengenai pengalamannya saat membantu menjualkan tiket konser amal tersebut. Setelah melihat brosur (seperti yang terpampang di sisi kiri), seorang temannya yang berminat membeli tiket bertanya,

“Di konser ini nanti ada solois asingnya ya?”

“Nggak ada, anggota paduan suara ini semuanya orang Indonesia kok.”

“Lho… pria bule dalam brosur ini siapa? Bukan soloisnya ya?”

Advertisements

Read Full Post »

Kenapa Klasik?

Sekitar dua tahun yang lalu, aku memutuskan untuk belajar vokal alias menyanyi dengan serius. Kenapa? Karena hidup begitu singkat. Jadi harus diisi dengan hal-hal yang menyenangkan dan berguna (perhatikan urutannya ya, menyenangkan dulu, baru berguna ^^). Dan karena menyanyi adalah hobiku yang paling utama. Orang Jawa bilang, mangan ra mangan sing penting kumpul. Bagiku, mangan ra mangan, sing penting nembang (nyanyi), hehe bercanda lho… ^^

Setelah mencapai keputusan ini, tibalah aku pada keputusan kedua. Mau belajar vokal apa? Di mana? Sama siapa? Aku mulai melakukan riset kecil-kecilan. Mendatangi beberapa sekolah vokal. Telepon sini, telepon sana. Tanya sini, tanya sana.

Ada sebuah sekolah vokal terkenal yang kuincar, namun sayang jadwal untuk hari Sabtu sudah penuh (dan memang selalu penuh). Hari Minggu tidak ada kelas. Sedangkan pada hari kerja, pukul enam sore kelas vokal sudah berakhir. Jelas tidak cocok dengan jadwal kerjaku. Ada pula sekolah vokal lain yang jadwalnya cukup fleksibel, di mana kelas-kelas vokal diselenggarakan hingga pukul delapan malam. Namun entah mengapa, setelah didatangi kok rasanya kurang sreg di hati. Akhirnya aku hanya sebatas audisi, dan tak jadi mendaftar.

Sementara belum mendapatkan sekolah vokal, waktu yang ada kugunakan untuk berpikir. Sebenarnya pelajaran vokal apa yang kuingini? Pop? Jazz? Klasik?

Aku tidak tahu banyak tentang vokal klasik. Karena vokal klasik tidak bisa kita tonton di MTV. Tapi aku sangat mengagumi Charlotte Church, seorang penyanyi klasik asal Britania Raya. Bila sedang menyanyi, dia tidak pernah bergaya atau melakukan aksi panggung yang aneh-aneh. Tidak pernah jingkrak-jingkrak atau menari. Seringkali dia hanya berdiri di satu titik, dan menyanyi sampai selesai, begitu saja. Namun bisa kulihat seluruh anggota tubuhnya, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, ikut bernyanyi. Aneh memang, tapi kesan itulah yang kudapat.

Kalau di Indonesia, penyanyi terkenal yang seperti digambarkan di atas adalah Aning Katamsi dan Christopher Abimanyu. Tidak pakai gaya-gayaan, tapi suara yahud!

Aku berpikir, kalau misalnya ditakdirkan bisa menyanyi, aku ingin menyanyi seperti itu! Sejak saat itu aku hanya fokus mencari sekolah vokal yang mengajarkan vokal klasik.

Kemudian seorang teman lama memperkenalkanku pada sebuah sekolah vokal, yang mengkhususkan diri pada vokal klasik. Saat audisi di sekolah vokal tersebut (Jakarta Singing School) dan bertemu dengan Renata Lim laoshi, aku langsung merasa sreg. Inilah tempat yang tepat. Pucuk dicinta ulam tiba!

Menyanyi klasik memang tidak mudah. Belajar pernapasan diafragma yang baik dan benar saja memerlukan waktu sedikitnya berbulan-bulan, atau bahkan lebih. Selain itu, selama belajar vokal klasik, kemampuanku menyanyikan lagu-lagu pop tidak lantas meningkat dengan sendirinya. Ibarat olah raga, cabangnya berbeda. Seorang perenang ulung, bukan berarti serta-merta mahir dalam atletik, bukan? Kira-kira seperti itulah. Dari luar memang bungkusnya sama = menyanyi. Namun teknik dan peraturan-peraturannya jauh berbeda. Jadi kalau sedang ber-karaoke dengan teman-teman lama, suaraku tetap saja seperti yang dulu.

Makin lama belajar, aku makin mencintai vokal klasik. Tidak perlu banyak bergerak, tidak perlu bergaya. Pokoknya konsentrasi, pahami dan hayati isi lagu, bernapas yang benar, dan menyanyi. Itu saja.

Aku beruntung mendapat guru vokal klasik yang memiliki tingkat keahlian tinggi dalam bidangnya, baik hati, dan sabar. Selain itu, guru vokalku ini memiliki jiwa mengajar sejati. Laoshi senantiasa menggali potensi yang ada pada murid-muridnya.

Ya, setiap kali menghadapi hal-hal yang menyebalkan dalam hidup ini, aku tinggal mengingat semua yang ada di atas, dan aku akan merasa amat beruntung. Beruntung bisa belajar vokal klasik, dan beruntung mendapat guru seperti laoshi.

Tidak terasa hari sudah malam, lebih baik aku cepat pulang supaya bisa berlatih lagu “Sound An Alarm!”-nya Judas Maccabeus yang bagus tapi sulitnya amit-amit itu… ^^

Read Full Post »

It was sent to me in October/November, 1996. It’s quite big, heavy, yet considered fragile, therefore it wasn’t sent by cargo. A cousin of mine helped carrying it along in his car while traveling from Muntilan to Jakarta. It wasn’t a high-tech instrument, you can’t insert a disk or CD for it wasn’t equipped with such facility. Yet the black-and-white fella was received with joy.

After living for three months without playing music, its presence really brightened up my life. Suddenly, living in a place far away from home was not so difficult anymore. All I had to do was playing it, singing several songs, and suddenly my 3mx3m (boarding house) bedroom felt like home!

I guess the magic lies within the black-and-white fella, and the songs also. The right songs can help you feel like home. For example if you’re used to singing “Desaku Yang Kucinta” in your bathroom at home, try to do the same while moving to a new place. The very song you used to sing would make you feel like home (at least it worked for me ^^).

Sometimes my roommates would gather in my rooms, and we would sing together. Then we found out that our beautiful ‘Nyak’  from Bukittinggi also has a beautiful voice!

When I moved to the second boarding house, my fella and I helped a friend practice singing for a religious music album! I wondered why she didn’t take part in competitions like Indonesian Idol or something. With her voice, supported with her good look, she might win and becomes our idol ^^

When I was about to leave boarding house and move to an apartment in Tanjung Duren in 2006, I thought of sending my fella back home. The apartment was quite small, and my fella definitely needed some space.

I’m glad I didn’t send her back! Not long after moving to Tanjung Duren, I was gifted to have a classic vocal lesson with Renata Lim, one of the best classic vocal instructor in Indonesia! Of course I would always need my fella to practice. Until now.

In its twelfth year, the fella is still in a perfect condition. It never lets me down. It’s a keyboard ^^

Read Full Post »

Mädchenlied

Selama 2 tahun berkutat mempelajari vokal klasik, ada beberapa lagu (atau aria, gak tau jelas apa bedanya) yang sangat menarik perhatian. Salah satunya lagu di bawah ini. Syairnya ditulis oleh Paul Heyse (1830-1914), sedangkan musiknya digarap oleh Johannes Brahms (1833-1897).

Syairnya gue bangeeettt…!!! ^^

Mädchenlied
Auf die Nacht in der Spinnstub'n
da singen die Mädchen,
da lachen die Dorfbub'n,
wie flink geh'n die Rädchen!
Spinnt Jedes am Brautschatz,
daß der Liebste sich freut.
Nicht lange, so gibt es
ein Hochzeitgeläut.
Kein Mensch, der mir gut ist,
will nach mir fragen;
wie bang mir zu Mut ist,
wem soll ich's klagen?
 
Die Tränen rinnen
mir übers Gesicht
wofür soll ich spinnen?
Ich weiß es nicht!

Read Full Post »

Taoge menari

Pertama kali belajar musik, not-not balok yang bentuknya mirip taoge itu sempat membuat hati menjadi kecut. Terlebih pada pertemuan pertama, guru organ langsung memberikan buku musik not balok untuk dipelajari. Auf wiedersehen, not angka.

Setelah melalui perjuangan berat, lama-kelamaan jari-jari tangan saya, berkoordinasi dengan mata (dan tentunya otak) mampu membaca not balok dengan cukup lancar. Tapi lain main organ, lain pula menyanyi. Untuk yang satu ini saya masih mengandalkan not angka. Sebetulnya untuk belajar menyanyi saya lebih banyak bergantung pada indera pendengaran. Bagi saya, mendengarkan sebuah lagu baru berulang-ulang selama 15 menit jauh lebih efektif ketimbang mempelajari notnya selama berhari-hari.

Sampai suatu hari saya mengikuti sebuah paduan suara untuk perayaan Natal 1996, tepatnya di Erasmus Huis. Cucu nenek pemilik kos yang mengajak saya ikut serta dalam paduan suara tersebut berkata,

“Lebih enak baca not balok. Naik-turunnya melodi lebih jelas terlihat.”

Wah, dipikir-pikir benar juga ya. Pada not angka, kita hanya melihat angka 1-7, kadang-kadang ada angka yang dicoret (ternyata bukan karena salah tulis seperti yang saya kira waktu SD dulu). Namun pada not balok, lagu tergambar dengan lebih jelas. Dengan melihat teks lagu not balok sekilas saja , kita akan langsung memperoleh gambaran kira-kira lagunya seperti apa. Yah, minimal karakter lagunya-lah. Apakah lagu tersebut bertempo lambat atau cepat, apakah melodinya menukik naik-turun dengan tajam atau tidak, dan lain sebagainya.

Sejak saat itu saya “berdamai” dengan not balok. Peace…!!! ^^

Sekarang saya bergabung dalam sebuah paduan suara yang mengkhususkan diri pada lagu-lagu gerejawi klasik, kebanyakan ditulis beberapa ratus tahun silam. Tentu saja buku musik kami penuh dengan taoge-taoge kecil yang menari-nari.

Fffiuuuhh… saya bersyukur dalam hati karena sudah “berdamai” dengan not balok. Andaikata belum, betapa stress-nya saya bergabung dengan paduan suara tersebut. Namun tetap saja saya mengandalkan indera pendengaran. Jadi singkatnya, metode pembelajaran lagu baru ala saya adalah sebagai berikut:

  1. Pada saat latihan koor, duduklah tepat di samping anggota koor yang bersuara jelas dan lantang, serta telah menguasai lagu dengan baik, agar sepanjang latihan kita bisa mendengar suaranya.
  2. Buka buku musik, lalu baca dan perhatikan tauge-tauge kecil itu baik-baik, sambil terus mendengarkan suara teman kita tersebut. Cobalah untuk memahami bahwa bila dinyanyikan, maka tauge-tauge kecil = suara teman kita tersebut.

Dengan demikian, dalam 1-2 kali latihan saja kita sudah akan memperoleh gambaran yang cukup lengkap mengenai lagu itu bentuknya seperti apa. Karena lagu-lagu yang dibuat pada zaman tersebut jarang ada yang pendek. Lihat saja Mass in D karya Antonin Dvorak.

Selanjutnya, terserah Anda, atau dengan kata lain, semestinya konsep lagu tersebut sudah terekam dalam otak kita, sehingga kita tidak perlu lagi duduk dekat orang tertentu (yang bersuara lantang) dan kita mulai bisa mengandalkan taoge-taoge kecil tersebut untuk panduan dalam menyanyi.

Ah… betapa indahnya lagu-lagu karya Dvorak, setelah kita berhasil berdamai dengan taoge-taoge kecil…!!!

NB: Metode mencontek suara teman ini tidak saya rekomendasikan lho, namun metode ini terbukti cocok untuk saya. Bagaimana dengan Anda?

^^

Read Full Post »

Pemazmur

Pertama kali masuk ke dalam gereja, aku langsung sudah tahu ingin menjadi apa kalau suatu saat nanti aku bertugas di tempat itu. Ya, waktu TK pun aku sudah gatal ingin menggantikan orang di balik mimbar kecil yang bertugas menyanyi solo, melantunkan Mazmur. Ohya, aku pertama kali ke gereja waktu sekolah di TK Theresia, karena keluargaku bukan keluarga Katolik.

Keinginan ini terus berlanjut hingga aku duduk di bangku SD St. Yoseph. Apalagi pada saat SD ada seorang adik kelas yang sering ditunjuk guru untuk menyanyikan Mazmur dalam misa-misa sekolah. Padahal menurutku suaranya gak bagus-bagus amat, sering meleset kalau menyanyikan nada rendah, dan terlalu melengking kalau menyanyikan nada tinggi (bagusan aku kali, cuma belum pernah ditandingkan saja). Kelebihannya hanyalah ia memang pede, pemberani, dekat dengan guru, dan… sudah dibaptis secara Katolik.

Bertahun-tahun keinginan itu dipendam, kadang timbul kadang tenggelam, sampai akhirnya aku dibaptis pada saat kelas 1 SMA (yess…!!!) Bukan berarti aku dibaptis karena ingin menjadi pemazmur lho, tapi kalau setelah dibaptis aku bisa menyanyi untuk Dia, apa salahnya… ya nggak?

Akhirnya cita-cita terpendam ini terwujud juga pada saat aku sudah lulus dari Unika Atma Jaya Jakarta (lama amat nunggunya ya?) Saat itu ada teman se-almamater yang mengajak para penghuni kost di kawasan Jalan Karet Sawah (di jalan itu ada banyak banget kost-kost-an) untuk membentuk koor kecil-kecilan, lantaran kring tempat kami tinggal belum punya koor. Walhasil, aku pernah ditunjuk untuk menyanyikan Mazmur dan Aleluia, tepatnya di Gereja St. Ignatius yang berlokasi di kawasan Pasar Rumput. Senang? Tentu saja! Kalau tidak salah aku sempat kebagian jatah bertugas dua atau tiga kali. Sayangnya setelah itu anggota koor mrithili satu persatu, dan koor dibubarkan secara tidak resmi.

Kesempatan itu terbuka kembali saat aku pindah ke kawasan Tanjung Duren Jakarta Barat. Dari yang biasanya ikut misa di Gereja St. Theresia kawasan Menteng, jadi pindah ke Gereja St. Kristoforus kawasan Jelambar. Saat mengikuti misa di Gereja St. Kristoforus, dibacakan pengumuman yang isinya gereja sedang mencari pemazmur. Bagi yang berminat silakan menghubungi … selengkapnya bisa dilihat di pengumuman. Kesempatan emas seperti ini tentu saja tidak kusia-siakan. Jarang-jarang ada gereja yang membentuk tim pemazmur. Setahuku, biasanya pemazmur diambil dari anggota paduan suara yang bertugas melayani pada saat misa. Jadi tidak ada “profesi” khusus pemazmur.

Setelah mengikuti audisi (untungnya keterima), kami menjalani pelatihan dulu selama beberapa bulan di bawah bimbingan ci Lisa dan mas Momon (padahal nama aslinya Raphael), barulah bertugas di gereja (supaya ndak ngisin-isini). Di sini juga aku berkenalan sama Kristina, sesama anggota “Tim Mazmur Raja Daud” yang blog-nya bisa dikunjungi, cukup nge-klik ke blogroll “Kristina dan Ria” (aku sekalian promosiin, soalnya blog Kristina dan temennya, Ria, lucu dan orisinil sekali!)

Senang sekali bisa ikut tim pemazmur. Soalnya setiap bulan sekali ada pertemuan untuk berlatih bersama, sekaligus menentukan kita mau bertugas di mana, Gereja St. Kristoforus atau Stasi Polikarpus, tanggal berapa, misa yang jam berapa, dan lain sebagainya, dan dalam pertemuan selalu disediakan konsumsi, kadang kue-kue, kadang seporsi bakmi… nyam… nyam… Tapi bukan itu lho motivasi utama kami bergabung dalam tim ;p

Bahagia sekali (plus deg-degan) kalau sudah tiba harinya bertugas. Sejak seminggu sebelumnya sudah diingat-ingat, jangan makan goreng-gorengan, hindari minum es, dan sesering mungkin berlatih. Saat sudah berdiri di mimbar, jangan gugup, pede aja, tarik napas dalam-dalam (pernafasan diafragma), pastikan rongga perut kita penuh terisi udara agar napas bisa panjang dan suara stabil (ini nasehat Renata Laoshi). Setelah itu buka mulut dan mulailah menyanyi.

Bisa dibilang, semua orang (kecuali penyandang tuna rungu dan wicara) bisa menyanyikan Mazmur. Sebenarnya tidak terlalu sulit, yang penting mau berlatih. Suara juga tidak harus bagus, yang penting terlatih (di sinilah pentingnya latihan). Nah, bagi teman-teman yang ingin menjadi pemazmur di Gereja St. Kristoforus, masih dibuka lowongan. Yang berminat hubungi aku saja lewat blog ini, nanti kuteruskan ke mas Momon.

Ditunggu kabarnya… ;p

Read Full Post »

Tuesday evening around 9.15 pm, Renata Lim, a vocal instructor, also the head of Jakarta Singing School, was riding her car home. She went home late every Tuesday due to the Eliata choir practice, a Christian choir she established in 1980’s. There’s another passenger sitting next to her seat, one of her student, also a member of Eliata choir, an Alto to be exact.

It was me.

Traffic jam there was, all the way from Tomang to Grogol, a bit unusual at that time of the day. Yet, since we’re used to living in Jakarta, it needn’t be a surprise anymore. But it was okay. Renata laoshi, a classic vocal expertise, is a very nice person to talk to. One could never learn enough from such an expert like her!!! Renata laoshi has always been in love with classical music, that she doesn’t know much about pop, jazz, let alone heavy metal.

Suddenly I remembered “Zona 80”, one of my favorite TV program. It’s a nostalgic program that brings the audience back to the eighties. Several popular singers during the eighties would perform their hits during the show. It’s a really worth-watching program. Once, my favorite singer Arie Wibowo, perfomed “Singkong dan Keju“, a song I’ve never heard for the last twenty years! And the PSP (Pancaran Sinar Petromaks) singing their very famous “torerojing, torejing, torejing”, etc. Lovely!

However, I noticed that some of the great Indonesian pop singers of the eighties didn’t perform very well. I remembered clearly that they were much better singers back then. They still sound good, but they weren’t as great as they used to be. Maybe it has been years since the last time they practiced.

I asked Renata laoshi, what happens if, let’s say, a great singer stop practicing, and doesn’t sing again for many, many years. Will he or she lose the ability?

Then Renata laoshi told me, if you do love singing, give your love 100%!!! You simply cannot abandon it. Leave singing for a while, and you’ll find out that it has left you. You probably don’t really mean to leave it, but it will surely leave you. Singing is something you have to maintain. Only by giving your love 100%, practicing it regularly, then it’ll really be a part of you.

I love singing, I really do. But I must admit that I haven’t been practicing hard enough. Feeling tired from work is the hardest obstacle that keeps me from practicing everyday.

Can I give my love 100% to singing?

Only time will answer.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »