Feeds:
Posts
Comments

Julian

Waktu berusia 6 minggu, hanya kantongnya saja yang terlihat.

Waktu berusia 8 minggu, bentuknya terlihat lucu seperti Barney ^^

Waktu berusia 11 minggu 5 hari, bentuknya sudah seperti bayi, hanya saja ukurannya masih amat mungil. Saat dokter kandungan menekan perut ibunya, Si Dedek merasa daerah kekuasaannya terganggu. Sontak ia bergerak heboh, mengacungkan tangan dan kakinya, ke kiri dan ke kanan, ke atas dan ke bawah, ke segala arah pokoknya ^^

Untung ada USG. Kalau tidak, saya sendiri tidak akan percaya, janin berusia 11 minggu bisa bergerak seheboh itu ^^

Dari hari ke hari, ia terus bertumbuh…

Waktu berusia tepat 40 minggu, Si Dedek merasa sudah waktunya keluar!

Berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, serta dokter, bidan, dan suster yang hebat, dukungan keluarga, ketekunan saya senam hamil setiap minggu sejak kandungan berusia 30 minggu, ditambah dengan suntikan ILA (biar tidak sakit saat melahirkan), Marcus Julian Kajo dilahirkan ke dunia ini, pada tanggal 3 Agustus 2011, sekitar pukul 19.47 WIB. Berat badannya 3,47 kg, panjangnya 51 cm.

Sejak saat itulah saya mendapat seorang ‘bos’ baru ^^

Pada hari pertama, bos saya baiiik sekali. Ia tidur seharian, hanya bangun sebentar-sebentar untuk dimandikan dan belajar menyusu, serta tidak rewel.

Mulai hari kedua, bos saya sudah merasa haus dan lapar. Sayang ASI-nya belum keluar. Akhirnya bos saya hanya sekedar belajar menyusu, tanpa mendapatkan susu itu sendiri. Kalau sudah benar-benar merasa haus dan lapar, bos saya akan memperlihatkan ekspresi wajah sedih dan menangis.

Saya ikut merasa sediiih sekali. Betapa tidak, saya sendiri diberi berbagai macam makanan, sayuran dan minuman yang bergizi, serta merasa kenyang sepanjang waktu. Sedangkan bos saya itu justru kelaparan, dan belum mendapat apa-apa sama sekali. Tetapi tidak apa-apa, karena bayi yang baru dilahirkan masih mempunyai cadangan makanan yang cukup untuk 3 hari.

Waktu dilahirkan, badannya lumayan gemuk. Tapi makin lama terlihat makin kurus. Sungguh tidak tega rasanya…

Setelah dua setengah hari lamanya tinggal di klinik, dan ASI masih belum keluar, saya benar-benar merasa kasihan kepada bos saya. Lantas saya berkonsultasi dengan dokter. Dokter bilang, diberi susu formula dulu tidak apa-apa. ASI rasanya lebih enak kok. Nanti kalau produksi ASI sudah melimpah, Si Dedek pasti dengan mudah beralih ke ASI.

Begitu dibawa pulang ke rumah pada hari ketiga, bos langsung diberi hadiah berupa 30 ml susu formula. Betapa bahagia dan cerah rona wajahnya kala itu!!! ^^

Saya merasa sedih karena tidak bisa memberikan ASI eksklusif. Tapi tidak apa-apa, meski tanpa embel-embel eksklusif, bos saya harus tetap mendapat ASI. Hei payu****, berproduksilah! ^^

Saya melahap daun katuk, bayam, dan berbagai kacang-kacangan setiap hari, dalam porsi besar. Minum air sari kacang hijau yang sungguh mati saya benci (sambil menutup hidung dan memotivasi diri tentunya), temulawak, susu untuk ibu hamil, vitamin, dan entah apa lagi.

Setelah bos berusia sekitar 5 hari atau seminggu (lupa tepatnya), barulah ASI saya keluar. Fffiiiuuuhhh, lega… ^^

Keluarnya masih sedikit sekali, dan jelas tidak cukup untuk seorang bayi kecil yang sangat gemar minum susu. Tapi sesedikit apa pun tetap harus diberikan, karena dengan demikian, secara otomatis produksinya akan terus bertambah.

Kini produksinya memang sudah jauh bertambah. Tapi kebutuhan bayi kecil ini juga terus bertambah, sehingga susu formula juga tetap diberikan. Hanya saja, kalau dulu 1 kaleng dihabiskan dalam 5 hari, sekarang 1 kaleng bisa cukup untuk 7-8 hari ^^

Saya masih berharap dan berusaha, agar suatu hari nanti produksi ASI bisa mencukupi seluruh kebutuhannya ^^

Bos saya ini menuntut saya untuk bekerja 24/7, yaitu 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Kalau orang lain merasa senang saat hari Jumat sore tiba (wiken, yihaaa!^^), bagi saya mah tidak ada bedanya. Saya tetap harus bekerja. Tanggal merah juga sama.

Selain itu, jam kerjanya amat tidak pasti. Kalau membutuhkan saya pukul 3 pagi misalnya, bos yang satu ini tidak segan-segan membangunkan saya.

Barulah saya merasa, betapa enaknya kerja kantoran itu ya ^^ Jam kerjanya sudah pasti, kalaupun lembur juga sudah pasti, misalnya sampai pukul 22.00 saja, setelah itu bisa pulang dan beristirahat. Sabtu-Minggu libur, ada jatah cuti 12 hari, dan lain sebagainya.

Namun dari semua bos yang pernah menjadi atasan saya, bos inilah yang paling saya sayangi. Bos ini membuat saya merasa amat dibutuhkan, dan mengajarkan begitu banyak hal kepada saya. Nanti ditulis satu-persatu dalam blog ini, tunggu saja ya ^^

Selain itu, bos yang satu ini sangat unik. Kalau bos-bos saya yang dulu membayar saya dengan sejumlah rupiah, bos mungil ini cukup membayar saya dengan senyuman. Herannya, saya kok ya terima-terima saja ya. Tidak pakai protes dulu, gitu.

Tahukah Anda, mengapa? Karena senyumannya manis sekali ^^


Jujur oh jujur…

Kisah Ibu Siami dan putranya Alif, yang menjunjung tinggi kejujuran, namun malah diusir dari kampung, sungguh miris. Sekolah semestinya dijadikan tempat untuk mengajarkan dan melatih kejujuran. Ini kok malah sebaliknya.

Saya jadi teringat saat hendak masuk SMA dulu. Nggak segawat pengalaman Si Kecil Alif sih, tapi masih ada sangkut-pautnya dengan kejujuran, dan cukup membuat bingung.

Waktu itu, untuk masuk ke SMA saya, calon murid harus menjalani 2 jenis tes. Yang pertama adalah tes mata pelajaran biasa seperti matematika, bahasa Inggris, dan sebagainya. Yang kedua adalah tes wawancara.

Nah, alih-alih mencari tahu seputar kepribadian, watak, dan sebagainya, tes yang kedua ini berfokus pada menyelidiki latar belakang keluarga dan ekonomi si calon murid. Tujuannya untuk menetapkan, seberapa besar uang pangkal yang harus dibayar oleh calon orang tua murid, kalau anaknya diterima masuk ke sekolah ini.

Sudah menjadi rahasia umum (terutama bagi anak-anak dari kota saya yang sudah banyak mendapat masukan dari kakak-kakak senior), bahwa dalam tes wawancara ini, kita bahkan dianjurkan untuk berbohong.

Jangan mengaku kalau di rumah ada sambungan telepon, jangan mengaku kalau punya pesawat TV, pemutar kaset video, kulkas, apalagi mobil. Jangan mengaku kalau orang tua kita punya toko atau tempat usaha lain (yang kemungkinan akan dipandang bonafid). Mengakulah bahwa keluarga kita semiskin dan sesederhana mungkin, agar uang pangkal ringan, dan uang sekolah selama 3 tahun juga ringan. Begitu nasihat kakak-kakak senior.

Namun apa boleh buat, sejak kecil orang tua sudah mengajarkan kepada saya untuk jujur. Apalagi saat itu sudah tahun 1993. Negeri kita sedang sedang maju-majunya. Mana ada orang yang percaya kalau dibilang di rumah kita tidak ada pesawat TV?

Selain itu, orang tua juga tidak menginstruksikan saya untuk berbohong. Mereka hanya berpesan, hati-hati kalau menjawab, jangan sampai terlihat seperti anak orang kaya. Jadi saya pikir, jawab apa adanya saja. Toh saya memang bukan anak orang kaya kok. Mestinya sih, tidak akan dibebani uang pangkal dan uang sekolah berlebihan.

Namun di luar dugaan, uang pangkal yang harus dibayar oleh orang tua saya ternyata cukup besar. Lebih besar dari uang pangkal seorang teman saya, yang bapaknya bisa disebut juragan bapak saya (kalo dilihat dari skala usaha yang dijalankan). Uang pangkal ini tidak bisa ditawar-tawar lagi, karena ditentukan berdasarkan hasil tes wawancara.

Merasa penasaran, orang tua saya lantas menghubungi seorang bapak guru senior, sebut saja Bapak C. Bapak C ini dulunya adalah guru SMA bapak saya (sampai sekarang masih berhubungan baik dan cukup akrab). Saat itu, Bapak C sudah punya jabatan tinggi di beberapa sekolah dan universitas di kota Y. Termasuk SMA saya. Karenanya, beliau punya wewenang untuk melihat hasil tes wawancara di SMA saya.

Setelah melihat hasil tes wawancara, dan membandingkan hasil tes saya dengan teman saya (yang bapaknya adalah juragan bapak saya), Bapak C lantas menghubungi orang tua saya.

“Pantes uang pangkalnya tinggi. Anakmu kuwi bodho” (Anakmu itu bodoh)

“Anakmu mengaku orang tuanya punya toko sepatu dengan 2 karyawan. Ibunya punya usaha sampingan membuat makanan kecil, dengan dibantu oleh tenaga beberapa orang pembantu rumah tangga. Karena itu orang tuanya dinilai mampu untuk membayar uang pangkal sebesar ini.”

Lantas, bagaimanakah kira-kira jawaban teman saya (yang bapaknya bisa dibilang juragannya bapak saya itu)?

“Nah, kalo temennya ini pinter. Dia mengaku orang tuanya punya toko kelontong kecil, dengan 1 karyawan, tidak punya pembantu rumah tangga, dan tidak punya usaha sampingan. Karena itu, uang pangkalnya lebih ringan.”

Waktu itu saya tidak terlalu peduli akan perbedaan uang pangkal yang harus dibayar oleh saya maupun teman saya. Saya tidak merasa iri. Wong bedanya juga nggak fantastis-fantastis amat kok. Lagipula dia adalah teman baik yang sangat saya sayangi.

Apalagi SMA ini cukup ketat menyeleksi calon murid. Ada beberapa teman dari SMP saya yang tidak diterima, meski bersedia membayar. Jadi, diterima saja saya sudah sangat bersyukur. Selain itu, toh orang tua saya juga masih sanggup dan bersedia membayar. Jadi tidak ada masalah.

Tapi saya sedih… karena dibilang bodoh. Apakah berkata jujur sama dengan bodoh…???

Sejak duduk di bangku SMP, saya sudah mengidolakan seorang penyanyi dan bintang film berinisial JL, yang berasal dari Taiwan. Saya berpendapat bahwa JL adalah cowok terganteng sedunia. Sayangnya, pendapat ini langsung disanggah dan dibantah habis-habisan oleh teman-teman saya! Karenanya saya lantas menggantinya dengan ‘cowok terganteng se-Asia’. Sebetulnya ini pun masih dibantah, tapi saya memutuskan untuk tetap keukeuh.

Namun belakangan ini, saya merasa bahwa saya telah salah memilih bintang idola. Memang betul, si JL ini guantengnya amit-amit, bahkan di usia 37 tahun saat ini. Namun prestasinya begitu-begitu saja, tidak berkembang. Berbeda dengan rekan-rekan seangkatan JL, di mana beberapa ada yang sudah sukses, dan merambah dunia musik serta film internasional.

Salah satunya, sebut saja si TK. Pada tahun 90-an, TK dan JL sama-sama masih remaja, dan main dalam film-film konsumsi remaja (yang aktingnya banyak haha-hihi, serta mengedepankan kegantengan fisik).

Namun prestasi TK terus melejit. Ia berperan dalam beberapa film yang juga diperlombakan di Cannes. Sejumlah penghargaan diraih. Aktingnya kian mantap. TK juga mendapat peran utama dalam film bagus macam The Red Cliff, misalnya. Dalam bidang menyanyi pun, suara si TK juga makin bagus, makin matang.

Bagaimana dengan JL? Beberapa tahun lalu saya menonton film silat seri terbaru yang dibintangi oleh JL. Aktingnya masih begitu-begitu aja, perannya masih tipe-tipe yang haha-hihi, dan mengedepankan kegantengan fisik. Jalan cerita filmnya pun cukup membosankan dan mudah ditebak.

Saya juga sempat membeli CD terbaru JL (nitip sama teman yang saat itu tinggal di Taiwan). Tipe lagu-lagu, serta kualitas suaranya, masih saja seperti yang dulu. Tidak ada perkembangan yang berarti. Ohya, JL sempat menekuni bidang balap mobil dan meraih sejumlah prestasi. Tapi kini tidak ada kelanjutannya lagi.

Dalam hati, saya merasa kecewa. Salahkah saya dalam memilih bintang idola? Kenapa dulu saya tidak mengidolakan si TK saja ya?

Muncul pula satu pemikiran horror yang membuat bulu kuduk saya berdiri. Bagaimana kalau saya senasib dengan JL? Mandeg, tidak berkembang, dan hanya begitu-begitu saja, dalam profesi yang saya tekuni.

Saya pernah berprofesi menjadi guru. Namun pada satu titik, saya merasa tidak bisa berkembang dalam bidang pendidikan, dan lantas melirik bidang lain. Pilihan saya jatuh pada media, yaitu televisi. Namun akhir-akhir ini, perasaan yang sama mulai mengusik. Saya tidak berkembang di bidang ini.

Saya pernah menekuni studi bahasa Mandarin selama 3 tahun. Namun sekarang bisa dibilang  sudah lupa semuanya.

Saya pernah menekuni vokal klasik selama 4 tahun. Namun kini terpaksa berhenti dulu (wah, kalau yang ini, jangan sampai hilang!!! Harus terus berlatih dan menyanyi sesering mungkin!!! Kalau ada yang butuh solis untuk Ave Maria Bach-Schubert-Caccini di gereja misalnya, atau lagu-lagu sejenis, hubungi saya ya, free of charge^^)

Dalam waktu dekat ini, diharapkan saya akan menjadi seorang ibu, profesi yang sama sekali baru. Saya hanya bisa ora et labora, agar dalam bidang yang satu ini saya bisa berhasil. Tidak ada kata ‘mandeg’, tidak ada kata ‘tak berprestasi’ ^^

Harus berhasil!!! Viva mothers…!!! ^^

Dedekius

Pagi-pagi, sudah ada yang berlatih Wing Chun di rumah kami. Ya, siapa lagi kalau bukan Dedekius. Sebetulnya, kami tidak pernah yakin benar apakah Dedekius sedang berlatih Wing Chun, atau melatih jurus ‘Tendangan Tanpa Bayangan’. Bisa jadi ia sedang berlatih ‘Pukulan Tanpa Bayangan’, ‘Pukulan Topan Badai’, ‘Kiu Yang Sin Kang’, atau jurus-jurus lain. Kami tidak tahu pasti. Wong latihannya di dalam perut, jadi tidak kelihatan, dan cuma bisa dirasakan.

Itu pun karena kebetulan saya penggemar film-film silat dan kungfu. Kalau saya penggemar balet misalnya, saya akan berpendapat bahwa Dedekius sedang melatih gerakan ‘Arabesque‘ atau ‘Brisé volé‘. Bagi penggemar sepak bola, boleh berpendapat Dedekius sedang berlatih menggiring bola, dan seterusnya.

Kadang-kadang, di hari Sabtu atau Minggu Dedekius bisa tenang sekali, hanya sedikit bergerak-gerak. Saya yang sempat khawatir lantas menanyakannya kepada dokter. Kata dokter sambil tersenyum, “yang ada di dalam sini orang lho, manusia, jadi bisa merasa capek.”

Hihihi, seperti orang kerja saja ya, hari Senin-Jumat aktif, hari Sabtu berisirahat. Mungkin kalau hari Sabtu, Dedekius sudah capek berlatih kungfu, jadi cukup les piano atau vokal saja ^^

Untunglah saya tidak gaptek-gaptek amat, dan bisa surfing di internet. Berkat internet, saya bisa tahu bahwa sebagian besar ibu mulai merasakan gerakan bayinya pada usia kehamilan 16-20 minggu. Karenanya, saat hamil 16 minggu, saya perhatikan betul kalau ada gerakan dari dalam perut.

Ternyata benar-benar ada!!! Mulanya samar-samar sekali, seperti kalau kita habis minum soft drink, lalu berasa ada yang greyel-greyel di dalam perut. Namun selama hamil saya bisa dibilang tak pernah minum soft drink (cuma pernah beberapa kali minta seteguk kalo adik saya baru minum). Jadi gerakan itu sudah pasti bersumber dari Dedekius!!!

Mula-mula saya menyombong pada Papakius. Dedekius sudah mulai nendang-nendang lho, tapi masih halus banget tendangannya, jadi cuma Mamakius yang bisa ngerasain. Papakius belum bisa, soalnya kalau dipegang dari luar, belum terasa. Kesannya eksklusif banget, bo ^^

Namun rupanya Dedekius tidak mengizinkan Mamakius berlama-lama menyombongkan diri. Suatu hari, saya kembali berkata keras-keras bahwa cuma Mamakius saja yang bisa merasakan tendangan istimewa ini.

Tepat keesokan harinya, saat sedang mengelus-elus perut, tiba-tiba terasa sebuah gerakan kecil. Wow, tendangan Dedekius sudah bisa dirasakan dari luar! Cepat-cepat saya panggil Papakius, dan menyuruhnya memegang perut saya. Seolah hendak memberitahukan keberadaannya, Dedekius kembali menendang! Kali ini Papakius bisa ikut merasakan! Betapa senangnya!!! ^^

Ah, tendangan kecil yang menyejukkan ^^

Bisa jadi itu bukan tendangan, melainkan pukulan, atau sikutan. Tapi tidak apa, kita pakai istilah universal saja, yaitu tendangan. Soalnya, jarang sekali ada yang bilang pukulan atau sikutan bayi.

Sebagai manusia yang fana (halah!), banyak sekali yang saya khawatirkan dalam hidup ini. Bagaimana ya, kalau harga cabe keriting terus naik? Bagaimana kalau timnas kita loyo terus? Kok Komisi Delapan bisa gak punya email resmi? Kenapa ada orang yang suka menanam bom? Bukankah menanam pohon duren lebih menguntungkan? Udah lama nggak ikut koor atau les vokal nih, masih bisa nyanyi nggak ya? Teater Koma masih akan melanjutkan pementasan Sie Jin Kwie 3 tahun depan atau tidak? Bagaimana soal penyelesaian pajak film asing? Dan yang paling penting, Harry Potter 7B main di bioskop-bioskop kita nggak? Juga Pirates of Carribean 4: On Stranger’s Tides? Itu kan 2 film yang masuk kategori ‘wajib tonton’?

Hanya dibutuhkan satu tendangan kecil untuk menghilangkan kekhawatiran-kekhawatiran di atas. Tung! (dulu tendangnya masih ringan-ringan saja). Dung! (tendangannya makin kuat). Jedung! (wow, tenaga dalamnya sudah banyak kemajuan). JEBUNG! (iya deh, nanti dibeliin tiang kayu yang khusus buat latihan Wing Chun ya… ^^)

I have nothing to worry about, now that I have you… ^^

(ditulis dalam rangka bersyukur, hari ini kehamilan Mamakius genap 28 minggu alias 7 bulan) ^^

Sekelompok biarawati Katolik (berjumlah 4 hingga 6 orang, saya lupa pastinya berapa ^^) diberikan tiket untuk menonton ‘Sie Jin Kwie Kena Fitnah’, produksi ke-122 Teater Koma, yang dipentaskan tanggal 4-26 Maret 2011 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM).

“Bagus lho,” kata si pemberi tiket yang entah siapa. “Suster mau nonton?”

Tawaran ini tentu saja disambut baik oleh para biarawati dari Tarekat CB (Carolus Borromeus) tersebut. Jadilah, pada petang hari tanggal 26 Maret, para suster ini berangkat dari tempat bertugas mereka, yaitu RS St. Carolus di Jakarta Pusat, menuju ke TIM. Sarana transportasi yang digunakan pun cukup unik, yaitu menumpang mobil ambulans yang kebetulan hari itu rutenya memang melewati kawasan Cikini!!!

Jangan tanya kepada para suster ini, nantinya mereka akan pulang naik apa. Mereka sendiri juga belum tahu pulangnya bagaimana. Namun justru itulah kelebihan orang beriman. Nonton teater, ya nonton saja.  Tuhan sendirilah yang akan menjaga dan mengantar mereka sampai ke rumah dengan selamat.

Benar saja. Begitu menapakkan kaki di teras GBB, seorang pria muda langsung menyapa seorang suster, dengan heran bercampur gembira. “Lho, suster…??? Nonton sama siapa saja? Kok kebetulan bisa barengan? Nanti pulangnya bagaimana? Saya anterin aja ya…???” dan seterusnya. Demikianlah, akhirnya para suster dapat menonton teater dengan tenang, karena sudah ada yang menjanjikan akan mengantar mereka pulang.

Rupanya pria muda ini adalah keponakan salah seorang suster. Teater Koma berpentas selama kurang lebih 3 minggu. Tanpa janjian dulu, tante dan keponakan ini menonton pada hari yang sama. Kebetulan yang lumayan juga ya ^^

Tuhan bekerja dengan cara yang misterius, begitu kata orang. Kalau boleh saya tambahkan, Tuhan juga bekerja dengan cara yang sangat hati-hati dan terencana.

Ada seorang penggemar fanatik yang suka mengajak orang-orang pergi menonton pertunjukan Teater Koma. Sebab, menurut seorang pemain teater favoritnya, mengajak orang nonton teater itu adalah tugas mulia, hehe… ^^

Sekitar bulan Oktober tahun 2010, si penggemar fanatik mendapat orang baru yang potensial untuk diajak menonton. Si orang baru ini tertarik, lantas mengajak suaminya. Suaminya adalah keponakan si suster tadi.

Mengenai tanggal 26 Maret, sebenarnya si penggemar fanatik ingin mengajak rombongannya menonton lebih awal. Kalau bukan weekend tanggal 12-13 Maret, ya tanggal 19-20 Maret. Tapi adik si penggemar fanatik tidak bisa, karena pada dua weekend tersebut dia harus menghadiri outing bersama rekan-rekan kantornya, dan menjadi panitia dalam sebuah retret. Jadi, satu-satunya pilihan, ya Sabtu tanggal 26 Maret.

Setelah semua faktor prithil-prithil di atas digabungkan, hasilnya adalah: para suster mendapatkan tumpangan untuk pulang ke rumah ^^

Begitulah cara Tuhan bekerja. Hebat ya ^^

Nyinyir, barangkali memang sudah mendarah daging dalam diri saya. Barangkali itu pulalah yang menjadikan saya seorang debater (baca: third speaker) yang lumayan baik beberapa tahun lalu… eh, sebenarnya sih lebih dari 10 tahun lalu (oh masa-masa indah itu, saat saya masih sangat muda dan begitu berapi-api) ^^

Kembali ke nyinyir, saya baru saja membaca tulisan yang berbunyi ‘schedule cleaning fridge‘. Sekilas terlihat keren karena menggunakan bahasa Inggris. Kalau ditulis ‘jadwal membersihkan kulkas’, apa kerennya? Tapi sayang, meskipun terkesan keren dan bernuansa internasional, namun grammar alias tata bahasanya salah kaprah.

Mungkin penulisnya menggunakan kosakata bahasa Inggris, namun ia masih berpikir dengan tata bahasa Indonesia. Jadilah ‘jadwal membersihkan kulkas’ diterjemahkan kata demi kata, menjadi ‘schedule cleaning fridge‘. Padahal yang benar justru kalau dibalik menjadi ‘fridge cleaning schedule‘.

Dalam tulisan tersebut, ‘schedule‘ adalah kata benda, sedangkan ‘fridge cleaning‘ berfungsi sebagai keterangan untuk menjelaskan tentang si kata benda. Perlu diingat, dalam bahasa Inggris, strukturnya adalah MD (menerangkan-diterangkan). Sedangkan struktur bahasa Indonesia adalah DM (diterangkan-menerangkan).

Selain itu masih ada tulisan lain yang berbunyi ‘only staff‘. Padahal yang betul semestinya ‘staff only‘ ^^ Menurut saya, kalau memang tidak paham betul, tidak perlulah menuliskan segala sesuatu dalam bahasa Inggris. Kecuali kalau kita terpaksa, harus, dan kudu berkomunikasi dengan pihak asing. Pada saat itu, bahasa Tarzan pun jadi! ^^

Tidak sulit kok, untuk mencari tahu tata bahasa Inggris yang benar. Ketik saja kata yang dimaksud ke dalam Google search… dan voila…!!! Anda akan langsung tahu bahwa yang benar adalah ‘staff only‘, bukannya ‘only staff‘ ^^

Sejak kapan persisnya, saya tidak ingat. Namun yang pasti sudah bertahun-tahun ini saya merasa ‘gatal’ bukan main, setiap kali melihat tulisan ‘DI JUAL’ di depan rumah atau mobil, yang memang hendak dijual. Karena kata ‘di jual’, jelas-jelas salah tata bahasanya.

Yang benar adalah ‘dijual’. Antara ‘di’ dan ‘jual’ harusnya disambung, tidak usah dipisah atau diberi spasi.

Pada saat itu saya hanya menyabarkan diri dan berpikir, bahwa yang menulis ‘DI JUAL’ kemungkinan besar adalah makelar yang hanya mementingkan penjualan (sehingga tidak sempat mengindahkan tata bahasa), atau orang yang kurang berpendidikan, sehingga tidak memahami tata bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Namun lama-kelamaan kesalahan semacam ini kian mewabah. Sekarang, di mana-mana kita bisa menjumpai kesalahan serupa. Bahkan di tayangan televisi nasional sekali pun!!! Padahal, tayangan televisi nasional disaksikan oleh seluruh rakyat Indonesia.

Dalam program-program berita, biasanya kesalahan semacam ini cukup jarang terjadi. Mungkin karena orang-orang di balik layar program berita cukup paham akan tata bahasa yang benar.

Tapi coba saja tonton program-program di luar program berita. Kalau Anda termasuk orang yang (setidaknya berusaha untuk) mematuhi kaidah-kaidah berbahasa, Anda akan merasa supeeerrr gataaalll…!!!

Mengherankan, karena orang-orang yang bekerja di stasiun televisi, khususnya yang bertugas menuliskan kalimat-kalimat yang muncul di layar televisi, mestinya adalah orang yang berpendidikan. Minimal Diploma 3, atau bahkan S1, S2 dan selanjutnya.

Saya hanya khawatir, jika kian hari kian banyak orang yang meniru kesalahan berbahasa tersebut, tanpa menyadari bahwa mereka salah. Karena mereka toh, hanya meniru yang dilihat di layar televisi.

Saya sering membuka kompas.com, yang merupakan situs berita favorit saya. Tulisan dari Kompas sih, nyaris tak pernah salah soal di-di-an ini. Tapi coba lihat bagian surat pembaca, atau komentar pembaca yang ada di bawah setiap berita. Bisa dibilang, 90% tidak bisa membedakan di rumah dengan dirumah, dijual dengan di jual. Apa peduliku? Mungkin begitu pikir mereka…

Betapa beratnya tugas para guru bahasa Indonesia kalau begitu…!!!

Sebenarnya, membedakan apakah ‘di’ harus disambung atau dipisah dengan kata yang mengikutinya, juga SANGAT MUDAH. Tidak perlu pendidikan yang terlalu tinggi atau otak jenius.

Jika di ditambah dengan kata kerja, maka penulisannya harus disambung. Misalnya dijual, dibeli, diperjualbelikan, dikembalikan, dicari, disimpan, dipercantik, dipertimbangkan, dan lain sebagainya.

Jika di ditambah dengan keterangan tempat atau keterangan waktu, maka penulisannya harus dipisah. Misalnya di rumah, di kantor, di kursi, di meja, di atas, di bawah, di balik pintu, di seberang jalan, di hatimu (ini biasanya ditemukan dalam syair lagu ^^), di sore hari, di pagi hari, dan lain sebagainya.

Mudah kan? Memang mudah kok. Persoalannya hanyalah: orang mau peduli atau tidak, dan mau mengupayakan yang benar atau tidak ^^