Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘My best writings’ Category

Pernahkah engkau mensyukuri setiap jerawat yang muncul di wajahmu? Mula-mual yang dirasakan nyaris sepanjang waktu? Atau perasaan mudah lelah sehingga harus beristirahat setiap beberapa jam sekali? Naik-turun tangga dan bergerak serba pelan seolah menderita encok?

Aku pernah!!!

Jerawat, mual-mual dan mudah capek ternyata sangat mudah disyukuri, karena hal itu mengingatkan akan si mungil yang sedang bertumbuh dalam rahimku. Setiap kali ada jerawat baru muncul, aku bersyukur karena konon (entah benar atau tidak), jerawat banyak bermunculan akibat hormon tertentu semasa kehamilan. Tidak semua ibu hamil mengalaminya, sih. Namun aku mengenal beberapa orang teman yang jerawatan semasa hamil, lantas wajahnya kembali mulus beberapa bulan setelah melahirkan!

Semasa mengandung, aku tidak pernah jauh-jauh dari sebotol minyak kayu putih (harus selalu ada di dalam tas, sama pentingnya dengan KTP atau ATM!) Pasalnya, aromanya lumayan ampuh untuk mengurangi rasa mual yang sering muncul.

Semasa mengandung pula, aku harus sejenak melepaskan khayalan menjadi seorang jago kungfu. Aku tidak lagi berlari menaiki tangga, atau melompat ke sana kemari seolah menghindari serangan musuh!

Setiap kali les vokal, berlatih vokal di rumah, atau bertugas menyanyi di gereja, aku selalu berbisik pada si kecil, dengar ya, Mama menyanyikan lagu ini untukmu ^^

Aku banyak membaca kisah-kisah Sherlock Holmes dalam bahasa aslinya, dengan harapan si kecil akan memiliki otak secerdas Holmes! Tapi kamu tidak harus menjadi detektif kok Nak, kalau kelak kamu ingin mengabdikan hidupmu untuk merawat orang utan misalnya, Mama tidak akan melarang. Yang penting kamu mencintai profesimu kelak, dan hidup berbahagia karenanya!

Demikianlah, setiap jerawat mengandung asa, mual-mual membuatku bahagia, dan pegal-pegal mengundang ceria!

Namun pada suatu hari Sabtu yang indah, ketika tiba jadwal kontrol ke dokter kandungan, segalanya berubah. Pada saat menimbang berat badan, aku sudah merasa sedikit cemas. Pasalnya, berat badanku tidak jauh berbeda dari 4 minggu sebelumnya. Kandunganku sudah berusia 14 minggu. Namun dilihat dari hasil USG, seperti baru berusia 12 minggu saja.

Yang lebih mengkhawatirkan, terdapat nuchal translucency (NT) sejauh 1,05 cm dari dinding rahim. Padahal menurut dokter, seharusnya NT tidak boleh lebih dari 1-2 mm saja. Berarti ada sejumlah besar cairan di belakang leher si janin, yang menandakan adanya kelainan bawaan. Tubuh si kecilku juga terlihat seperti diselubungi cairan.

Dokter lantas merujuk kami kepada dua orang seniornya, dosennya saat mengambil spesialis obstetri dan ginekologi dulu. Namun kedua dokter senior ini begitu sibuknya, sehingga aku baru bisa memeriksakan kandungan kepada salah seorang dokter, pada hari Kamis berikutnya. Itupun karena si dokter berbaik hati menyelipkan seorang pasien rujukan dalam jadwalnya yang padat.

Itulah 5 hari paling panjang dalam hidupku. Belum pernah aku merasa secemas itu. Tak henti-hentinya aku berdoa, ya Tuhan, berkatilah agar bayiku sehat dan normal. Kalaupun bayiku mengalami kelainan bawaan, biarlah kelainannya yang seringan mungkin. Misalnya polydactyly (memiliki jari tambahan). Dulu adik temanku mempunyai jempol tambahan, dan ketika sudah cukup umur, jempol tambahannya bisa dihilangkan dengan operasi. Jangan berikan ia kelainan bawaan yang berat ya Tuhan.

Namun pada hari Kamis, ketika diintip melalui USG di ruang praktek si dokter senior, jantung si mungil sudah berhenti berdetak.

Ia memang tidak akan sanggup bertahan hidup, kata dokter. Bisa bertahan selama 14 minggu saja sudah hebat.

Air mata mengalir karena sedih, kehilangan, rasa hampa, dan juga terharu. Kamu ingin bertemu dengan mama-papamu ya Nak? Karena itukah engkau berusaha bertahan hidup selama ini?

Namun kami yakin, apa yang ditakdirkan oleh Tuhan, tentulah yang terbaik. Ia begitu mencintai umat-Nya hingga rela berkorban di kayu salib. Begitu besar kasih-Nya, sehingga aku yakin, si kecilku tidak menderita, dan kini telah bahagia dalam pelukan-Nya. Kalau sampai bertahan hidup dan dilahirkan dengan kelainan bawaan yang berat, tentu ia akan sangat menderita.

Pada hari Rabu siang tanggal 23 Juni aku dikuret, dan berpisah dengan si kecil untuk selama-lamanya.

Selama-lamanya? Ah, belum tentu. Bisa jadi kami akan berkumpul kembali suatu hari nanti, di surga. Si kecilku tidak berdosa, dan bisa dipastikan mendapat tiket langsung. Tinggal bagaimana aku dan garwa (sigaran nyawa) serta anak-anak kami kelak menjalani hidup ini dan memanggul salib masing-masing. Bila kami sekeluarga sungguh-sungguh mengikuti jalan-Nya, tentu kami akan bisa berkumpul kembali nanti di surga.

Untuk sementara waktu, kuucapkan selamat tinggal pada si kecil. Sampaikan peluk dan cium dariku ya Tuhan. Aku tak bisa memeluk dan menciumnya, tapi Engkau pasti bisa.

Dokter meminta kami menunggu selama 3 bulan. Setelah itu, barulah aku boleh hamil lagi.

Aku bertekad, dalam 3 bulan ini aku harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Makan makanan yang bergizi, rutin mengkonsumsi asam folat, minum susu, mengurangi aktivitas agar bisa cukup beristirahat, pokoknya menganut gaya hidup sehat! Agar anak yang dikaruniakan pada kami nanti, dapat tumbuh dan berkembang dengan maksimal dalam tubuh seorang ibu yang sehat.

Memang kalau diingat-ingat, kehamilanku yang pertama baru diketahui saat usianya sudah 6 minggu. Selama 6 minggu itu kan aku tidak rutin minum susu, makan makanan yang bergizi, seringkali beraktivitas dari pagi hingga malam sampai kecapean, dan sebagainya. Aku yakin, orang harus belajar dari pengalaman. Segala yang terjadi kepada kita, pastilah mengandung hikmah. Tak boleh ada pengalaman yang sia-sia.

Dan yakinlah, Tuhan akan membuat segala sesuatu indah pada waktunya.

Selama ini aku banyak khawatir akan hal-hal yang remeh-temeh. Namun dalam kehadirannya yang amat singkat, si kecil telah membuatku sadar mengenai hal-hal yang paling penting dalam hidup ini. Yaitu rasa syukur terhadap seluruh karunia yang dilimpahkan Tuhan kepada kita. Dan kesehatan.

Kini jerawat di wajahku sudah mulai berkurang.

3 bulan lagi, berilah agar aku mengandung lagi ya Tuhan. Berkatilah agar bayiku yang akan hadir nanti sehat dan sempurna.

Jerawat dan mual-mual (atau bahkan muntah-muntah juga boleh, deh) serta pegal-pegal tidak menjadi masalah. Akan kujalani dengan penuh rasa syukur dan bahagia!!! ^^

Advertisements

Read Full Post »

Tuhan punya seekor kucing. Tidak usah dicari di Alkitab karena pasti tidak akan ketemu. Tapi aku yakin bahwa Tuhan pasti punya, setidaknya seekor kucing.

Kucing itu tadinya milikku. Aku yang memberinya nama, memberinya makan (kalau tidak sedang malas), aku pula yang mengajarinya trik berjalan di atas punggung manusia (seperti kucing sirkus). Kalau sedang iseng, aku belajar mengeong darinya. Suatu hari aku mampu mengeong dengan demikian miripnya sampai-sampai si kucing merasa perlu memanjat bahuku dan melongok ke dalam mulutku, untuk melihat apakah ada kucing lain di dalamnya. Wajahnya yang keheranan saat itu, masih terpatri di benakku.

Ada saja ulahnya yang membuat kami tertawa. Suatu malam, aku, papiku, dan encekku tengah menyaksikan sebuah film laga di televisi, ketika tiba-tiba terdengar bunyi … plas… gedebyurrr!!! Olala, ternyata si kucing tercebur ke dalam bak mandi! Tak pelak lagi si hitam mungilku basah kuyup. Khawatir si kucing jatuh sakit karena kedinginan, mamiku langsung mengeluarkan hair dryer. Namun suara bising mesin pengering rambut itu tidak disukai oleh si kucing. Ia memilih duduk diam di belakang kulkas, tempat yang senantiasa hangat. Untunglah bulunya segera kering.

Kucing itu melengkapi hidupku. Bila hari hujan, dan si kucing belum pulang dari bermain, betapa cemasnya hatiku! Aku akan menunggu di dekat pintu sampai sosok hitam mungil itu menerobos masuk, tentunya dengan tubuh yang basah. Si kucing yang menggigil kedinginan kemudian akan duduk di belakang kulkas, tempat favoritnya kalau sedang basah kuyup. Sampai-sampai terpikir olehku pada saat itu, bila suatu saat nanti aku bekerja sebagai tenaga penjual kulkas, akan kutambahkan satu poin penting pada daftar keunggulan produk lemari pendingin itu: “mampu mengeringkan bulu anjing/kucing Anda dalam waktu singkat, dijamin!

Suatu hari ia pergi. Begitu saja. Entah ke mana. Aku tidak (belum) khawatir. Memang kalau sedang musim kawin, si hitam mungil bisa menghilang berhari-hari tanpa pulang ke rumah.

Seminggu berlalu. Aku mulai khawatir. Biasanya ia tak pernah pergi selama ini. Paranoid kemudian menjadi nama tengahku. Setiap mendengar suara kucing, aku langsung pergi melihat. Ternyata bukan kucingku. Kucoba menghibur diri. Besok sepulang sekolah, si mungilku pasti sudah kembali. Namun hal itu tak pernah terjadi.

Kucingku tak mungkin kabur. Di rumah yang sederhana ini, ia disayang. Selalu diberi cukup makan. Ada pula kulkas penghangat badan. Tak satu hari pun berlalu tanpa belaian. Hidupnya bahagia bagai dalam negeri impian.

Maka, cuma ada satu kemungkinan.

Mulanya aku takut mendengar jawabnya. Namun akhirnya kuberanikan diri untuk bertanya.

“Lho, Figaro kan sudah dibuang…” jawab mamiku.

“Ingat tidak, terakhir kali melahirkan, kondisinya agak payah. Anak-anaknya juga mati semua. Lebih baik dibuang, biar kelak tidak merepotkan. Dibuangnya dekat pasar kok, jadi pasti tidak kekurangan makanan.”

Bagaimana caranya memberi tahu mamiku, bahwa aku sungguh sayang pada Figaro, dan bahwa rumah ini takkan terasa lengkap tanpanya? Aku tidak tahu. Yang kutahu, rasa sedih mulai gencar menyerang. Untuk mematahkan serangan rasa sedih, aku memulai proyek penelitian kecil-kecilan. Kuwawancara semua orang yang pernah punya pengalaman kehilangan kucing (atau membuang kucing), lantas kucingnya kembali. Kucing punya kemampuan navigasi yang hebat, kok.

“Setelah dibuang, seminggu kemudian ia sudah nongol lagi. Kucing selalu tahu jalan pulang ke rumah.”

“Kucingku butuh waktu sebulan untuk pulang. Soalnya kami buang ia ke kota sebelah, agak jauh, jadi butuh waktu cukup lama.”

“Tenang saja, kucingmu pasti kembali.”

“Kucingmu yang hitam-putih itu kan? Kayaknya aku melihatnya kemarin…”

9 dari 10 orang yang kuwawancara, mendapatkan kembali kucingnya. Ya, 9 dari 10. Yang 1 itu aku sendiri. Kucingku tak pernah kembali.

Sedikit pun aku tak pernah menyalahkan mamiku, atau siapa pun yang membuang kucingku. Aku hanya menyalahkan diri sendiri karena tak mampu lagi melindunginya. Memberinya sekadar tempat berteduh. Sudahkah ia makan hari ini? Di malam-malam turun hujan, bantalku ikutan basah. Tuhan, kucingku pasti kehujanan dan kedinginan di luar sana!

Berbulan-bulan aku menunggu. Dan terus menunggu.

Sampai akhirnya aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku harus mencarikan ‘pemilik baru’ untuk kucingku. Dan mengucapkan selamat tinggal.

“Tuhan, sekarang dia milikmu. Rawat dia baik-baik ya Tuhan. Hanya kepada-Mu aku mempercayakan kucing kesayanganku. Aku percaya Engkau takkan membiarkannya kelaparan atau kedinginan. Aku percaya Engkau mampu merawatnya jauh lebih baik daripada aku.”

“Figaro, kau milik-Nya sekarang. Aku masih berharap kau pulang. Tapi kalau tidak, minimal kau sudah punya Majikan Baru yang baik. Dia akan senantiasa melindungimu. Selamat tinggal.”

Aku teringat sebuah lagu yang diajarkan Suster di Taman Kanak-Kanak:

Burung pipit yang kecil

Dikasihi Tuhan

Terlebih diriku

Dikasihi Tuhan

Ah, tentunya kucing hitam yang lucu juga dikasihi Tuhan.

Read Full Post »

*Little children are like angels without wings. But if twenty of them are put in a class for you to teach, it turns out that some of them do have horns*

She was only six years old. She was the prettiest little girl I’ve ever seen, with brilliant black eyes and long black eyelashes. She was a daughter every mother would dream of. Everything about her can be described in one word only. Perfect!

She was standing in front of the class, shouting to her classmates.

“Everybody!!! Please be quiet and listen to Miss S****…!!!”

It had been a chaos from the very beginning. Not really from the very beginning, though. The class was quiet when the schoolteacher was still there. When the time had come for English lessons, the schoolteacher smiled at me and left. Actually I would rather have her in the class, because once she left, there would be chaos.

A very few students remained on their seats (mostly girls). The others were running around, shouting, chasing each other, quarreling, hopping on their tables, turning chairs upside down, throwing away friend’s belongings, just mention it.

What am I supposed to do? Well, since you are the teacher, I guess you should teach them. Welcome to the real world, my friend.

I had just graduated from faculty of education, English department, and I can speak a little bit of (hopefully) good English. But I wasn’t equipped with sufficient knowledge, as how to calm the second-grade-elementary students, and how to make them sit nicely and listen to the teacher’s words.

Like a statue, I was standing near the door, busy thinking of what to do next. And there she was, doing all she could to discipline her classmates. It was her responsibility because she was appointed to be the head of the class.

Well, I was the teacher. It was actually my responsibility. I should never burden the adorable little girl. I smiled, thanked her, and suddenly I felt my spirit rise! I’m the teacher, rite? I’ll do what I have to do.

I walked to the middle of the room with the smile still on my face, shouting as loudly as possible.

“WHO WANTS TO PLAY???”

Of course everybody WANTS to play!!!

Then we sang along together.

Row, row, row your boat, gently down the stream…

Merrily, merrily, merrily, life is just a dream… (2x)

Catch a fish, throw it away

Catch a fish, throw it away

Catch a fish… what is it?

It’s a shark!!!

The song ended, and the beautiful teacher (narsis amat seh!!! red.) suddenly grew her sharp teeth and became a vicious SHARK!!!

“Aaaaaaaa…!!!” The students ran away from the shark to save their lives. Some of them climbed the tables. Some of them stood on the chairs. But the shark managed to catch several students! Yummy…!

After 5 minutes or so, the teacher decided it was time to stop playing. She shouted once more.

“WHO’S TIRED???”

Of course, everybody was tired. The time had finally come to study.

“I have stickers for those who can sit nicely in five… four… three… two… one…!!!”

‘Sticker’ is a magic word. Everybody sat nicely in five seconds.

Thanks to the great LITTLE motivator. I should never give up.

*As rice paddy to Indonesian people, as stickers to teachers*

^^

Read Full Post »

red-squirrel-4He sneaked into my room through the little window in the dark of the night, and crept quietly under my blanket. Only his cute little snout could be seen.

If it were a cartoon movie, I would have dropped my jaw!

He whispered to me with his heavy breath.

“We’ve lost, we’ve lost the battle!”

Well, I was ‘lost’ as well, for I didn’t know what he was talking about.

“What battle?” I asked.

“The battle, for heaven’s sake! The battle against the pox virus, of course! Where have you been?” cried the little fella, frustrated. His twinkling little black eyes examined me carefully. Suddenly he jumped out of the blanket.

“Gosh, I’ve climbed into the wrong house! I have to go!”

But he didn’t. His eyes examined me once more.

“I’m so exhausted, I may not be strong enough to travel again. Well, you’re a human, right? And you look like a nice one… you won’t hurt me… will you? ‘Cause you’re so big and I’m so small”

“I would never hurt you,” said I. “You’re so cute! I have always wanted to see you! A British Red Squirrel??? In my room??? I’m not even in Britain right now!”

He looked a bit insulted. “I don’t think ‘cute’ is the proper word. But yeah, I am the British red squirrel.” His voice was weak.

“Can I offer you a drink or something? Some hazelnuts maybe?” He only smiled and shook his head faintly.

I noticed something wrong.

“There are lesions around your eyes… and your mouth is swollen… did anything bad happen to you recently?”

“It’s the pox.” Again he whispered as if unable to speak. Then he sat, with his back leaning on my pillow, and told me his sad story.

“There used to be a plenty of us in Britain. We were simply everywhere! Until the gray squirrels arrived from America over a century ago. They brought along something called pox virus. A virus that does no harm to them, yet threatens the lives of my kin! Once we are infected by that virus, a will must be prepared, a grave must be dug.”

The black eyes of his were then full of tears.

“The virus doesn’t kill us instantly. But it affects our health, causes lesions around our eyes and mouth. We cannot eat or drink. Thus we would starve to death in fifteen days.”

He forced a smile upon his face.

“You know something? It has been fifteen days since I got infected. Yea, fifteen. And I’m so tired.”

He closed his eyes.

“Where am I?”

“At a safe place,” said I. “Just go to sleep now, little dear.”

“Well, it’s a bit cold.”

“I’ll hold you.”

There I was, spending the night with the adorable little fella sleeping peacefully in my arms.

In the morning he had gone. What a strange dream. Maybe I’ve read too much Beatrix Potter.

May God help the scientists to develop a vaccine against the squirrel pox virus, and save the lives of the British red squirrels.

NB: The picture is taken from: http://en.wikipedia.org/wiki/Red_Squirrel

Read Full Post »

Setiap pagi, Kura-Kura Kecil berjalan kaki ke sekolah. Untuk tiba di sekolah yang berjarak satu kilometer dari rumahnya, kura-kura kecil membutuhkan waktu 2 jam berjalan kaki. Artinya, bila sekolah dimulai pukul tujuh, Kura-Kura Kecil harus berangkat tepat pukul lima pagi, agar tidak terlambat sampai di sekolah.

Suatu hari, terjadilah suatu kejaiban. Kura-Kura Kecil tiba di sekolah pukul tujuh kurang lima belas menit! Rupanya tanpa disadari ia berangkat lebih pagi dari biasanya. Atau jam di rumahnya lebih cepat lima belas menit. Entahlah. Yang penting, Kura-Kura Kecil jadi punya waktu untuk mengobrol dengan seekor Burung Hantu Tua yang tengah bertengger terkantuk-kantuk di dahan pohon.

“Selamat pagi, Wahai Burung Hantu Yang Terhormat!” sapa Kura-Kura Kecil, riang.

“Selamat pagi, Anak Manis. Kelihatannya kau cape sekali ya?” sahut si Burung Hantu Tua.

“Beginilah nasibku,” Kura-Kura Kecil berubah muram. “Aku terlahir sebagai kura-kura yang lamban. Jauh sebelum matahari terbit, aku harus bangun. Pukul lima tepat, aku harus sudah berangkat ke sekolah. Sedangkan kawanku, Si Kelinci yang tinggal di sebelah rumah, hanya perlu berlari selama lima menit ke sekolah. Jadi, setiba di sekolah aku sudah cape sekali. Sedangkan Si Kelinci masih segar bugar. Sungguh tidak adil!”

“Setahuku, usaha keras tidak mungkin sia-sia,” gumam Burung Hantu Tua sambil berpikir. “Coba ceritakan padaku, Anak Manis, apa saja yang kau jumpai sepanjang perjalananmu ke sekolah.”

“Banyak sekali,” keluh Kura-Kura Kecil. “Aku jadi tak tahu harus mulai dari mana. Misalnya, hari ini aku bertemu dengan Ular Sanca. Dulu aku takut padanya, tapi sekarang ia jadi temanku. Lalu, aku bertemu dengan sahabat lamaku Si Angsa yang baru kembali dari berlibur di Selatan. Tahukah kau, wahai Burung Hantu Yang Terhormat, rupanya di Selatan itu cuacanya selalu panas! Iklim tropis, begitu namanya. Setiap tahun, Angsa dan ribuan unggas lain pergi berlibur ke sana. Enak ya, mereka tidak harus mengalami musim dingin!”

Kini wajah Kura-Kura Kecil berseri-seri. Tiba-tiba, ia ingin bercerita lebih banyak lagi. Kura-Kura Kecil bercerita tentang bagaimana ia biasa mengamati tanda-tanda perubahan cuaca di langit, bagaimana ia bisa menumpang aliran sungai kecil ke sekolah bila musim hujan tiba, di mana bisa ditemukan buah ceri yang paling manis (ssst… ini rahasia!), bagaimana membedakan ular dan katak yang beracun dan yang tidak beracun, dan masih banyak lagi. Dan tahukah Burung Hantu Yang Terhormat, bagaimana asal mula terbentuknya angin lesus? Kura-Kura Kecil tahu, karena ia pernah melihat prosesnya secara langsung!

Burung Hantu Tua tersenyum. “Kau pandai sekali, Anak Manis. Rupanya 2 jam perjalanan ke sekolah tidak kau sia-siakan. Kau bersahabat dengan banyak binatang, serta mempelajari banyak hal.”

Kura-Kura Kecil tersentak. Ia tidak pernah menyadari, betapa beruntungnya ia. Tergesa ia mengucapkan selamat tinggal pada Burung Hantu Tua. Sekolah segera dimulai.

Si Kelinci sudah tiba, dan duduk tepat di samping Kura-Kura Kecil.

“Selamat pagi Si Kelinci sahabatku, apa saja yang kau lihat di sepanjang perjalanan tadi?” sapa Kura-Kura Kecil dengan ramah.

“Aku berlari kencang sekali sehingga tidak melihat apa-apa,” jawab Si Kelinci.

Read Full Post »

house sparrow

Bang!!!

For a few seconds I can see nothing but little twinkling stars dancing around, followed by a sudden sharp pain on my head. Then, gaining my sight back, I start to wonder. It shouldn’t be so difficult. My eyes are telling me that I’m just a few steps away from the green grass, a few flaps away from the tree tops. But somehow, I just can’t get out!

I spring back, take a deep breath, get myself ready. Yes, I’m going to try again. Spread my wings, and… (fly again?)

Bang!!!

It happens again. So comes again the pain, more severe than the previous one. I check my beak, fortunately it’s fine. Standing on trembling little feet, I force myself to think. It mustn’t be a coincidence. There must be an invisible barrier that separates me from the outside world.

I examine the mysterious “barrier” closely. I see nothing. The sky is just as blue, and the leaves, as green. Yet something is missing. Where’s the sweet smell of the grass? The sound of other birds singing? The warm sunshine? The wind breeze?

I decide to take a rest and examine my surrounding more carefully. There’s no other bird in this room. I only see humans. I’m glad they’re not interested in me. Anyway, I’m just an unattractive little brown feathered bird. Not valuable enough for them to catch.

Those humans are busy with their meals.

I’m hungry. And so are my babies…

How many hours has elapsed since the last time I saw them this morning? Mommy’s going out to fetch you some food, said I. Be nice and don’t leave the nest until Mommy returns. My five adorable little babies… they hatched a week ago, and it’s my first experience to be a mother. I feed them every morning, noon, and night. They could never be satisfied. It was the happiest moment of my life! To hear the eggs cracked, and…

Stay focus! You want to leave this place and go home to your babies, right? So, stay focus and think!!!

Too tired to fly, I hop along the window panes. (Little birds do not walk. We hop.) Checking here and there, searching for a spot where “the barrier” doesn’t exist. After checking around twice (or thrice?) I still can’t find the right spot. The invincible “barrier” is covering this room. Gosh, I almost give up!

Wait, I managed to get in here, right? If there’s an entrance, there should also be an exit. All I have to do is find the entrance, then I’ll be able to exit. The idea rises my spirit back. Once again I spread my wings and fly. I need to find the entrance soon.

The flaps of my wings attract the humans’ attention. Some of them look up, and see me flying around. Watch me, I say, watch me finding my way home!

Time goes by… and here I am still, in this very room. I could hardly move my wings anymore. They’re exhausted, just like me. I stand still and look down.

A woman is watching me. Sympathy is written on her face. She’s trying to say something… but I don’t understand the human language. Ah, who cares…

Legs trembling, tears falling, oh how I miss my babies…

Looking out at the darkening sky, suddenly I gain my strength back. The last power, just adequate for one final effort!!! I stand up, straighten my legs, throw one final glance at the humans… at the woman who’s still watching.

You may look down on me, on my tiny little figure. And yes, I’m only equipped with a pair of tiny little wings. My strength won’t last the night. Neither will my life. But I’m a bird, and a bird never gives up!!!

One final effort, I say to my wings. For the sake of my hungry babies, I’ll have to try again. If I get lucky, “the barrier” might no longer be there. Who knows?

There’s only a way to find out.

I close my eyes, praying to my Creator, thinking of my babies. Mommy’s coming home.

One, two, three, go…!!!

Bang!!!

After hitting the glass window severely, the bird falls down. Its eyes, no longer open, its beak no longer chirps. A woman removes the dead bird from the floor, holding it close to her chest. Tears are falling down her cheeks. If only you understand the language of human, she whispers sadly. I know you only want to find a way out. I’ll take you out and release you in the open. I’ve offered you a help… but how would you understand my intention? We don’t even speak the same language.

*dedicated to one confused little bird trapped in the food court of Summarecon Mall Serpong, one Sunday afternoon*

Read Full Post »

Sebuah film, terkadang meninggalkan kesan yang amat kuat di benak penonton. Kadang hanya satu atau dua hal saja yang diingat, namun itu sudah cukup membuat sutradara sekelas Zhang Yi-mou merasa bangga. Ia sengaja menciptakan adegan-adegan indah di setiap filmnya. Kelak bertahun-tahun mendatang, jika penonton sudah lupa akan cerita film, minimal ada beberapa adegan indah yang akan dikenang terus sampai akhir hayat.

Nah, setelah menonton film Don’t Say A Word yang dibintangi Michael Douglas dan Brittany Murphy beberapa tahun lalu (2001) ada sesuatu yang terus saya ingat. Kesedihan si gadis cilik ketika ditinggal sang ayah benar-benar membuat hati trenyuh. Karena itulah, saat mengerjakan tugas membuat cerpen untuk kuliah Penulisan Populer di FIB UI, tiba-tiba saya teringat lagi akan film itu. Waktu itu kami ditugaskan membuat cerpen dengan tema alam bawah sadar. Selebihnya bebas.

Cerpen buatan saya ini memang tidak bagus. Selain itu, dari segi keakuratan juga sangat kurang. Saya tidak tahu apakah memori masa lalu yang hilang, yang kemudian dikembalikan dengan bantuan hipnotis, cukup kuat untuk menjadi bukti di pengadilan. Mungkin saja tidak. Namun dari sedikit cerpen yang pernah saya buat, yang satu ini adalah favorit saya, meskipun kisahnya jauh dari akurat, dan jauh pula dari sempurna.

SEPOTONG INGATAN MASA SILAM

(diilhami dari film Don’t Say A Word)

“Hiduplah dengan bahagia nak…”

Suara siapakah itu? Aneh, tadi barusan aku benar-benar mendengarnya. Suara yang begitu lirih dan samar, serta terdengar amat sedih. Jangan-jangan ada hantu di tempat ini! Tapi ayahku selalu berkata bahwa hantu itu tidak ada, jadi semestinya aku tidak perlu takut. Ayahku tak mungkin bohong kan? Apalagi stasiun kereta api ini masih cukup ramai walau hari sudah malam. Beberapa orang masih terlihat lalu-lalang di hadapanku. Mana mungkin hantu berani nongol di tempat umum seperti ini.

“Jangan melamun, Sayang. Ini susu untukmu.”

Aku mendongakkan kepala. Ternyata Ayah! Ayahku sudah kembali dari berbelanja di mini market dekat stasiun. Ia tengah tersenyum seraya menyodorkan sekotak susu coklelat kegemaranku. Tangan kirinya memegang sebuah kantong plastik putih berlogo nama mini market yang berisi barang belanjaan lainnya. Aku melongok ke arah kantong plastik tersebut untuk melihat apakah Ayah tidak lupa membelikan permen kesukaanku.

“Ayah tidak lupa,” demikian ayahku berkata, seolah mengetahui isi hatiku. “Tetapi habiskan dulu susunya, baru boleh makan permen. Oke?”

Aku mengangguk dengan gembira. Menghabiskan susu cokelat lezat ini? Itu soal gampang! Tidak usah disuruh pun pasti akan kuhabiskan.

Ayah duduk tepat di sampingku. Ia mengeluarkan sekotak susu cokelat yang sama persis dengan punyaku, lalu meminumnya. Hihihi… ternyata ayahku masih suka minum susu juga ya? Kami duduk diam sambil menikmati minuman masing-masing. Suasana di ruang tunggu stasiun ini bertambah sunyi seiring dengan tibanya malam. Makin lama makin sedikit orang yang lalu-lalang. Sekali-sekali terdengar suara kami menyedot susu dengan sedotan plastik. Hmm, aku sungguh sangat menikmati saat-saat seperti ini. Betapa tidak, aku jarang sekali bertemu dengan ayahku. Ia selalu sibuk bekerja di kota. Berkali-kali aku merengek, meminta ayah untuk mengajakku tinggal di kota bersamanya.

“Tidak, Sayang. Di sana tidak ada anak-anak. Lagipula kamu kan harus sekolah.” Ayahku selalu menanggapi rengekanku dengan lembut dan sabar. Sekali pun belum pernah aku melihat ayah marah. Ia adalah ayah terbaik di seluruh dunia!

Bagiku, tempat terindah di dunia ini adalah tempat di mana aku bisa bersama-sama dengan ayah. Seperti stasiun kecil ini, misalnya. Tempat ini terlihat begitu tua dan kusam, dinding-dindingnya yang berwarna kelabu tampak ditempeli berbagai poster iklan yang sudah sobek dan terkelupas di sana-sini. Lantainya yang hijau tua terlihat tidak terawat dan sepertinya jarang dibersihkan. Sampah berupa sobekan-sobekan plastik dan kertas serta botol-botol kosong berserakan di mana-mana. Kaca loket tempat penjualan karcis pun sudah tak bisa dibilang bening lagi. Tapi di sanalah tempat bapak tua penjual karcis yang ramah itu bekerja. Aku masih ingat senyumnya waktu aku dan ayah membeli karcis kereta beberapa saat lalu. Giginya sudah banyak yang ompong, hihihi… Aku menatap kaca loket itu dari kejauhan, ternyata bapak itu masih berada di sana.

Nah, sekarang ia sedang menutup kaca loket dengan kerai hitam. Sebentar lagi ia pasti keluar dari sana. Aku melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan ayahku, ternyata sudah pukul sepuluh malam. Pantas saja loket sudah ditutup. Eh, biar masih kecil, aku sudah bisa membaca jam lho! Pintar kan?

Si Bapak Tua berjalan dengan santai ke arah tempat kami duduk. Sudah mau pulang dia rupanya.

“Kereta terakhir terlambat datang, Pak?” Ayahku bertanya kepadanya.

“Iya, tadi ada sedikit gangguan teknis. Mungkin baru akan tiba seperempat jam lagi.” Si Bapak menjawab. Lalu ia berpaling kepadaku, “Gadis cilik, sudah larut begini kau masih belum mengantuk?”

Aku menggelengkan kepala.

“Berapa usiamu, Anak Pintar?”

“Lima.” Aku menjawab dengan bangga. Aku sudah besar, kan!

“Wah, sudah besar ya. Pintar pula. Pantas tidak rewel.”

Aku tersenyum senang mendengar pujian itu. Si Bapak Tua juga tersenyum, terlihat lagi deh gigi ompongnya!

“Mari Pak, saya pulang dulu. Sampai jumpa, Gadis Cilik!” Ia berkata, melambaikan tangannya seraya melangkah pergi.

Aku dan ayah juga ikut melambaikan tangan.

Sekarang benar-benar hanya tinggal kami berdua di ruang tunggu ini. Aku duduk sambil mengayun-ayunkan kakiku. Maklum, aku masih kecil sehingga bila aku duduk di bangku ini, kakiku tidak dapat menyentuh lantai. Tiba-tiba seekor kecoa melintas di lantai, tak jauh dari koper kami.

“Hus, pergi sana!” Aku mengayunkan kakiku dengan penuh semangat, berusaha mengusirnya pergi. Sekilas kulihat sepatu keds-ku yang baru, pemberian ayah. Warnanya putih-biru, kesukaanku. Aku mengamati sepatu yang nyaman di kaki itu dengan perasaan bahagia.

Tadi sore, sepulang dari sekolah (aku baru mulai sekolah siang hari) aku sangat gembira mendapati ayah ada di rumah. Biasanya di rumah kan hanya ada Si Mbok, pembantu keluarga kami yang sangat setia dan sayang padaku. Ayah tampak sedang mengemasi beberapa potong pakaianku dan memasukkannya dengan tergesa-gesa ke dalam sebuah koper.

“Ayah ingin mengajakmu pergi jalan-jalan.” Ayah berkata dengan riang sehabis menciumku. “Naik kereta api. Kamu mau kan?”

“Asyik!” sorakku gembira. “Kita mau pergi kemana? Tapi aku kan harus sekolah?”

“Libur saja dulu beberapa hari,” ujar ayah. “Nanti Ayah yang minta izin pada Bu Guru.”

Betapa senangnya hatiku! Waktu berlalu dengan cepat, tahu-tahu kami sudah sampai di stasiun ini. Aku sama sekali tidak keberatan menunggu kereta yang terlambat, asalkan ayahku ada di sampingku. Hawa dingin yang terasa menusuk tulang pun tidak kupedulikan. Aku merapatkan jaketku, lalu mendongakkan kepala, memandang ayah dengan penuh kasih. Ayahku juga melakukan hal yang sama. Lagi-lagi ia mencium keningku.

“Tia Sayang, hati-hati dong minum susunya. Tumpah tuh.”

Olala, ternyata tanpa kusadari aku memegangi kotak susuku dengan posisi miring, sehingga sebagian susunya tumpah membasahi tanganku.

“Cuci tangan dulu ya, di toilet wanita sebelah situ,” ujar ayah sambil menunjukkan letak toilet yang dimaksudnya. “Kamu bisa sendiri kan, Anak Manis?”

Aku berlari-lari kecil menuju toilet itu. Suara langkah kakiku bergema memecah kesunyian malam. Toilet itu sepi, tidak ada siapa-siapa di situ selain aku dan sebuah wastafel kecil yang terletak di sudut. Kucuci tanganku bersih-bersih sambil memiringkan kepala, menajamkan telinga untuk mendengar suara-suara di keheningan malam.

Lalu terdengarlah suara itu. Mula-mula pelan, makin lama makin jelas terdengar. Suara langkah kaki seseorang yang sedang berjalan mendekat. Tok… tok… tok… Keras sekali bunyinya! Siapa ya, yang memiliki sepatu seberisik itu? Aku melongokkan kepala melalui pintu untuk mengintip siapa yang datang.

Seorang pria setengah baya rupanya. Ia berjalan menghampiri ayahku. Ayahku tampak terperangah melihatnya. Siapa pula yang tidak terperangah melihat orang seperti itu! Tubuhnya kurus tinggi, wajahnya tirus dengan dagu lancip. Di bawah alisnya yang hitam tebal tampaklah matanya yang kecil dan terletak berdekatan. Mata itulah yang sedang memandang ayahku dengan sinis. Seulas senyum culas menghiasi bibirnya yang tipis. Seluruh pakaian yang dikenakannya, topi, mantel, dan sepatunya berwarna hitam. Aku tidak suka melihatnya.

Kini ia sedang berbicara dengan suara pelan kepada ayah. Ayah tampak… sangat ketakutan melihatnya. Seumur hidup belum pernah kulihat ayahku setakut itu! Ada apakah gerangan? Orang jahatkah dia? Naluriku membisikkan supaya aku tetap berdiri di tempatku sekarang supaya orang itu tidak bisa melihatku. Namun aku bisa melihatnya dengan cukup jelas.

Tiba-tiba ia mengeluarkan sebuah benda kecil hitam yang aneh dan menakutkan. Aku pernah melihat benda seperti itu di televisi, namanya pistol kalau tidak salah. Orang itu menodongkannya ke arah ayah, lalu menarik picunya. Aku ingin berteriak memperingatkan ayah, namun aku begitu takut sehingga tak mampu bersuara. Kupejamkan mata, menunggu bunyi “dor!” Namun tak terdengar suara apapun. Aku membuka mata dan menghela napas lega. Horeee! Ayahku selamat! Pasti pistol itu rusak.

Namun apa yang sebenarnya terjadi? Ayah tampak terhuyung-huyung hampir jatuh. Tangan kanannya ditekankannya ke arah dada. Lalu… bruk! Ayah jatuh tersungkur di atas lantai. Lho… bukankah pistol tadi rusak? Orang itu cepat-cepat kabur dari situ. Aku berlari keluar menghampiri ayah.

“Ayah?” Aku memanggil.

“Ayah tidak apa-apa?” Aku berlutut di dekat ayah.

Dari dada ayah mengalirlah cairan berwarna merah gelap yang tampak berkilauan di bawah sinar temaram lampu stasiun. Darahkah itu?

Bau anyir menyergap hidungku.

“Ayah!” panggilku lagi, air mataku menetes dengan deras. Aku menangis tersedu-sedu. Ayah menatapku lemah. Tangannya yang berlumuran darah mengelus pipiku dengan lembut.

“Hiduplah dengan bahagia nak…” ayah tampak kesulitan untuk bicara, namun masih bisa kumengerti kata-kata yang keluar dari bibir yang baru beberapa menit lalu menciumku dengan penuh kasih itu.

“Lupakan semua ini, Sayang…” ayah tersenyum. Senyum terakhirnya yang kulihat. “Ayah sayang padamu…” Kemudian ayah menutup matanya.

“Ayaaaaaah……….!!!” Aku berteriak sekuat-kuatnya. Kuteriaki telinga ayah. Kuguncang badannya. Ayah tidak boleh tidur! Ayah harus lekas bangun! Bukankah sebentar lagi kereta akan datang? Aku mulai bisa mendengar derunya di kejauhan.

Kurasakan seseorang memelukku dari belakang. Aku meronta sekuat tenaga sambil menangis menjerit-jerit.

“Gadis cilik, tenanglah. Cup… cup…, ayo diamlah, Sayang.”

Aku menoleh. Rupanya bapak tua penjual karcis yang tadi. Di belakangnya tampak mulai banyak orang berdatangan. Mengerumuni kami berdua, aku dan ayahku.

Kemudian segalanya gelap.

“Satu, dua, tiga. Buka matamu, Tia.” Terdengar suara Dr. Rafael yang sejuk menenangkan.

“Segalanya sudah selesai. Sudah berakhir. Tidak apa-apa.”

Aku mendapati diriku masih menangis tersedu-sedu.

“Siapa pelakunya?” Kali ini yang terdengar adalah suara Pak Haryanto, perwira polisi yang bertugas di bagian kriminal.

“Di… di… dia…” Aku menunjuk sehelai foto di atas meja, yang terletak di antara foto-foto lain.

Pak Haryanto memungut foto itu.

“Terima kasih atas kerjasamanya. Terutama atas kesediaan Anda untuk dihipnotis demi mengingat kembali memori yang hilang. Andalah satu-satunya saksi mata. Kami akan segera menindak tegas pelaku pembunuhan itu. Saya mohon diri.”

Aku masih belum bisa menghentikan sedu-sedanku. Itulah sebabnya aku tidak pernah mampu mengingat ayah. Itulah pula sebabnya aku membenci susu cokelat. Aku menuruti perintah ayah dan berusaha keras untuk melupakan semuanya. Sampai semua kejadian itu benar-benar terhapus dari ingatanku. Menurut Dr. Rafael, psikiater yang juga ahli hipnotis itu, hal ini memang mungkin terjadi. Apalagi saat itu aku masih kanak-kanak.

Ayah, aku berjanji untuk tetap hidup bahagia. Aku yakin, kau pun bahagia di sana. Ya kan?

Read Full Post »