Feeds:
Posts
Comments

Archive for June, 2011

Jujur oh jujur…

Kisah Ibu Siami dan putranya Alif, yang menjunjung tinggi kejujuran, namun malah diusir dari kampung, sungguh miris. Sekolah semestinya dijadikan tempat untuk mengajarkan dan melatih kejujuran. Ini kok malah sebaliknya.

Saya jadi teringat saat hendak masuk SMA dulu. Nggak segawat pengalaman Si Kecil Alif sih, tapi masih ada sangkut-pautnya dengan kejujuran, dan cukup membuat bingung.

Waktu itu, untuk masuk ke SMA saya, calon murid harus menjalani 2 jenis tes. Yang pertama adalah tes mata pelajaran biasa seperti matematika, bahasa Inggris, dan sebagainya. Yang kedua adalah tes wawancara.

Nah, alih-alih mencari tahu seputar kepribadian, watak, dan sebagainya, tes yang kedua ini berfokus pada menyelidiki latar belakang keluarga dan ekonomi si calon murid. Tujuannya untuk menetapkan, seberapa besar uang pangkal yang harus dibayar oleh calon orang tua murid, kalau anaknya diterima masuk ke sekolah ini.

Sudah menjadi rahasia umum (terutama bagi anak-anak dari kota saya yang sudah banyak mendapat masukan dari kakak-kakak senior), bahwa dalam tes wawancara ini, kita bahkan dianjurkan untuk berbohong.

Jangan mengaku kalau di rumah ada sambungan telepon, jangan mengaku kalau punya pesawat TV, pemutar kaset video, kulkas, apalagi mobil. Jangan mengaku kalau orang tua kita punya toko atau tempat usaha lain (yang kemungkinan akan dipandang bonafid). Mengakulah bahwa keluarga kita semiskin dan sesederhana mungkin, agar uang pangkal ringan, dan uang sekolah selama 3 tahun juga ringan. Begitu nasihat kakak-kakak senior.

Namun apa boleh buat, sejak kecil orang tua sudah mengajarkan kepada saya untuk jujur. Apalagi saat itu sudah tahun 1993. Negeri kita sedang sedang maju-majunya. Mana ada orang yang percaya kalau dibilang di rumah kita tidak ada pesawat TV?

Selain itu, orang tua juga tidak menginstruksikan saya untuk berbohong. Mereka hanya berpesan, hati-hati kalau menjawab, jangan sampai terlihat seperti anak orang kaya. Jadi saya pikir, jawab apa adanya saja. Toh saya memang bukan anak orang kaya kok. Mestinya sih, tidak akan dibebani uang pangkal dan uang sekolah berlebihan.

Namun di luar dugaan, uang pangkal yang harus dibayar oleh orang tua saya ternyata cukup besar. Lebih besar dari uang pangkal seorang teman saya, yang bapaknya bisa disebut juragan bapak saya (kalo dilihat dari skala usaha yang dijalankan). Uang pangkal ini tidak bisa ditawar-tawar lagi, karena ditentukan berdasarkan hasil tes wawancara.

Merasa penasaran, orang tua saya lantas menghubungi seorang bapak guru senior, sebut saja Bapak C. Bapak C ini dulunya adalah guru SMA bapak saya (sampai sekarang masih berhubungan baik dan cukup akrab). Saat itu, Bapak C sudah punya jabatan tinggi di beberapa sekolah dan universitas di kota Y. Termasuk SMA saya. Karenanya, beliau punya wewenang untuk melihat hasil tes wawancara di SMA saya.

Setelah melihat hasil tes wawancara, dan membandingkan hasil tes saya dengan teman saya (yang bapaknya adalah juragan bapak saya), Bapak C lantas menghubungi orang tua saya.

“Pantes uang pangkalnya tinggi. Anakmu kuwi bodho” (Anakmu itu bodoh)

“Anakmu mengaku orang tuanya punya toko sepatu dengan 2 karyawan. Ibunya punya usaha sampingan membuat makanan kecil, dengan dibantu oleh tenaga beberapa orang pembantu rumah tangga. Karena itu orang tuanya dinilai mampu untuk membayar uang pangkal sebesar ini.”

Lantas, bagaimanakah kira-kira jawaban teman saya (yang bapaknya bisa dibilang juragannya bapak saya itu)?

“Nah, kalo temennya ini pinter. Dia mengaku orang tuanya punya toko kelontong kecil, dengan 1 karyawan, tidak punya pembantu rumah tangga, dan tidak punya usaha sampingan. Karena itu, uang pangkalnya lebih ringan.”

Waktu itu saya tidak terlalu peduli akan perbedaan uang pangkal yang harus dibayar oleh saya maupun teman saya. Saya tidak merasa iri. Wong bedanya juga nggak fantastis-fantastis amat kok. Lagipula dia adalah teman baik yang sangat saya sayangi.

Apalagi SMA ini cukup ketat menyeleksi calon murid. Ada beberapa teman dari SMP saya yang tidak diterima, meski bersedia membayar. Jadi, diterima saja saya sudah sangat bersyukur. Selain itu, toh orang tua saya juga masih sanggup dan bersedia membayar. Jadi tidak ada masalah.

Tapi saya sedih… karena dibilang bodoh. Apakah berkata jujur sama dengan bodoh…???

Advertisements

Read Full Post »