Feeds:
Posts
Comments

Archive for July, 2008

Mbak yang itu

Biasanya ia tiba sekitar pukul sembilan pagi. Sudah termasuk telat tentunya, dan tunjangan kinerja dipotong (pastinya), namun ia tak pernah ambil pusing. Setelah menyapa rekan-rekan kerja dengan senyum manis dan suara renyah, laptop dikeluarkan, dan mulailah kegiatan bekerja untuk hari itu. Biasanya kegiatan bekerja ini berlangsung tanpa henti, hanya diselingi istirahat makan siang selama sejam, dan rata-rata berlanjut hingga pukul tujuh hingga delapan petang setiap harinya.

Pertama kali aku melihatnya di layar kaca salah sebuah televisi nasional. Saat itu di kantor sudah tersiar kabar bahwa mbak yang satu ini nantinya akan pindah ke stasiun televisi lokal tempat kami bekerja. Maka siang hari itu, ketika sedang menonton berita di televisi nasional tersebut dan nama presenter dimunculkan, aku langsung berpikir, oh mbak ini tho, yang akan masuk ke kantor kami.

Beberapa waktu kemudian mbak yang cantik dan cerdas ini benar-benar muncul di kantor. Masih lekat di ingatan, saat itu mbak yang logatnya agak medhok ini terheran-heran melihat puluhan karyawan antre sekedar untuk menggoreskan tanda tangan di buku absen, sehabis mengikuti ceramah Master. Beberapa waktu kemudian gantian kami yang terheran-heran ketika si mbak yang gigih ini berhasil meyakinkan para atasan bahwa tidak pada tempatnya apabila karyawan diwajibkan menghadiri acara ceramah pagi tersebut. Kewajiban menghadiri ceramah pun dihapuskan.

Mbak yang punya banyak keahlian ini adalah guru bagi kami semua (terutama yang berada dalam divisi yang ia pimpin). Membimbing reporter dan kamerawan yang telah terbiasa membuat berita singkat 1,5 hingga 2 menit, untuk beralih ke berita feature yang berdurasi 5 hingga 12 menit (atau bahkan lebih), tentunya bukan hal yang gampang. Membuat program feature harian berdurasi 24 menit dengan anak buah minim. Pun melatih seorang yang cadel, medhok, sekaligus tidak percaya diri untuk menjadi anchor. Percayalah, pasti tidak gampang!!!

Nyatanya, semua itu bisa ia wujudkan. Hebatnya lagi, mbak yang memiliki dua puteri kecil ini mampu mewujudkan semua itu tanpa tangan besi. Cukup dengan diskusi, tutur kata halus, canda segar, serta nada suara penuh pengertian. Tanpa memaksa. Tanpa mengintimidasi. Tanpa mengeluh, seluruh anak buah akan bergerak sesuai jalan yang telah disepakati. Sayangnya, mbak yang pernah berprofesi sebagai penyiar radio ini tidak berjodoh terlalu lama dengan kantorku. Dua tahun cukup.

Pernah kudengar komentar seseorang, ‘biarin aja dia keluar, toh nggak ada hubungannya dengan divisi gue.’

Aku langsung merasa kasihan pada orang ini. Rupanya selama dua tahun si mbak bekerja di sini, tak ada satupun yang ia pelajari darinya. Maklumlah, ia berasal dari divisi yang berbeda, hampir-hampir tidak ada sangkut pautnya dengan mbak yang dinamis itu.

Tiba-tiba aku merasa jauh lebih beruntung. Dua tahun si mbak berkarya di sini, begitu banyak yang aku pelajari. Dua tahun pula aku dan rekan-rekan sedivisi menjadi spons, siap menyerap segala ilmu pengetahuan yang si mbak lontarkan. Ada yang sudah menuai prestasi, ada juga yang belum. Namun satu hal sudah pasti. Mbak yang kini bekerja di sebuah televisi swasta nasional ini telah menyirami bibit-bibit kecil, yang kini telah tumbuh menjadi pohon. Maka, mbak yang piawai menyetir mobil ini tak perlu khawatir. Karena pohon-pohon hasil semaiannya akan terus memperkuat akar dan tumbuh tinggi.

Dengarlah gemerisik daun-daun ditiup angin, mengucap sebaris kata “terima kasih”.

Advertisements

Read Full Post »

Sejak kecil, kita sudah diajari untuk takut, menjauhi, bahkan membenci mahkluk yang bernama ular. Iblis menyamar sebagai ular dan menjatuhkan Adam dan Hawa ke dalam dosa. Di pelbagai dongeng yang pernah kubaca sewaktu kanak-kanak, karakter ular digambarkan tak jauh berbeda. Di buku Harry Potter pun sama. Ular adalah hewan yang jahat, licik, selalu punya itikad buruk terhadap manusia.

Pandangan seperti ini sebetulnya tidak benar. Kalaupun dulu iblis menyamar jadi ular, tetap saja iblisnya yang jahat, bukan ular. Ular cuma dijadikan kedok. Kalau saat itu iblis menyamar jadi anjing, akankah kita membenci sahabat manusia itu? Ular pun bisa menjadi sahabat manusia. Kalau kita bertanya pada pak tani, ular adalah sahabat, penolong yang setia memangsa hama tikus.

Nah, bila kita tanggalkan pandangan lama kita terhadap ular (beracun, jahat, licik), maka yang tersisa adalah seekor reptil biasa yang kegiatannya hanyalah makan, minum, tidur, buang air, dan sebagainya, tak jauh berbeda dengan hewan lain. Mengenai bisa ular, ada fakta yang cukup menenangkan. Dari sekitar 400 spesies ular yang hidup di Indonesia, hanya sekitar 20 spesies saja yang berbisa.

Belum lama ini, dua orang teman di kantorku membeli dan memelihara ular. Sebagai penyayang binatang, aku tidak tinggal diam. Melihat ular dari dekat, termasuk membelai sisiknya yang halus dan licin, kemudian meningkat ke menggendong dan berfoto bersama (narsistik abiz), terbersit dalam benakku, ular pun berhak untuk dicintai. Lidah yang menjulur-julur, bila diamati terkesan lucu, jauh dari menyeramkan. Begitu pula sepasang mata yang tak pernah berkedip. Belum lagi sisiknya yang indah, bermotif, dan berwarna-warni. Sungguh, ular adalah binatang yang cantik dan lucu sekali! Jujur, sempat terpikir olehku untuk ikut memelihara ular. Hewan satu ini tidak bersuara, dan suka berbaring melingkar tenang-tenang dalam kandang. Ular hanya perlu diberi makan 2 minggu sekali. Pokoknya tidak berisik, tidak bau, dan tidak merepotkan.

Namun yang menjadi masalah adalah makanannya. Sebagai binatang peliharaan, ular tidak bisa diberi pet food siap beli dari supermarket. Tidak doyan pula makanan siap masak seperti ayam goreng, misalnya. Ia hanya suka makanan yang masih “hidup”. Biasanya ular diberi makan tikus putih atau anak ayam oleh pemiliknya.

Itulah yang menjadi persoalan. Tikus putih? Aku sangat suka melihat si kecil yang lincah dan lucu ini. Anak ayam? Terbit rasa iba di hati setiap kali melihat wajahnya yang polos tanpa dosa. Tegakah aku menyediakan, atau mengumpankan tikus putih dan anak ayam untuk dimakan ular? Jawabannya tidak.

Karena itu, aku tidak akan pernah bisa memelihara ular. Paling banter, cuma pinjam si Chiko sebentar (imut banget namanya) untuk diajak bermain-main dan foto bersama. Chiko yang manis, lihat ke kamera ya… klik!!!

Read Full Post »

Moentilan poenja NGOTB

Siang hari itu, seorang pembantu rumah tangga memasuki sebuah toko kecil yang menjual sepatu. Sebuah buku tulis dipegangnya erat.

“Permisi Mas, di sini betul rumahnya Joe?”

Pegawai toko yang ditanya mengernyitkan keningnya, heran. “Joe?”

“Iya, saya disuruh nganter buku ini ke Joe, katanya rumahnya di toko sepatu M… betul di sini ya?”

“Ini betul toko sepatu M… tapi ndak ada yang namanya Joe…”

Untung siang hari itu aku sedang kebagian jatah menjaga toko.

“Oh, yang dimaksud saya mbak.” Kataku sambil nyengir, mirip dengan shio-ku, kuda. “Mbak nganterin buku catatan Biologi dari si Jon ya?”

Kini gantian si mbak yang mengernyitkan kening. “Jon…?”

“Oh, yang saya maksud, temen sekolah saya, si HN…” Cepat kukoreksi ucapanku.

“Iya, bener.” Si mbak tersenyum, lega. Lantas pamit pulang.

Sekitar tahun 1991-1993, begitulah nama panggilanku, Joe. Diambil dari anggota NKOTB alias New Kids On The Block yang sedang ngetop-ngetopnya saat itu. Selain aku ada lagi 3 orang sahabatku yang mengadopsi nama anggota NKOTB pujaan. Ada Jon (HN), Jordan (FD), dan Donnie (LAS). Kami berempat mengklaim diri satu geng, geng yang terbentuk dari satu kekaguman yang sama, terhadap cowok-cowok kece dari Boston.

Geng kami jauh dari kekerasan lho, tidak seperti geng Nero dari Pati http://www.antara.co.id/arc/2008/6/13/anggota-geng-nero-ditangkap-polisi/

Meskipun nge-geng, namun toh keempat warga Muntilan ini tidak lantas membatasi diri bergaul dengan teman-teman se-geng saja. Justru setelah membentuk sebuah geng yang dikenal luas di seantero SMP Marganingsih Muntilan, keempat warga negara yang cinta negeri ini makin buanyak teman. Sebab, sejak bergabung dalam NGOTB, beberapa anggota yang tadinya malu-malu dalam berteman, menjadi putus urat malunya, terbawa anggota lain yang memang pada dasarnya sudah banyak teman.

Banyak kenangan indah yang terjadi pada masa-masa itu. Mulai dari kebiasaan iseng surat-suratan di kelas pakai kertas kalender sobekan bekas (selalu di-supply oleh Jon). Kebetulan pada saat kelas 2 SMP, keempat cewek nan kece ini duduk di kelas yang sama. Teknik mencontek terkini pun selalu di-share bersama dengan Donnie sebagai penggagas utama teknik-teknik mencontek yang canggih lagi mutakhir sehingga tak pernah ketahuan oleh guru!!! Belum lagi menyelamatkan Jordan (yang begitu kece sehingga banyak penggemar) dari serbuan cinta seorang fans yang rada annoying. Terakhir, si Joe paling pendiam, penakut dan alim, namun pernah menentang seorang cewek preman sekolah yang berani menghina NKOTB (weleh, weleh!)

Boys come and go, friends last forever, begitu barangkali semboyan kami waktu itu.

Hingga saat ini anggota New Girls On The Block masih bersahabat, meski jarak dan waktu memisahkan. Yang paling dekat jaraknya (dihitung pake penggaris 30 cm) adalah Joe yang tinggal di Tanjung Duren, Jakarta Barat dan Donnie (beserta suami) di Bintaro, Tengerang. Jon (beserta suami) kini membuka usaha sendiri di Comal, Jawa Tengah. Sedangkan Jordan, kini tengah berusaha menggapai cita-citanya sebagai seorang flight attendant di SQ. Tadinya Jordan sempat menyelesaikan kuliah di Yogya, lalu lanjut kuliah dan bekerja di Sydney, kemudian pindah bekerja ke Auckland! Kini demi menggapai cita, Jordan sementara mondar-mandir dulu antara Auckland-Muntiland-Jakartaland.

Ohya, Joe selalu beli pulsa dari Jon. Enak dan praktis beli dari teman sendiri, tinggal sms minta dikirimi, lalu uangnya ditransfer. Kadang Joe lupa transfer (atau lagi bokek?), sampai Jon harus mengingatkan via sms, haha… :p

Begitu jauh, namun begitu dekat. Luph ya all, girls…!!!

*ditulis untuk Lena, Henny, Pepe, dan aku sendiri…!!!*

Read Full Post »

“What’s your name?”

Being asked by a gorgeous blue-eyed guy, though simple was the question, it caused a totally different effect.

I could hardly answer it, for the brilliant blue eyes looking straight at me felt like magic.

Joe

After a second or two, I was finally able to say my own name. I spelled it carefully for the gorgeous blue-eyed guy since my name comes from the Sanskrit language (it means Peace :p), and it mustn’t be familiar for a Caucasian like him.

He then wrote, “Dear … (name), nice work!” He added his signature, observed the paper once more, then handed it to me. We shook hands, and off I went.

I was lucky to spend at least a minute with Joe McIntyre, the gorgeous blue-eyed guy. Other girls only got a few seconds each. The memorable minute didn’t come easily, though. Sacrifices had to be made the day before. I spent hours to draw a portrait of Joe using 2B and 4B pencils. I finished the portrait around 3 a.m. and went to bed immediately. It had been years since the last time I drew portraits, that’s why it took so long just to finish one :p

The following morning, around 9 a.m. I was ready to queue at Tarra Megastore (no longer exist), Taman Anggrek Mall :p

Joe arrived at 3 p.m. Around 300 fans were allowed to get Joe’s signature, one for each person.

I handed the portrait for Joe to sign. He took the portrait, observing it closely. Smile was on his face. He showed the portrait to his bodyguards for a while. It took around one minute, gave me enough time to look closely at the pop singer from New Kids On The Block I have adored since 1990! Seemed satisfied, Joe asked me my name, signed the portrait, we shook hands, and off I went…

Joe only needed one minute to observe the portrait that would soon slip out of his mind, but on the other hand I was granted with one memorable minute I would never ever forget!!!

gambar yang sebetulnya tidak mirip

gambar yang sebetulnya tidak mirip

tanda tangan Joe

tanda tangan Joe

Read Full Post »