Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘My favorites’ Category

Pernahkah engkau mensyukuri setiap jerawat yang muncul di wajahmu? Mula-mual yang dirasakan nyaris sepanjang waktu? Atau perasaan mudah lelah sehingga harus beristirahat setiap beberapa jam sekali? Naik-turun tangga dan bergerak serba pelan seolah menderita encok?

Aku pernah!!!

Jerawat, mual-mual dan mudah capek ternyata sangat mudah disyukuri, karena hal itu mengingatkan akan si mungil yang sedang bertumbuh dalam rahimku. Setiap kali ada jerawat baru muncul, aku bersyukur karena konon (entah benar atau tidak), jerawat banyak bermunculan akibat hormon tertentu semasa kehamilan. Tidak semua ibu hamil mengalaminya, sih. Namun aku mengenal beberapa orang teman yang jerawatan semasa hamil, lantas wajahnya kembali mulus beberapa bulan setelah melahirkan!

Semasa mengandung, aku tidak pernah jauh-jauh dari sebotol minyak kayu putih (harus selalu ada di dalam tas, sama pentingnya dengan KTP atau ATM!) Pasalnya, aromanya lumayan ampuh untuk mengurangi rasa mual yang sering muncul.

Semasa mengandung pula, aku harus sejenak melepaskan khayalan menjadi seorang jago kungfu. Aku tidak lagi berlari menaiki tangga, atau melompat ke sana kemari seolah menghindari serangan musuh!

Setiap kali les vokal, berlatih vokal di rumah, atau bertugas menyanyi di gereja, aku selalu berbisik pada si kecil, dengar ya, Mama menyanyikan lagu ini untukmu ^^

Aku banyak membaca kisah-kisah Sherlock Holmes dalam bahasa aslinya, dengan harapan si kecil akan memiliki otak secerdas Holmes! Tapi kamu tidak harus menjadi detektif kok Nak, kalau kelak kamu ingin mengabdikan hidupmu untuk merawat orang utan misalnya, Mama tidak akan melarang. Yang penting kamu mencintai profesimu kelak, dan hidup berbahagia karenanya!

Demikianlah, setiap jerawat mengandung asa, mual-mual membuatku bahagia, dan pegal-pegal mengundang ceria!

Namun pada suatu hari Sabtu yang indah, ketika tiba jadwal kontrol ke dokter kandungan, segalanya berubah. Pada saat menimbang berat badan, aku sudah merasa sedikit cemas. Pasalnya, berat badanku tidak jauh berbeda dari 4 minggu sebelumnya. Kandunganku sudah berusia 14 minggu. Namun dilihat dari hasil USG, seperti baru berusia 12 minggu saja.

Yang lebih mengkhawatirkan, terdapat nuchal translucency (NT) sejauh 1,05 cm dari dinding rahim. Padahal menurut dokter, seharusnya NT tidak boleh lebih dari 1-2 mm saja. Berarti ada sejumlah besar cairan di belakang leher si janin, yang menandakan adanya kelainan bawaan. Tubuh si kecilku juga terlihat seperti diselubungi cairan.

Dokter lantas merujuk kami kepada dua orang seniornya, dosennya saat mengambil spesialis obstetri dan ginekologi dulu. Namun kedua dokter senior ini begitu sibuknya, sehingga aku baru bisa memeriksakan kandungan kepada salah seorang dokter, pada hari Kamis berikutnya. Itupun karena si dokter berbaik hati menyelipkan seorang pasien rujukan dalam jadwalnya yang padat.

Itulah 5 hari paling panjang dalam hidupku. Belum pernah aku merasa secemas itu. Tak henti-hentinya aku berdoa, ya Tuhan, berkatilah agar bayiku sehat dan normal. Kalaupun bayiku mengalami kelainan bawaan, biarlah kelainannya yang seringan mungkin. Misalnya polydactyly (memiliki jari tambahan). Dulu adik temanku mempunyai jempol tambahan, dan ketika sudah cukup umur, jempol tambahannya bisa dihilangkan dengan operasi. Jangan berikan ia kelainan bawaan yang berat ya Tuhan.

Namun pada hari Kamis, ketika diintip melalui USG di ruang praktek si dokter senior, jantung si mungil sudah berhenti berdetak.

Ia memang tidak akan sanggup bertahan hidup, kata dokter. Bisa bertahan selama 14 minggu saja sudah hebat.

Air mata mengalir karena sedih, kehilangan, rasa hampa, dan juga terharu. Kamu ingin bertemu dengan mama-papamu ya Nak? Karena itukah engkau berusaha bertahan hidup selama ini?

Namun kami yakin, apa yang ditakdirkan oleh Tuhan, tentulah yang terbaik. Ia begitu mencintai umat-Nya hingga rela berkorban di kayu salib. Begitu besar kasih-Nya, sehingga aku yakin, si kecilku tidak menderita, dan kini telah bahagia dalam pelukan-Nya. Kalau sampai bertahan hidup dan dilahirkan dengan kelainan bawaan yang berat, tentu ia akan sangat menderita.

Pada hari Rabu siang tanggal 23 Juni aku dikuret, dan berpisah dengan si kecil untuk selama-lamanya.

Selama-lamanya? Ah, belum tentu. Bisa jadi kami akan berkumpul kembali suatu hari nanti, di surga. Si kecilku tidak berdosa, dan bisa dipastikan mendapat tiket langsung. Tinggal bagaimana aku dan garwa (sigaran nyawa) serta anak-anak kami kelak menjalani hidup ini dan memanggul salib masing-masing. Bila kami sekeluarga sungguh-sungguh mengikuti jalan-Nya, tentu kami akan bisa berkumpul kembali nanti di surga.

Untuk sementara waktu, kuucapkan selamat tinggal pada si kecil. Sampaikan peluk dan cium dariku ya Tuhan. Aku tak bisa memeluk dan menciumnya, tapi Engkau pasti bisa.

Dokter meminta kami menunggu selama 3 bulan. Setelah itu, barulah aku boleh hamil lagi.

Aku bertekad, dalam 3 bulan ini aku harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Makan makanan yang bergizi, rutin mengkonsumsi asam folat, minum susu, mengurangi aktivitas agar bisa cukup beristirahat, pokoknya menganut gaya hidup sehat! Agar anak yang dikaruniakan pada kami nanti, dapat tumbuh dan berkembang dengan maksimal dalam tubuh seorang ibu yang sehat.

Memang kalau diingat-ingat, kehamilanku yang pertama baru diketahui saat usianya sudah 6 minggu. Selama 6 minggu itu kan aku tidak rutin minum susu, makan makanan yang bergizi, seringkali beraktivitas dari pagi hingga malam sampai kecapean, dan sebagainya. Aku yakin, orang harus belajar dari pengalaman. Segala yang terjadi kepada kita, pastilah mengandung hikmah. Tak boleh ada pengalaman yang sia-sia.

Dan yakinlah, Tuhan akan membuat segala sesuatu indah pada waktunya.

Selama ini aku banyak khawatir akan hal-hal yang remeh-temeh. Namun dalam kehadirannya yang amat singkat, si kecil telah membuatku sadar mengenai hal-hal yang paling penting dalam hidup ini. Yaitu rasa syukur terhadap seluruh karunia yang dilimpahkan Tuhan kepada kita. Dan kesehatan.

Kini jerawat di wajahku sudah mulai berkurang.

3 bulan lagi, berilah agar aku mengandung lagi ya Tuhan. Berkatilah agar bayiku yang akan hadir nanti sehat dan sempurna.

Jerawat dan mual-mual (atau bahkan muntah-muntah juga boleh, deh) serta pegal-pegal tidak menjadi masalah. Akan kujalani dengan penuh rasa syukur dan bahagia!!! ^^

Read Full Post »

Tahun 80-an. Seorang bapak berkacamata dengan baret hitamnya yang khas memperlihatkan sebuah gambar ke arah kamera, sambil berkata, “Gambar ayam berkokok, hasil karya ###, dari SD ### bagus… Gambar pak tani, dari adik kita ###, TK Pertiwi ### bagus… Gambar pemandangan…” dan seterusnya.

Bertahun-tahun saya menjadi pemirsa setia acara ‘Gemar Menggambar’ produksi  Televisi Republik Indonesia. Mungkin kalau dijumlah total, sudah ribuan gambar kiriman anak-anak dari seluruh Indonesia yang saya saksikan. Semuanya punya satu kesamaan, yaitu bagus. Tidak ada satu pun yang jelek.

Padahal kenyataannya… ada saja gambar yang jelek. Atau bahkan luar biasa jelek. Kadang saya bertanya-tanya, apakah bapak berkacamata ini tidak takut dinilai tidak punya selera? Tidak punya cita rasa seni? Kok gambar jelek dibilang bagus?

Lalu tiba-tiba pada suatu hari, saya temukan jawabannya. Bapak bertopi ini selalu mengatakan bagus, karena beliau tidak sok tahu! Beliau tidak ingin mendahului Yang Maha Kuasa.

Saat itu, mungkin si pengirim yang masih duduk di bangku SD baru bisa membuat gambar cakar ayam. Namun tidak menutup kemungkinan kelak ia akan bisa membuat karya lukis yang mengagumkan. Saat itu gambar yang dikirim masih berupa coret-coretan. Namun, siapa tahu kelak si anak bisa jadi seniman pelukis abstrak yang jempolan.

Kita tidak akan pernah tahu. Konon, waktu SD dulu  Elvis Presley cilik mendapat nilai C untuk mata pelajaran musik. Di masa SD, Albert Einstein pernah dianggap sebagai pelajar yang daya pikirnya lambat. Tapi lihat apa yang terjadi ketika mereka dewasa.

Segalanya mungkin. Lihatlah putra Anda yang sedang berlarian di atas rumput sambil merentangkan kedua tangan, seolah ingin terbang. Konon, dulu Wright bersaudara juga begitu. Lihatlah anak perempuan tetangga yang menari berputar-putar tidak karuan. Barangkali mirip masa kecil Isadora Duncan?

Anak kecil, serupa dengan tunas yang bertumbuh. Mungil, namun sarat akan asa. Pohon redwood 115,2 meter yang merupakan pohon tertinggi di dunia, dulunya juga bermula dari sebuah tunas mungil, kok.

Kadang ada bakat dan kemampuan yang begitu jelas terlihat. Namun banyak juga bakat dan kemampuan yang tersembunyi. Karenanya, tidak adil jika kita menghakimi anak-anak, dan menuduh mereka kurang pandai, kurang berbakat, dan sebagainya. Lebih baik kita bimbing dan kita semangati, agar mereka dapat bertumbuh dengan maksimal.

Seperti halnya semua gambar adalah ‘bagus’, karena kata tersebut menyiratkan harapan Pak Tino Sidin. Harapan bahwa semua anak Indonesia gemar menggambar. Kalau Pak Tino Sidin dulu mengatakan jelek… jelek… bisa jadi anak-anak Indonesia tidak akan merasa pede untuk mengirimkan gambar hasil karya mereka, dan hilang semangat untuk berkarya.

Selain itu, boleh ya saya tambahkan sedikit catatan dari pengalaman pribadi ^^

Kalau Anda merasa tertarik pada satu bidang, kesenian atau apa saja, jangan pikir panjang, belajar saja! Tekuni saja! Hajar! Singkirkan pemikiran dan kebimbangan seputar Anda berbakat atau tidak, terlalu tua untuk belajar atau tidak.

Kita tidak akan pernah tahu kita berbakat atau tidak, sebelum setidaknya mencoba.  Minimal, dengan belajar  kita akan menjadi lebih pintar. Selain itu, mengutip nyanyian Jonathan Knight dari New Kids On The Block, age is just a number. Jangan pikir Anda terlalu tua untuk belajar. Saya sendiri baru belajar vokal klasik di usia 28 tahun. Memang sih, dengan les vokal, barangkali suara saya tetap tidak akan pernah menjadi seindah Mbak Church, karena kadar bakat yang jauuuuuh berbeda. Namun setidaknya saya hari ini lebih baik daripada saya beberapa tahun lalu, sebelum berlatih vokal klasik ^^

Pernah saya dengar seorang musisi mengatakan, bila tidak berbakat lebih baik tidak usah menekuni musik, karena hasilnya pasti tidak bagus.

Namun yang terus saya ingat adalah perkataan engkoh sepupu saya Koh Liang, pada saat saya masih SD dulu. Katanya, bakat itu cuma berpengaruh sebesar 1%, yang 99% adalah kerja keras dan latihan terus-menerus. Itulah yang saya yakini, sampai sekarang ^^

Read Full Post »

singin' with an idolMenyanyi bersama cowok ganteng yang bersuara merdu? Bisa-bisa saja, namun terlebih dahulu Anda harus menyisihkan ribuan kandidat lain yang juga bersuara merdu (hal ini terjadi ketika sebuah produsen sampo mengadakan kompetisi beberapa tahun lalu, di mana si pemenang yang bersuara merdu dan berambut indah dapat berduet dengan sang idola).

Untunglah saya tidak perlu melalui tahap-tahap seperti yang disebutkan di atas!!! Kalau iya, hampir bisa dipastikan saya tidak akan lolos… ^^

Awalnya, seorang sahabat yang sudah saya kenal sejak masa Taman Kanak-Kanak, hendak melangsungkan pesta pernikahannya di bulan Oktober lalu. Pada bulan September, pasangan tersebut telah melangsungkan sakramen perkawinan di sebuah gereja di Auckland. Setelah itu, mereka kembali ke tanah air, untuk menyelenggarakan resepsi pernikahan sebanyak dua kali. Satu kali di Jakarta, dan satu kali di Yogyakarta.

Kebetulan saya diundang ke resepsi yang di Jakarta (karena saya berdomisili di Jakarta), dan juga ke resepsi yang di Yogyakarta (karena resepsi di Yogyakarta ini diselenggarakan oleh keluarga sahabat saya, sang pengantin wanita).

Saya  memutuskan untuk menghadiri kedua-duanya. Soalnya menikah itu kan hanya sekali seumur hidup. Kalau memungkinkan secara finansial, sebenarnya saya juga ingin menghadiri sakramen pernikahan sahabat saya di Auckland (nah, mupeng deh).

Saat menghadiri pesta yang di Jakarta, kebetulan saya datang terlalu awal (maklum lokasi pestanya amat dekat dari kantor). Jadilah saya ikutan masuk ke ruang tunggu, bergabung dengan keluarga mempelai pria dan wanita. Ngobrol punya ngobrol dengan mempelai wanita, dia bercerita bahwa pada pesta di Yogyakarta pekan mendatang, dia tidak jadi mengundang O, seorang penyanyi terkenal, untuk memeriahkan pestanya. Pasalnya, persyaratan yang diminta si artis terlalu banyak, dan biayanya terlalu mahal.  Jadilah dia mengundang Mr. D, yang bersedia menyanyi diiringi oleh musisi setempat.

Iseng-iseng, mempelai wanita yang gemar bercanda tersebut bertanya pada saya, “Kowe gelem po, nyanyi karo Mr. D?” (Kamu mau nyanyi sama Mr. D?)

Saya tersentak. Tersentak yang mendebarkan dan menyenangkan. Lantas menjawab sambil nyengir kuda (sesuai shio saya), “nanti aku nyanyikan sebuah lagu, kalo menurutmu oke, baru deh di Yogya nyanyi lagi.

Kemudian pesta dimulai, dan di tengah-tengah pesta saya nyanyikan lagu ‘Bridge Over Troubled Water‘ untuk kedua mempelai (sebisa mungkin nyontek gayanya Mbak Church). Sambil berharap suara saya memenuhi kualifikasi untuk menyanyi di pestanya yang di Yogya. Soalnya, sahabat saya ini akan mengundang beberapa penyanyi yang bagus-bagus, jadi kalau suara saya tidak memenuhi standar, lebih baik saya yang mundur duluan, hehe… ^^

Usai pesta, saya masih terus berpikir. Serius nggak ya, sahabat saya itu, waktu menawari saya menyanyi dengan Mr. D? Toh itu kan pestanya? Sebagai tuan rumah, ia bisa meminta Mr. D untuk menyanyi dengan siapa saja, kan?

Kalau iya, saya harus segera berlatih. Karena pesta akan diselenggarakan minggu berikutnya. Saya sudah terpikir sebuah lagu yang sangat indah, yaitu ‘The Prayer‘. Pasalnya, waktu Mr. D masih berkompetisi dalam acara pemilihan idola Indonesia beberapa tahun lalu, ia pernah menyanyikan lagu tersebut di layar kaca. Dan suaranya sangat cocok untuk lagu tersebut!!!

Teman se-apartemen saya berkata, “nanya aja sama temanmu, serius atau nggak. Kalau iya, cepatlah berlatih.” Dan itulah yang saya lakukan.

Ayah sahabat saya berbaik hati menanyakan kepada pihak Mr. D, bersedia atau tidak untuk berduet ‘The Prayer‘ dengan saya. Jawabannya tiba tak lama kemudian. Mr. D bersedia untuk memberi saya kesempatan untuk mencoba, pada saat gladi bersih!!!

Pagi-pagi sekali pada hari-H, saya sudah naik taksi ke bandara, untuk pulang kampuang. Siang hari sekitar pukul dua, saya sudah siap di gedung, karena gladi bersih dan check sound dijadwalkan pada pukul tiga. Mendekati pukul empat, Mr. D tiba dan langsung melakukan check sound, menyanyi dengan mikrofon nirkabel sambil berjalan mengelilingi ruangan pesta. Kemudian, barulah ia menyanyi dengan saya.

Usai menyanyi, Mr. D tersenyum, melakukan ‘tos’ dengan saya, dan meneruskan check sound. Ayah mempelai wanita yang juga sudah tiba di gedung bertanya kepada Mr. D, “bagaimana, si S oke?” Mr. D mengangguk. Nah, artinya nanti saya boleh berduet dengannya ^^

Usai gladi bersih, saya langsung menjalankan anjuran teman se-apartemen saya, yaitu pergi ke salon. “Biar ndak njegleg,” kata teman saya tersebut. “Soalnya Mr. D pasti tampil keren.

Hasilnya? Seperti yang bisa dilihat di atas. Jujur, soal suara, saya masih jauuuuuh tertinggal. Tapi setidaknya dalam foto saya tidak terlihat njegleg kan? Hehe… ^^

Terima kasih banyak ya Pe, untuk kenangan indah yang tak terlupakan ini ^^

10-10-2009

Read Full Post »

Tuhan punya seekor kucing. Tidak usah dicari di Alkitab karena pasti tidak akan ketemu. Tapi aku yakin bahwa Tuhan pasti punya, setidaknya seekor kucing.

Kucing itu tadinya milikku. Aku yang memberinya nama, memberinya makan (kalau tidak sedang malas), aku pula yang mengajarinya trik berjalan di atas punggung manusia (seperti kucing sirkus). Kalau sedang iseng, aku belajar mengeong darinya. Suatu hari aku mampu mengeong dengan demikian miripnya sampai-sampai si kucing merasa perlu memanjat bahuku dan melongok ke dalam mulutku, untuk melihat apakah ada kucing lain di dalamnya. Wajahnya yang keheranan saat itu, masih terpatri di benakku.

Ada saja ulahnya yang membuat kami tertawa. Suatu malam, aku, papiku, dan encekku tengah menyaksikan sebuah film laga di televisi, ketika tiba-tiba terdengar bunyi … plas… gedebyurrr!!! Olala, ternyata si kucing tercebur ke dalam bak mandi! Tak pelak lagi si hitam mungilku basah kuyup. Khawatir si kucing jatuh sakit karena kedinginan, mamiku langsung mengeluarkan hair dryer. Namun suara bising mesin pengering rambut itu tidak disukai oleh si kucing. Ia memilih duduk diam di belakang kulkas, tempat yang senantiasa hangat. Untunglah bulunya segera kering.

Kucing itu melengkapi hidupku. Bila hari hujan, dan si kucing belum pulang dari bermain, betapa cemasnya hatiku! Aku akan menunggu di dekat pintu sampai sosok hitam mungil itu menerobos masuk, tentunya dengan tubuh yang basah. Si kucing yang menggigil kedinginan kemudian akan duduk di belakang kulkas, tempat favoritnya kalau sedang basah kuyup. Sampai-sampai terpikir olehku pada saat itu, bila suatu saat nanti aku bekerja sebagai tenaga penjual kulkas, akan kutambahkan satu poin penting pada daftar keunggulan produk lemari pendingin itu: “mampu mengeringkan bulu anjing/kucing Anda dalam waktu singkat, dijamin!

Suatu hari ia pergi. Begitu saja. Entah ke mana. Aku tidak (belum) khawatir. Memang kalau sedang musim kawin, si hitam mungil bisa menghilang berhari-hari tanpa pulang ke rumah.

Seminggu berlalu. Aku mulai khawatir. Biasanya ia tak pernah pergi selama ini. Paranoid kemudian menjadi nama tengahku. Setiap mendengar suara kucing, aku langsung pergi melihat. Ternyata bukan kucingku. Kucoba menghibur diri. Besok sepulang sekolah, si mungilku pasti sudah kembali. Namun hal itu tak pernah terjadi.

Kucingku tak mungkin kabur. Di rumah yang sederhana ini, ia disayang. Selalu diberi cukup makan. Ada pula kulkas penghangat badan. Tak satu hari pun berlalu tanpa belaian. Hidupnya bahagia bagai dalam negeri impian.

Maka, cuma ada satu kemungkinan.

Mulanya aku takut mendengar jawabnya. Namun akhirnya kuberanikan diri untuk bertanya.

“Lho, Figaro kan sudah dibuang…” jawab mamiku.

“Ingat tidak, terakhir kali melahirkan, kondisinya agak payah. Anak-anaknya juga mati semua. Lebih baik dibuang, biar kelak tidak merepotkan. Dibuangnya dekat pasar kok, jadi pasti tidak kekurangan makanan.”

Bagaimana caranya memberi tahu mamiku, bahwa aku sungguh sayang pada Figaro, dan bahwa rumah ini takkan terasa lengkap tanpanya? Aku tidak tahu. Yang kutahu, rasa sedih mulai gencar menyerang. Untuk mematahkan serangan rasa sedih, aku memulai proyek penelitian kecil-kecilan. Kuwawancara semua orang yang pernah punya pengalaman kehilangan kucing (atau membuang kucing), lantas kucingnya kembali. Kucing punya kemampuan navigasi yang hebat, kok.

“Setelah dibuang, seminggu kemudian ia sudah nongol lagi. Kucing selalu tahu jalan pulang ke rumah.”

“Kucingku butuh waktu sebulan untuk pulang. Soalnya kami buang ia ke kota sebelah, agak jauh, jadi butuh waktu cukup lama.”

“Tenang saja, kucingmu pasti kembali.”

“Kucingmu yang hitam-putih itu kan? Kayaknya aku melihatnya kemarin…”

9 dari 10 orang yang kuwawancara, mendapatkan kembali kucingnya. Ya, 9 dari 10. Yang 1 itu aku sendiri. Kucingku tak pernah kembali.

Sedikit pun aku tak pernah menyalahkan mamiku, atau siapa pun yang membuang kucingku. Aku hanya menyalahkan diri sendiri karena tak mampu lagi melindunginya. Memberinya sekadar tempat berteduh. Sudahkah ia makan hari ini? Di malam-malam turun hujan, bantalku ikutan basah. Tuhan, kucingku pasti kehujanan dan kedinginan di luar sana!

Berbulan-bulan aku menunggu. Dan terus menunggu.

Sampai akhirnya aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku harus mencarikan ‘pemilik baru’ untuk kucingku. Dan mengucapkan selamat tinggal.

“Tuhan, sekarang dia milikmu. Rawat dia baik-baik ya Tuhan. Hanya kepada-Mu aku mempercayakan kucing kesayanganku. Aku percaya Engkau takkan membiarkannya kelaparan atau kedinginan. Aku percaya Engkau mampu merawatnya jauh lebih baik daripada aku.”

“Figaro, kau milik-Nya sekarang. Aku masih berharap kau pulang. Tapi kalau tidak, minimal kau sudah punya Majikan Baru yang baik. Dia akan senantiasa melindungimu. Selamat tinggal.”

Aku teringat sebuah lagu yang diajarkan Suster di Taman Kanak-Kanak:

Burung pipit yang kecil

Dikasihi Tuhan

Terlebih diriku

Dikasihi Tuhan

Ah, tentunya kucing hitam yang lucu juga dikasihi Tuhan.

Read Full Post »

神秘的你

脸如雨

音如风

入我的心

留在我的梦

Read Full Post »

Have you ever felt confident about your own abilities, yet failure is all you can find while trying to accomplish them?

Well, I have. For many, many times, actually. Quite shameful, you know. But here are some examples:

  1. Every time I hear “The Prayer” sung by Josh Groban and Charlotte Church, I always feel confident that I can sing it the way Miss Church does. I would practice it as soon as I get home. The result is: practice more, work harder, may God have mercy.
  2. Every time I visit my friend Tessa’s blog (kajoemanis) and read all the beautiful poems she had written, I feel confident that I can do the same to my blog. Result: Shakespeare was not my great-great grandpa. His blood doesn’t run through mine. Wake up!!!
  3. I have always admired Enid Blyton’s “The Naughtiest Girl at School” and “Five Find-Outers” series so much, that I once believed, if the series are to be continued, I’ll be the one who write them. Result: I only managed to write one opening paragraph. Don’t want to ruin the characters she had created (sounds like a suitable, honorable reason enough for me to back off, huh?)
  4. I have always admired Gong Li for her talent and beauty. I believe I could act like her, and astonish the world through my movies. Result: every fiber in my body trembled horribly when I acted as an old woman during a theater competition in University of Indonesia. Acting… in the next life, perhaps?
  5. I believe I can speak English well, without any influence from my Javanese accent. I even believed that a two-hour Harry Potter movie had successfully produced a British accent out of me. The result is: I speak Muntlish, you know (Muntilanese English)

Now, let’s work it out the other way around.

Have you ever questioned your own abilities, yet you are able to accomplish them?

Well, I have. It’s not something to be proud of, though. But I’d love to write them here! ^^

  1. I have always prayed to God to give me beautiful voice to sing with. But deep down inside, I realize that I simply wasn’t born with ‘it”. Yet I remember the Chinese 命運 (mingyun: fate and luck). Ming 命 is what you are born with. For example you are born as a girl. You know, something you can’t change. But aside of ming, there is also yun 運 which means luck. It is something we can change! For example, I know I wasn’t born with a beautiful voice, but if a great vocal instructor trained me, and I practice hard enough, I would sing better, for sure! After attending Jakarta Singing School for a year, I underwent a vocal exam. I got a B-. In the following year, I underwent a vocal exam again, and this time, it’s a B+! The result is: Thank God for showing me the way to JSS. Jia you…!!! ^^
  2. I’m not into adults poems like my talented friend, Tessa. But if you check this blog you would find some children poems, like ‘Kepiting‘, it’s one of my favorite. I also thought of some very simple poems in Mandarin. Anyway, if I want to create a poem in Mandarin, it’d better be a simple one, to hinder myself from grammatical mistakes. ^^ Result: Poem is for everyone. Believe me…!!! ^^
  3. Novels or children storybooks are still a very long way for a junior writer like me. I have written stories since my elementary school years, yet I was too shy to show my writings to anyone at all. When I was a kid, two cousins of mine loved to sneak in and grab a book contained of my writings. I would run after them all day long, just to keep them busy enough NOT to read what I’ve written! But you see, now I have my own blog (and busy telling people to visit it), well, at least I’m a blogger (the modern way to say ‘writer’) now…^^. Result: Jia you…!!!
  4. In this life, I could never be an actress-lah… But I do some kind of ‘acting’ all the times. I am trusted to be a presenter of a news-feature program in Da Ai TV. While having a good mood, it’s not difficult to smile at the camera and talk to it as if you were talking to some very close friends. But in the times of bad mood, producing the slightest smile would be unbearably difficult! Yet, I have to do it, for the sake of the audience who has dedicated their time watching our programs. Result: I do love my job! So no matter what, just smile sincerely and talk to the audience through the camera… Isn’t it some kind of ‘acting’? ^^
  5. Once, I was to teach Mandarin to an American citizen. It wasn’t so difficult, since he only wanted to know what Mandarin is like. So I taught him Pinyin, simple sentence structures, basic conversation, and so on. We used English as the media of learning. During the first lesson, he said to me, “Your boyfriend must be an Englishman.” I said no, he’s an Indonesian-born Chinese. Why did you say so? He said, “Well, you speak British English.” Dear God, the Harry Potter movie does work!!! ^^ Result: My English accent is not that bad, actually. If I am to speak English from the very beginning, there wouldn’t be any problem. The most difficult thing is when I speak Indonesian… then suddenly there are some English words. I find it difficult to switch from Indonesian to English within less than a second. Still working on it ’till now.

Isn’t confidence one of the best gifts God has given to us? To survive in this world full of uncertainties?

The main result would be: Failures are OK, as long as you have confidence inside your heart… ^^

Read Full Post »

Figaro melahirkan

Di dalam kardus berisi kain dan pakaian bekas itu, keajaiban terjadi. Kucingku Figaro bergerak-gerak dengan gelisah, lalu tiba-tiba… voila! Lahirlah seekor kucing belang abu-abu, anaknya yang pertama! Wah, seolah-olah rumahku jadi punya bagian ‘Ginekologi’…

Bagiku, memelihara kucing adalah pengalaman yang menakjubkan. Kesedihan di hati gara-gara ulangan dapat lima lenyap seketika, melihat kucingku berlari-lari menyambutku sepulang dari sekolah.

Namun sewaktu memelihara kucing, salah satu pengalaman yang paling mengagumkan adalah menyaksikan langsung proses kelahiran bayi-bayi kucing! Setahuku ada 2 jenis kucing:

  1. Kucing yang bersembunyi saat melahirkan
  2. Kucing yang minta ditunggui saat melahirkan.

Nah, kucingku Figaro termasuk jenis yang kedua ^^

Encekku (adiknya papiku, seseorang yang memiliki pengetahuan luas tentang apa saja, terutama alam, flora dan fauna) mengatakan, ketika hendak melahirkan, kucing jenis ini akan minta ditunggui oleh orang yang paling disayangi. Berhubung aku adalah pemilik Figaro, maka wajar jika waktu melahirkan untuk yang pertama kalinya, si hitam mungil ini minta aku duduk di samping kardusnya, yang sudah diisi dengan kain dan pakaian bekas biar empuk dan hangat.

Ketika aku beranjak sejenak, hendak mengambil buku cerita (biar tidak nganggur), Figaro langsung protes. Mengeong dengan wajah mengiba. Alhasil aku tidak jadi pergi mengambil buku cerita. Namun apa daya, ketika kebelet buang air kecil, terpaksa kutinggalkan dia untuk satu-dua menit saja. Sewaktu aku selesai buang air kecil, kudapati Figaro sudah keluar dari kardusnya, duduk manis tepat di depan pintu kamar mandi. Padahal tadi air ketubannya sudah pecah! Cepat kugendong dia, lantas dengan hati-hati kuletakkan ia kembali ke dalam kardus. Nah, di sini terbukti bahwa kucingku adalah seekor satwa bersifat nekad dan bertekad baja! Kalau melahirkan harus ditunggui! Titik!!!

Setelah anaknya lahir, Figaro tidak lagi minta ditunggui. Ia asyik menjilat-jilat anaknya, supaya bersih dari air ketuban dan lain-lain. Aku bebas…!!!

Harus kuakui, aku adalah orang dengan sifat iseng dan jahil yang kadang tak dapat dibendung. Kadang sifat iseng ini kulampiaskan pada kucingku. Misalnya, aku tahu pasti bagaimana menggendong kucing, lantas mengunci tubuhnya sedemikian rupa sehingga si kucing tak dapat bergerak. Alhasil, si kucing hanya bisa menggeram marah. Selain itu, aku yang tadinya rajin memberi makan kucing pagi hari sebelum ke sekolah, berubah menjadi sering bangun kesiangan. Alhasil aku jadi jarang memberi makan kucing. Tugas yang semestinya menyenangkan itu lebih banyak dikerjakan oleh Si Mbok.

Pendek kata, kucingku Figaro punya banyak alasan untuk tidak menyayangiku lagi. Dia jadi makin jarang mau kugendong, kadang malah menghindar bila kudekati. Lama-kelamaan, Figaro jadi sangat menyayangi encekku yang disebut di atas tadi. Ia sering terlihat tidur mendengkur di samping kaki encekku, atau bahkan di atas pangkuannya. Ya, encekku memang penyayang binatang sejati. Tak pernah ia menjahili Figaro.

Sebagai kucing yang terlibat dalam ‘pergaulan bebas’, beberapa bulan kemudian, Figaro mulai ‘berisi’ lagi. Kali ini aku tidak menyambut dengan antusias. Buat apa? Dia takkan minta kutunggui lagi. Paling-paling dia akan minta ditunggui oleh encekku. Toh, aku bukan lagi orang yang paling disayanginya.

Siang itu, seperti biasa aku pulang dari sekolah. Sampai di rumah, aku langsung disambut oleh banyak orang. Lho…???

“Ini dia, untung sudah pulang,” kata papiku.

“Figaro dari pagi gelisah,” kata mamiku.

“Sudah mau melahirkan tapi tidak mau diam di kardusnya,” tambah Si Mbok.

“Dia menunggu orang yang paling disayanginya,” kata encekku.

“Meong, meong… MEONG!!!” kata Figaro dengan mata panik.

Kucing berkepala batu ini, masih bisa-bisanya berlari-lari menyambutku sepulang sekolah, padahal air ketubannya sudah berceceran kemana-mana. Tekadnya sudah bulat. Kalau melahirkan, harus ditunggui! Titik!!! Dan harus ditunggui oleh orang yang paling disayangi!!!

Tenggorokanku tercekat. Rasa haru menyerbu.

Kembali kugendong dia, lantas kuletakkan di dalam kardus dengan hati-hati. Sepasang matanya tak lagi panik. Ia terlihat tenang dan penuh percaya diri.

“Kucing bodoh,” ujarku dalam hati sambil membelai kepalanya. “Kenapa musti menungguku? Aku ini siswi SD biasa, bukan dokter hewan. Kalau terjadi apa-apa denganmu, aku juga tak bisa menolong.”

“Tidak apa-apa,” dengkur Figaro. “Pokoknya diam saja di situ ya.”*)

Aku menunggu sampai kucingku selesai melahirkan, dengan perasaan takjub. Siapa bilang kucing tak bisa setia seperti anjing? Buktinya setelah berkali-kali kujahili, kucingku masih sayang kepadaku…!!! ^^

***

*) Ini hanya interpretasi saja lho, karena aku tidak mengerti bahasa kucing ^^

Read Full Post »

Older Posts »