Feeds:
Posts
Comments

Archive for May, 2012

Obat Bius Kuda

Berkaca dari pengalaman buruk seorang ibu muda, yang akhirnya diselamatkan oleh koin dan simpati masyarakat, maka dalam kisah berikut ini sebagian nama orang, lokasi, serta waktu kejadian sengaja tidak ditulis dengan jelas.

Beberapa waktu lalu keluarga kami mengadakan perhelatan yang cukup penting, sehingga saya dan kedua adik perempuan saya menyempatkan diri untuk hadir. Perhelatan itu sendiri diadakan di kota A, tidak jauh dari kampung halaman kami. Malam sebelumnya, kami menginap di kota tersebut.

Pada pagi hari H terjadilah sebuah musibah kecil. Adik saya jatuh di kamar mandi, dengan dagu menghantam bathtub, sehingga kedua gigi atas depannya patah setengah, dan patahan giginya menancap di bibir bawah.

Adik saya yang tabah nan gagah berani tidak menangis sedikit pun. Dengan diantar seorang pengemudi yang juga merupakan teman keluarga, pukul 05.15 pagi adik saya pergi ke RS X, salah satu RS ternama di kota A. Di sana patahan giginya dikeluarkan, lantas bibirnya yang sobek dijahit. Siang harinya, adik saya sudah bisa bergabung dengan kami semua di perhelatan tersebut.

Adik saya tidak pernah bercerita dengan detil mengenai pengalamannya di RS, dan saya sendiri juga tidak pernah bertanya. Pikir saya, yang penting ia telah ditangani dengan baik.

Perkara jahitan pada bibir yang peletat-peletot dan sangat tidak karuan, mungkin harus dimaklumi. Pikir saya, pukul 5 pagi, tentu di RS tersebut hanya ada dokter jaga. Dan menurut novel-novel yang pernah saya baca, dokter jaga ini biasanya koas atau dokter muda yang belum terlalu berpengalaman.

Rasa ngilu pada gigi, biasanya amat dibenci. Tapi dalam kasus adik saya, rasa ngilu patut disyukuri. Lantaran giginya yang patah terasa amat ngilu, pagi itu juga adik saya meminta agar giginya dicabut.

Ibu saya segera menghubungi drg. Christine, dokter gigi langganan kami, yang juga seorang spesialis ahli bedah mulut. Selain mencabut gigi adik saya, drg. Christine juga membongkar dan merapikan jahitan pada bibirnya hingga rapiiiii sekali. Kini bekas jahitan itu nyaris tak tampak.

Dokter gigi yang cantik nan ramah ini menelepon ibu saya. “Yang tadi menjahit bibirnya Si A (adik saya) siapa ya? Menjahit bibir anak perempuan kok ngawur, peletat-peletot. Puluhan tahun praktek, baru kali ini saya melihat jahitan seburuk ini. Untung lukanya belum merapat, jadi masih bisa diperbaiki.”

Nah, untung kan, adik saya merasa ngilu tak tertahankan? Kalau tidak ngilu, mungkin ia takkan minta giginya dicabut, dan jahitannya takkan diperbaiki.

Singkat cerita, akhirnya kami tahu bahwa dokter yang menjahit bibir adik saya di RS X, bernama dokter N. Ternyata ia dokter umum yang sudah cukup lama praktek, bukan koas. Tapi kenapa jahitannya buruk sekali ya?

Ada 3 kemungkinan. Pertama, ia nggak niat. Kedua, ia memang tidak bisa menjahit dengan rapi. Ketiga, ia masih ngantuk karena adik saya datangnya terlalu pagi.

Yang lebih hebat lagi, sebelum menjahit, dokter N menyuruh adik saya memilih, mau menggunakan obat bius lokal yang mana.

“Yang ini IDR225000, memang biasa digunakan pada manusia. Sedangkan yang ini IDR175000, belum pernah dicobakan pada manusia. Biasanya digunakan untuk membius kuda.”

Adik saya yang tabah dan lugu (dan banyak duit, amen!) tanpa banyak cingcong langsung memilih yang mahal. Namun Si Pengemudi yang menemani adik saya sampai njenggilat saking kagetnya. Masa iya pasien ditawari obat bius untuk kuda?

“Lha ceritamu ini bener atau ndak?” Tanya saya.

“Ya bener tho, saya dengar sendiri, wong saya duduk di samping A kok.”

Wow, hebat juga ya. Pasien manusia ditawari obat bius untuk kuda!

“Waktu nanya tampangnya gimana, serius atau bercanda?” Kali ini saya bertanya pada adik saya.

“Lupa,” jawab adik saya. “Memang dokternya nanya begitu, tapi nggak tahu serius atau bercanda. Jadi pilih aja yang bagus.”

Saya tak percaya RS X menawarkan obat bius kuda pada pasiennya. Entah apa maksud dokter N. Mungkin ia sekedar ingin menjual obat yang lebih mahal.

Ada tiga pelajaran moral yang bisa ditarik dari kejadian ini. Pertama, sebisa mungkin jangan ke RS pada jam-jam yang ajaib. Kedua, kalau harus berobat, pilihlah dokter yang reputasinya baik. Ketiga, kalau kondisinya mendesak dan tak bisa pilih-pilih, berdoalah agar dokter yang bertugas baik, pintar, terampil, niat bekerja, dan tidak ngantuk… ^^

Advertisements

Read Full Post »